Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 33. Kembali Dingin


__ADS_3

"Chexil apa yang kau rencanakan sebenarnya?" gumam Nathan dengan kekecewaan yang begitu besar.


Nathan masuk kembali ke dalam ruang tamu apartemen. Ketika sampai di samping Chexil dia berhenti sejenak menatap wajah polos sang istri. "Ternyata kau tidak sepolos yang kulihat," batinnya lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat suara percikan air terdengar dari kamar mandi saat itu pula Chexil terbangun. Dia juga masuk ke kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk mencuci muka kemudian mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak pagi dari dalam kulkas. Setelah mencuci beras memasukkan ke dalam magic com dan menekan tombol cook ia meninggalkan dapur dan membersihkan diri kemudian menuju ruang salat. Sampai di sana Nathan ternyata sudah selesai salatnya.


Dalam hati Chexil merasa ada yang aneh mengapa Nathan tidak mengajak salat berjamaah seperti sebelum-sebelumnya. Namun ia tidak mau berburuk sangka, mungkin suamiku lagi terburu-buru, begitu pikirnya.


Ketika Nathan melihat Chexil ia langsung buru-buru keluar dari tempat itu tanpa mau bertegur sapa. Chexil tidak memperdulikan karena dirinya diburu waktu, takut ketinggalan waktu salat.


Setelah menyelesaikan salatnya ia kembali ke dapur, menyelesaikan tugas memasak yang belum selesai sedangkan Nathan tampak sibuk dengan laptopnya tanpa memperdulikan sekitar.


Chexil tampak menepuk kedua tangannya sambil tersenyum senang saat menyelesaikan masaknya. "Akhirnya resep baru beres juga."


Lalu ia mencicipi hasil karyanya itu. "Enak juga, ternyata aku punya bakat memasak," gumamnya sambil terkekeh sendiri.


Meski Nathan tidak pernah meminta dirinya untuk memasak sendiri tetapi Chexil senang melakukan itu. Bahkan dia menolak ketika Nathan ingin mempekerjakan orang lain di apartemennya. Kedekatan Nathan dengan Nela saja membuat Chexil ketar-ketir apalagi jika harus ada wanita lain di dalam apartemennya. Sepertinya Chexil terlalu banyak membaca novel perselingkuhan sehingga membuat dirinya sedikit parno. Padahal dia bisa kan meminta Nathan untuk mencari pembantu yang sudah tua agar tidak harus khawatir.


Satu hal yang selalu ditanamkan oleh mommy Karla, seorang istri harus bisa memanjakan perut suami juga harus bisa memuaskan suami dalam urusan ranjang kalau tidak ingin suami selingkuh. Chexil hanya tersenyum ketir mengingat urusan ranjang sebab Nathan tak pernah menyentuhnya kalau dalam urusan itu. Jangankan memberikan nafkah batin, pernah menciumnya saja tidak pernah. Paling jauh hanya pegangan tangan saja. Ah sudahlah tak masalah Chexil pun belum terlalu jauh menginginkan hal itu mengingat dirinya dan Nathan masih sama-sama kuliah.


"Anggap saja kami masih pacaran," desisnya sambil menyunggingkan senyum. Bagaimanapun menjadi istri seorang Nathan saja dia sudah bersyukur. Cinta memang sering membuat seseorang menjadi aje gile.


Chexil langsung menghidangkan hasil masakannya di atas meja kemudian dirinya masuk kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk kuliah.


Sampai diluar ia melihat Nathan sudah siap untuk berangkat.


"Nggak makan dulu?" seru Chexil saat melihat Nathan sudah membuka pintu hendak keluar. Nathan tidak menjawab. Ia terus melangkah keluar.


Chexil berlari mengejar Nathan sampai buku yang ada dalam dekapannya berceceran. "Mas, Mas Nathan!" teriaknya. Ia sampai merinding mendengar suaranya sendiri.


"Mas? Aneh nggak sih?" tanyanya pada diri sendiri.


"Ah sudahlah masa bodoh nih mulut mau manggil dia siapa yang penting dia harus sarapan pagi ini."

__ADS_1


Nathan terlihat menoleh. Chexil berteriak mengatakan, "Makan dulu!"


Namun Chexil merasa kecewa Nathan tidak merespon ucapannya. Lelaki itu terlihat melangkah pergi setelah menoleh.


