Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 35. Alat Sadap


__ADS_3

Semenjak pertengkaran hari itu keduanya sama-sama tidak ingin saling menegur. Mereka bersikap layaknya tidak saling mengenal.


Namun demikian Chexil tidak pernah melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang istri. Dia tetap menyiapkan pakaian Nathan meski untuk melakukan hal itu dia harus menunggu Nathan tidak ada di kamar atau ada tapi sudah masuk kamar mandi.


Begitupun dengan aktivitas lainnya. Chexil masih melakukan aksi beres-beres di dalam apartemen. Baginya dia harus belajar bekerja keras karena hidup tidak selamanya akan lurus-lurus saja. Dia yang biasa manja tidak perlu ia terapkan di tempat ini karena sang suami saja tidak peduli padanya.


Chexil masih sering memasak walaupun sering berakhir dimakan sendiri karena Nathan sama sekali tidak mau menyentuhnya. Hingga akhirnya Chexil memutuskan untuk tidak memakai uang Nathan lagi. Dia memilih memakai uangnya sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya.


Suatu hari Lukas mendatangi apartemen Nathan. Di belakangnya menyusul Nela yang


tampak berlari-lari karena ditinggalkan oleh Lukas.


"Luk tunggu dong!"


Lukas menoleh, "Ngapain kamu nyusul aku?"


"Emang nggak boleh ya aku ikut kamu ketemu Nathan sahabat kita?"


"Bukan begitu, aku ingin membicarakan hal penting berdua saja sama Nathan. Terus kamu mau ngapain di sana?" tanya Lukas.


"Tidak masalah, aku bisa mengobrol bersama istrinya," tukas Nela.


"Hah terserah kamulah," ujar Lukas pasrah.


Mereka pun bergegas menuju ke lantai atas dimana apartemen Nathan berada.


Tok tok tok.


Lukas mengetuk pintu ketika sampai di depan apartemen Nathan. Nathan yang baru selesai mandi segera memasang pakaiannya kemudian bergegas keluar. Dia mengintip dari lubang intip pintu apartemen untuk memastikan siapa yang datang.


Dia mengernyit melihat Lukas yang datang bersama Nela.


"Ada apa?" tanya Nathan ketika pintu sudah terbuka sempurna.


"Ada yang mau aku bicarakan, penting," sahut Lukas sambil menarik Nathan ke dalam sebuah kamar.


"Eh datang-datang nyelonong," protes Nathan ketika Lukas ternyata langsung menarik dirinya ke kamar yang kini ditempati Chexil.


"Aku ada sesuatu yang harus disampaikan sama kamu," ujar Lukas lagi.


"Baiklah apa yang ingin kau sampaikan hingga harus bersembunyi ke tempat ini?"


"Pokoknya penting Nathan, tidak boleh ada yang mendengar."


"Baiklah, ayo ceritakan ada apa!"


Sedangkan di luar, di ruang tamu sana Nela duduk dengan gelisah. Ia tersenyum tatkala Chexil berjalan melangkah ke arahnya.


"Kok kamu ada di sini?" tanya Chexil kaget.

__ADS_1


"Iya aku diajak Lukas ke sini."


"Lukas, dimana dia?"


"Sedang mengobrol di kamar bersama Nathan, katanya ada yang serius."


"Oh," ujar Chexil sambil berjalan keluar apartemen.


"Eh mau kemana kamu?" cegah Nela saat Chexil sampai di depan pintu.


"Mau keluar lah takut mengganggu pembicaraan serius mereka."


"Wah kamu istri apaan sih masa ada tamu tidak disuguhkan minuman, ini malah mau ditinggal keluar," protes Nela.


"Nanti aja buat minumannya setelah mereka keluar kamar," sahut Chexil.


"Lelet banget sih jadi istri, buatin sekarang napa. Kalau lelet begini mana bisa Nathan betah sama kamu. Palingan bentar lagi dicerai."


Jleb.


Chexil merasa tertusuk dengan ucapan Nela.


"Bilang saja kamu lagi haus," tukas Chexil.


"Atau memang kamu masih belum bisa bikin minuman sendiri? Secara kan kamu anak Mommy. Sudahlah aku yang buat sendiri aja," ujar Nela lalu bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, karena aku adalah tuan rumah yang baik maka aku yang akan membuatkan minuman untuk tamu meski tak diundang ini."


"Buatkan untuk Lukas dan Nathan juga!" teriak Nela.


Siang-siang begini cocoknya minum yang dingin-dingin kan ya.


"Enak saja, dia pikir dia siapa nyuruh-nyuruh aku segala," gumam Chexil kesal mengingat Nela. Namun tangannya bergerak lincah memasukkan potongan buah, gula dan es batu ditambah susu ke dalam blender lalu menghaluskannya.


