Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 84.


__ADS_3

Kabar Felix yang berhasil mengobati banyak pasien tersebar luas di beberapa kota. Hingga kabar itupun sampai ke telinga Lisfi.


Wanita itu pun langsung menelpon adiknya -Safa- dan meminta untuk menyampaikan keinginannya pada Felix agar mau mengobati Maximus.


Setelah mendapat telepon dari Lisfi Safa langsung menghubungi Louis dan meminta pertimbangan darinya. Setelah dipikir-pikir akhirnya Louis memutuskan untuk meminta bantuan Zidane agar mau mengajak Felix ke rumah Maximus. Barangkali pria itu bisa sembuh dengan pengobatan Felix.


Hari yang direncanakan pun tiba. Hari itu Zidane dan Louis membawa Felix ke rumah Maximus.


"Dimana Max?" tanya Felix saat mereka bertiga telah sampai ke rumah Maximus.


"Mari silahkan masuk!" Lisfi menggiring ketiga pria itu ke kamar Maximus.


Setelah berbincang-bincang sebentar Felix menyuruh semua orang yang ada di dalam ruangan keluar untuk sementara waktu selama dirinya masih berusaha mengobati Maximus.


Zidane dan Louis duduk di luar. Rena menghidangkan makanan kecil dan minuman kepada mereka.


"Silahkan dinikmati dulu hidangannya sambil menunggu Tuan Felix," ucap Lisfi mempersilahkan Louis dan Zidane.


"Terima kasih."


Kedua pria itu mengangguk dan mulai menikmati hidangan yang ada di depan mereka.


"Eh ngomong-ngomong Mikey dimana?" tanya Louis saat sudah menelan camilannya. Lelaki itu tampak mengambil minuman dan meneguknya.


"Dia ada di kamarnya. Saya panggilkan dia dulu."


Louis mengangguk, Lisfi beranjak dari duduk dan menghampiri putranya di kamar.


"Ada apa Mommy?"


"Ada Om Louis di luar. Dia menanyakanmu."


Anak itu mengangguk lalu membereskan buku pelajarannya. Kemudian berjalan ke samping Lisfi. Wanita itu menggandeng putranya dan melepaskan pegangan tangan saat sampai di dekat Louis.


"Salaman dulu!"


Anak itu mengangguk dan menuruti perintah ibunya.


"Apa kabar Mike?" tanya Louis saat anak itu sudah duduk di hadapannya.


"Baik Om."


Louis mengulurkan bingkisan buat Mike dan anak itu menerima dengan senang.


"Terima kasih ya Om. Adek Akira sama Akito nggak ikut?"


"Nggak mereka lagi sekolah. Mungkin liburan nanti aku bawa ke sini."


Anak itu mengangguk.


Louis dan Zidane mencoba berbasa-basi agar keadaan diantara mereka dengan Lisfi tidak begitu canggung. Louis dan Zidane menanyakan keadaan Maximus akhir-akhir ini. Mereka juga sekali-kali menanyai Mikey.


Hampir dua jam Felix belum keluar juga dari dalam kamar. Ketiganya hanya menebak-nebak apa yang dilakukan Felix di dalam sana karena tidak ada yang diperbolehkan masuk sebelum Felix membuka pintu kamar sendiri. Hal itu biasanya hanya Felix lakukan pada pasien yang benar-benar parah.


"Kok lama ya?" tanya Louis mulai bosan. "Apa yang besan kamu lakukan di dalam?"


"Mana aku tahu, untung pasiennya laki-laki kalau perempuan pasti kamu sudah curiga," ujar Zidane.


"Mana ada? Apa yang bisa dilakukan pada orang yang koma seperti itu?" protes Louis.


"Iya juga ya." Mereka berdua tertawa dan Lisfi hanya terlihat tersenyum.


Saat tertawa terdengar ponsel Louis berdering.

__ADS_1


"Bentar aku angkat telepon dulu."


"Dari siapa?" tanya Zidane penasaran yang melihat Louis bangkit dari duduknya saat akan menerima telepon.


"Dari ratuku," sahut Louis terkekeh.


"Ada yang baru?" tanya Zidane lagi.


"Apaan sih Dan curigaan amat, Nih." Louis menunjukkan layar ponselnya yang tertulis Safa Ratuku.


Lebay banget sih loh, kupikir istri baru." Zidane terkekeh.


"Bentar ya, entar dia marah lagi."


"Oke."


Louis pun keluar dari rumah dan menerima panggilan telepon dari sang istri.


"Bunda ngajak ke sana. Boleh nggak aku ke sana?


"Kapan?"


"Sekarang."


"Terus anak-anak sama siapa nanti? Apa aku suruh Mama saja ya buat jemput mereka?"


"Tidak usah biar aku bawa serta mereka. Nanti aku langsung jemput ke sekolah dan minta izin sama gurunya."


