
"Davin ini maksudnya apa?"
Davin tidak menjawab dia masih meneliti denyut nadi di tangan Felix. Setelah yakin dengan dugaannya dia menyelimuti bagian bawah tubuh Felix dengan kain kafan tadi dan menggendong tubuh tersebut serta membawanya ke dalam rumah.
"Davin apa-apaan kamu, mengapa membawa mayat Daddy ke dalam rumah lagi."
"Sst, jangan berisik kalau prasangkaku benar Daddy-mu masih hidup."
"Apa, masih hidup?" tanya Chexil tak percaya.
"Sudahlah ayo masuk dulu tidak enak kalau dilihat orang." Davin berkata sambil terus berjalan membuat Chexil Setengah berlari mengejarnya.
Setelah sampai di ruang tamu Davin meletakkan tubuh pria itu dan segera menelepon seseorang.
"Kemana yang lain?" Ia menoleh melihat kediaman Chexil sudah sepi.
"Tidak tahu tadi terlihat ramai di luar tetapi beberapa saat kemudian mereka semua lari seperti orang ketakutan. Mungkin mereka sudah masuk kamar masing-masing."
"Oh mungkin mereka pikir melihat hantu saat melihat Daddy-mu."
"Tapi benar Dav dia masih hidup?" Chexil juga terlihat ngeri memandang wajah Felix yang pucat pasi dan seperti membeku.
"Kita lihat saja nanti."
Beberapa orang datang membawa peralatan medis menghampiri mereka di depan pintu.
"Dokter ini mau diletakkan dimana?"
"Xil antar dia ke kamar Daddy-mu!"
"Baik Dav."
"Mari."
Beberapa perawat itu masuk dengan alat-alat kesehatan di tangannya.
"Siapa yang mau rawat jalan Xil? Mommy tidak sakit kok."
"Bukan Mommy tapi Daddy."
Mommy Karla terlonjak kaget, dia pikir sekarang putrinya yang syok menggantikan dirinya dan hal itu telah membuat Chexil di luar nalar.
"Xil aku tahu kamu sedih Nak telah kehilangan Daddy-mu, tapi jangan sampai seperti itu sayang. Menangis lah kalau kau ingin menangis mungkin dengan itu akan sedikit mengurangi rasa sakit di dalam dada sini meskipun Daddy-mu tidak akan pernah kembali."
"Mommy Chexil serius."
Belum sempat Mommy Karla menjawab ia pun dibuat kaget dengan kedatangan Davin yang menggotong mayat Felix.
"Kalian berdua gila ya," protes Mommy Karla.
"Apakah kalian ingin memakai jasad suamiku untuk percobaan?" tanya Mommy Karla penuh selidik.
"Tidak Mom kami ingin membuat Daddy kembali lagi ke dunia ini," jawab Chexil.
__ADS_1
"Chexil! Benar dugaan Mommy kau sudah tidak waras. Kau pikir mereka itu Tuhan," ujar Mommy Karla dengan suara yang keras.
"Bukan Tuhan Mommy hanya perantaranya saja."
"Chexil." Davin memberi kode pada Chexil agar membawa Mommy Karla keluar kamar dulu. Dia sadar dia salah, seharusnya menggunakan kamar lain yang tidak terpakai untuk merawat Felix.
"Cepat pakaikan oksigennya! Pasien hampir kehilangan nafas."
Semua perawat yang membantu Davin beraksi cepat dengan memasang selang oksigen maupun infus agar Felix tidak kekurangan cairan.
"Bagus," ujar Davin setelah melihat ada reaksi dari tubuh Felix saat mendapatkan perawatan. Tangan pria itu sedikit demi sedikit mulai bergerak.
"Xil sini!"
"Kenapa Dav?"
"Daddy-mu mulai kembali kesadarannya."
"Chexil masuk dan mengawasi tubuh Felix, ternyata benar Davin tidak berbohong.
"Mommy! Mommy!" teriak Chexil.
Mommy Karla tidak menggubris teriakan Chexil dia masih kesal dengan pemikiran putrinya itu.
"Mommy sini dong." Chexil keluar dari kamar orang tuanya dan menarik tangan Mommy Karla yang sama sekali tidak berminat untuk masuk.
"Mommy tangan Daddy sudah mulai bergerak."
Jujur yang paling kehilangan atas kematian Felix adalah dirinya tetapi dia tidak sampai gila hingga harus membongkar makam suaminya kembali.
Karena tidak ingin melihat Chexil tambah syok Mommy Karla menurut. Dia masuk dan menghampiri Felix dengan setengah takut.
