Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 75. Meresapi Rasa


__ADS_3

Seperti hujan yang akan selalu menghiasi dunia ini begitulah akan ada air mata yang menemani perjalanan hidup manusia. Namun, satu hal yang perlu diingat sebesar apapun ujian kita jangan sampai kita melupakan bagaimana caranya tersenyum.


Malam ini hujan begitu deras, petir terdengar menyambar. Orang-orang yang biasanya hadir dalam acara tahlilan kali ini hanya segelintir saja yang hadir.


Diantara orang-orang yang hadir masih terlihat Lukas, Zidane, Louis dan juga Tristan tapi tak ada Nathan di sana.


Ada air mata yang mengembun di balik manik cokelat seorang wanita yang sedari tadi mengawasi kedatangan mereka. Hatinya perih dan kecewa pada diri sendiri. Nathan yang diharapkannya ternyata benar-benar tidak kembali.


"Nak kalau kamu masih ingin bersamanya kejarlah dia jangan sampai dia melepasmu dan memilih yang lain." Chexil termangu mendengar perkataan Nenek Salma di sampingnya.


Lalu dengan hati yang terasa berat ia berpura-pura tersenyum menyambut kedatangan para tamu termasuk mertua dan adik iparnya itu.


Setelah acara selesai dan semua orang kembali ke rumah Chexil langsung bergegas ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Kali ini dia langsung menyambar ponselnya dan menelpon Nathan. Sayangnya meski panggilan teleponnya masuk tetapi tidak ada yang mengangkat.


"Ayolah Nath angkat teleponnya, maafkan aku."


Chexil mencoba berulang kali menelpon tetapi hasilnya tetap sama dan yang terakhir malah ponsel Nathan tidak aktif.


Chexil yang kesal langsung melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.


"Sepertinya dia tidak bisa memaafkanku." Chexil Menangis sejadi-jadinya. Seperti derasnya air hujan yang mengalir di luar sana sederas itulah air mata Chexil malam ini.


Di tempat lain Nathan masih berkutat dengan komputer. Dia sedang melakukan perbaikan sistem komputer di salah satu perusahaan. Dia akhirnya menyanggupi kembali ketika ada orang yang meminta bantuan padanya setelah satu bulan lebih dia sudah vakum dalam pekerjaannya itu.


"Sepertinya handphone anda berbunyi apa tidak sebaiknya diangkat dulu."


"Sebentar lagi tanggung ini." Nathan masih serius dengan pekerjaannya dan dalam keadaan seperti itu dia memang tidak suka diganggu.


Beberapa saat kemudian dia menepuk tangannya. "Beres, semua data perusahaan anda sudah kembali, silahkan dicek."


"Oke sebentar." Seorang yang membawa Nathan ke perusahaan itu tampak fokus dengan layar komputer di depannya. Tangannya tampak lincah menekan tombol keyboard dan sesekali menggerakkan mouse.


"Sepertinya sudah pulih, baik terima kasih. Bayarannya nanti kami transfer.


"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan dan senang bekerja sama dengan anda."


"Terima kasih saya pun senang bekerjasama dengan perusahaan ini. Saya pamit pergi."


Pria di hadapannya terlihat mengangguk. Nathan pun bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil.


Sebelum menghidupkan mobilnya ia teringat akan panggilan telepon tadi. Ia meraih ponselnya. "Siapa sih, apa Mama ya?"


"Ckk, pakai acara lowbat lagi." Nathan menaruh ponselnya kembali dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tidak menunggu lama, jalanan yang sepi membuatnya lebih cepat sampai di rumah. Saat berpapasan dengan Isyana ia langsung bertanya. "Mama tadi menelpon Nathan?"

__ADS_1


"Nggak, Mama tahu kok kalau kamu serius nggak bisa diganggu."


"Terus siapa ya Ma? Ponselku mati pas aku cek tadi jadi tidak tahu siapa yang menelepon."


"Mungkin papa atau adik kamu."


"Memang mereka pada kemana?"


"Ke rumah Chexil mau tahlilan atau pengajian gitu katanya. Mungkin mereka mau ngajak kamu kalau sekiranya pekerjaan kamu sudah kelar."


"Oh iya Ma aku lupa padahal niatnya aku mau hadir."


"Nggak apa-apa Nath, kamu mendingan nggak usah hadir dulu. Sana mandi terus temenin Mama sama Chila makan."


