Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 82. Kesal Tapi Bahagia


__ADS_3

"Nggak tahu yang pasti banyak aja. Sepertinya itu dia ruangannya."


"Oke." Nathan setengah berlari menuju ruangan yang ditunjuk oleh Chexil.


Sampai di depan ruangan Nathan menghentikan langkahnya. "Chila!" seru Nathan geram melihat Fazila malah berbicara santai dengan Dokter Davin sambil tersenyum sumringah.


"Abang!" Fazila menoleh dan langsung menunduk.


"Ngapain di sini?"


"Periksa jantung, aman tidak sebab Abang suka mengagetkan Chila." Fazila berbicara dengan suara yang lemah dan masih dalam posisi menunduk.


Davin yang melihat hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Nggak tahu aja ya Abang sama Kak Chexil mencarimu kemana-mana."


"Maaf."


"Ayo pulang!" Nathan menarik pergelangan tangan Fazila dan membawanya ke luar.


"Terima kasih ya Dav," ucap Chexil.


"Sama-sama Xil. Keadaanmu bagaimana?"


"Kata dokter sudah sembuh total."


"Syukurlah kalau begitu."


"Udah ya Dav aku pergi dulu kalau lama-lama takutnya dia salah paham lagi," ucap Chexil sambil menunjuk Nathan.


"Oke." Davin berkata sambil mengangguk.


Chexil segera berlari mengejar Nathan.


"Salah paham lagi?" gumam Dokter Davin tak mengerti.


Chexil melihat Nathan dan Fazila saling diam. Sepertinya Fazila sudah mendapatkan ceramah dari sang kakak sehingga memilih diam, tidak bicara sepatah katapun sampai mereka sampai ke halaman rumah Zidane.


Setelah mobil berhenti Fazila langsung lari ke dalam kamarnya sendiri sedang Nathan setelah menurunkan Fazila langsung berbalik keluar.


"Kamu ada kuliah hari ini?"


"Nggak ada."


"Oke aku antar kamu pulang saja, baru setelah itu aku berangkat ke kampus."


"Nggak usah, aku ikut kamu saja."

__ADS_1


"Yakin?" tanya Nathan.


Chexil mengangguk.


Nathan langsung mengemudikan mobilnya menuju perguruan tinggi tempat dimana ia menimba ilmu.


"Bang Nathan protektif banget sih," keluh Fazila sambil menatap langit-langit kamar. Antara kesal dan kecewa terhadap Nathan. Mengingatnya membuat Fazila sedih saja.


"Ah nggak apa-apa yang penting aku sudah dapat ini." Fazila menimang-nimang kartu nama Dokter Davin.


"Aku bisa langsung datangi dia di rumahnya." Gadis itu tersenyum seorang diri.


"Hari rabu sama jum'at dia libur." Dia mengingat-ingat saat Dokter Davin menjelaskan kapan dia bertugas di rumah sakit tersebut dan kapan tidak.


"Ah kayaknya aku tidak perlu minta tolong lagi sama Bang Tris. Kalau ada PR nanti aku tanya Dokter Davin saja deh." Fazila membayangkan pertemuan dengan Dokter Davin selanjutnya yang membuat dia tertawa sendiri.


"Non dipanggil Nyonya." Suara Bik Ina membuyarkan lamunannya tentang Dokter Davin.


"Iya Bik, masuk!"


"Nona Chila dipanggil Nyonya Isyana di meja makan, katanya Nona dari pagi belum makan."


"Oh, iya Bik Chila lupa belum sarapan." Gadis itu menepuk jidatnya sendiri lalu melangkah ke arah pintu.


"Ya sudah Non ayo Bibi antar."


"Nggak usah Bik biar Chila ke sana sendiri." Chila menuruni tangga sambil bersenandung kecil.


"Banget Bik."


"Boleh bibi tahu?" Bi Ina memang lebih dekat dengan Fazila daripada kakak-kakaknya. Pun dengan Fazila dia paling dekat dengan Bi Ina dibandingkan pembantu yang lainnya.


"Rahasia Bik."


"Oh rahasia ya Non? Oya deh, tapi kenapa tadi cemberut?"


"Oh kalau yang itu karena kesal sama Bang Nath yang suka marah-marah."


"Oh gitu ya?"


"Iya padahal seharusnya dia kan sekarang bahagia Kak Chexil telah kembali kok malah suka marah-marah."


"Yakin Nona nggak melakukan kesalahan?"


"Tidak Bik, Bang Nath aja yang lagi sensitif."


"Chila cepat sini!" teriak Isyana dari arah ruang makan.

__ADS_1


"Iya Ma."


"Sudah ya Bik Chila ke sana dulu sebelum Mama ngamuk."


"Oke Non selamat makan."


"Iya Bik." Fazila berlari menuruni tangga dan menghampiri sang Mama.


"Tumben kamu melewatkan sarapan bukannya biasanya perut kamu sakit ya kalau tida makan pagi?"


"Kayaknya sekarang nggak lagi deh Ma."


"Sekarang nggak nanti bisa saja kan?"


"Nggak Ma tadi sudah terapi di rumah sakit, ups." Gadis itu langsung menutup mulutnya.


Isyana mengernyit. "Terapi?"


"Ah itu ... bukan Ma maksud Chila, Chila sudah makan roti tadi di rumah sakit dibelikan Bang Nath."


"Oh, sudah nggak apa-apa kamu makan lagi. Mama sengaja tadi tidak makan karena menunggumu."


"Baik Ma." Fazila mengambil nasi dan lauk pauk dan menaruhnya ke atas piring. Setelah itu dia menyendok dan mengunyahnya dengan lahap.


Di tengah makannya Fazila terlihat senyum-senyum sendiri mengingat modusnya pada Dokter Davin yang tadi berhasil.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu?"


"Ah nggak kenapa-kenapa Ma," jawab Fazila dengan ekspresi kaget.


"Mama kok merasa aneh ya sama kamu. Sejak kepulangan kita dari rumah Chexil kamu sering senyum-senyum sendiri tidak jelas. Jangan-jangan kembali Felix ke rumahnya diikuti ... ih amit-amit deh," ucap Isyana bergidik ngeri.


"Ah Mama, Chila nggak kerasukan kok."


"Ya terus kenapa kamu berbeda?"


"Chila lagi senang aja kok Ma karena Kak Chexil sama Bang Nathan udah baikan."


"Benar?"


"Iya benar. Memang karena apalagi?"


"Ya sudah lanjutkan makannya!"


Fazila mengangguk dalam hati berkata, "Mama nggak boleh tahu aku sedang pendekatan sama Dokter Davin kalau tidak semuanya pasti gagal."


Sedangkan Isyana melirik wajah Fazila sambil menerka-nerka.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak! Maaf ya ceritanya tentang Chila dulu. Tenang nanti akan kembali ke Nathan karena beberapa bab lagi akan tamat 🙏


__ADS_2