Mommy Karla tampak mengernyit saat melihat apa yang dikatakan Chexil ternyata benar.
"Karla." Dalam sungkup oksigen terdengar suara Felix yang agak samar tetapi Mommy Karla mampu mendengar.
Ia meneliti wajah suaminya dan ia langsung melompat kaget melihat Felix membuka mata dan tatapannya seolah tajam melihat padanya.
"Daddy aku janji tidak akan menikah lagi, tetapi tolong jangan hantui kami." Mommy Karla langsung berlari keluar kamar.
"Davin?"
"Buka selang oksigennya!" perintah Davin pada perawat yang masih berdiri di samping Felix.
Setelah selang oksigen di cabut, Felix langsung duduk.
"Chexil." Pria itu tersenyum bisa melihat putrinya kembali.
"Daddy." Chexil langsung merangkul sang ayah. Dia kali ini menangis lagi tetapi tentu saja kali ini adalah tangis bahagia.
"Daddy lapar," ucap Felix.
"Sebentar ya Daddy." Chexil melepas pelukan sang ayah dan berjalan menuju dapur. Ingin menyuruh pembantu tetapi tidak ada yang tampak batang hidungnya. Kalau memanggil mereka pasti akan lama secara kan mereka tidak mau keluar dari persembunyiannya. Daripada lama ia ambil saja sendiri.
__ADS_1
"Mommy kenapa pergi? Daddy lapar," ucap Chexil saat melewati Mommy Karla dengan sepiring makanan sisa acara tahlilan tadi.
Mommy Karla hanya mengawasi pergerakan Chexil yang masuk ke dalam kamar seolah tidak ada perasaan takut sedikitpun.
"Apa benar Daddy sudah kembali ke dunia ini? Apa benar dia hidup kembali?" Mommy Karla masih tidak bisa mempercayai itu semua.
Dia mengikuti langkah Chexil dari belakang tetapi tidak ikut masuk. Ia memilih mengintip di balik pintu.
"Mommy Karla kenapa di situ? Masuk!" perintah Felix.
Mommy Karla terlihat kaget tetapi ia menurut, masuk ke dalam dan duduk di samping Chexil. Ia masih tidak mau dekat-dekat dengan Felix dulu. Jujur ia masih merasa ngeri sendiri.
Chexil dengan telaten menyuapi Felix. Karla hanya menatap penuh selidik.
"Benar dia masih hidup kalau hantu mana mungkin mau makan nasi," batin Karla tetapi tidak dapat dipungkiri tubuhnya masih bergidik ngeri.
Setelah makan, tanpa basa-basi Felix mencabut selang infus di tubuhnya dan berdiri menutupi tubuhnya masih dengan kain putih tadi.
"Mau kemana Dad?" tanya Chexil
"Mau mandi, tolong katakan pada Mommy-mu untuk menyiapkan pakaianku."
Tanpa Chexil menyuruh pun Mommy Karla bangkit dari duduknya dan mengambilkan pakaian sang suami. Namun bukannya memberikan langsung pada Felix tetapi ia lebih memilih memberikan pada Chexil.
Chexil menggeleng tidak mengerti dengan pikiran Mommy Karla. Wanita itu yakin Mommy-nya pasti masih belum percaya dengan kenyataan yang bahkan terpampang di hadapannya kini.
"Wanzi mana dia. Panggil dia!"
"Baik Dad saya cari dulu."
Beberapa saat kemudian Chexil datang bersama Wanzi.
"Ini Dad."
"Wanzi kenapa kamu malah kabur melihatku bukannya nolongin," protes Felix. Dia sangat kesal dengan Wanzi di saat ia minta tolong untuk dibukakan tali pocong malah kabur padahal saat itu Felix benar-benar kehabisan nafas. Apalagi tubuhnya sudah terasa lemah berjuang agar bisa keluar dari dalam tanah.
"Siapa yang berani sama pocong. Tuh Nyonya Karla saja masih ketakutan melihat tampang Tuan seperti ini apalagi saya yang melihat pocong berjalan. Untung saya tidak ada riwayat penyakit jantung kalau tidak bisa saja saya yang menggantikan mengisi kuburan Tuan.
"Dasar kau, mengatakan aku pocong berjalan. Mau aku pecat?"
"Silahkan Tuan daripada saya menjadi anak buah Tuan pocong."
Bersamaan dengan itu ada sendok yang melayang ke arah Wanzi.
"Ampun Tuan."
"Jangan katakan aku Tuan pocong!"
"Baik Tuan, maaf."
Bersambung....
Jangan lupa like-nya!🙏
__ADS_1