Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 38. Tuduhan


__ADS_3

"Bentar mama mau nitip adik kamu sama Chexil."


Isyana beranjak ke kamar Chila, Setelah berbicara sebentar dengan Chexil dia langsung pergi ke rumah sakit bersama Nathan.


"Nathan pelan-pelan dong nyetirnya," protes Isyana karena Nathan menyetir mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Maaf Ma ini dalam keadaan darurat, jadi kita harus cepat sampai ke sana untuk meminta pihak rumah sakit menyiapkan semua peralatan untuk menyambut Lukas biar lekas ditangani."


"Baiklah kalau begitu," sahut Iysana sambil memejamkan mata, dia tidak ingin melihat keadaan sekitar karena takut.


Sampai di depan rumah sakit ternyata suster sudah siap menyambut dengan brankar dan pihak rumah sakit yang bersangkutan sudah dalam keadaan siaga. setelah ditanya ternyata salah seorang anggota polisi sudah menghubungi pihak rumah sakit terlebih dahulu sehingga mereka semua bisa standby di tempat masing-masing.


"tuh kan nak apa mama bilang mereka sudah menghubungi sendiri kan pihak rumah sakit?"


"Iya Ma tapi enggak apa-apa Nathan ingin melihat keadaan Lukas," ujar Nathan dengan raut wajah yang khawatir.


Beberapa saat kemudian beberapa polisi dan Lukas sampai di rumah sakit. Tubuh Lukas diletakkan di atas brankar dan langsung dilarikan ke ruang IGD.


"kamu sudah menghubungi Tante Janet?" tanya Isyana pada Nathan.


"Belum Ma."


"Ya sudah kalau begitu cepat kamu hubungi!"


"Baik Ma." Nathan meraih ponselnya dan langsung menghubungi mama dari Lukas.


"Apa katanya?" tanya Isyana saat Nathan sudah menutup panggilan teleponnya.


"Tante Janet tidak bicara apa-apa Ma sepertinya beliau syok. Bahkan saat Nathan memberitahukan di rumah sakit mana Lukas dirawat, Tante Janet juga tidak ada respon.


"Tahu sekarang kamu kenapa mama melarangmu ikut-ikutan. Kalau sampai hal yang terjadi pada Lukas terjadi padamu mama tidak akan bisa memaafkan diri mama sendiri."


Nathan tidak menjawab ocehan mamanya. Dia nampak berdoa untuk keselamatan sahabatnya.


"Bagaimana Dokter keadaan sahabat saya?" tanya Nathan saat pintu ruang UGD terbuka. Beberapa polisi yang mengantar ikut mendekat.


"Keadaan pasien masih belum sadarkan diri, dia kritis. Jadi untuk sementara akan dipindahkan ke ruang icu dulu hingga keadaannya stabil.


Beberapa perawat tampak mengeluarkan Lukas dari dalam ruang ugd untuk dipandah ke ruang Icu. Mereka yang berkerumun di depan pintu UGD menyingkir untuk memberi jalan pada tim medis yang menangani Lukas. Setelahnya mereka mengikuti tim medis tersebut sampai dil luar ruang ICU.


"Apa yang terjadi sebenarnya Pak? Mengapa Lukas seperti ini?" tanya Nathan penasaran.


"Strategi kita sudah diketahui oleh pihak musuh dan Lukas saat menyusup ke perahu mereka langsung dilempar ke laut. Kata Pak Supandi dia sempat kejang-kejang di air sebelum akhirnya pingsan dan kami angkat untuk diselamatkan."


"Bagaimana bisa bocor Pak, apa ada pengkhianat diantara kita?"


"Entahlah tetapi kemungkinan ada yang mendengar pembicaraan kami. Atau mungkin ada yang mendengar saat Lukas menyampaikan padamu?" Polisi tersebut balik bertanya.


Nathan tampak berpikir. "Sepertinya tidak ada Pak. Kami mengobrol dalam ruangan dan tidak ada satu orangpun di sana," ujar Nathan.


"Hm, begitu ya? Mungkin dari kami sendiri yang tidak berhati-hati membicarakan itu semua sehingga ada kemungkinan ada orang lain yang mendengar."


"Mungkin saja Pak."


Sesaat kemudian mama Janet, mamanya Lukas datang dengan sopir pribadinya.


"Bagaimana keadaan Lukas Nath?"


"Lukas dibawa ke ruang ICU Tan, kata dokter dia masih kri... tis," jawab Nathan lemah.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Lukas tenggelam ke dalam air laut Tan."


Mendengar perkataan Nathan, Janet langsung menangis histeris.


"Sabar Jeng." Isyana memeluk Janet dan menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang Jeng kalau anakku dalam keadaan seperti ini."


"Saya mengerti kok Jeng, apa yang Jeng Janet rasakan meski aku tidak pernah berada dalam posisi. Jeng sekarang."


"Apa mungkin Lukas bisa diselamatkan Jeng mengingat dia ada riwayat epilepsi." Janet berkata dengan berkaca-kaca sangat takut kehilangan putranya. Yang dia tahu orang yang terkena epilepsi jika tenggelam maka tamatlah riwayatnya.


"Berdoalah Jeng semoga Lukas baik-baik saja. Tidak ada yang tidak mungkin kalau sudah menjadi kehendak-Nya."


