Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 73. Perasaan Nathan


__ADS_3

Melihat Karla yang sudah mulai tenang, Louis mengajak Lukas untuk keluar kamar. Sampai di luar kamar Lukas langsung menelpon Nathan untuk segera kembali ke rumah sakit karena Felix sudah tiada.


Nathan pun langsung bergegas keluar.


"Mau kemana Nath? Kok kamu sekarang nggak mau dengerin mama sih," protes Isyana.


"Ma daddy Felix sudah meninggal jadi kita harus kembali ke rumah sakit, please Ma izinin Nathan kalau mama nggak ikut juga nggak apa-apa yang penting Nathan ke sana."


"Kamu nggak sedang membohongi Mama kayak yang sering adik kamu lakukan kan Nath?"


"Nggak Ma kali ini Nathan serius."


Saat sedang mengobrol terlihat Zidane sedang terburu-buru menghampiri mereka.


"Ada apa Mas, katanya capek mau istirahat?"


"Gawat Ma, Felix sudah meninggal."


"Apa? Jadi Nathan nggak berbohong?"


"Nggak Ma."


"Ya sudah kalau begitu kita kembali ke sana sekarang."


Mereka bertiga pun pergi setelah memberitahukan pada Oma Laras.


"Daddy!" Baru saja terlelap Chexil sudah mengigau.


"Ada apa Xil?" tanya Davin sambil beranjak ke arah Chexil.


"Daddy." Chexil bangkit dari duduknya dan langsung melepas selang infus yang ada di tangannya.


"Xil jangan dilepas!"


Chexil tidak mendengarkan perkataan Davin. Dengan nafas memburu ia melempar selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan ke luar menuju kamar rawat Felix.


"Xil mau kemana? Kamu jangan banyak gerak dulu!" cegah Nenek Salma.


Chexil tidak mendengarkan perkataan siapapun dia terus saja melangkahkan kakinya ke kamar Felix.


"Dav bagaimana ini? Bagaimana kalau dia jadi stres lagi?"


"Udah terlanjur Nek, kita kejar saja dia."


Nenek Salma mengangguk. Akhirnya mereka berdua berlari mengejar Chexil.


"Mom, kenapa Mommy menangis?" Chexil duduk di samping Karla dengan perasaan yang kacau karena melihat air mata yang menetes di pipi Mommy Karla.


"Mom katakan pada Chexil ada apa?"


Karla tetap diam dan memilih melanjutkan tangisan tanpa suara daripada menjawab pertanyaan dari putrinya.


Chexil meneliti tubuh Felix, sepertinya ada yang aneh. Ya tubuh Felix terasa dingin seperti es. Chexil memeriksa detak jantung Felix.


"Loh kok Daddy tidak bernafas?" Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada alat EKG yang ada di samping brankar Felix dimana sudah menunjukkan garis lurus.


"Daddy!" Tangis Chexil langsung pecah kala dirinya menyadari bahwa daddy kesayangannya telah tiada.


"Mommy. Pantas Mommy tidak kembali ke kamar Chexil. Mengapa Mommy tidak mengabari bahwa Daddy sudah tiada? Ah Mommy kita sekarang benar-benar hanya akan tinggal berdua saja, hiks hiks hiks." Chexil semakin keras menangis.

__ADS_1


"Sst, diamlah jangan berisik! Jangan sampai suaramu mengganggu tidur Daddy." Karla berucap dengan tegas membuat Chexil langsung menatap raut wajah Karla sejenak.


"Mommy Daddy sudah tiada, bukan tidur," ucapnya dengan halus.


Karla menggeleng. " Tidak, Daddy akan sadar. Dia sudah janji tidak akan meninggalkan Mommy."


"Mommy ...."


"Jangan katakan itu! Dia masih hidup, kalau kau tidak tahu cukup diam saja."


Melihat keadaan keluarganya yang kacau Chexil semakin terpuruk. Bagaimana tidak di saat ia keguguran, ia juga harus dihadapkan dengan kehilangan Daddy Felix dan sekarang dia malah melihat Mommy Karla mulai tidak normal.


"Apa dosaku Tuhan, kenapa kau berikan siksaan yang begitu berat untukku?"


Louis dan Lukas hanya melihat Chexil dari luar pintu karena berpikir Chexil pasti akan bersikap seperti Mommy Karla yang tidak mau mendengarkan perkataan mereka. Apalagi sekarang Chexil sudah ada yang menemani meski Lukas juga tidak tahu siapa yang menemani Chexil sekarang.


"Mereka keluarganya?"


"Aku juga nggak tahu Om, baru lihat sekarang."


"Oh, oke."


"Ini bukan siksaan Xil tapi ini hanya cobaan."


"Tapi ini terlalu berat Dav, aku tidak sanggup melewati semuanya."


"Sabarlah, kamu pasti bisa. Tuhan tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya."


"Tapi Dav aku sekarang benar-benar sendiri. Mommy sudah mulai tidak normal."


