Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 19. Nathan atau Tristan?


__ADS_3

"....... dan aku tidak mencintaimu."


Mengapa begitu sakit ketika cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Seandainya Tristan yang mengatakan mungkin aku akan merasa bahagia malam ini.


Chexil menarik nafas panjang. Ia bangkit dari duduknya lalu beranjak ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya secara kasar. Ia sangat kecewa tetapi tidak tahu harus kecewa terhadap siapa. Ia memejamkan mata, sebisa mungkin ingin cepat tertidur. Kalau di dunia nyata dia tidak bisa menjemput bahagia barangkali dia bisa menemukan bahagia di alam mimpi.


Keinginan tidur lebih cepat dan bermimpi indah tidak bisa tergapai. Terbukti hingga tengah malam Chexil masih nampak gelisah sedangkan sang suami sudah lama terlelap dengan posisi yang sama sekali tidak berubah, masih memunggunginya. Chexil menatap punggung Nathan, nasehat kakek mertuanya terngiang di telinga.


"Nak, Nathan itu orangnya dingin beda dengan Tristan. Saya harap kamu bisa menjadikan dia pria yang hangat."


Begitupun dengan ucapan Tristan.


"Kamu hanya perlu memberikan perhatian padanya saja."


"Kalian benar aku hanya perlu bersabar dan terus berusaha agar Nathan bisa menyukaiku," batinnya. Setelah mengatakan itu Chexil merasa lega dan akhirnya bisa tertidur pulas.


Dini hari Nathan terbangun karena dering ponsel. Setelah menerima telepon ia langsung memakai jaket kulitnya dan meraih kunci mobil. Sesaat ia menoleh kepada Chexil yang masih nampak tertidur pulas.


Nathan mendekat, mengulurkan tangan untuk membangunkan Chexil. Namun ia urungkan karena tidak ingin mengganggu tidur sang istri.


"Kasihan kamu Xil, Tristan tidak bisa membalas cintamu. Entah apa yang kalian lakukan hingga kita harus terjebak dalam pernikahan ini." Nathan membenahi selimut Chexil yang sudah terlepas dari tubuhnya. Kemudian ia bergegas pergi.


Chexil terbangun saat merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya. Ia melihat ke sekeliling ternyata Nathan sudah tidak ada. Chexil bangkit kemudian berjalan ke arah kaca. Ia menyingkapkan gorden, terlihat di luar sana hujan turun dengan derasnya.


"Pantas saja terasa dingin sekali." Ia melangkah ke arah ac, mengambil remote yang ada di dinding dan mematikannya.


"Kemana Nathan pagi-pagi begini? Apa mungkin masih di kamar mandi?"


Ketika hendak melangkah, terdengar ketukan pintu dari luar. Chexil mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi dan membuka pintu.


"Kenapa harus mengetuk pintu sih, kan kamu bisa langsung masuk."


Dia pikir orang yang ada di depan pintu adalah Nathan


"Selamat pagi Nona."

__ADS_1


"Pa ... gi," ucap Chexil kaget karena yang datang ternyata seorang pramusaji yang mengantarkan makanan.


"Permisi! boleh saya masuk?"


Chexil mengangguk.


Orang itu masuk dan menata makanan di atas meja.


"Silahkan dinikmati Nona sarapannya."


"Terima kasih," jawab Chexil.


Pria itu melangkah pergi namun tiba-tiba kembali.


"Ada yang ketiggalan Nona."


Chexil mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Apa yang ketinggalan?"


"Pesan?"


"Tuan Nathan meminta Nona sarapan terlebih dahulu karena beliau harus pergi karena ada kepentingan mendadak."


"Sejak kapan dia pergi?"


"Sudah dari jam tiga dini hari."


Chexil mengangguk dan berterima kasih. Pelayanan itu lalu pergi.


"Pagi-pagi ada kepentingan mendadak? Di hari usai pernikahan? Ah sudahlah yang penting dia tidak melupakanku." Chexil tersenyum senang sambil menatap makanan di atas meja. "Ternyata dibalik sifat dinginnya dia perhatian juga."


Chexil melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia berdandan dan berpakaian rapi, siapa tahu setelah ini Nathan datang. Chexil harus merawat dirinya lebih lagi agar Nathan bisa menyukainya.


Seusai berdandan Chexil menyantap makanannya. Terdengar ponselnya bergetar. Ia menghentikan makan dan memeriksa pesan yang masuk. Ternyata dari Fani teman satu jurusan di kampusnya.

__ADS_1


"Ah pasti dia salah paham," ujar Chexil menanggapi berita dari Fani bahwa gadis itu kepergok dengan Nathan yang membawa seorang wanita ke rumah sakit.


"Ada-ada saja si Fani, pasti dia bertemu Tristan. Gini amat kalau punya suami kembar." Ia terkekeh sendiri.


Sedangkan Fani yang hanya melihat chat-nya di read saja tanpa dibalas langsung menelpon Chexil.


"Xil, kok nggak dibalas sih pesanku?"


"Karena informasimu tidak benar. Yang kamu lihat Tristan kan bukan Nathan," ucap Chexil enteng. Dia memegang ucapan Tristan bahwa Nathan tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.


"Aku yakin itu Nathan bukan Tristan, Xil."


"Bagaimana kamu bisa membedakannya? Bukankah kamu baru kemarin bertemu dengan Nathan?"


"Memang benar tetapi kalau Tristan aku sering ketemu. Auranya beda Xil, orang ini Nathan suami kamu. Apa perlu aku kirim foto mereka?"


"Tidak perlu Fan." Chexil langsung menutup teleponnya.


"Xil! Akh nggak percayaan sih dibilangin," protes Fani karena Chexil menutup sepihak telponnya.


"Fani pasti salah lihat, ia dia pasti lihat Tristan." Chexil berusaha meyakinkan diri.


Tiba-tiba pintu diketuk kembali. Chexil membuka pintu. Jantungnya tiba-tiba ingin meleduk melihat siapa yang ada di pintu.


Dia Nathan apa Tristan?


"Xil Abang mana?" Tristan bertanya sambil tersenyum manis membuat Chexil bisa langsung menebak pria yang ada di hadapannya adalah Tristan, disampingnya juga berdiri Isyana.


"Iya Nak Chexil mama mau ketemu sebentar."


Gawat apa yang akan aku katakan?


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

__ADS_1


__ADS_2