Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 70. Kesal


__ADS_3

(Sebelum melanjutkan cerita, Author mohon maaf ya kalau update-nya tidak tiap hari lagi. Jujur selain otak othor buntu othor juga sering merasakan sakit kepala yang sangat seolah mau pecah. Namun othor akan usahakan tetap update ya meski mungkin tak tentu jadwalnya. Othor benar-benar minta maaf. Terima kasih atas pengertiannya.)


 🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Maafkan aku Xil, kau benar ini semua kesalahanku. Aku yang tidak becus menjadi suami, aku ya tidak becus menjadi menantu, sekali lagi maafkan aku," batin Nathan.


Beberapa saat kemudian tampak seorang perawat keluar dari ruangan.


"Sudah ayo masuk!" Isyana mengajak Nathan untuk menemui Chexil begitupun pada Karla.


Nathan mengangguk dan langsung bangkit lalu masuk ke dalam sedang Karla masih harus dibantu berdiri oleh Isyana.


Selama berjalan ke dalam tak henti-hentinya Zidane menepuk-nepuk pundak putranya, hanya sekedar menyalurkan ketenangan.


"Pa, aku harus berbuat apa?" tanya Nathan sebelum sampai di samping Chexil. Wajahnya terlihat putus asa.


"Yakinkan dirimu Nak bahwa lambat laun dia akan memaafkan dirimu. Dia hanya butuh waktu untuk mencerna keadaan. Yang terpenting sekarang kau harus berjuang untuk memiliki hatinya kembali. Kalau dia sudah jatuh hati dan memiliki rasa cinta yang mendalam untukmu, akan mudah baginya untuk memaafkan dirimu kecuali satu hal, pengkhianatan. Maka jauhilah itu, karena hal itu adalah jurang pemisah yang paling dalam."


"Semoga Pa. Semoga dia memang bisa memaafkan Nathan dan mau kembali padaku lagi."


"Pasti. Sekarang berdoalah agar Felix cepat sadar biar Chexil tidak salah paham lagi. Papa yakin kamu tidak bersalah."


Nathan hanya mengangguk dan duduk di samping Chexil.


"Bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Isyana pada Chexil yang kini juga sampai di samping Zidane.


"Masih ada sedikit nyeri perut Ma, lemas, dan nyeri punggung."


"Oh tidak apa-apa nanti juga sembuh sendiri kok yang terpenting kamu jangan banyak pikiran dulu."


"Tapi Ma, bagaimana dengan kandungan Chexil? Apa kata dokter tadi?"


Isyana tampak diam, berpikir sebentar apakah harus jujur atau tidak.


"Apa aku kegugupan Ma?" tebak Chexil melihat Isyana hanya termangu, seolah bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Loh kok kamu bicara begitu?"


"Iya Ma soalnya Chexil tadi keluar darah."


"Sabar ya Nak, mungkin Tuhan belum mempercayakan kalian untuk mengurus seorang anak. Pada saatnya nanti mama yakin kalian pasti akan dikaruniai anak oleh Tuhan."


"Jadi benar Ma, Chexil keguguran?" tanyanya dengan mata yang sudah nampak berkaca-kaca.


Isyana hanya mengangguk lemah kemudian menunduk. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Berbohong pun rasanya percuma.


"Mommy." Chexil lalu menangis sesenggukan. Karla terlihat memeluk putrinya. Terdengar tangisan pilu dari keduanya mengingat cobaan yang harus mereka jalani saat ini. Sungguh terasa berat dan mereka seolah tidak kuat memikul beban tersebut.


Oh Tuhan ampuni kami.

__ADS_1


Nathan membiarkan Chexil berada dalam pelukan Mommy Karla setelah terlepas barulah dia menarik Chexil dalam pelukannya.


"Lepaskan! Aku benci kamu." Chexil mendorong tubuh Nathan ke belakang.


"Maafkan aku Xil, aku benar-benar minta maaf. Apakah sudah tidak ada lagi kata maaf untukku darimu?" Nathan memohon dengan wajah memelas.


"Tidak ada, aku benci kamu." Wanita itu tampak melengos.


Nathan meraih wajah Chexil agar berhadapan dengan wajahnya. "Tatap mataku Xil, katakan kalau kamu masih mencintaiku!"


Chexil menghela nafas berat sambil memejamkan matanya. "Tidak aku tidak mencintaimu," ucapnya dengan mata yang masih terpejam.


"Aku tidak percaya, katakan dengan mata terbuka."


Chexil menarik nafas panjang dan memberanikan diri menatap mata Nathan. "Tidak, cintaku sudah ku tinggalkan saat aku memutuskan untuk pergi darimu." Ada air mata yang menetes saat mengatakan akan hal itu.


Nathan tampak menggeleng tetapi dia berusaha bersikap tegar.


