
Sampai di halaman rumah setelah memarkirkan mobilnya Maximus berteriak sambil berusaha membuka pintu mobil "Rena! Rena!"
"Seorang pembantu datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Maximus.
Mata Rena tampak membelalak melihat banyak darah mengucur dari tubuh majikannya. Meskipun ia tidak begitu suka dengan majikannya itu tetapi bagaimanapun Rena masih punya rasa kemanusiaan.
"Tuan kenapa?"
"Cepat telepon dokter Samuel! Katakan dia harus cepat kemari karena aku tertembak," ucapnya dengan suara yang lemah dan meringis.
"Baik Tuan."
Rena masuk ke dalam rumah kembali dan menghubungi dokter Samuel agar bergegas datang.
Beberapa saat ia keluar kembali dan memapah Maximus untuk membantunya masuk ke dalam. Kebetulan hari itu anak buah Max tidak ada satupun yang ada di rumah. Mereka semua pergi menyusul Maximus ke medan dan belum tahu apa yang terjadi terhadap majikannya.
"Akhh." Tenaga Rena tidak kuat untuk memapah Maximus hingga tubuh pria itu jatuh di lantai.
Melihat Maximus yang bersimbah darah, seorang wanita dengan menggandeng seorang anak laki-laki, setengah berlari ke arah mereka.
"Nona kenapa kembali?"
Wanita itu tidak menjawab, terlihat raut khawatir di wajahnya.
"Pergilah! Ini saat yang tepat untukmu pergi. Kau tahu tidak akan ada lagi saat-saat seperti ini! Ini kesempatan baik Nona untuk kabur." Rena mengingatkan.
Wanita itu masih tidak menjawab. Masih menatap bingung antara mau pergi atau bertahan. Dia lalu menatap sekilas putranya.
Maximus meraih tangan wanita tersebut sambil menatap wajahnya dan menggeleng seolah memohon supaya wanita tersebut tidak pergi.
Wanita tersebut bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh. Maximus tampak memejamkan mata karena tahu wanita tersebut pasti akan memilih meninggalkan dirinya setelah apa yang selama ini dirinya perbuat.
Rena tampak bernafas lega tetapi dia menjadi heran ketika wanita itu malah masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah kain di tangan.
Wanita itu tampak berjongkok dan menyobek kain yang dipegangnya kemudian melilitkan kain tersebut ke perut Maximus.
"Nona."
"Saya tidak akan meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini."
"Nona ..."
__ADS_1
"Tolong Bi Rena, ini bukan saatnya untuk berdebat." Wanita itu masih tampak bergulet dengan kain di tangan, berusaha agar sebisa mungkin menghentikan pendarahan sebelum mendapatkan pelayanan medis. Sedangkan Maximus sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Rena pun pasrah membiarkan wanita itu memilih jalannya sendiri.
Setelah selesai dengan pekerjaannya wanita itu tampak mengusap kepala putranya yang kini tampak menangis tanpa suara sambil memandang ke arah ayahnya.
"Mommy, Daddy ..."
"Sudahlah, doakan saja daddy-mu sembuh." Wanita itu memotong perkataan putranya.
Beberapa saat dokter Samuel dan beberapa petugas kesehatan datang. Mereka langsung mengangkat tubuh Maximus ke dalam kamar dan menyiapkan alat-alat medis.
Dokter Samuel tampak mengeluarkan peluru yang menembus dada Maximus ditemani wanita dan seorang anak laki-laki itu.
"Apa dia bisa sembuh Dokter?"
"Lukanya sangat berat, dia kehilangan banyak darah karena terlambat ditangani. Kami akan terus berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan." Anggota medis pun sudah menyiapkan stok darah untuk Maximus.
Setelah mengeluarkan *****, dokter Samuel pun langsung langsung bertindak memasang selang infus dan yang lainnya.
Nathan menyusup ke dalam rumah saat mereka sedang sibuk. Ia mengintip ke dalam kamar. Sedari tadi dia mengintip dari dalam mobil tidak begitu jelas melihat wajah wanita tersebut. Namun kali ini pandangan matanya barulah jelas.
"Dia siapa sih sebenarnya?" Nathan memijit pelipisnya sambil berpikir. Rasa-rasanya dia pernah melihat wanita tersebut sewaktu kecil.
Kemudian Nathan ingat sesuatu. "Oh aku ingat, dia yang pernah datang dan mengacau di pernikahan om Louis."
"Ya Tuhan dia kan kakaknya Tante Safa yang hilang beberapa tahun yang lalu? Dia ternyata masih hidup. Aku akan segera menghubungi om Louis."
Baru saja mengambil ponselnya, ponsel tersebut sudah berdering duluan.
"Halo komandan, iya Nathan tidak apa-apa."
"........."
"Nathan sekarang ada di rumah ...."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, wanita yang tadi berdiri di samping dokter berlari ke hadapannya lalu bersimpuh.
"Tolong jangan laporkan dia ke polisi, aku mohon." Wanita tersebut tampak berurai air mata.
Untuk sesaat Nathan tampak tertegun. Melihat air mata di pipi wanita tersebut ia langsung mengingat sang mama.
__ADS_1
"Komandan nanti saya telepon lagi." Nathan langsung memutus sambungan telepon padahal polisi tersebut menghubungi dirinya karena ingin memberikan kabar tentang Felix. Nathan pikir polisi tersebut hanya ingin menanyakan keadaan dirinya.
"Aku mohon, apapun akan aku lakukan asal kau membebaskan dia."
"Aku bukan polisi dan polisi sekalipun tidak akan mau kau melakukan penawaran seperti itu."
"Tolonglah jangan lapor kepada polisi," pintanya dengan penuh harap kali ini bocah laki-laki yang selalu tidak pernah lepas darinya pun ikut bersimpuh di samping ibunya.
"Bangunlah! Aku tidak akan melapor kepada polisi." Akhirnya meski terasa berat, Nathan mengambil keputusan.
"Maafkan aku Tuhan aku berdosa telah mengambil keputusan ini, tetapi aku tidak tega melihat keduanya," batin Nathan.
"Apa kau kenal dengan om Louis?" tanya Nathan lebih lanjut.
"Jangan! Jangan beritahukan keberadaan ku." Raut wanita itu berubah ketakutan kembali. Nathan menyimpulkan bahwa ternyata tebakannya tidak meleset. Satu kenyataan, Lisfi yang selama ini dicari-cari keluarganya ternyata masih hidup.
"Baiklah, tidak akan tetapi izinkan aku masuk ke dalam melihat keadaan pria yang tertembak tadi."
Wanita tersebut mengangguk dan berjalan ke arah Maximus. Nathan tampak mencuri foto wanita tersebut dan langsung mengirimkan pada Louis.
"Kau mengetik apa?" tanya wanita itu curiga, takut-takut Nathan hanya membohonginya.
"Oh tidak, hanya membalas chat istriku yang menanyakan keberadaan ku."
Wanita itu tampak mengangguk.
Cling.
[Benar Nathan itu Lisfi, kakaknya Tante Safa. Cepat kirimkan alamatnya!]
(Janjiku sama kalian di novel "Biarkan Kami Yang Menyatukan" sudah aku tepati ya. Menyematkan cerita Lisfi di novel ini.)
Bersambung....
Jangan lupa tinggalin jejak!🙏
Eh, Othor datang lagi dengan rekomendasi novel yang menarik tentunya bagi kalian semua. Kuy kepoin langsung! Nih dia novelnya.
__ADS_1