Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 76. Mimpi Atau Nyata?


__ADS_3

Kembali ke kediaman Chexil setelah orang-orang pulang keadaan di sana berubah sunyi senyap kembali. Anak-anak buah Felix banyak yang sudah kembali ke rumah masing-masing hanya menyisakan Wanzi yang masih berjaga-jaga.


Nenek Salma sudah tertidur akibat kelelahan membantu para pembantu menyiapkan makanan sedari siang sedangkan Davin belum kembali juga.


Para pembantu pun sudah bergelung dengan selimut masing-masing. Hujan yang sudah reda masih menyisakan cuaca dingin yang membuat semua orang memilih terlena dalam mimpi-mimpi mereka.


Suasana yang hening tiba-tiba berubah ramai saat terdengar suara seorang yang sedang berteriak minta tolong.


Semua orang yang sudah larut dalam mimpi masing-masing dibuat kaget kala suara orang tersebut seperti masuk ke dalam mimpi mereka.


"Wanzi ada apa ini? Kenapa orang-orang pada keluar kamar?"


Chexil mengusap air matanya dan segera menemui Wanzi saat mendengarkan suara ribut-ribut di luar.


"Entahlah, lebih baik Nona kembali ke kamar biar saya periksa dulu."


"Tidak Wanzi aku tunggu di sini saja, lagi pula aku tidak bisa tidur malam ini."


"Terserah Nona yang penting jangan keluar dulu takut keadaan di luar tidak aman."


"Baik, kau periksa cepat!"


"Oke, tapi ingat Nona jangan kemana-mana."


Wanzi pergi keluar dan memeriksa di sekitaran rumah mencari di mana suara keributan itu berasal.


"Ada apa kok berisik? kalian seperti orang bertengkar saja," tegur Wanzi kepada beberapa pembantu yang tampak berkerumun di suatu tempat.


"Itu tuan katanya Pak satpam melihat sesuatu yang aneh."


"Sesuatu yang aneh bagaimana maksudmu?"


"Itu ... itu ... katanya Pak satpam melihat hantu." Seorang tukang kebun nampak ragu untuk berkata.


"Panggil pak satpam! Kalian ngaco saja. Dari dulu rumah ini aman tidak pernah ada hantunya, kok tiba-tiba jadi angker. Apa kalian ada yang melakukan pesugihan?"


"Tidak Tuan tidak ada, mana berani kami melakukan hal bodoh semacam itu."


"Baik Tuan."


Beberapa orang tampak menggiring pak satpam ke depan Wanzi.


"Apa benar pak satpam melihat hantu?"


"Iya Tuan aku melihat pocong." Pria itu tampak gemetar karena ketakutan.


"Baru lihat pocong saja sudah takut bagaimana kalau melihat kuntilanak?!"


"Sama saja Tuan sama-sama takut," ucap mereka serempak.


"Bagaimana kalau dia itu maling yang mau mencuri di sini dan menyamar menjadi pocong? Kalau kalian kelabakan seperti ini mereka pasti akan berhasil mengambil barang-barang berharga dari tempat ini dan kamu pak satpam harusnya menjaga keamanan bukan memancing ketakutan di hati para penghuni di sini."


Semua orang menunduk.


"Tapi Tuan saya benar-benar takut, dipecat pun saya tidak apa-apa."

__ADS_1


Seorang wanita berlari ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa Bik?"


"Anu ... anu Tuan ...."


"Apaan sih Bik ngomong nggak sampai-sampai, anu-anu terus."


"Itu Tuan kuburan Tuan Felix menganga." Wanita itu menunduk tapi masih terlihat gemetaran.


"Ngaco kamu, bagaimana mungkin?"


"Tidak tahu Tuan tapi yang pasti saya tidak berbohong. Kalau tidak percaya Tuan bisa lihat sendiri."


"Baiklah ayo kita ke sana!"


Semua orang terbengong-bengong di tempat.


"Ayo!" bentak Wanzi.


Akhirnya mereka mengangguk dan berjalan bersama dengan saling berpegangan tangan agar tidak ada yang saling meninggalkan nanti kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Wanzi yang melihat sikap aneh semua orang hanya bisa menggeleng. Dia pikir pasti para pembantu di rumah itu sedang berhalusinasi.


"Aku takut." Mereka saling menatap.


"Tenang kita kan bersama-sama."


"Apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku ya."


"Tergantung keadaannya nanti."


"Jangan berisik percepat langkah kalian!"


"Baik Tuan."


