
"Oke kamu tunggu di sini." Tristan pun menguntit orang-orang mengikuti Chexil daru tadi.
"Wah gawat orang-orang ini sepertinya ingin menculik Chexil," gumam Tristan saat melihat orang-orang itu terus saja mengikuti Chexil sampai ke belakang restoran yang terlihat sepi. Namun Tristan bernafas lega kala Chexil kembali ke ruangan tengah dan duduk di meja restoran. Rupanya tadi gadis itu hanya melihat-lihat saja.
"Hai apa kabar?" sapa Tristan sambil menyeret kursi dan duduk di samping Chexil. Gadis itu cemberut dan sama sekali tidak berselera untuk menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya kini.
"Hmm, cuek banget sih," protes Tristan sambil melambaikan-lambaikan tangannya di depan wajah Chexil sambil menyanyikan sebuah lagu.
"Tris bisa diam nggak sih kamu! Dasar pria aneh giliran diajak bicara nggak mau ngomong. Giliran didiemin malah berceloteh."
"Siapa yang aneh?" tanya Tristan tidak mengerti. "Lo tuh yang aneh. Dasar gadis aneh." Tristan membalikkan ucapan Chexil.
"Aku tuh dari orok memang begini, nggak bisa diem." ujar Tristan lagi.
Chexil hanya mencebik lalu bersikap cuek kembali. Ia melambaikan tangannya pada seorang waitress di sana.
Waitress itu menghampiri Chexil dan Tristan sambil memberikan buku menu. "Silahkan pilih menunya."
Chexil mengambil buku itu kemudian memesan makanan yang diinginkannya.
"Baiklah. Mas-nya mau pesan apa?"
"Hmm, pesan apa ya yang enak?" Tristan tampak
menimbang-nimbang.
"Di sini banyak kok Mas menu-menu yang enak-enak tinggal pilih saja."
"Ya sudah mbaknya yang pilihkan saja yang penting enak dan bikin kenyang."
Chexil mengerutkan dahi melihat tingkah Tristan. "Benar-benar pria aneh," batinnya.
Tristan mendongak dan mengembalikan buku menu pada waitress wanita tadi.
"Mas Tristan?" Waitress tadi terlonjak kaget lalu dengan heboh memeluk Tristan.
"Mau dong foto-foto."
Chexil kini menatap aneh wanita itu.
Perempuan apaan sih main nyosor segala. Emang siapa sih Tristan sampai segitunya wanita ini senang ketemu Tristan?
"Boleh asal ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" Waiters itu tampak sumringah.
"Pilihkan menu kesukaanku, jika benar maka boleh foto-foto sepuasmu. Bagaimana setuju?"
"Oke siap kalau cuma makanan favorit mas Tristan mah aku sudah hafal." Wanita itu pergi meninggalkan keduanya ke dapur restoran
Dari jauh Dilvara melihat ke arah Tristan dengan kesal. "Dia yang ayah pilihkan untuk jadi pasanganku nanti? Akhh belum apa-apa udah selingkuh duluan." Dilvara menghentakkan-hentakkan kakinya.
"Kenapa? Kaki kamu pegal ya?" goda rekan foto syut-nya tadi. Padahal dia sudah tahu bahwa gadis kecil itu marah pada Tristan. Dilvara tidak menjawab, dia langsung keluar dari restoran.
Laki-laki itu terkekeh lalu memandang ke arah Tristan dan Chexil.
"Semoga misiku kali ini berhasil. Kalau Tristan menikahi nona Chexil, aku bukan hanya dapat uang banyak tetapi juga bisa mendapatkan Dilvara."
Selang tidak begitu lama waitress tadi datang dengan membawa pesanan dan menatanya di meja.
"Silahkan dinikmati Mbak," ucapnya pada Chexil.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Gimana mas Tristan? Benar tidak ini makanan favoritmu?"
"Wah benar sekali mbaknya pinter."
"Kalau begitu nikmati hidangannya dulu. Nanti jangan lupa janjinya ya."
"Oke siap."
"Mbak memang dia ini siapa sih?" tanya Chexil penasaran.
Wanita yang ingin beranjak pergi itu terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Memangnya mbak tidak tahu kalau teman mbak ini artis?"
"Artis?" Chexil terlihat tidak percaya.
"Iya Mbak, dia kan juga ...."
"Ah sudahlah Mbak tidak usah dijelaskan, percuma dia kudet." Tristan memotong ucapan waitress itu dan wanita itu mengangguk dan langsung pergi.
"Artis? Hemm."
"Kenapa? Masih belum percaya? Apa di rumahmu tidak ada televisi?"
"Tidak ada, aku tidak suka menonton telivisi."
"Aneh."
"Kamu juga aneh." Chexil langsung menunduk dan menyantap makanan yang telah ia pesan tanpa bicara lagi. Dalam hati dia berpikir mengapa dirinya kini jadi cerewet saat bersama Tristan.
"Waduh bagaimana ini?" Tristan kewalahan menghadapi semua penggemarnya yang meminta foto-foto sampai tanda tangan darinya. Mereka yang berdesakan membuat tubuh Tristan menjadi terhimpit.
