Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 44. Terbakar Cemburu


__ADS_3

"Kenapa?"


"Karena aku masih membencimu!" ujar Chexil ketus dan langsung berlari meninggalkan Nathan."


"Haah." Nathan mendesah kesal. Ia meraup wajahnya agar tidak tambah marah.


Ia kebingungan mau mengejar Chexil tidak mungkin meninggalkan Chila sang adik yang sedang mencari bahan-bahan untuk membuat prakarya di sekolahnya.


"Bang sini!" panggil Chila dari sebuah tempat. Nathan mengangguk dan segera menghampiri Chila.


"Kalau pakai bahan ini kira-kira


bagus nggak Bang?"


"Hem, sepertinya ba...."


"Hai!" Sebelum Nathan menyelesaikan perkataannya Tristan datang dan menyapa.


"Hai juga Bang Tris! Kenapa sudah balik? Katanya tadi nggak bisa nemenin Chila."


"Demi adik tersayang Abang bela-belain pulang, nggak tahunya sudah sama Bang Nath ya."


"Kalau begitu Chila terusin belanjanya sama Bang Tris, Bang Nath pergi duluan karena tiba-tiba ada urusan mendadak."


Chila hanya mengangguk kemudian mengobrol dengan Tristan sedangkan Nathan pergi keluar menyusul Chexil.


"Kenapa sudah balik? Apa sudah laku semua? Mau ambil lagi?"Bu Anya langsung mencecar Chexil dengan pertanyaan.


"Nggak Bu malah masih tinggal tiga lagi."


"Loh kok ...." Bu Anya menghentikan perkataannya kala melihat raut wajah Chexil tampak lesu.


"Kamu sakit?"


"Aku bisa pulang duluan nggak Bu?"


"Boleh, kalau sakit jangan dipaksakan. Kesehatan itu lebih penting dari segalanya." Bagi Bu Anya tidak masalah Chexil pulang duluan toh tiap hari Chexil sudah menjual barangnya melebihi target.


"Makasih atas pengertiannya Bu." Chexil berkata sambil menyetop taksi di hadapannya.


"Iya hati-hati."


Chexil mengangguk lalu masuk ke dalam mobil taksi.


Chexil menoleh ke belakang berharap Nathan keluar dari mall dan mengejar dirinya. Namun nihil pria itu tidak tampak batang hidungnya sekalipun.


"Jalan Pak!"


Sopir taksi pun mengemudikan mobilnya sesuai dengan alamat yang disebutkan oleh Chexil.


Bagaimana aku mau pulang bahkan aku pergi pun kamu tidak perduli. Chexil apa yang kamu harapkan dari pria seperti dia?


Chexil menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata sejenak.


"Loh kok sudah pulang?" tanya Fani karena melihat Chexil kembali lebih awal.


"Aku nggak enak badan," ujar Chexil lemas.


"Yakin cuma nggak enak badan? Apa kamu ada masalah?" tanya Fani penuh selidik.


"Aku mau istirahat dulu Fan."

__ADS_1


"Oke sana." Fani membiarkan Chexil masuk ke dalam kamarnya. Dia yakin sahabatnya itu masih butuh sendiri dulu. Setelah ini dia yakin Chexil akan bercerita padanya setelah dia siap.


Esok hari Chexil sudah bersiap-siap untuk bekerja bersama rekan-rekan. Kali ini mereka menyasar salah satu restoran besar yang ada di kotanya.


Dunia tak selebar daun kelor. Pribahasa tersebut nampaknya tidak berlaku untuk Chexil dan Nathan. Buktinya mereka kini dipertemukan dalam suatu tempat.


Nathan yang sedang bertemu dengan salah satu klien mewakili sang papa, ketika keluar dari private room harus melihat lagi Chexil menjajakan jualannya.


"Wanita itu memang keras kepala," gumam Nathan kesal karena Chexil tetap tidak mau berhenti dengan pekerjaannya.


"Maaf Anda tadi bicara apa?"


"Oh tidak saya tidak berkata apapun," ujar Nathan pada klien yang kini keluar ruangan dengan beriringan.


"Oke saya permisi."


Nathan mengangguk. Mereka berjalan mengambil arah yang berlawanan.


Nathan mengawasi Chexil yang sedari tadi lincah bergerak ke sana kemari menawarkan dagangannya.


Ia kadang harus menahan amarah saat melihat banyak kaum adam yang mendekati istrinya. Pura-pura ingin membeli dan meminta penjelasan walau pada akhirnya tidak jadi membeli. Hanya modus belaka.


"Hai!" Seorang pria menghampiri Chexil.


"Hai juga ada yang bisa saya bantu?" Tanpa menoleh Chexil menjawab sapaan pria tersebut karena ia sedang fokus melayani seorang wanita.