"Baiklah Ma." Nathan naik ke atas ke kamarnya dan langsung mencharger ponselnya dan dirinya langsung masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian dia menuju ruang makan dan menyantap makan malam bersama Chila dan Isyana. Setelah selesai di kembali ke kamar. Menghidupkan ponselnya dan mengecek panggilan tak terjawab.


Nathan mengernyit. "Chexil? Tumben dia nelpon aku. Apa ada yang gawat ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Mommy Karla."


Nathan menelpon balik nomor Chexil tetapi sayang sekarang nomor Chexil yang malah tidak aktif.


Nathan mengambil jaket dan bergegas keluar. Bersamaan dengan itu papanya datang bersama Tristan dan Lukas.


"Mau kemana Bang?"


"Nggak ada apa-apa Bang. Tadi dia baik-baik saja kok."


"Benar Tris?"


"Benar Nath semua yang ada di sana baik-baik saja kok malah Mommy Karla sudah terlihat lebih ikhlas dengan kepergian Felix," jawab Zidane.


"Oh baiklah Pa kalau begitu Nathan nggak jadi ke sana deh. Sudah malam juga."


"Malam ini aku nginap di sini boleh nggak Nath?"


"Boleh lah Luk yuk ke kamar! Kita udah lama ya tidak mengobrol santai."


"Nak Lukas tidak makan dulu?"


"Sudah kenyang, makan di tempat Chexil Tante."


"Oke kalau begitu."


"Yuk Nath!"


Mereka pun pergi ke kamar Nathan dan bersenda gurau di sana.

__ADS_1


Tristan pergi ke kamarnya setelah mengganti bajunya ia langsung kembali ke kamar Nathan, ikut nimbrung pembicaraan keduanya.


Pembicaraan Tristan dan Lukas yang sangat menarik membuat Nathan bisa sejenak melupakan permasalahannya dengan Chexil.


"Nath kapan kamu masuk kuliah lagi?"


"Nggak tahu ya Luk mungkin Lusa aku kembali kuliah kalau besok kayaknya belum siap."


"Iya nggak apa-apa tapi jangan lama-lama tahun ini kita kan sudah wisuda jangan sampai kelulusan kita tertunda."


"Tenang aku pasti bisa mengejar kalian."


Lukas memukul pundak Nathan karena melihat teman yang satu itu masih selalu percaya diri tentang ilmu dan pekerjaannya. Namun sayang soal asmara dan rumah tangga masih gagal.


"Tidur yuk!" Lukas mengajak Nathan tetapi pria itu terlihat menggeleng.


"Aku belum ngantuk Luk."


"Belum? Aku udah ngantuk banget nih."


"Ya sudah tidur bareng Tristan dulu nanti kalau aku ngantuk aku nyusul."


"Kamu tidur di sini juga Tris?"


"Iya Luk mumpung kamu ada di sini. Kapan lagi coba kita bisa tidur bareng kayak gini lagi. Mungkin nggak lama lagi kamu juga menikah. Eh Dimas andai dia juga ada di sini pasti tambah rame." Tristan mengingat sahabat baiknya itu yang beberapa hari ini masih belum kembali dari kampung.


"Emang Dimas ngapalin di kampung, kok lama amat?"


"Katanya sih sepupunya mau nikah Luk tapi aku curiga malah dia yang dinikahkan buktinya sudah seminggu belum balik-balik." Tristan tersenyum kala di otaknya terlintas bayangan Dimas saat mengucapkan ijab qabul dan ucapannya malah salah.


"Kenapa sih Tris senyum-senyum sendiri?"


"Nggak Luk cuma bayangin Dimas nikah aja."


"Hmm, pasti bayangin yang nggak-nggak."


"Sudah ah tidur yuk katanya sudah mengantuk."


"Oke."


Nathan melihat keduanya yang sudah bersiap-siap untuk tidur. Namun, dirinya tidak ada keinginan untuk tidur karena mendengar kata menikah dari Tristan tadi dia teringat nasib pernikahannya yang ada di ujung tanduk.


Bersambung....


Waktunya ngiklan lagi. Creng creng creng. Yuk teman-teman kepoin novel di bawah ini dijamin bikin kalian nagih karena ceritanya keren abis.... Capcus👇


__ADS_1


__ADS_2