
"Gara-gara dokter, Nathan sampai memperlakukan ku sekasar itu. Aku tidak boleh dekat-dekat dengan pria itu," batin Chexil.
"Gadis itu membuat penasaran saja," batin dokter Davin.
Dokter Davin tidak mau kalah dia segera menyusul Chexil menuju ruangan Ella. Tugas Chexil sebagai pramusaji pastilah berada di bawah naungan kakak saudara dua pupu nya itu.
"Ada apa Dav, tumben ke sini?" tanya Ella penasaran dengan apa yang membuat adik dua pupu nya itu menemuinya. Biasanya Davin selalu tidak ada waktu untuk mengobrol dengannya.
"Emang nggak boleh silaturahmi sama kakak sendiri?"
"Dah lah aku curiga sama kamu. Lebaran aja nggak mau silaturahmi sama kakak dengan alasan sibuk, sibuk dan sibuk. Sekarang tumben datang. Apakah gerangan yang membuat adikku datang kemari?"
"Baiklah aku to the poin aja. Boleh nggak aku ketemu sama karyawan baru itu?"
"Karyawan baru siapa sih? Pak satpam?"
"Ckk, bukan lah. Itu yang nganterin makanan ke kamar-kamar pasien."
"Oh Chexil maksud kamu?"
"Jadi namanya Chexil?" Davin nampak tersenyum senang. Mendapatkan info tentang namanya saja sudah bahagia apalagi mendapatkan orangnya.
Ella nampak mengernyit. "Emang kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa sih. Sekarang mana orangnya?"
"Dia tadi izin keluar sebentar. Kamu keluyuran ke sini, nggak ada pasien yang harus ditangani?"
Dokter Davin tampak melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Ada, sebentar lagi. Wah dia gesit juga."
"Kamu lama di sini? Kapan balik lagi ke kota?"
"Baru kemarin aku ke sini dan besok aku kembali ke kota. Ada pasien yang harus aku tangani di sana."
"Pulanglah walau sebentar. Kasihan nenek sudah kangen sama kamu."
"Iya, rencananya nanti aku pulang dan langsung balik dari sana. Eh kok lama gadis itu ya. Ya sudah kalau begitu sampaikan salamku padanya. Aku harus kembali menangani pasien lagi."
"Oke," jawab Ella lalu meneruskan aktivitasnya menimbang bahan-bahan makanan sesuai takaran untuk masing-masing pasien.
Davin memandang ke seluruh ruangan untuk memastikan apakah Chexil memang tidak ada di ruangan tersebut. Karena memang tidak melihat keberadaan wanita tersebut, Davin langsung cabut.
Setelah Davin pergi barulah Chexil masuk ke dalam ruangan. Tadi sebenarnya Chexil sudah hendak masuk ke dalam ruangan tetapi saat melihat Davin berada di dalam ruangan ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih bersembunyi dulu.
"Hai sudah kembali?"
"Ibu Bu," jawab Chexil sambil berjalan mendekat ke arah Ella untuk membantu pekerjaannya.
"Tadi ada yang mencari mu," kata Ella.
"Siapa Bu?" tanya Chexil pura-pura tidak tahu.
"Dokter Davin."
"Oh."
"Kamu kenal?" tanya Ella tanpa menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Chexil.
"Dia tadi nitip salam buat kamu," ucap Ella lagi.
"Iya Bu, terima kasih."
Ella menghentikan pekerjaannya sebentar kemudian memandang wajah Chexil dan mengangguk sambil tersenyum.
"Ah leganya," ucap Chexil dalam hati.
Mereka pun melanjutkan pekerjaannya untuk menyiapkan makan siang para pasien.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Setelah mengambil peralatan makan di ruangan pasien dan membersihkannya akhirnya Chexil bisa bernafas lega. Hari ini pekerjaannya usai sudah karena ternyata untuk shif malam sudah ada karyawan yang lainnya.
Sebelum pulang ke rumah Chexil sengaja berhenti di restoran dulu untuk membelikan makanan untuk nenek Salma. Dia takut tidak bisa memasak hari ini karena tubuhnya teramat lelah. Chexil tidak tahu kenapa daya tahan tubuhnya sekarang rasanya mulai berubah.
Setelah mendapatkan makanan tak lupa ia berhenti di depan sebuah apotik untuk membeli vitamin untuk dirinya sendiri.
