Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 61. Penangkapan


__ADS_3

Esok hari Tristan sudah menunggu Nela di dalam apartemen. Mereka sengaja bertemu dalam apartemen agar tidak menimbulkan kecurigaan apabila bertemu di tempat yang sepi.


[Nel, sudah sampai mana?] Tristan mengirim chat pada Nela.


[Sebentar Tris, tidak sabaran amat sih. Saya harus memastikan keadaan aman dulu].


[Oke aku tunggu, bukan begitu salah satu temanku sudah tidak sabar menunggu dan mau membagikan pada yang lain].


[Sebentar lagi aku sampai di lantai atas. Katakan padanya bersabar sedikit].


[Oke].


Setelah memastikan Nela sudah ada di lantai bawah apartemen. Tristan langsung menghubungi Lukas agar standby di tempat dan melapor kepada para polisi yang bergabung dengan rencana Lukas.


📱"Target sudah hampir masuk jebakan Luk, silahkan kalian siaga."


📱"Oke kami sudah siap."


Beberapa saat kemudian terdengar pintu apartemen diketuk.


"Masuk Nel tidak dikunci."


Nela mendorong pintu depan cepat lalu menutup kembali. Melihat salah satu artis papan atas yang sering wara-wiri di dunia layar lebar sedang duduk di samping Tristan ia tersenyum senang.


"Wah bisa jadi ladang duit nih kalau artis ini bisa mengajak yang lain," batin Nela.


"Tris pintunya dikunci, biar aman!" pintanya pada Tristan.


"Oke." Tristan bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. Ia langsung menekan kode pintu apartemen tanpa khawatir karena Lukas sudah diberi tahu nomornya.


"Sudah. Aman," ucap Tristan sambil memperlihatkan dua jempol tangannya.


Nela mengangguk setelah melihat Tristan mengunci pintu. Ia kemudian mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


"Bang Rez perkenalkan namaku Nela."


"Laki-laki itu pun berdiri dan menyambut uluran tangan Nela. "Sudah tahu kan nama saya, apa perlu memperkenalkan diri?"


"Oh tidak perlu, namamu sudah ku hafal diluar kepala. Senang berkenalan denganmu."


Pria itu hanya terlihat mengangguk sambil tersenyum.


"Tris bagaimana kabar Nathan?"


"Tetap seperti kemarin Nel, masih seperti orang stres dia padahal sudah tidak mengkonsumsi alkohol."

__ADS_1


Nela beranjak ke kamar Nathan. Memang benar apa yang dikatakan Tristan. Nathan hanya duduk memandangi dinding dimana dia membuat tubuh istrinya terhimpit ke dinding kala itu hingga hal yang seharusnya tidak terjadi pun akhirnya terjadi. Dia harus kehilangan istrinya saat itu sampai kini dan entah sampai kapan lagi.


"Maaf Nath, tapi sepertinya Tristan benar kau membutuhkan obat ini. Paling tidak kau bisa berhalusinasi yang indah-indah. Kalau perlu jangan pernah mengingat wanita itu lagi." Nela berkata dalam hati.


Ia kemudian kembali ke sofa. Berbincang-bincang masalah jenis obat narkotika yang dibutuhkan teman Tristan.


"Mana barangnya?"


"Oh sebentar." Nela membuka resleting tasnya. "Butuh berapa gram?"


"Seadanya, berapapun aku bayar," jawab artis tersebut.


"Waw semuanya?" tanya Nela heran bercampur senang.


"Iya semuanya. Selain ada beberapa teman yang juga memesan, saya juga butuh stok banyak biar enak nantinya sebab beberapa orang yang biasa aku pesan sudah tidak ada lagi karena mereka telah ditangkap polisi."


"Waw jadi bang Rez sudah lama kecanduan?"


"Ya iyalah kalau bukan karena obat ini mana mungkin saya kuat syuting siang malam. Terus terang dengan obat ini stamina saya bisa terjaga dengan baik meskipun rutinitas padat."


"Baiklah aku sisihkan dulu untuk Nathan." Nela memberikan pada Tristan obat yang untuk Nathan.


"Ini yang untuk bang Rez, tapi harus bayar dulu." Nela menunjukkan banyaknya obat dalam tasnya.


"Minta uang cash apa cek?"


Pria itu mengambil koper dan memperlihatkan isinya yang dipenuhi uang berwarna merah. "Cukup?"


Nela tersenyum senang. "Sepertinya cukup."


Mereka menukar tas dan koper. Belum sempat Nela meraih koper yang berisi uang tersebut pintu apartemen tampak dibuka.


"Tris?" Nela kaget setengah mati.


"Jangan bergerak!"


"Angkat tangan!"


Dua orang polisi menyodorkan pistol di kepala Nela dan satu orang meraih barang bukti.


"Tris, mengapa bisa begini Tris?" Tristan hanya menanggapi kekagetan Nela dengan senyuman.


"Bren*sek kamu Tris, ternyata kau menipuku," umpat Nela.


"Pak tangkap juga dia. Dia temanku!" tunjuk Nela pada artis tadi.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Nathan yang mendengar kegaduhan di ruang tamu akhirnya keluar.


"Nathan tolong aku, mereka semua memfitnahku. Adekmu juga ini telah menuduhku macam-macam."


"Pak tolong jelaskan ada apa?"


"Perempuan ini adalah salah satu anggota sindikat mafia dan sekarang dia mencoba memperjualbelikan obat-obatan terlarang di dalam apartemen mu," jelas salah satu anggota polisi sambil menunjuk obat-obatan yang sebagian tercecer di atas meja.


"Bohong Nath dia yang menjual." Nela masih saja mengalihkan kesalahannya pada artis yang berdiri di depannya.


"Aku saksinya Bang, dan kamu Nel tidak bisa mengelak karena di ruang ini ada cctv-nya."


"Tris!"


Nathan menggeleng. "Aku tidak menyangka Nel, jangan-jangan kamu juga yang telah memasang alat pelacak di kamar Chexil waktu itu. Ah betapa berdosanya diriku telah menuduh Chexil macam-macam." Nathan semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya.


"Memang tidak salah lagi Nat, dialah yang menaruh alat itu. Terbukti dia dan kelompoknya tahu pergerakan kita dan yang lebih penting dia hampir membunuhku di tengah lautan." Lukas tiba-tiba masuk dengan kesaksiannya.


"Luk, jadi ini ulahmu!" teriak Nela.


"Iya, kenapa? Kaget? Asal kamu tahu saja aku tidak pernah amnesia. Aku berpura-pura agar kau tidak lari sebelum kami bisa menangkap mu," terang Lukas.


"Bren*sek memang kalian semua ya! Awas aku akan membalas perlakuan kalian."


"Balas lah di dalam penjara atau kalau tidak bisa di alam kubur sana karena sebentar lagi lehermu akan ditebas. Hahahaha." Lukas tertawa keras.


"Sudah sana Pak bawa dia ke kantor polisi," ucap Tristan.


"Baiklah terima kasih atas kerjasamanya."


"Sama-sama Pak."


Nela langsung digiring keluar dari apartemen.


Lukas melambaikan tangannya membuat Nela semakin geram saja.


"Awas kamu Luk!" teriaknya sebelum tubuhnya hilang dibalik pintu.


"Awas kamu Luk kalau ku mati aku tidak akan membiarkan dirimu tenang karena arwahku akan selalu menggentayangimu, hahaha...." Tristan tertawa renyah.


Lukas mendorong kepala Tristan. "Stop ketawanya! Kayak orang gila kamu ya."


Namun bukannya berhenti Tristan malah semakin tertawa.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2