Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 89.


__ADS_3

Saat malam hari semoga anggota keluarga berkumpul di ruangan keluarga untuk mendiskusikan bagaimana baiknya tindakan yang harus diambil untuk menghadapi kenakalan Fazila.


Setelah berembug akhirnya mereka semua memutuskan agar Fazila di sekolahkan di pesantren saja.


"Bang!" Fazila mendekat ke arah Tristan yang sedang duduk bersandar pada sebuah sofa dengan mata gadis itu yang nampak berkaca-kaca.


"Nggak apa-apa, sekolah di sana bagus loh. Selain bisa belajar agama lebih dalam, kamu juga bisa belajar disiplin dan bersosialisasi lebih akrab dengan teman-temanmu," jelas Tristan menenangkan hati sang adik.


"Tapi Chila pasti kangen sama Abang." Gadis itu meneteskan air mata. Dibandingkan yang lain Fazila memang paling dekat dengan Tristan.


"Hus, jangan nangis! Nanti Abang usahakan sering-sering jenguk kamu."


Fazila langsung berhambur ke pelukan Tristan. Ia mendongak, menatap wajah Tristan penuh harap. "Benar ya Bang? Abang jangan bohong sama Chila. Nanti alasan sibuk lagi."


"Nggak, Abang janji," ucap Tristan sambil mengelus rambut sang adik."


Fazila mengangguk.


"Ya sudah istirahat sana! Besok kamu sudah harus pergi. Papa sudah menghubungi pihak pesantren tadi."


"Iya Bang." Fazila langsung berlari ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Esok hari semua orang sedang bersiap untuk mengantarkan Fazila. Saat hendak masuk mobil Chexil muntah-muntah dan tidak mau berhenti.


"Nathan lebih baik kalian nggak usah ikut saja ya. Sepertinya kondisi istri kamu sedang tidak baik-baik saja. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang tidak baik dengan janinnya."


"Chila?" Nathan seolah meminta persetujuan adiknya.


"Nggak apa-apa Bang, demi kebaikan kak Chexil juga dedeknya, Abang dan Kak Chexil tidak usah ikut saja," sahut Fazila.


"Padahal Kakak juga mau ikut mengantar, huek ... huek."


"Sudah Kak nggak apa-apa, lebih baik Kakak jaga ponakan Chila saja. Chila mau kalau pulang nanti dedeknya sudah lahir." Fazila berkata sambil mengelus perut Chexil.


"Awas Chila tubuh kakak kotor kena muntahan, jangan pegang-pegang! Huek ... huek."


"Sudah Nath bawa istrimu masuk!" perintah Zidane.


"Iya Pa. Maaf ya Chila."


"Iya Bang nggak apa-apa, santai aja."


Nathan dan Chexil kembali ke dalam rumah sedangkan keluarga yang lain masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Fazila ke pondok pesantren.


Di dalam mobil Fazila tampak termenung, tidak berbicara sepatah katapun.


Tristan terus saja menggodanya tetapi gadis itu tidak merespon sama sekali.

__ADS_1


"Mikirin apa sih Chila? Masih mikirin dokter itu?" tanya Tristan serius.


Chila tersadar dari lamunannya. "Apa kata Abang tadi?"


"Masih mikirin dokter itu?"


"Ah nggak, cuma mikirin gimana nanti kalau sudah berpisah dengan keluarga." Fazila berbohong padahal sedang teringat saat-saat bersama Dokter Davin sampai dimana ia chat-an terakhir kali dengannya. Hingga membuat ia harus terlempar ke dalam pesantren.


Ternyata dia tidak suka aku ngerecokin hari-harinya. Kenapa nggak jujur aja sih sampai harus mengerjai ku segala? Ah sudahlah mungkin ini yang terbaik untukku. Paling tidak Tuhan masih menyelamatkanku dari kejaran para preman itu.


"Bohong, mikirin apa hayo?"


