
Sampai di luar ruangan tiba-tiba,
Bugh.
Spontan kepala ketiga polisi tersebut ada yang memukul hingga mereka yang tidak siap terjatuh.
"Run away Nel!" Seseorang langsung menarik tangan Nela dan membawanya pergi.
"Kejar Mereka!" Seorang polisi berteriak pada yang lainnya.
Mereka bertiga pun langsung bergegas mengejar Nela dan seorang pria yang membawa Nela pergi.
Lukas yang mengikuti langkah ketiga polisi tersebut keluar, tiba-tiba wajahnya pucat.
"Kenapa tuh wajah seperti itu?" tanya Tristan heran. "Apa karena ku goda tadi?"
"Nela dibawa kabur Tris," ujar Lukas langsung berlari, ikut mengejar.
Tristan pun menyusul Lukas, ingin membantu menangkap Nela begitupun artis tadi juga ikut keluar. Orang seperti Nela kalau dibiarkan akan sangat berbahaya.
"Abang Nath jangan kemana-mana, Tris keluar dulu!" teriaknya pada Nathan yang kini sedang melangkah ke kamar kembali.
"Siaga! Siaga! Target melarikan diri."
Polisi terus saja mengejar Nela dan pria tersebut hingga jarak mereka yang dekat hampir saja tertangkap kembali.
"Bagaimana ini?" Nela mulai putus asa saat dirinya terlihat sudah dikepung. Tiba-tiba saja seorang pria yang membawanya membuka salah satu kaca jendela.
"Jump or get caught!" [Lompat atau tertangkap!]
"Hah!" Nela kaget setengah mati. Bagaimana bisa dia melompat dari lantai apartemen yang letaknya hampir teratas. Melompat dari lantai yang sangat tinggi tidak ubahnya seperti bunuh diri. Membayangkan saja dia sudah ngeri apalagi harus melompat dari ketinggian.
"Saat Nela terlihat bengong tangannya langsung ditarik keluar jendela. Di sana ternyata sudah terlihat ada sebuah tali yang menggantung. Nela paham apa yang harus dilakukan.
"Come down, I will follow later!" [Turunlah, aku akan menyusul kemudian], perintah pria tersebut. Nela langsung mengambil tali dan meluncur dari atas apartemen disusul pria itu di atasnya.
"Siaga! Siaga! Target sedang menuju lantai dasar apartemen menggunakan tali."
Petugas yang ditugaskan menjaga di bawah apartemen pun mulai bersiap-siap.
Sedangkan tiga orang yang tadi ada di lantai atas apartemen berbagi tugas. Ada yang ke bawah menggunakan lift diikuti Lukas dan Tristan dan ada yang berlaku ke bawah menggunakan tangga, takut-takut Nela dan pria tersebut tidak langsung meluncur ke bawah luar apartemen melainkan bisa masuk ke lantai lainnya melalui celah jendela yang terbuka lagi.
Seorang polisi tampak sigap, langsung mengikuti langkah keduanya menggunakan tali tersebut.
"Kita diikuti!" teriak Nela.
__ADS_1
Pria yang terjun bersama Nela pun berinisiatif mengambil pisau dari saku celana dan mengerat tali tersebut hingga setengah putus.
Akhirnya seorang polisi yang mengikutinya terjatuh karena setelah sampai di tengah-tengah tali tersebut tiba-tiba putus sedang Nela dan pria tersebut sudah mendarat dengan selamat.
"Akkkh." Polisi tersebut meringis kesakitan.
Namun bukan berarti posisi Nela sekarang aman karena beberapa polisi yang standby dibawah sudah siap untuk menangkap keduanya.
"Cepat kita keluar dari tempat ini!" seru Nela pada temannya. Mereka pun langsung kabur ke luar diikuti kejaran beberapa polisi dan suara tembakan yang terdengar di udara beberapa kali.
"Lumpuhkan mereka!" teriak salah satu anggota polisi yang membuat beberapa polisi akhirnya mengarahkan pistol tepat ke arah keduanya.
Dor-dor-dor.
Suara tembakan menggema kembali hingga mereka berhasil dilumpuhkan.