"Tenanglah, aku dan Nenek Salma akan selalu ada di sampingmu."


"Masa iya yah, dia keluarganya?"


Lukas hanya mengangkat bahu.


Bersamaan dengan itu Nathan tiba bersama kedua orang tuanya.


Nathan yang melihat Chexil sedang memeluk Davin terhenyak dan berhenti mendadak di depan pintu. Di hati muncul rasa emosi, tetapi dia sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk marah-marah. Apalagi hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja dan Chexil masih dalam keadaan berduka.


Nathan sadar karena kesalahannya telah membuat laki-laki lain yang sekarang menggantikan posisinya. Seharusnya yang menyemangati Chexil saat ini adalah dirinya bukanlah Davin.


"Xil!" panggil Nathan.


Chexil menoleh.


"Ngapain kamu kembali ke sini?" Bukannya kamu sudah tidak perduli ya dengan keadaan keluargaku? Puas sekarang kau Nath sudah melihat Daddy tak bernyawa."


"Justru kami perduli makanya kami kembali ke sini lagi," sahut Zidane sebelum istrinya menjawab terlebih dulu. Dia takut Isyana akan marah-marah lagi. Nyatanya wanita itu sekarang bisa menahan diri karena melihat keadaan.


"Kami akan membantumu untuk mengurus pemakaman Felix."


"Tidak perlu Pa, saya bisa sendiri. Sekarang juga ada Davin dan Nenek Salma yang akan membantuku. Jadi kalian tidak perlu repot-repot."


Nathan tampak membeku mendengar ocehan Chexil sedang Zidane berusaha menahan kekecewaannya.


"Kamu nggak apa-apa Nath?" tegur Lukas. Nathan menjawab dengan anggukan menandakan dia baik-baik saja. Namun rasa di dalam sana sebenarnya saling berperang.


"Bantu aku ya Dav."

__ADS_1


"Pasti."


"Aku mau pinjam handponemu."


Davin memberikan handphonenya pada Chexil dan perempuan itu langsung menelpon Wanzi agar dia dan anak buahnya segera mengurus pemakaman Felix.


Malam itu mereka membawa pulang Felix ke kediamannya.


Zidane dan yang lainnya meski kehadirannya seolah tidak dianggap tetap saja ikut dalam proses pemakaman Felix yang ternyata diletakkan di belakang rumahnya sendiri.


Selama pemakaman Nathan hanya berfokus pada Davin yang sepertinya begitu dekat dengan Chexil. Bahkan dirinya yang suami Chexil saja tidak sedekat itu.


Davin juga tampak begitu telaten mengurusi Karla yang sedari tadi memberontak saat acara pemakaman. Wanita itu masih menganggap Felix hidup dan tidak terima dengan acara pemakaman. Akhirnya dengan segala cara Davin bisa menenangkan Karla agar bisa menerima kenyataan.


Nathan mengedipkan matanya dan mengalirlah sesuatu yang ditahan sedari tadi. Rasanya begitu sakit. Apa benar Davin lebih baik dari dirinya hingga Chexil memilih berada di pangkuan lelaki itu dibandingkan dirinya.


Isyana menatap Nathan lalu menepuk pundaknya. "Mama sama Papa mau pulang," ucap Isyana setelah pemakaman telah selesai.


"Pulanglah Ma, aku menginap di sini saja."


"Sabar ya Bro." Lukas menepuk pundak Nathan. Pria itu hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku izin pulang."


"Kami pergi duluan," ucap Zidane.


"Iya Pa."


"Om Louis juga pergi ya Nath, mau jemput Tante Safa sama anak-anak."


"Iya Om."


Setelah acara selesai orang-orang meninggalkan kediaman Felix kecuali Davin, Nenek Salma dan juga Nathan. Tentu saja juga anak buah Felix sendiri.


"Eh ngomong-ngomong suami kamu mana? Kok nggak hadir di acara pemakaman?" tanya Davin penasaran.


"Nggak ada, setelah aku keguguran kami langsung cerai."


Nathan menatap Chexil tak percaya.


"Terus itu siapa kamu?" tanya Davin menunjuk ke arah Nathan. Dia masih penasaran karena diantara orang-orang yang hadir Nathan tidak pulang sendiri.


"Teman."


"Teman? Bukan salah satu keluargamu?"


"Nggak, cuma teman. Taman rasa musuh."


Nathan terbelalak mendengar jawaban Chexil.


"Teman rasa musuh, maksudnya?"


"Sudah ah aku mau istirahat saja. Kalau kamu sama Nenek Salma benar-benar mau nginap di sini minta sama bibi ya supaya mengantarkan dimana kamar tamunya." Chexil berucap sambil memandang malas ke arah Nathan.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalin jejak. Mampir juga yuk ke karya Age Nairie di bawah ini dijamin bikin baper🙏


__ADS_1


__ADS_2