
Isyana langsung menarik ponsel Nathan. "Maaf Nak Lukas kali ini Nathan tidak bisa ikut karena opanya masuk rumah sakit," ujar Isyana lalu menutup panggilan telepon Lukas.
"Ah, Mama." Nathan mendesah kesal.
"Baru datang sudah mau pergi, apa kamu tidak khawatir terjadi sesuatu sama Opa kamu."
"Bukan begitu Ma tapi ...."
"Sudah nggak ada tapi-tapian," potong Isyana cepat.
"Sayang jangan keras-keras dong sama anak sendiri," bisik Zidane di telinga Isyana.
"Biarin Mas kalau tidak begitu dia akan terus terjun ke dunia yang membahayakan buat keselamatan dirinya."
"Biarkan saja selama dia bisa menjaga diri tidak masalah, dia kan ada di jalan yang benar. Bukan berbuat kejahatan." Mendengar pembelaan papanya Nathan tampak tersenyum senang.
"Mas lupa ya gara-gara Nathan yang suka menangkap penjahat-penjahat itu Chila hampir jadi korban penculikan mereka karena dendam pada nih anak," tunjuk Isyana para putranya itu.
"Untung segera ditemukan, kalau tidak Mas sudah tidak punya putri sekarang," tambahnya.
Nathan hanya bisa menelan ludah mendengar perkataan mamanya karena memang begitu kenyataannya. Akhirnya Nathan terdiam pasrah. Hari itu dia memilih tidak kemana-mana dan menjaga sang opa seharian di ruang rawat rumah sakit hingga malam menjelang.
"Kalian pulang dulu sana. Kalian kan harus istirahat juga. Besok pagi atau siang kalian bisa datang lagi kemari biar Oma sama Tristan saja yang jagain opa," ujar Laras.
"Kamu tidak ada job kan malam ini Tris," lanjutnya.
"Nggak ada Oma, Tris libur."
"Bagus kalau begitu."
"Iya Oma." Nathan bangkit dan menatap Chexil. "Kita balik ke apartemen!"
"Eits pulang kemana? Pulang ke apartemen? Tidak boleh, pulang ke rumah saja!" perintah Isyana. Dia harus mengantisipasi agar Nathan tidak menemui Lukas nantinya.
"Siap Komandan!" Tristan berucap sambil mengangkat tangannya ke dahi seperti orang yang memberikan hormat sambil terkekeh karena melihat mamanya yang tidak bisa terbantahkan.
Nathan melirik ke arah Tristan melalui ekor matanya dengan geram. Bukannya membantu, Tristan malah meledek. Kalau tidak banyak orang di tempat itu ingin rasanya Nathan menjitak kepala adiknya itu dengan keras karena teramat kesal.
"Ayo Nak Chexil pulang bareng mama!" Isyana langsung meraih tangan kanan Chexil dan menggandeng tangan menantunya itu.
"Ayo Kak." Chila pun tak kalah, menggandeng tangan Chexil yang sebelah kiri.
"Nathan ayo, mama nebeng mobil kamu!"
"Iya Ma," ujar Nathan pasrah sambil mengikuti langkah ketiga perempuan itu keluar dari rumah sakit. Sedangkan Zidane masih tampak duduk bersama Laras dan Tristan.
Sampai di rumah Nathan langsung masuk ke kamarnya sedangkan Chexil masuk ke kamar Chila. Kebetulan dia merengek ingin tidur bersama Chexil. Sesuatu yang menguntungkan bagi Chexil yang sedang malas jika harus sekamar lagi dengan Nathan.
Di dalam kamar Nathan tampak mondar-mandir. Dia merasa gelisah dan tidak tenang meninggalkan Lukas berjuang tanpanya. Bukan apa-apa mereka sudah terbiasa bersama baik dalam suka maupun duka.
Memikirkan bagaimana caranya supaya dapat keluar pun sia-sia, karena apapun alasannya Isyana tidak akan mau mengizinkan putranya keluar saat ini.
"Aku harus menelepon Lukas." Ia meraih ponsel dan segera menghubungkan Lukas.
"Ah, tidak ada jawaban." Ia mendesah kesal.
__ADS_1
________________________________________________________
Di tempat lain.
"Siaga! Siaga! Sepertinya perahu musuh sedang bergerak kemari."
Beberapa polisi sudah tampak siap di tempat masing-masing.
"Kejar! Mereka berbelok ke arah sana!"
Beberapa anggota polisi pun bergerak mengejar perahu pertama. Namun tiba-tiba banyak perahu yang muncul dan gerakannya pun menyebar.
"Hati-hati kita jangan sampai terkecoh kembali, kita berpencar dan kejar target masing-masing!"
"Bagaimana ini komandan jumlah mereka sepertinya lebih banyak dari kita. Bukankah menurut informasi yang kita dapatkan hanya ada tiga perahu tetapi mengapa sampai banyak seperti itu." Lukas tampak khawatir.
"Tidak apa-apa Luk, dibawa tenang saja agar kita bisa berpikir jernih."
"Komandan sepertinya strategi kita diketahui bahwasanya kita mengepung dari arah mana saja," lapor seorang polisi.
