Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 71. Tukaran


__ADS_3

Sepeninggal Nathan dan keluarganya tangis Chexil pecah. Dia menyesali perkataannya apalagi saat mengingat perkataan Isyana yang akan menjodohkan Nathan dengan wanita lain.


"Mom bagaimana kalau Mama Isyana benar-benar menjodohkan Nathan dengan wanita lain?" tanya Chexil dalam tangisnya.


Karla tampak mengernyit. "Jadi kamu sebenarnya masih ingin bersama dengan Nathan?"


Chexil tidak menjawab dia terlihat semakin menangis.


Karla pikir keputusan Chexil memang berasal dari hatinya. Baginya Chexil memang tidak ingin lagi bersama Nathan apalagi diantara keduanya sudah tiga ada pengikat anak.


"Sabar Nak, tenanglah." Karla memeluk tubuh putrinya sambil mengusap-usap bahu Chexil yang berguncang akibat tangisan.


Di luar tampak Lukas dan Louis berjalan ke arah kamar rawat Chexil. Saat tangan mereka terulur membuka pintu terdengar perkataan bahwa kondisi Felix sedang menurun.


"Dokter, pasien di kamar 103 mengalami penurunan kesadaran." Seorang perawat dengan berlari memberitahukan pada dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat seorang pasien.


"Luk, itu bukannya kamar Felix ya Luk?"


"Iya Om, berarti tandanya Om Felix semakin parah ya."


"Kalau begitu kita segera ke sana." Kedua orang tersebut terlihat panik lalu berlari, kembali ke kamar Felix.


Karla yang tidak sengaja mendengar nama suaminya disebut, hatinya langsung merasa tidak enak.


"Xil, Mommy mau melihat Daddy-mu dulu ya."


"Iya Mom."


"Beristirahatlah nanti mommy kembali kemari." Karla menepuk pundak putrinya yang masih sesenggukan dan membantu untuk berbaring. Kemudian ia bergegas ke kamar Felix.


"Detak jantungnya berhenti Dok." Terdengar seorang perawat yang berbicara dengan dokter yang menangani Felix.


Sampai di samping brankar rawat Felix, Karla tertegun melihat alat EKG (Elektrokardiogram) telah menunjukkan garis lurus.


Dokter memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Felix kemudian beralih ke mata. Setelah itu ia menempelkan stetoskop ke dada Felix untuk memastikan dugaannya.


Dokter itu terlihat menggeleng membuat air mata Karla jatuh tak tertahankan.


"Ambilkan alat itu Sus!"


"Ini Dok." Perawat mengulurkan alat kejut jantung kepada dokter.


Dokter pun menempelkan benda tersebut di dada Felix lalu menekannya. Hingga tiga kali dokter melakukan hal itu tetapi tidak ada hasilnya, layar EKG masih menampakkan garis lurus.


Perawat menatap wajah dokter yang menggeleng kembali.


"Kita akan mencobanya lagi."


Belum sempat dokter meletakkan alat itu kembali ke dada Felix tiba-tiba tubuh Karla meluruh dan hilang kesadaran.


"Suster tolong dia!" Dokter masih saja berusaha untuk mengembalikan kesadaran Felix.


"Baik Dok." Perawat segera berlari dan meminta bantuan.


"Biar saya yang gotong Sus," ujar Louis yang sedang berdiri di depan ruangan.


"Tolong cepat!" seru perawat tersebut.


Louis pun menggendong tubuh Karla mengikuti langkah perawat.


"Kamu jaga di sini Luk," pesannya pada Lukas.


"Oke Om."


"Mommy lama banget sih katanya mau kembali," ujar Chexil bicara sendiri.


"Ah sudahlah mungkin Mommy mau jaga Daddy malam ini."


Chexil merebahkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Bosan aku di rumah sakit terus, sendirian lagi. Nathan benar-benar tidak kembali." Ia mendesah kasar lalu memejamkan mata. Berharap bisa cepat tertidur dan hari berganti siang kembali.


Seorang laki-laki yang melintasi kamar rawat Chexil yang terbuka berbalik dan menatap ke dalam kamar.


"Wah ternyata dia ada di sini." Ia berjalan ke dalam ruangan.


"Xil!" panggilnya saat telah sampai di samping ranjang Chexil.


"Siapa?" batin Chexil. Ia membuka matanya kembali.


"Davin?" Chexil kaget melihat Davin sudah ada di sampingnya.


"Ternyata kamu pindah ke sini ya? Aku sama Nenek Salma khawatir dengan keadaanmu. Kamu tiba-tiba pergi dari rumah sakit. Dia memintaku untuk mencarimu ke kota ini padahal aku sudah bilang kalau kamu sudah bertemu keluargamu. Eh ngomong-ngomong kemana keluargamu itu?"