Chexil tertawa melihat Tristan terhimpit diantara dua orang ibu-ibu yang gendut yang membuat Tristan mengeluh.
"Enak ya jadi artis," goda Chexil sambil tertawa.
"Ya begitulah, kalau sudah pesona Tristan keluar para wanita jadi klepek-klepek."
Ingin rasanya Chexil muntah mendengar ucapan Tristan.
"Aduh." Tiba-tiba Chexil mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa Xil?" tanya Tristsn ikut khawatir.
"Cuma sakit perut. Udah dulu ya." Chexil langsung berlari ke toilet.
"Sepertinya obat sudah mulai bereaksi," bisik anak buah Felix di telinga Wanzi.
"Kalian apakan nona Chexil hah?!"
"Tenang bos itu hanya untuk sementara kok, nanti juga rasa sakitnya hilang sendiri."
"Aman nggak? Kalau terjadi sesuatu kalian yang harus bertanggung jawab kepada Tuan Felix."
"Aman Bos."
Wanzi menghela nafas lega.
Tidak berapa lama Tristan pun mengeluh sakit perut dan bergegas ke toilet.
__ADS_1
"Bagaimana Leo, sudah kamu siapkan semuanya?" tanya Wanzi pada pria yang tadi menjadi lawan main Dilvara.
"Beres Bos pokoknya serahkan semuanya pada Leo," ucap Leo sambil menepuk dada.
Tristan kebingungan mencari toilet yang kosong. Pasalnya semua toilet pria di kunci yang berarti ada orangnya semua.
Tristan tidak tahan ingin segera membuang hajat. Ia lalu berlari ke toilet wanita. Persetan dengan aturan yang penting sekarang kotoran dari perutnya bisa keluar.
"Sh*it." Tristsn jengkel semua toilet terkunci.
"Bagaimana ini?" Tristan memeriksa toilet yang paling ujung. Ternyata tidak terkunci. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke dalam. Namun ketika hendak melangkah ke kloset dia mendengar teriakkan wanita.
"Aaaaa!"
Tristan menoleh. "Chexil, ngapain kamu di sini?"
"Apa aku harus menjawab? Kamu tahu ini toilet wanita kan?"
"Aku tidak peduli, aku sedang kebelet. Suruh siapa pintunya tidak dikunci," Tristan malah protes.
"Pintunya rusak jadi tidak busa dikunci," sahut Chexil.
"Sudah keluar sana! Punyaku mau keluar. Kamu sudah kan?"
"Wah-wah-wah ada berita heboh nih. Artis dan selegram kita kebelet kawin sampai mau berbuat mesum di toilet restoran." Leo membuka pintu toilet dengan beberapa orang yang membawa kamera.
"Wah tidak disangka ya, padahal aku mengejarnya tadi karena ingin sedikit wawancara, tetapi malah mendapatkan berita yang bisa viral. Pasti aku akan dapat gaji yang berlipat-lipat karena berita ini."
"Apa maksud kalian? Kami tidak melakukan apa-apa di sini," bentak Tristan. Sakit perutnya hilang mendadak dan sesuatu yang mau keluar tadi sepertinya tersesat sudah.
Chexil hanya menutup wajahnya karena malu. Meskipun mereka tidak melakukan apa-apa tetapi ditemukan dalam toilet bersama laki-laki adalah hal yang tabu untuknya. Untung saja ketika Tristan masuk dia sudah memasang pakaiannya kembali. Kalau tidak entah apa jadinya. Malunya pasti berkali-kali lipat.
"Sudah mau berbuat mesum masih saja tidak mengaku. Bagaimana ya pengaruhnya ke publik kalau berita ini disebar?"
"Jangan macam-macam kamu," tunjuk Tristan ke arah Leo lalu memegang kerah leher Leo karena kesal. Dia sudah siap untuk memukul Leo.
"Pasti bukan namanya saja yang hancur tetapi nama perusahaan orang tuanya juga akan kena imbasnya." Leo tidak menghiraukan perkataan dan tindakanTristan.
Mendengar perkataan perusahaan orang tuanya nyali Tristan menjadi ciut. Dia tidak mau penyakit jantung opanya kambuh hanya gara-gara gosip tentang dirinya. Kalau saja saat ini Nathan bersamanya dia tidak akan sekhawatir ini.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Wanzi muncul.
"Wanzi!" seru Chexil. "Tolong kami!
"Pria ini ingin berbuat mesum kepada gadis itu," sahut Leo.
"Katakan apa yang kalian inginkan agar tidak menyebar gosip ini! Sepuluh juta, dua puluh juta?"
"Kamu tahu siapa gadis itu?" tunjuk Wanzi pada Chexil.
"Pertanyaan macam apa ini, tentu saja aku tahu," batin Tristan.
"Dia adalah anak bos kami. Kalau dia tahu apa yang terjadi diantara kalian pasti dia akan membunuh kalian berdua."
"Terus kami harus apa?" tanya Chexil.
"Kalian harus menikah agar gosip ini tidak segera menyebar."
"Apa menikah?" tanya kedua serentak karena sama-sama kaget.
Bersambung.....
__ADS_1