Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 78. Maafkan Aku


__ADS_3

Esok hari seluruh kota geger dengan berita kematian Felix yang bisa hidup kembali. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi kediaman Felix hanya untuk membuktikan kebenaran berita tersebut.


Kabar itu pun sampai di telinga Zidane dan keluarga.


"Bang dengar kabar terbaru tidak?"


"Kabar apa sih Tris Abang tidak terbiasa mendengar gosip," sahut Nathan sambil menyingsingkan lengan kemeja dan mulai mengambil makanan dan menaruhnya ke atas piring. Dia baru saja bergabung untuk sarapan pagi.


Nathan memegang lehernya, terasa tenggorokannya begitu sakit. Ia meneguk air minum yang ada di gelas.


Hari ini Nathan sudah siap membantu sang ayah di kantor sebelum masuk kuliah kembali esok.


"Cih gosip. Nggak tahu ya, Felix mertuamu itu sudah hidup kembali."


Tiba-tiba ada air yang menyembur dari mulut Nathan karena kaget dan malah terciprat ke pakaian Tristan.


"Abang ah, malah mandiin Tris. Tris sudah mandi Bang," ucap Tristan sambil mengibaskan tangan di bajunya.


"Abisnya kamu ngagetin Abang. Malah bikin berita konyol lagi. Mana ada orang mati hidup lagi?"


"Dibilangin nggak percaya. Tanya tuh Papa kalau masih nggak percaya," ujar Tristan lalu kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang basah.


"Benar Pa?"


"Iya, makanya abis ini kita semua akan langsung ke sana."


Nathan bangkit dari duduknya dan tidak jadi melanjutkan sarapan.


"Mau kemana Nath?"


"Nathan pergi duluan Pa." Pria itu langsung berlari keluar dan mengendarai mobilnya menuju kediaman Felix.


Sampai di sana suasana terlihat ramai. Banyak orang-orang yang berkerumun di rumah tersebut sambil bersenda gurau. Sesekali terdengar tawa dari mulut mereka.


Suasana kali ini memang berbeda dengan saat keluarga ini sedang berkabung. Bahkan terlihat beberapa pembantu yang sedang membagi kotak makanan kepada orang-orang yang hadir di sana. Barangkali sebagai ucapan syukur kepada Tuhan karena telah memberikan umur yang panjang kepada Felix.


"Dad abis ini antarkan Chexil ke rumah Nathan ya. Chexil mau minta maaf sama dia sekaligus ingin balikan kalau dia masih mau memberikan Chexil kesempatan."


"Baiklah nanti daddy antar."


Di tengah-tengah mengobrol Chexil melihat Nathan yang berjalan ke arahnya.


"Nathan." Chexil tersenyum sumringah. Dia lalu bangkit dari samping Felix dan berlari keluar.


Sampai di depan Nathan dia langsung bersimpuh di kaki pria itu dan menangis. Nathan yang tidak siap terlihat kaget. Ia menunduk dan meraih wajah gadis itu.


"Chexil, rupanya kamu. Aku pikir siapa."


"Maafkan aku Nath. Aku mohon maafkan aku." Chexil berkata dengan derai air mata. Dia tahu Nathan pasti masih marah mengingat semalam teleponnya tidak pernah diangkat.


"Hei kamu kenapa menangis? Apa terjadi sesuatu sama Mommy Karla?"


Chexil tampak menggeleng.

__ADS_1


"Terus ada apa?"


"Maafkan aku. Aku banyak salah sama kamu. Daddy sudah cerita semuanya. Kamu tidak salah, aku yang salah."


"Benar Daddy Felix hidup lagi?"


"Iya."


"Sudah bangun ah malu dilihat orang." Nathan meraih tubuh Chexil agar ia berdiri, tetapi wanita itu tidak mau.


"Aku tidak akan berdiri kalau kamu belum bisa memaafkanku."


"Ya sudah kalau begitu tetaplah di situ." Nathan meninggalkan Chexil yang masih terduduk di lantai.


Tangis wanita itu semakin menjadi tatkala Nathan meninggalkannya.


"Aku tahu Nath kesalahanku tidak bisa dimaafkan dan kamu pasti sudah terlanjur kecewa sehingga tidak mungkin akan kembali padaku," ucap Chexil dengan kondisi yang masih menangis sesenggukan.


