
"Pokoknya Bunda tidak mau mendengar alasan apapun kamu harus pulang sekarang!"
"Maaf Bun, Lisfi tidak bisa."
"Ya ampun Lisfi mengapa kamu menjadi orang bodoh seperti ini? Seharusnya kamu itu membenci pria itu tapi malah sebaliknya kau masih ingin merawat dia. Kamu tenanglah meskipun anakmu tidak bersama dengan daddy-nya kami bisa kok memberikan kasih sayang buat anak kamu itu dan ayah kamu juga bisa menjadi kakek sekaligus ayah untuk anakmu itu seperti halnya dia menyayangimu dahulu," ucap Farah panjang lebar.
"Kak, kakak yakin masih mau tinggal di sini? Kakak bisa pulang ke rumah bunda atau pulang ke rumahku yang sekarang tidak ada yang menempati."
"Nanti saja ya setelah dia sembuh." Lisfi masih bernegosiasi.
Farah menarik nafas berat, tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya. Atau jangan-jangan putrinya tersebut malah jatuh cinta pada pria tersebut.
"Sudahlah biarkan saja dia memilih jalannya sendiri." Louis akhirnya ikut buka suara.
"Tapi Nak Louis, bunda tidak habis pikir dengan keputusan dia. Sudah bertahun-tahun hidup dengan penuh siksaan tetapi masih saja mau bertahan."
"Mungkin itulah yang dinamakan Sindrom Stockholm atau Syndrome Stockholm dimana itu adalah reaksi psikologis yang ditandai oleh simpatik atau kasih sayang yang muncul dari korban penculikan terhadap pelaku."
"Ada ya Nak Louis yang seperti itu?"
"Ada lah Bun apalagi dia sampai punya anak dari pria itu. Biarkan saja untuk sementara dia di sini dulu tentunya dengan pengawasan orang-orangku. Nanti kalau sekiranya keadaan berbahaya kita jemput lagi dia."
"Baiklah Nak Louis," ucap Farah pasrah. Dia kemudian mendekati cucunya itu dan mengajaknya berbincang-bincang siapa tahu dengan begitu Mickey mau ikut dengannya.
Saat sedang asyik-asyiknya berbincang ponsel Nathan berdering kembali. Dia langsung mengecek siapa yang menelpon.
"Lukas."
"Ada apa Nath?" tanya Louis.
"Sebentar Om saya terima telepon dari teman dulu," ujar Nathan sambil berdiri dan berjalan menjauh dari mereka.
"Oke," jawab Louis lirih.
Lisfi hanya mengawasi pergerakan Nathan dengan ekor matanya, takut kali ini di melapor ke polisi seperti halnya tadi yang tidak ingin memberitahukan keberadaannya pada Louis tetapi kenyataannya malah memberitahu.
Nathan tampak keluar kamar dan menerima panggilan dari Lukas. Namun beberapa saat kemudian kembali ke kamar dengan muka yang pucat dan terlihat lemas.
"Ada apa Nath, apa ada yang gawat?" Louis sudah dapat menebak dari ekspresi Nathan pasti terjadi sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu sama Zidane?" tanya Louis kembali karena Nathan tidak menjawab.
"Tidak Om tetapi daddy Felix terkena tembakan di kepala dan sekarang ada di rumah sakit dengan keadaan yang kritis."
"Innalilahi, mertuamu kritis?" tanya mereka yang ada di sana serempak kecuali anak-anak.
"Iya Tan, malah Chexil belum ditemukan lagi. Kalau terjadi sesuatu sama daddy pasti Chexil akan semakin membenciku." Nathan tampak meraup wajahnya sendiri.
"Aku pergi Om," lanjutnya sampai bergegas keluar kamar.
"Aku antar Nath." Louis menyusul Nathan keluar.
"Tidak usah Om. Om di sini saja temani mereka. Harus berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan."
"Tidak apa-apa, ada yang lain yang bisa melindungi mereka."
"Baiklah terserah Om saja." Nathan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Sebentar." Louis berlari ke dalam kamar dan meminta izin untuk pergi kepada semua orang. Ia kemudian berlari lagi mengejar Nathan.
__ADS_1
Sampai di luar dia langsung menyuruh Nathan masuk ke mobil dan mengantarkan Nathan ke rumah sakit.
🌟🌟🌟🌟🌟
"Daddy mau kemana?"
Di tempat yang begitu asing Chexil melihat Felix meninggalkan dirinya. Chexil tidak tahu tempat apa itu. Pemandangan yang serba putih menghiasi dari segala penjuru.
"Mencari nenek dan kakekmu. Mereka diculik." Felix terus saja melangkah meninggalkan Chexil sendirian.
"Daddy tunggu!" Chexil tampak berlari mengejar Felix dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kamu tidak perlu ikut, jagalah mommy-mu. Kasihan dia sendirian."