"Iya Jeng dirimu benar."


Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang rawat Lukas dan mempersilahkan Janet menjaga menjenguk putarnya.


"Yang mana keluarga pasien?"


"Saya mamanya Dokter."


"Silahkan kalau ibu ingin menjenguk tapi ingat jangan lupa cuci tangan dan memakai baju khusus. Karena keadaan pasien yang rentan dengan masuknya kuman penyakit sehingga dapat menyebabkan Infeksi maka tidak semua orang boleh masuk."


"Baik Dokter."


"Aku masuk dulu ya Jeng," pamit Janet pada Isyana dan wanita itu menjawab dengan anggukan.


Setelah Janet masuk Nathan berembuk dengan Isyana dan akhirnya Isyana menyuruh Nathan yang masuk saja.


Beberapa saat kemudian Nathan meminta Izin pada Isyana untuk keluar sebentar mencari makan. Namun Isyana menyuruh Nathan pulang duluan saja karena khawatir dengan Chila dan Chexil yang mereka tinggalkan.


"Terus Mama pulangnya sama siapa nanti?"


"Biar papa saja yang jemput mama nanti."


Nathan terlihat mengangguk dan bergegas pergi.


"Tunggu Nath, sebelum pulang ke rumah kamu ambilkan baju-baju istrimu dulu di apartemen. Dia tadi mengeluh tidak membawa baju ganti."


"Baik Ma." Setelah berkas begitu Nathan lalu meninggalkan area rumah sakit. Sampai di pintu keluar rumah sakit ia berpapasan dengan Nela.


"Hei Nath bagaimana keadaan Lukas?"


"Kamu tahu dari mana Lukas ada disini?" Nathan balik bertanya.


"Dari ... dari ... dari Tante Janet tadi. Dia bilang Lukas masuk rumah sakit sini."


"Oh."


"Bagaimana keadaannya?"


"Masih belum sadar dan kritis."


"Kenapa sampai seperti itu sih? Emang Lukas kenapa?"


"Ceritanya panjang. Kita bicara lain waktu saja ya. Sekarang aku harus pergi."

__ADS_1


"Baiklah."


Sebelum pulang ke rumah utama Nathan terlebih dahulu mampir ke apartemen sesuai perintah mamanya. Sampai di sana dia langsung masuk ke kamar Chexil. Ia menarik baju-baju Chexil dari dalam lemari tanpa perhitungan lalu dimasukan ke dalam koper.


Setelahnya ia duduk sebentar di pinggir ranjang. Kakinya tak sengaja menyentuh sesuatu. Nathan menunduk untuk meraih barang tersebut.


"Ini milik siapa?" tanya Nathan yang bisa menebak barang itu adalah apa. Ia langsung memeriksanya. Nathan tampak membeku karena tahu ternyata benda tersebut merekam pembicaraan dirinya dengan Lukas waktu itu.


"Jadi benda ini yang telah membuat semuanya jadi kacau bahkan Lukas sampai jadi korban." Nathan tampak meremas barang tersebut.


___________________________________________________


Nathan datang ke rumah utama dengan menyeret koper.


"Biar saya yang bawakan Den." Seorang pembantu tampak meraih koper yang dibawa Nathan.


"Tolong bawakan ke kamar Chila dan berikan pada Chexil Bik. Panggilkan Chexil juga ya supaya ke kamar saya."


"Baik Den."


Pembantu tersebut mendorong koper tersebut ke kamar Chila.


"Nona Chexil ini bajunya dan Nona juga diminta ke kamar Den Nathan."


"Baik Bik." Chexil segera bergegas ke kamar Nathan dengan hati yang bertanya-tanya. Apakah Nathan akan menyuruhnya bersandiwara lagi dengan pindah dalam satu kamar.


"Ada apa?"


"Kamu tahu benda apa ini?"


Chexil mengernyit lalu menggeleng.


"Yakin? Aku menemukan benda ini di kamarmu."


"Tapi aku benar-benar tidak tahu itu benda apa."


"Kamu mau tahu? Benda ini adalah alat penyadap dan kamu tahu akibat benda ini Lukas sekarang terbaring di rumah sakit."


"Oh jadi kamu mau menuduhku yang meletakkan alat itu di kamar? Picik sekali ya pikiranmu. Aku tidak sehina yang kau bayangkan," ujar Chexil sambil berlari ke luar kamar sambil menahan air mata yang hampir menetes.


"Chexil!"


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


Rekomendasi novel yang bagus untukmu.


Judul : Gadis Pemimpi


By: Bhebz



Blurb:


Terlahir miskin dengan penampilan yang jauh dari kata cantik membuatnya rendah diri. Dia membatasi pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya walaupun dia mempunyai banyak mimpi.


Perasaan takut dicemooh dan dirundung membuatnya menjadi anak rumahan. Hanya ibu dan ayah yang menjadi teman sekaligus sahabatnya, tempat berbagi cerita dan mimpi.

__ADS_1


Hingga suatu peristiwa menyedihkan membuatnya meninggalkan istana dan sarangnya. Cangkang yang paling nyaman yang dia rasakan. Apakah mimpi-mimpinya akan menjadi nyata di luar sana?


Akankah dia berhasil mengubah takdirnya?


__ADS_2