Setelah siap ia lalu menuangkan ke dalam tiga gelas. Gelas yang untuk Nela dia pisahkan karena masih ada bahan tambahan sedangkan yang untuk Lukas serta Nathan ia taruh dalam nampan.


Saat hendak mengantarkan minuman itu ke dalam kamar Nela mencegah. "Biar aku yang bawa," ujar Nela sambil meraih nampan dari tangan Chexil dengan paksa.


"Tidak usah biar aku yang antar," tolak Chexil.


"Aku yang antar saja, kamu kan belum membuatkan untukku." Nela ngotot sambil terus menarik nampan di tangan Chexil hingga minumannya hampir tertumpah.


"Baiklah bawa saja." Chexil yakin si Nela itu pasti cari perhatian Nathan, tapi sudahlah sebentar lagi kami kan akan cerai juga, pikir Chexil.


Sampai di dapur Chexil mencampur minuman Nela dengan sedikit abon cabe dan garam. "Hem, minuman spesial buat gadis yang sok perhatian pada suami orang. Kayaknya nggak akan kelihatan nih abon karena warnanya berbaur dengan warna merah buah strawberry." Chexil nampak terkekeh sendiri membayangkan wajah Nela saat meneguk minumannya.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


"Siapa Nath?" tanya Lukas.


"Siapa lagi, ya pasti Chexil lah, ini kan kamarnya," sahut Nathan.


"Ini kamarnya?" tanya Lukas tak mengerti. Bukankah seharusnya kamar Chexil adalah kamar Nathan. Apakah mereka benar-benar marahan sekarang hingga harus pisah kamar. Namun Lukas tidak mau banyak bertanya karena tidak ingin dikatakan terlalu ikut campur urusan sahabatnya.


"Suruh masuk saja Nath, barangkali dia ada keperluan sama kamu."


Nathan mengangguk lalu bergegas membuka pintu. Namun ia kaget saat melihat ternyata Nela yang ada di depan pintu.


"Oh iya aku diminta istrimu untuk membawakan minuman ini," ujar Nela.


"Taruh saja di sana," tunjuk Nathan pada sebuah meja yang ada di dekat ranjang lalu dirinya kembali duduk di samping Lukas.


Nela menaruh jus strawberry di atas meja lalu dirinya celingukan mengawasi apakah Nathan atau Lukas melirik ke arahnya.


Ketika merasa aman dia menaruh sesuatu alat di bawah ranjang Chexil lalu beranjak keluar sedangkan Lukas dan Nathan terus berbicara strategi penangkapan yang telah dibeberkan polisi kepada Lukas.


"Semoga alat itu berfungsi baik," batin Nela.


"Ini minumannya, maaf kalau tidak enak. Benar kata kamu aku itu anak Mommy jadi terima aja ya kalau memang tidak sesuai dengan selera."


Nela yang memang kehausan bercampur tegang segera meraih gelas dari tangan Chexil tanpa mempedulikan ocehan gadis di hadapannya.


"Silahkan diminum sampai tandas. Tolong hargai tuan rumah yang telah susah-susah membuatnya," ujar Chexil. Dalam hati dia tertawa riang karena rencananya hampir berhasil.


Byur


Nela menyemburkan minumannya.


"Uhuk-uhuk." Nela terbatuk-batuk karena efek abon cabe dalam minumannya yang membuat tenggorokannya panas seketika.


"Gimana, enak kan?" goda Chexil terhadap Nela.


Nela menatap Chexil dengan kesal. "Chexil!" serunya dengan ekspresi geram sedangkan Chexil tertawa terpingkal-pingkal.


"Awas kamu ya." Nela berucap sambil mengepalkan kedua tangannya.


Bersambung....


Jangan lupa tombol like-nya ditekan ya sayang-sayangku!šŸ¤­šŸ™


Rekomendasi novel yang menarik untukmu.



Blurb:


Judy yang meninggal akibat kecelakaan mobil, harus mengikat jiwanya kepada sistem dan pergi ke berbagai buku untuk menjadi umpan meriam.

__ADS_1


Judy pikir tugasnya sangat mudah, yaitu menjadi umpan meriam yang menjadi batu loncatan untukĀ  kisah cinta pemeran utama laki-laki dan pahlawan wanita saja dan saat pemeran utama pria dan wanita bersama , dia akan pergi ke dunia . Tetapi kemudian, dia menemukan ...... Dia telah mengambil naskah yang salah???


Kenapa pria yang seharusnya sangat ganas , tidak mempedulikan apapunĀ  dan hanya bersikap lembut kepada nyonya rumah malah seperti anjing susu di depannya?kenapa pria yang seperti esĀ  yang seharusnya tidak peduli apapun selain nyonya rumah sangat perhatian padanya???


__ADS_2