"Tapi Chexil ingin selalu bersama daddy. Sejak kecil daddy selalu meninggalkan Chexil, sekarang Chexil tidak akan membuat Daddy meninggalkan Chexil lagi."
"Jangan keras kepala. Pulanglah dan tunggu daddy di rumah."
"Chexil tidak mau." Ia terus mengikuti Felix yang sekarang langkahnya sudah melewati bukit salju. Ada jurang curam yang ada di depannya.
"Berbalik lah medan ini sangat berbahaya untukmu. Daddy berjanji akan segera kembali." Setelah mengatakan itu Felix tergelincir hingga ia terpelanting jatuh ke dalam jurang dan terjal tersebut.
Chexil tampak kaget, dia langsung berteriak histeris.
"Daddy!"
Suaran Chexil menggema di segala penjuru.
"Tolong!" Ia lebih kencang berteriak tetapi tak ada satupun orang yang mendengar teriakannya.
"Tolong!"
Chexil langsung membuka mata. Keringat tampak bercucuran dari keningnya. Rasa takut seolah terlihat dari wajahnya.
Ia mengawasi wajah Isyana kemudian seluruh ruangan rumah sakit.
"Aku ada dimana?"
"Kamu di rumah sakit," jawab Zidane.
"Kamu pingsan Nak," timpal Isyana.
Chexil masih terlihat tidak percaya. Jiwanya masih berada diantara sadar dan tidak.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan seolah tidak percaya kalau dia memang ada di rumah sakit.
"Kamu mimpi buruk Nak?" tanya Isyana lagi.
Wanita itu mengangguk, sepertinya mulai sadar.
"Daddy mana Ma?"
"Daddy? Felix ada di sini Mas?" tanya Isyana pada Zidane.
"Aku juga tidak tahu, sebentar aku tanyakan dulu." Zidane beranjak menemui anak buah Felix yang tampak berjaga-jaga di luar.
Beberapa saat kemudian dia kembali ke dalam mengajak Isyana untuk keluar ruangan sebentar dan berbisik kepada istrinya itu.
Isyana terlonjak kaget. "Benarkah Mas? Terus kita akan bilang apa kepada Chexil?"
__ADS_1
"Terpaksa kita harus berbohong demi kebaikannya. Kalau tidak aku takut dia pingsan lagi dan itu juga akan berpengaruh pada cucu kita nantinya."
Isyana mengangguk lemah. Zidane menggandengnya memasuki ruangan kembali
"Daddy kamu belum tahu kamu pingsan dan dia sedang ada di luar negeri," ujar Zidane berbohong.
"Terus Mommy?"
"Nanti aku telepon biar dia kemari," ujar Isyana.
Chexil hanya mengangguk.
"Sebentar aku telepon mommy kamu dulu." Isyana beranjak ke luar kembali untuk menanyakan keadaan Felix dan bila memungkinkan dia ingin meminta Karla untuk menemui putrinya untuk sesaat saja agar wanita itu tidak curiga dan juga stres.
"Bagaimana Ma?"
"Iya Karla akan kemari tetapi katanya besok, soalnya hari ini dia tidak enak badan. Jadi untuk sementara biar mama dan papa yang jagain kamu dulu ya."
Chexil mengangguk lagi kemudian memejamkan matanya kembali.
"Jangan tidur lagi Nak, kamu makan dulu ya biar mama suapi," cegah Isyana takut-takut Chexil pingsan lagi.
"Chexil tidak selera Ma."
"Harus dipaksa sayang, kalau tidak kesehatan kamu akan lama pulihnya. Lagipula kasihan juga bayi kamu. Apa kamu tega membuat dia kelaparan?" bujuk Isyana.
Mata Chexil terbelalak. "Mama tahu Chexil hamil?"
Isyana mengangguk.
"Nathan juga tahu Ma?"
"Belum, nanti mama kasih tahu."
"Nggak usah lah Ma."
"Loh kenapa?" tanya Isyana heran.
"Nathan tidak mencintai Chexil Ma. Jadi mana mungkin dia mau menerima bayi ini?"
"Jangan ngomong begitu sayang. Mama yakin dia pasti bakal senang mendengar kehamilanmu. Kamu tahu dia hampir gila karena tidak berhasil menemukanmu."
"Dia mencariku Ma?"
"Iya sayang, maafkan dia ya sayang selalu menyakitimu."
"Dia tidak akan menceraikan Chexil?"
"Tidak akan dan kami para orang tua tidak akan membiarkan kalian berpisah."
Davin yang kebetulan masuk ke ruangan tersebut dengan membawa makanan menelan ludah mendengar pembicaraan Isyana dan Chexil. Dia merasa seolah tidak ada celah untuk masuk ke dalam kehidupan Chexil.
Bersambung....
Jangan lupa like-nya!
Jangan lupa mampir juga yuk ke novel milk teman Author. Dijamin seru dan keren abis.👍 Nih dia novelnya.
__ADS_1