"Ya strategi kita bocor, mereka sudah tahu kita akan menyerang sehingga mereka mengambil jalur lain untuk mengirimkan barang mereka."
"Hubungi bagian darat untuk meningkatkan kewaspadaan di segala penjuru!"
"Baik."
"Tapi saya melihat perahu tadi membawa barang yang mencurigakan Pak."
"Kenapa tidak dikejar?"
"Sudah ada yang mengejar tetapi mereka membawa persenjataan yang kuat bahkan tadi mereka melempar alat peledak ke arah kami hingga pandangan kami sempat kabur. Kami ke sini ingin mengambil stok peluru yang hampir habis."
"Aku ikut kalian." Lukas mengambil peluru dan membawa ke perahu tersebut dan kini perahu tersebut tampak meluncur dengan cepat. Setelah sampai ke target mereka gencar menembak. Aksi tembak-menembak pun terjadi. Bahkan pihak musuh masih sempat beberapa kali melemparkan bahan peledak kembali.
"Ayo cepat Pak! Perahu kita hampir mendekati."
Ponsel Lukas tampak bergetar. Namun karena suara di sekitarnya terdengar riuh, Lukas tidak sadar ada yang menelpon.
"Siap, kita segera menyusup." Seorang polisi tampak melompat ke dalam perahu musuh diikuti Lukas di belakang.
"Jangan bergerak!" Polisi itu menyodorkan pistol pada seseorang di dalam perahu. Tampak beberapa orang melompat ke perahu lainnya lalu meluncur dengan cepat.
Namun ketika perahu itu masih belum jauh Lukas melihat seorang wanita ada di sana. Lukas termangu, sepertinya ia kenal wanita itu. "Nela, bukankah itu Nela ya." Lukas mengucek kedua matanya untuk memastikan pandangannya tidak kabur.
"Awas Luk!" Seorang polisi yang menodongkan pistol itu berteriak tatkala orang yang ditodongnya bergerak sangat cepat melempar pistol di tangannya dan kini ia meraih tubuh Lukas dan melemparnya ke lautan sedangkan dirinya sendiri pun ikut terjun ke dalam laut dalam.
Lukas berenang menghampiri perahu tetapi sayang orang itu tidak membiarkan Lukas kembali. Mereka terlibat perkelahian di dalam laut dan orang itu menyeret Lukas menjauh dari perahu.
Polisi yang ada di perahu tadi bersama Lukas, segera berteriak meminta tolong lalu ikut menceburkan dirinya ke dalam laut untuk menyelamatkan Lukas. Arus yang begitu deras membawa mereka melanglang buana di tengah lautan yang begitu dalam. Satu jam, dua jam Lukas masih bisa berenang dan bertahan. Namun dimenit selanjutnya ia sudah tidak kuat dan akhirnya pingsan di tengah Lautan.
"Tolong! Tolong cepat!" teriak polisi yang mengejar Lukas sambil melambaikan tangan. Dia nampak kewalahan menyelamatkan Lukas seorang diri. Untung beberapa saat kemudian yang lain sampai ke tempat mereka dan segera membantu mengangkat tubuh Lukas ke arah perahu.
Seorang dari mereka langsung memberikan nafas buatan. Tampak air menyembur dari mulut Lukas.
"Bagaimana ini komandan mengapa belum sadar juga?"
__ADS_1
"Ke darat, dan cepat bawa dia ke rumah sakit, jangan sampai terlambat! Biar kami yang lain yang melanjutkan penangkapan."
"Baik Komandan."
Perahu pun meluncur ke daratan dengan kekuatan ekstra.
Ponsel Lukas terdengar berbunyi kembali.
"Halo Luk."
"Nathan ini bukan Lukas, ini saya."
"Pak, mana Lukas?"
"Lukas masih pingsan, dia baru tenggelam tadi."
"Apa? Bagaimana keadaannya Pak?"
"Belum tahu yang pasti dia masih pingsan. Kamu tunggu saja dia rumah sakit terdekat dari sini dan minta pihak rumah sakit untuk menyiapkan segalanya. Kamu mengerti kan?"
"Siap Pak saya laksanakan."
"Mau kemana?" tanya Isyana sambil berkacak pinggang.
"Ma please Nathan mau ke rumah sakit."
"Bukankah kamu baru saja dari sana?"
"Bukan ke rumah sakit tempat opa Ma, tapi ke tempat Lukas."
"Emang kenapa Lukas?"
"Dia pingsan Ma, belum sadarkan diri."
"Owalah ya sudah kalau begitu mama ikut."
"Baiklah Ma."
"Bentar mama mau nitip adik kamu sama Chexil."
Isyana beranjak ke kamar Chila, Setelah berbicara sebentar dengan Chexil dia langsung pergi ke rumah sakit bersama Nathan.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian semua. Bagi yang suka misteri, cuss langsung kepoin.
Blurb:
Renata adalah hantu yang ingin menuntut balas akan kasus kematian tragis yang di alaminya setelah di bully dan di lecehkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ia meminta bantuan kepada seorang gadis indigo penakut bernama Fanya.
Akan kah Fanya berhasil membantunya?
__ADS_1
Ikuti terus kisah mereka hanya di:
*Misteri Kematian Renata*