"Apa aku ada salah ya?" Chexil bertanya-tanya pada diri sendiri sambil mengingat-ingat sekiranya dia melakukan kesalahan apa terhadap Nathan. Namun nihil dia tidak menemukan kesalahan dalam dirinya.


Setelah Nathan hilang dalam pandangan Chexil berbalik arah masuk ke dalam apartemen lagi. Dia memunguti buku-bukunya lalu memasukkan ke dalam tas kembali.


Dia melihat jam dipergelangan tangannya. Masih terlalu pagi untuk terburu-buru. Chexil tahu ini masih terlalu dini untuk masuk ke kampus, tetapi mengapa Nathan terburu-buru?


Chexil menatap masakan di atas meja makan yang sekarang malah terlihat hambar. Dia duduk, meski sudah tidak ada selera untuk makan. Dia tetap memakan masakannya sendiri. "Kalau bukan aku yang menghargai terus siapa lagi?" gumamnya.


Dia menyendok nasi dan teman-temannya meski rasanya sudah tidak seperti waktu dicicipinya tadi. Namun bagaimanapun dia sudah membuang banyak waktu untuk membuatnya. Jadi mau tidak mau, enak tidak enak harus ia makan.


Setelah makan ia keluar siap berangkat ke kampus meski tidak ada yang mengantar.


"Aku harus mandiri tidak boleh menjadi anak Mommy lagi, yang kemana-mana harus ada yang mengantar atau malah dikawal."


Sampai di koridor dia tidak sengaja menabrak seseorang hingga tas orang tersebut jatuh ke lantai.


"Maaf Pak Dokter," katanya sambil berlari menjauhi. Dokter itu hanya menggeleng melihat Chexil tidak mau bertanggung jawab. Seharusnya dia kan membantu memungut obat-obatan yang terserak di lantai. Salah pak dokter sendiri sih sampai lupa menutup tasnya. Barangkali dia terburu-buru sampai lupa seperti itu.


"Hei Xil Nathan mana?" tanya Lukas sambil melambaikan tangan dan berlari ke arah gadis itu.


"Sudah berangkat," jawab Chexil datar.


"Sudah berangkat? Kenapa tidak bareng sama kamu?"


Chexil tampak mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, kamu tanya sendiri saja orangnya."


"Kalian bertengkar? Apa karena semalam dia pulang larut malam?" tanya Lukas penuh selidik, takut Chexil mempermasalahkan kepulangan Nathan semalam dan akhirnya Nathan pun merajuk.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan selama dia perginya pamit terlebih dulu. Yang aku tidak mengerti sejak kembali semalam sikapnya dingin terhadapku."

__ADS_1


Lukas tampak mengernyit. "Iyakah?"


Chexil hanya mengangguk.


"Tapi semalam tidak ada apa-apa," batin Lukas, mengingat kejadian semalam. Dia meraih ponsel, mendeal nomor Nathan tapi tidak aktif.


"Apa karena pusingnya semalam ya, yang membuat dia jadi seperti ini. Ah tidak masuk akal." Menepis argumen sendiri.


"Sudah Xil ayo kita berangkat saja, mungkin Nathan sudah sampai," ajak Lukas sambil berbalik arah. Chexil pun mengikuti langkah Lukas dan pergi ke kampus bersama.


Sampai di depan kampus ternyata Nathan baru sampai. Lukas menepuk bahu Nathan. "Hai Bro, kemana saja sih dari tadi. Aku jemput sudah tidak ada. Hei istrimu ketinggalan. Punya istri cantik kok main ditinggal, awas dicuri orang," seloroh Lukas.


Nathan hanya menatap Chexil sekilas lalu meninggalkan kedua.


"Hai Bro tunggu!" teriak Lukas sambil berlari mengejar sahabatnya. Sedangkan Chexil hanya menekan dada sambil berusaha tegar. Lebih baik dia bertanya pada Nathan setelah pulang saja, apa maunya.


Bersambung....


Othor mohon doa ya teman-teman semua. Suami othor kambuh lagi penyakitnya. Semoga Othor masih bisa update 🙏


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian semua. Yuk kepoin, dijamin seru!



Judul : Istri kecil Dosen Muda.


Napen : Susi similikity.


Blurb:


Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang begitu dingin. Tapi siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.


Bagaimanakah sikap mereka di kampus?

__ADS_1


Akankah mereka saling mencintai?


Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?


__ADS_2