Setelah makanan dan vitamin sudah ada di tangan, ia langsung bergegas pulang.
Sampai di depan rumah nenek Salma, Chexil tampak heran. Tidak biasanya ada mobil terparkir di garasi, tetapi sekarang ada mobil mewah yang terpajang di sana.
"Kenapa Nona?" tanya pak satpam heran melihat Chexil terdiam dan bengong memandang mobil tersebut.
"Mobil siapa Pak?"
"Oh itu, itu mobil cucunya nenek Salma."
"Oh, kalau begitu saya permisi ke dalam ya Pak."
"Silahkan Nona."
"Eh, Nak Chexil sudah pulang? Ayo masuk, nenek akan kenalkan sama cucu nenek."
Chexil mengangguk.
"Ini apa?"
"Makanan untuk makan malam Nenek. Maaf Chexil tidak bisa masak sore ini. Entah mengapa Chexil lelah sekali."
"Ya sudah nggak apa-apa, setelah kenalan sama cucu nenek kamu langsung istirahat saja," kata nenek Salma sambil meraih bungkusan di tangan Chexil.
"Iya Nek," sahut Chexil sambil melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mengikuti langkah nenek Salma.
"Dav, kenalkan ini gadis yang aku ceritakan yang selama sebulan ini telah menemani nenek."
"Dav?" tanya Chexil.
Suara Chexil membuat pria yang duduk di sofa membelakangi dirinya langsung menoleh.
Mereka berdua terlihat sama-sama kaget.
"Kamu? Wah ternyata kita berjodoh. Mau lari kemanapun aku pasti akan menemukanmu kelinci kecil."
Kalau bukan karena tidak enak dengan nenek Salma, pastilah Chexil akan beranjak dari tempat itu. Namun apalah daya dia harus menjaga perasaan nenek tua tersebut.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya nenek Salma.
__ADS_1
"Sudah," jawab dokter Davin.
"Belum," jawab Chexil.
"Baiklah kalau begitu kita kenalan dulu." Dokter Davin mengulurkan tangannya. Chexil menerimanya dengan malas.
"Davin."
"Chexil."
Setelah mengenalkan diri, Chexil langsung pamit. "Nek, maaf aku istirahat dulu."
"Iya sana."
"Aku tinggal dulu ya."
"Iya," jawab Davin. Sebenarnya dia ingin menahan gadis itu tetapi tidak tega karena melihat wajah Chexil yang terlihat pucat.
Chexil berlalu naik ke atas tangga.
"Tunggu!" David menahan langkah Chexil.
"Ada apa?" tanya Chexil heran.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak apa-apa."
"Yakin? wajahmu nampak pucat. Apa kamu sakit?"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya butuh istirahat saja. Jadi aku minta tolong jangan ganggu aku."
"Baiklah."
"Sudahlah Dav, biarkan dia istirahat dulu. Kalau belum puas kamu bisa mengobrol besok saja," ujar nenek Salma yang paham cucunya menyukai Chexil.
"Besok Dav harus kembali ke kota lagi Nek. Ada jadwal mengisi klinik rumah sakit di sana."
"Balik besok, cepat banget sih Dav?"
"Nenek tenang saja saya akan secepatnya kembali ke sini lagi."
"Ckk, kamu tuh palingan bohongi nenek lagi."
"Nggak Nek, kali ini Davin janji," ucap dokter Davin sambil melirik ke atas tangga.
Setelah sampai di kamarnya Chexil langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
"Kenapa aku lemah seperti ini sih, bukannya pekerjaanku hanya mudah saja ya."
Chexil tampak memejamkan mata. Lalu tiba-tiba membuka mata dengan mendadak.
"Tanggal berapa ini? Mengapa aku belum menstruasi?" Chexil meraih ponsel dan mengecek tanggal di layar ponselnya. Ia langsung ketar-ketir saat 8mengingat seharusnya dua hari yang lalu dia kedatangan tamu bulanan itu.
"Apa aku hamil? Apa iya perbuatan Nathan waktu itu telah berhasil menanamkan benihnya di rahimku?" Chexil bermonolog sambil memegangi perutnya.
"Apa ini yang membuat tubuhku terasa lemah? Terus aku harus apa?"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