Nathan mengehentikan langkahnya dan tersenyum. Beberapa saat kemudian ia berbalik dan menghampiri Chexil kembali.


"Bangunlah aku memaafkanmu!"


Chexil mendongak dan menatap wajah Nathan. Pria itu memberikan senyuman termanisnya.


"Benarkah?" Chexil mengusap air mata di pipi dengan kedua tangannya.


Nathan mengulurkan tangan dan Chexil menerimanya. Nathan menarik tangan Chexil agar berdiri.


Setelah berdiri Chexil langsung memeluk erat tubuh Nathan. "Terima kasih dan jangan tinggalkan aku ya Nath. Aku tidak ingin berpisah darimu."


Chexil menatap wajah Nathan dan cemberut tetapi dia masih tidak mau melepaskan pelukan Nathan. "Maaf, lain kali nggak lagi."


"Baiklah aku memaafkan dan tidak akan pernah meninggalkanmu tapi dengan beberapa syarat."


"Apapun saratnya akan aku penuhi asal kita dapat terus hidup bersama."


"Baiklah dengarkan! Pertama, jangan pernah kabur-kaburan, apalagi sampai aku melihatmu memeluk pria lain."


"Baik."


"Kedua kau harus menuruti semua keinginanku."


Chexil mengangguk.


"Dan ketiga jangan pernah ada yang ditutupi diantara kita. Dari konflik kita selama ini aku belajar bahwa semua terjadi karena tidak adanya saling keterbukaan diantara kita. Maafkan aku juga ya yang telah menuduhmu macam-macam. Sebenarnya bukan cuma dirimu yang patut disalahkan tetapi diriku juga. Kita berdua sama-sama salah."


"Iya."


"Kamu tahu Xil, benar kata orang setiap masalah akan ada hikmahnya. Dari yang terjadi diantara kita aku sadar bahwa cintaku terlalu besar untukmu. Saat kau meninggalkanku aku benar-benar merasa kehilangan."


"Aku juga sangat mencintaimu Nath bahkan sejak dulu sebelum kita saling mengenal."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Sejak pertemuan pertama kita di pos satpam kampus waktu itu."


"Wah kamu masih mengingat itu ya?"


"Iyalah, itu pertama kali aku merasakan debaran di sini." Chexil menunjuk dadanya sendiri.


"Kau cinta pertamaku Nath dan semoga juga jadi yang terakhir," ucapnya kemudian.


"Chexil." Nathan benar-benar terharu dan semakin erat memeluk Chexil.


"Aku merindukanmu."


"Aku juga."


Bersamaan dengan itu keluarga Nathan dan teman-teman keduanya datang.


"Hmm, meleleh hati adik Bang," ujar Fani terkekeh."


"Tuh lihat Mas cinta mereka akan semakin kuat setelah melewati semuanya," ujar Isyana pada Zidane.


"Benar sayang semoga tidak ada konflik lagi diantara keduanya."


"Gerah, padahal semalam hujan deras tapi kok sepertinya orang jomblo sepertiku tidak menemukan kesejukan ya," ucap Lukas.


"Panas Loh melihat kemesraan orang lain, makanya cepat-cepat cari jodoh," timpal Tristan.


Mendengar suara kedua orang itu keduanya melepaskan pelukan sambil tersenyum malu-malu.


Prok prok prok!


Terdengar tepuk tangan dari berbagai arah.


"Xil kita ternyata jadi pusat perhatian," ujar Nathan.


"Iya ya aku pikir mereka semua fokus sama Daddy nggak tahunya fokus sama kita."


"Kamu malu?"


"Ia."


"Ya sudah sekalian." Nathan menggendong tubuh Chexil dan berlari masuk ke dalam rumah sambil tertawa.


"Woi masih pagi jangan bikin yang panas-panas!" teriak Lukas.


"Iri aja loh Luk. Iri tanda tak mampu, ha ha hah." Tristan tertawa renyah.


"Yang iri seharusnya elo, punya kekasih rasa jomblo, ha ha ha." Lukas balik menertawakan Tristan.


Tristan mendorong kepala Lukas. "Yang penting sudah ada hilal nah elo jodohnya masih orok." Tristan langsung berlari meninggalkan Lukas.


"Tristan!" teriak Lukas geram.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2