Jebakan terhadap Nela pun di dengar oleh komplotannya hingga akhirnya mereka datang dan membuat kegaduhan. Suara tembakan saling beradu di udara dan kobaran api tidak jarang terlihat dari sekitar mereka. Suara teriakan orang-orang yang melintas pun terdengar dari segala penjuru.
Di tempat lain seorang pria sedang mendapat telepon dari seseorang.
"Tuan Felix ternyata yang telah membunuh ayah Tuan adalah suruhan Tuan Smith yang menyamar sebagai anggota polisi."
"Omong kosong apa yang kamu katakan?"
"Ini bukan omong kosong semata tetapi ini adalah kenyataannya. Bertahun-tahun, selama saya tinggal di negara R saya senantiasa menyelidiki kasus tersebut hingga akhirnya bisa menyimpulkan bahwa ternyata pembunuhan yang terjadi adalah rencana mereka dan mereka melimpahkan kesalahan tersebut kepada ayahmu. Namun anehnya setelah itu mereka menjerat agar Tuan masuk dalam komplotannya."
Namun tiba-tiba ponselnya berdering kembali.
"Ada apa lagi Frans?" tanya Felix dengan ekspresi dan suara khas marah yang masih tidak bisa disembunyikan.
"Saya bukan Frans Tuan."
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Nathan, menantu Tuan diculik."
"Apa! Bagaimana bisa?" Ekspresi Felix menegang kembali.
"Menurut cctv yang kami pantau dia dibius saat tiba-tiba keluar apartemen dan Tuan Nathan yang tidak siap saat mau melakukan aksi perlawanan langsung tidak sadarkan diri."
Felix nampak terdiam sesaat.
"Halo! Halo Tuan!"
"Katakan siapa yang melakukannya!"
__ADS_1
"Anak buah Tuan Smith. Mereka sekarang sedang mengacau di daerah sekitar apartemen karena Nela dan salah satu yang lainnya telah tertangkap oleh polisi."
"Baik saya segera ke sana," ujar Felix lalu menutup sambungan telepon.
Ia kemudian bergegas menuju ke kamar khusus. Memasang baju besi di tubuhnya sebelum dibalut jaket kulit berwarna hitam. Ia kemudian meraih pistol dan meniupnya beberapa kali.
"Kalian harus musnah sekarang."
Karla yang baru melihat suaminya memakai pakaian seperti itu dan memegangi pistol di tangan terlihat gemetar.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Balas dendam," ujar Felix singkat.
"Balas dendam kepada siapa?"
"Orang-orang yang telah membunuh ayah dan memfitnahnya."
"Dad jangan! Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu," cegah Karla. "Lebih baik kamu cari bukti dan serahkan kepada kepolisian," lanjutnya.
"Tidak bisa, mereka semua harus mampus di tanganku."
"Dad ku mohon jangan!" Karla sampai bersimpuh di kaki Felix agar suaminya itu membatalkan niatnya.
"Kau tahu, sekarang Nathan sudah ada ditangannya dan kemungkinan suatu hari Chexil yang akan jadi target selanjutnya kalau mereka tidak dimusnahkan."
"Apa maksudnya?" Karla yang terlalu khawatir hingga tidak bisa menangkap pembicaraan Felix.
"Nathan diculik."
"Apa!" Karla kaget setengah mati.
Felix hanya mengangguk.
"Kalau begitu cepat selamatkan menantu kita!" Karla sedikit mendorong tubuh Felix.
Felix mengangguk lagi. "Baik aku pergi. Doakan aku berhasil."
"Semoga keselamatan senantiasa bersamamu," ucap Karla dengan penuh harap karena tidak ada cara lain selain membiarkan sang suami pergi, memperjuangkan segalanya. Meskipun ada rasa sedikit tidak ikhlas membiarkan sang suami masuk ke dalam keadaan yang berbahaya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Hai-hai-hai! Jangan bosan-bosan ya, kali ini othor ingin mempromosikan karya othor yang sudah senior nih. Pastinya ceritanya seru dan bikin baper loh. Sambil menunggu novelku update lagi, jangan lupa dikepoin ya! Nih dia novelnya.
__ADS_1