Kini mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Semua pembantu terdiam di belakang. Mereka tidak mau mendekati kuburan Felix, apalagi aura malam ini begitu mencekam. Bau tanah yang terendus oleh hidung mereka karena baru saja turun hujan menambah ketakutan mereka. Ini area pekarangan rumah bagaimana kalau di lahan pemakaman pasti akan semakin mengerikan.


Wanzi maju ke depan dan memeriksanya. Ia terlihat kaget bagaimana mungkin mayat Felix sudah tidak ada di dalam sana.


"Siapa yang melakukan pencurian mayat, apakah benar diantara kalian ada yang melakukan pesugihan?!"


"Tidak Tuan bagaimana mungkin kami akan melakukan itu kalau datang ke tempat ini saja kami ketakutan."


"Benar juga ya," batin Wanzi. "Tapi kemana mayat Felix menghilang?"


"Mungkin yang jadi pocong itu Tuan Felix Tuan," ujar pak satpam.


"Tutup mulutmu! Tuduhanmu akan mencemarkan nama baik keluarga ini."


"Maaf bukan maksud saya seperti itu."


"Ya sudah tidak usah banyak bicara ayo kita cari mayat Tuan Felix."


"Ba ... baik Tuan." Meski merasa takut mereka masih menurut.

__ADS_1


Mereka semua berkeliling rumah mencari mayat Felix ataupun orang yang telah berani mencurinya.


Hingga pada suatu tempat mereka berhenti mendadak.


"Kenapa berhenti?" tanya Wanzi heran mereka semua berani berhenti tanpa ada yang menyuruh.


Seseorang menunjuk ke arah samping sambil gemetaran dan bahkan terkencing-kencing.


"Ampun nih orang kalau mau pipis jangan di sini. Ya sudah sana kalau mau ke kamar mandi." Kebetulan yang orang itu tunjuk mengarah ke kamar mandi untuk para pembantu.


"Pocong! Kabur!" Mereka semua kelabakan dan terpontang-panting, lari tak tentu arah.


"Aneh semua tidak ada yang bisa diandalkan," gumam Wanzi kesal. Ia kemudian mengangkat mukanya dan melihat ke segala penjuru.


"Itu apa?" Wanzi menyalakan senter di ponselnya. Beberapa saat tubuhnya tampak membeku kemudian setelah tersadar ia langsung lari terbirit-birit.


"Ada apa Wanzi?" Chexil yang tidak tahan dengan rasa penasarannya akhirnya memutuskan untuk mengecek sendiri keluar dan saat ia berjalan di luar ia berpapasan dengan Wanzi yang lari dengan ketakutan.


"Sumpah seumur-umur aku tidak pernah melihat hantu. Daripada harus menghadapi sosok seperti itu lebih baik aku bertempur di medan perang meski melawan bos mafia sekalipun."


"Apa katamu Wanzi ada hantu di rumah ini?" Chexil yang mendengar gumaman Wanzi langsung penasaran.


"Tidak ada Nona tidak ada hantu aku hanya berhalusinasi." Wanzi tidak mau anak majikannya itu ikut ketakutan.


"Ayo masuk ke dalam."


"Tidak Wanzi aku harus mencari tahu langsung kenapa para pembantu lari dengan ketakutan semua."


"Sudah Nona nanti aku jelaskan di dalam, sekarang Nona masuk saja karena ...."


Belum selesai Wanzi berkata pocong yang dilihatnya tadi mendekat ke arah mereka.


Terdengar suara minta tolong dari balik kain kafan itu.


"Nona sudah ku bilang cepat masuk." Wanzi langsung berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Chexil yang mematung.


"Daddy?" Chexil serasa bermimpi saja melihat dirinya di datangi arwah sang ayah.


"Tolong buka ini!"


Chexil tak berkutik dia seperti orang terhipnotis saja.


Davin yang baru kembali dan melihat Chexil terdiam di luar langsung berlari ke arahnya.


"Chexil!" seru Davin.


"Tolong!"


"Davin menoleh awalnya dia kaget dan takut tapi saat ia melihat ada tangan yang bergerak-gerak dalam kain putih itu akhirnya dia membukanya.


"Daddy?" Chexil kaget bukan kepalang melihat Felix berdiri tegap di hadapannya. Setelah itu ia terlihat pingsan.


"Davin ini maksudnya apa?"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak! 🙏Jangan lupa juga ya mampir ke karya yang satu ini dijamin bikin baper abis. Yuk merapat!👇



__ADS_2