"Tidak masalah, aku akan menunggu cintamu kembali atau mengantarkan dirimu untuk menjemput cinta itu lagi. Kita kembali ke apartemen, aku yakin di sanalah cintamu padaku masih tertinggal. Kalaupun sudah tidak ada, kita kembali ke komitmen awal kita, untuk saling belajar mencintai dan mengerti satu sama lain. Walaupun sebenarnya cintaku padamu sudah tumbuh begitu dalam di hati ini." Nathan menunjuk dadanya sendiri.


"Tidak Nath, sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk bersatu. Sedalam apapun cinta kita, kita tidak akan mampu untuk berlabuh. Terlalu banyak rintangan yang harus kita lalui."


"Kita jalani bersama."


"Maaf aku tidak mampu. Kebersamaan kita membuatku banyak kehilangan. Sekarang bayiku, mungkin pada suatu hari daddy Felix."


"Tapi itu kenyataannya Nath, selama kita bersama kita tidak akan bahagia."


"Maksudmu apa Xil?"


"Bebaskan aku, ceraikan aku!"


Jantung Nathan berdegup kencang saat mendengar keputusan Chexil. Laki-laki itu terlihat syok.


"Nak Chexil?!" Isyana kaget dan tidak percaya dengan ucapan menantunya. Baru tadi pagi Chexil seolah takut diceraikan Nathan tetapi sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat. Sekarang wanita itu malah ingin bercerai dari putranya.


"Maaf Ma, Chexil berubah pikiran saat tahu Daddy harus seperti itu."


"Berilah kesempatan untuk Nathan sekali lagi Nak, belum tentu Felix begitu karena Nathan."


"Maaf Ma, Chexil tidak bisa."


"Mas panggil Lukas!" perintah Isyana pada Zidane yang sekarang nampak ikut gusar.


"Baik, aku keluar dulu."


"Tidak usah Pa. Penjelasan Lukas tidak akan merubah keputusanku."


"Ternyata kamu keras kepala," ucap Isyana pada Chexil.

__ADS_1


"Ayo Nath, Mas kita pergi dari sini. Susah-susah kita cari dia selama ini ternyata tidak dihargai sama sekali."


"Tidak Ma, Nathan tidak mau pergi." Nathan menolak saat Isyana menarik tangannya.


"Pergi kata mama!" Isyana terus menarik putranya dari dalam ruangan rumah sakit dengan amarah.


"Kau masih muda masih banyak yang mau sama kamu. Kalau dia sudah tidak mau mempertahankan rumah tangga kalian ya sudah tidak usah dipaksa. Nanti mama kenalkan sama anak teman mama atau anak teman-teman papa. Kau tinggal memilih saja yang kamu suka. Mama yakin pasti mereka mau sama kamu."


Nathan menggeleng. "Tapi Nathan maunya sama Chexil Ma. Nathan cuma cinta dia."


"Kamu tenang saja. Seiring bergulirnya waktu cinta itu akan hilang dengan sendirinya seperti cintanya padamu yang sudah terkikis tak tersisa." Isyana menatap wajah Chexil yang sekarang sedang menunduk.


"Ayo pergi!"


"Ma!"


"Pergi kataku!"


"Xil aku akan kembali!" teriak Nathan lalu pergi bersama mamanya.


"Ma kamu ngomong apa sih? Kau akan membuat keadaan semakin parah," protes Zidane saat mereka berada di luar.


"Biarlah Mas dia bikin aku kesal saja, biar dia renungkan perkataanku tadi. Kalau dia masih mencintai Nathan biarlah dia cepat sadar dengan perkataannya dan minta maaf serta mau kembali kepada putra kita."


"Tapi Ma, mereka itu lagi kesusahan dan Chexil lagi kehilangan janinnya. Mungkin dia masih syok hingga bicaranya masih ngawur seperti itu. Jadi Mama seharusnya bisa mengerti."


"Terserahlah Mas mau ngomong apa, tapi sekarang kita pulang."


Akhirnya anak dan ayah itu menurut untuk pulang agar singa yang ada di hadapannya tidak tambah mengamuk.


"Dan gimana?" tanya Louis yang berjalan ke arah mereka bersama dengan Lukas.


Zidane menggeleng. "Chexil keguguran. Kau bantu pantau keadaan mereka semua ya!"


"Oke siap."


"Tapi kamu juga pergi Nath?" tanya Lukas heran. Bukankah seorang istri yang keguguran butuh suami yang mendampingi dan menghiburnya.


"Nanti saya jelaskan ditelepon, sekarang kami pulang dulu. Kalau tidak ibu negara bisa mengamuk," ujar Zidane sambil berjalan dengan setengah berlari mengejar Isyana yang sudah berada jauh di depan.


"Aku nitip Chexil ya, nanti aku akan kembali," ujar Nathan sambil menepuk bahu Lukas.


"Oke siap," ujar Lukas yang tidak mengerti apa-apa.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak! Jangan lupa juga ya mampir ke cerita Anggraeni.arp di bawah ini. Dijamin seru dan bikin baper abis.


__ADS_1


__ADS_2