"Masih ingat sama aku?" Pria itu bertanya lagi setelah semua konsumen pergi.


Chexil mengernyit, sepertinya dia pernah bertemu dengan orang yang ada di hadapannya kini. Namun dia lupa pernah bertemu dimana.


"Lupa? Kau pernah menabrakku di loby apartemen."


Chexil tampak mengingat-ingat. "Oh dokter itu ya? Sorry waktu itu aku buru-buru kuliah jadi tidak sempat membantu memungut barang anda yang terjatuh di lantai."


Dokter muda itu meraih satu set kosmetik di tangan Chexil.


"Kosmetik ini aman? Hati-hati loh menjual kosmetik abal-abal bisa masuk penjara."


"Dokter bisa cek sendiri itu sudah ada tulisan BPOM-nya jadi tahu sendiri kan itu artinya apa?"


Dokter itu tampak memeriksa produk tersebut. "Oke aman ya?"


"Iya dong dokter mau beli?"


"Ish, aku disuruh beli?"


"Ya barangkali dokter punya saudara atau cewek yang ingin anda belikan. Kosmetik ini ramah loh pada wajah tanpa efek samping."


"Sudah pernah nyoba?" Pria itu mengetes Chexil.


"Sudah," jawab Chexil mantap.


"Cocok?"


"Iya cocok."


"Wah kalau begitu cewekku cocok dong?"


"Gimana, mau beli?"


"Boleh, berapa?"

__ADS_1


"Murah kok Dok harganya ramah di kantong. Cuma 350 ribuan per setnya."


"Oke aku beli satu."


Chexil pun memberikan satu set kosmetik tersebut kepada pemuda di hadapannya.


"Ini." Pria itu mengambil barang tersebut dan membayarnya.


"Terima kasih banyak semoga rezekinya lancar," ucap Chexil tersenyum sumringah.


Pria itu mengembalikan kosmetik tersebut ke tangan Chexil.


"Loh kok dikembalikan? Nggak jadi beli?"


"Bukan, itu untukmu. Aku yakin kamu pasti belum mencoba produk itu kan?"


Chexil membelalak. Bagaimana pria itu tahu dia tadi berbohong.


"Ambillah anda sudah membelinya!" Chexil terus mengulurkan benda itu tetapi pria tersebut tidak mau menerimanya.


"Kalau begitu aku kembalikan uang Anda." Chexil meraih uang itu kembali tetapi ditahan oleh pria itu.


"Ambillah, itu untukmu saya harap kamu tambah cantik kalau memakai kosmetik itu."


"Dasar orang aneh," batin Chexil.


"Lagipula tidak ada wanita dalam hidupku. Saya tidak punya kekasih, ibu, ataupun saudara wanita yang bisa memakai produk itu. Saya harap suatu saat kau yang jadi wanitaku." Pria itu mengedipkan sebelah matanya dan langsung pergi.


"Dasar lelaki gila." Chexil menggerutu dalam hati.


"Tapi nggak apa-apa deh gilanya . menguntungkan diriku. Bisa dijual lagi nih produk," ujar Chexil tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


Tanpa di sadari senyum Chexil mengundang kecemburuan salah satu pria di restoran itu.


Ya sosialisasi antara Chexil dan dokter muda tersebut, membuat api kecemburuan tersuluh di hati Nathan.


Pria itu langsung bergegas menghampiri Chexil dan menarik tangan gadis itu.


"Lepas!"


"Sudah kubilang berhenti bekerja!" bentak Nathan.


"Tidak aku tidak mau!" teriak Chexil.


"Oh jadi kamu suka dirayu-rayu pria seperti tadi? Kamu lupa ya statusmu masih istriku." Suara Nathan terdengar meninggi.


"Tidak aku tidak lupa, aku adalah istrimu, tetapi sayang hanya istri di atas kertas saja." Suara Chexil tidak kalah keras.


"Apa maumu?"


"Mauku? Tanya pada diri sendiri apa maumu?" Chexil membalikkan pertanyaan pada Nathan.


"Aku mau kamu pulang."


"Tidak aku tidak mau." Chexil tetap saja ngotot sambil berusaha melepas pegangan tangan Nathan yang begitu erat.


Karena Chexil masih terus memberontak akhirnya Nathan mengendong tubuh Chexil seperti anak koala menuju mobil.


Melihat Chexil masih terus saja memberontak orang-orang menghampiri dan ingin menolong tetapi dicegah oleh Fani. "Biarkan, dia itu suaminya!"


Akhirnya orang-orang mundur dan membiarkan Nathan membawa Chexil begitu saja.

__ADS_1


Bersambung....


Selamat menunaikan ibadah puasa ya semuanya ( Bagi yang menjalankan). Jangan lupa like dan komentarnya! 🙏


__ADS_2