"Beneran Bang, nggak mikirin apa-apa juga."


"Kalau begitu senyum dong, cemberut aja sih dari tadi!"


Fazila mencebik, tetapi kemudian tersenyum juga.


"Selvi dulu yuk!" ajak Tristan.


Fazila pun mengangguk dan akhirnya foto-foto bersama Tristan dalam mobil sambil tertawa-tawa.


Laras melirik Tristan dan Fazila lalu tersenyum melihat keakraban keduanya yang tidak pernah berkurang sedikitpun.


"Ingat ya jangan posting-posting kalau Chila mondok. Saya tidak mau si dokter itu tahu kalau Fazila kita taruh di pesantren."


Sampai di sana kedatangan keluarga Zidane sudah disambut oleh ketua yayasan dan beberapa guru.


"Bik Ina Nasi kotaknya tolong di turunkan dari mobil dan berikan sama mereka ya biar di bagi sama anak-anak di sini."


"Iya Den."


"Pak sopir bantu juga ya!"


"Baik Tuan."


"Baiklah kalau begitu kami masuk duluan."


"Iya Tuan."


Sampai siang hari mereka baru kembali ke rumah setelah menitipkan Fazila kepada ketua yayasan dan para ustadz dan ustadzah di sana.


"Bagaimana Ma, Chila tidak menangis tadi saat kalian tinggal?" tanya Chexil saat melihat kedatangan rombongan keluarga.


"Nggak kok adikmu malah senang tadi sudah dapat teman sekamar yang baik," jawab Isyana.


"Tenang dia sudah lebih tegar," sahut Tristan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu."


"Keadaanmu bagaimana, sudah membaik? Kalau sekiranya masih muntah-muntah terus periksakan saja lagi ke dokter kandungan."


"Tidak Ma, sudah mulai mendingan. Cuma pas mau muntah memang muntahnya lama."


"Oh ya sudah kalau begitu yang penting terus jaga kesehatan. Makan jangan sampai lupa."


"Iya Ma."


Saat berbicara dengan mertuanya terdengar ponsel Chexil berdering. Ia melihat siapa yang menelepon. Chexil ragu untuk mengangkatnya.


"Kenapa nggak dia angkat?" tanya Nathan penasaran.


"Dia yang nelpon, aku tidak mau kamu salah paham lagi. Lebih baik nggak usah diangkat saja." Chexil memperlihatkan layar ponselnya yang tertulis Dokter Davin calling.


"Angkat saja barangkali ada yang penting tapi ingat kalau dia menanyakan tentang Chila jangan beritahukan dia bahwa adikmu sekarang lagi ada di pesantren," tegas Isyana.


"Iya Ma." Chexil memandang Nathan.


"Angkat saja, aku percaya sama kamu kok."


Chexil tersenyum lalu mengangguk. Chexil menerima telepon dari Dokter Davin.


"Xil, kamu tahu tidak kenapa ponsel Chila tidak bisa dihubungi?"


"Ponsel Chila kena rampok dan sekarang dia tidak pegang ponsel lagi."


Nathan mengernyit mendengar Dokter Davin benar-benar menanyakan adiknya.


"Dokter Davin terkejut. "Kena rampok? Pantes saja dari kemarin dia tidak bisa dihubungi. Boleh panggilkan sekarang? Aku mau ngomong sebentar."


"Sayangnya Chila tidak bersama kami lagi."


"Maksudnya?"


"Nih kamu yang ngomong aja." Chexil memberikan ponselnya pada Nathan. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.


"Chila sudah kami kirim keluar negeri. Jadi saya minta kamu tidak mencari dia lagi!" Setelah mengatakan itu Nathan menutup panggilan telepon.


"Tapi ... halo!"


"Ya, putus. Keluar negeri? Kena rampok? Ada apa sebenarnya ini?" Dokter Davin tampak berpikir.


"Siapa yang bisa menjelaskan semua ini padaku? Aneh kenapa bisa semendadak ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2