"Sudah pulang."


"Kamu dibiarkan sendirian?"


"Nenek Salma, mana Dav?" Chexil memilih tidak menjawab pertanyaan Davin.


"Ada di luar, sebentar aku panggilkan dulu." Chexil mengangguk, Davin beranjak keluar ruangan.


Beberapa saat kembali bersama Nenek Salma.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Nak?"


"Sudah baikan Nek."


"Bayimu?"


Chexil menggeleng. "Aku keguguran Nek."


"Tuh kan aku bilang juga apa, jangan banyak gerak. Malah pindah rumah sakit lain lagi," protes Davin.


"Terpaksa Dav. Kalau kamu jadi aku, aku yakin kamu juga akan mengambil tindakan yang sama."


"Tapi kan seharusnya nunggu pulih dulu baru kembali ke kota," ujar Nenek Siva.


"Iya juga sih, tapi janin kamu kan yang jadi taruhannya."


"Sudahlah Dav mungkin ini sudah jalannya. Aku sekarang sudah pasrah," ujar Chexil tidak bersemangat.


Di tempat lain Nathan tampak gusar. Ia gelisah sekali. Sebentar duduk sebentar berdiri.


"Kenapa sih Bang gelisah terus?" tanya Chila.


"Bantuin Abang dong biar bisa keluar dari rumah."


"Bantuin apa?"


"Alihkan perhatian Mama biar tidak terus mengawasi Abang."


"Oke." Chila menunjukkan dua jari jempolnya kemudian mulai melancarkan aksinya.


"Ma, Mama tidur di kamar Chila yuk, Chila takut."


"Tumben kamu jadi penakut?"


"Semalam Chila mimpi buruk. Chila jadi takut tidur sendiri."


"Ya sudah masuk kamar mama sana. Tidur sama papa."


"Ogah ah Ma masa Chila disuruh tidur sama papa."


"Ya sudah kalau begitu tidur sama Oma saja sana."


"Ya, Mama nggak asyik."


"Ya sudah kalau mau sama mama ya tidur saja di ruang tamu ini."

__ADS_1


"Mama mau tidur di sini?"


"Mama malam ini tidak mau tidur." Isyana berucap masih dengan suara kesalnya. Dia bahkan tidak bisa tidur memikirkan kejadian tadi siang.


Fazila menutup mulutnya. "Ya sudah kalau begitu Chila pergi saja." Ia berlalu pergi dari hadapan mamanya dan menemui Nathan di kamarnya kembali.


"Kayaknya Abang masih belum bisa keluar. Mama masih berjaga di ruang tamu. Dia terlihat masih marah."


"Oke bisa bantu Abang sekali lagi nggak?"


"Bantuin apa?"


Nathan berbisik di telinga adiknya itu.


"Oke."


Fazila keluar kembali.


"Mau kemana?"


"Menemui Oma di luar."


Isyana hanya mengangguk.


Fazila langsung menemui pak satpam untuk membantu menggotong tangga menuju bawah kamar Nathan.


"Kau mau apa Chila?!" teriak Isyana.


"Ketahuan Pak," ujarnya pada pak satpam sambil tersenyum pahit lalu berlari ke dalam rumah kembali.


"Kembalikan ke tempatnya Pak!"


"Baik Nya."


"Chila nyerah Bang, lebih baik Bang Nath minta bantuan Bang Tris aja."


"Baik suruh dia ke sini!"


"Ada apa sih Bang?" Tristan yang sudah siap berangkat dengan pakaian manggungnya menemui Nathan terlebih dahulu.


"Buka bajumu!"


"Apa? Abang gila ya."


"Ayolah Tris sekarang Abang yang gantikan kamu menyanyi."


"Apa? Nggak salah Abang mau nyanyi? Hahaha ...."


"Tutup mulutmu Tris, jangan berisik!" Nathan mendorong tubuh Tristan ke dinding dan menutup mulut Tristan.


"Jahat amat sih Bang, main dorong segala."


"Sorry tapi aku minta untuk malam ini saja kita tukaran."


"Apa?"


"Tris aku mohon." Nathan berucap dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


"Baiklah tapi jangan malu-maluin habisnya kan Abang sudah lama tidak naik panggung. Bisa-bisa gemetar nanti. Atau panggungnya yang malah roboh."


"Hentikan candamu Tris! Abang serius. Lagi pula ada ya panggung di studio roboh."


"Kali aja takut lihat Abang."


"Sudah buka bajumu cepat!"


"Iya Bang, iya." Tristan masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan milik Nathan.


Bersambung....

__ADS_1


Yuk mampir ke novel Mayya_Zha yang berjudul Fake Love dijamin ceritanya seru abis👍



__ADS_2