"Baiklah kalau begitu biar pak sopir yang antar kalian."


"Oke."


Louis kembali ke dalam.


"Mike adikmu mau ke sini."


"Gimana kalau kamu ikut kami ke rumah? Nanti aku sekolahin di satu sekolah dengan adik-adik kamu."


Mikey nampak sumringah kalau tidak ingat sama ibunya mungkin dia akan langsung mengiyakan. Dia menoleh pada Lisfi. Wanita itu tampak menggeleng.


Bocah itu pun menggeleng pada Louis melihat tidak dapat restu dari Lisfi.


"Daripada kamu belajar sendiri sama Mommy kamu di rumah. Kan mending sekolah. Bisa bantu Om Louis jagain adik-adik kamu juga."


"Mom?"


"Nanti Mommy sama siapa?"


Bocah itu tampak menunduk. Keinginannya belajar di sekolah formal sangat kuat tetapi dia juga menyayangi ibunya jadi tidak mungkin meninggalkan Lisfi seorang diri. Meski di rumah ada Rena dan yang lainnya dia tidak ingin berpisah dengan ibunya.


"Nanti kalau Daddy kamu sembuh kamu boleh sekolah sama mereka."


"Beneran Mom?" Mikey tampak senang seolah ada harapan untuknya agar memiliki banyak teman seperti layaknya anak-anak yang lain.


"Iya."


"Tapi bagaimana kalau Daddy tetap tidak bisa sembuh?" Raut wajah Mikey berubah sedih lagi.


"Ya udah nanti Om Louis antar jemput deh kamu biar bisa satu sekolah sama adik-adik kamu tanpa meninggalkan Mommy-mu atau rumah ini."


"Beneran Om?"


Louis mengangguk.

__ADS_1


"Mommy?"


"Kalau itu Mommy setuju."


Anak itu tersenyum sumringah. Sudah tidak sabar ingin menikmati indahnya dunia luar.


Terdengar suara pintu kamar dibuka. Keempat orang yang berbincang-bincang di ruang tamu menoleh. Tampak Felix keluar dari pintu.


"Bagaimana Tuan?" tanya Lisfi dengan raut wajah khawatir. Yang dia dengar dari orang-orang kalau Felix mengatakan tidak bisa menyembuhkan berarti pasien memang tidak bisa disembuhkan begitu juga sebaliknya, maka akan ada harapan untuk kesembuhan Maximus.


"Kau lihat saja sendiri."


Lisfi mengangguk dan buru-buru masuk ke dalam sedangkan Felix menghampiri Zidane dan Louis.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Zidane penasaran.


"Sudah ada perkembangan, sepertinya nanti sore dia sudah bisa sadar."


"Alhamdulillah." Kedua orang di hadapan Felix sama-sama mengucapkan syukur.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya Lou, kasihan Dion aku tinggal sendiri."


"Oke. Tuan Felix juga ikut pergi?" tanya Louis.


"Iya, mau barengan sama besan sekalian. Nanti kalau ada apa-apa telepon saya langsung ya."


"Baik."


"Kamu sendiri tidak masuk kerja Lou?"


"Nanti aku tunggu anak-anak sampai dulu."


"Oke kalau begitu aku pamit pada kakak iparmu dulu."


"Silahkan."


Setelah pamit pada Lisfi, Felix dan Zidane akhirnya pergi. Sebelum ke kantor, terlebih dahulu Zidane mengantarkan besannya pulang ke rumah."


"Mike! Mike sini!" Terdengar teriakan dari kamar membuat Mikey dan Louis langsung berlari menghampiri Lisfi di kamar.


"Ada apa Mom?" tanya Mikey.


"Lihat Daddy kamu tangannya mulai bergerak."


"Syukurlah aku pikir ada apa," batin Louis. Teriakan Lisfi membuat orang jantungan saja.


"Mommy, Daddy akan sadar," ucap Mikey.


"Semoga, kita doakan saja ya."


Anak itu hanya mengangguk. Matanya tampak berkaca-kaca. Sebenarnya Mikey tidak tahu harus senang ataukah sedih. Di satu sisi dia senang ayahnya sadar di sini lain dia masih takut kalau Felix sadar masih akan bersikap keras pada ibu dan juga dirinya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Lisfi.


"Nggak Mom, Mike cuma berpikir kalau Daddy sadar Mommy akan menyekolahkan Mikey seperti janji Mommy tadi."


"Tenang nanti Mommy akan memaksa Daddy agar mengizinkan."


"Mikey jangan khawatir nanti Om Louis pasti juga akan bantu."


"Terima kasih ya Om. Mikey hanya berharap saat sadar sikap Daddy berubah, tidak seperti dulu lagi."


"Kita berdoa saja ya," ucap Louis sambil mengacak-acak rambut keponakannya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like-nya!🙏


__ADS_2