
Davin yang kebetulan masuk ke ruangan tersebut dengan membawa makanan menelan ludah mendengar pembicaraan Isyana dan Chexil. Dia merasa seolah tidak ada celah untuk masuk ke dalam kehidupan Chexil.
"Kau sudah sadar? Dia keluargamu?" tanyanya basa-basi sambil menyalami tangan Isyana dan Zidane lalu duduk di samping ranjang.
Chexil hanya mengangguk.
"Kalau begitu makan dulu. Nih aku bawakan makanan untukmu." Davin tampak membuka bungkus makanan dan hendak menyuapkan pada Chexil, tetapi wanita itu menolak.
"Aku bisa makan sendiri Dok." Chexil meraih makanan dari tangan Davin.
"Dokter bisa bertugas kembali," tambahnya.
"Hari ini aku tidak ada tugas di rumah sakit ini."
"Biar mama yang suapi." Isyana meraih makanan di tangan Chexil dan menyuapi menantunya itu.
"Kalau begitu aku mau ke kantor dulu," izin Zidane pada Isyana dan Chexil. Sebenarnya dia ingin menjenguk Felix tapi tidak berani berkata seperti itu di depan Chexil.
"Iya, Mas."
"Iya Pa hati-hati."
Zidane mengangguk lalu berjalan keluar.
Davin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan dan menghidupkan televisi. Ia mencari-cari acara yang disukainya. Ingin melihat moto GP tetapi belum mulai. Akhirnya dia memutuskan menonton berita saja.
"Dia dokter?" tanya Isyana pada menantunya.
"Iya Ma."
"Dokter kandungan?"
"Bukan tetapi dia cucunya nenek Salma tempat Chexil menumpang tinggal," jelas Chexil.
"Oh, pantesan."
Kayaknya bahaya nih buat Nathan kalau Chexil tidak segera ditemukan. Bisa-bisa Chexil bersimpatik pada pria ini.
"Sudah ayo makan lagi." Isyana terus menyuapi Chexil.
"Dokter kebetulan anda masih di sini. Anda diminta untuk menggantikan dokter Tirta yang sekarang masih bertugas di luar."
"Baik Sus."
"Chexil, Nyonya saya permisi."
__ADS_1
"Iya," jawab keduanya serempak.
Davin pun meninggalkan ruangan dan lupa mematikan televisi.
"Sudah Ma, Chexil kenyang."
Beberapa saat kemudian ponsel Isyana berbunyi dan ternyata, putrinya -Fazila- yang menelpon.
"Siapa Ma?"
"Chila, katanya dia sudah ada di luar. Anak itu memang keras kepala disuruh nunggu kamu di rumah malah menyusul ke sini. Kangen katanya."
Chexil nampak tersenyum. Entah kenapa adik yang satu itu selalu terasa dekat dengannya.
"Bentar ya, mama jemput ke luar."
"Iya Ma."
Isyana pun pergi meninggalkan Chexil seorang diri.
Merasa tidak ada yang bisa diajak bicara lagi, Chexil mengalihkan perhatiannya pada televisi yang menyala. Beberapa gosip artis menghiasi layar televisi.
"Kok nggak ada Tristan ya? Tuh orang kayaknya jauh dari gosip. Ah membosankan. Lebih baik aku istirahat saja. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya tiba-tiba ia dikejutkan oleh berita yang sangat mengacau hatinya.
[ Pemirsa terjadi perlawanan antara pihak kepolisian dengan komplotan mafia jaringan internasional yang kini aksinya sudah merambah ke tanah air kita. Ada banyak korban yang berjatuhan baik dari pihak kepolisian maupun dari anggota mafia itu sendiri.]
Di layar televisi menampakkan keadaan luar gedung apartemen yang penuh dengan asap dan kekacauan yang ada di sana.
Itu kan apartemen ... Nathan apa kabar dia? Jangan-jangan dia ikut jadi korban. Apalagi dia juga suka ikut bergabung dengan para polisi.
"Ma! Mama!" Chexil berteriak panik.
Kemudian layar televisi selanjutnya menunjukkan markas para mafia.
[Salah satu korban dari sengitnya pertempuran ini seorang lelaki paruh baya yang dicurigai salah satu dari anggota sindikat mafia terkena tembakan di kepala. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan menurut info di lapangan keadaannya sekarang kritis.]
Chexil tertegun memandang ke arah layar televisi yang menampakkan beberapa orang menggotong tubuh seorang pria menggunakan tandu. Ia begitu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Daddy? Dia daddy. Terkena tembakan di kepala? Kritis? Dia mafia? Akh! Itu tidak mungkin. Tidak!" Chexil berteriak histeris sambil menutup telinganya sendiri.
Isyana dan putrinya yang mendengar teriakan dari kamar Chexil segera berlari.
"Ada apa Nak?" tanya Isyana kaget melihat perubahan di wajah menantunya itu. Terlihat antara raut sedih dan ketakutan secara bersamaan.
"Ma, daddy Ma." Chexil berucap sambil menangis sesenggukan dan langsung memeluk erat tubuh mertuanya.
__ADS_1
Deg.
"Apa dia sudah tahu semuanya?" batin Isyana.
"Dia kritis Ma, dia mafia hiks ... hiks hiks.... Daddy bohongin Chexil, bohongin mommy."
"Apa yang kamu katakan?" Isyana keheranan. Kalau Felix kritis dia sudah tahu tetapi kalau Felix dikatakan mafia dia tidak mengerti. Dia pikir Chexil hanya ngaco saja.
"Kamu pasti bermimpi kan? Sudah, tenanglah!"
"Tidak, Chexil tidak bermimpi itu kenyataannya, Chexil tidak tidur Ma."
"Sudah kak, kakak tenang dulu. Pasti kakak itu dengar kabar yang masih tidak jelas kan?" Chila ikut menenangkan sang kakak sambil mengusap-usap punggungnya.
"Aku lihat dari berita. Itu pasti tidak akan bohong." Chexil menunjuk televisi yang berada jauh di depannya.
"Aku harus pergi Ma, aku harus pergi." Chexil melucuti selang infus di tangannya. Kemudian turun dari ranjang.
"Jangan Nak, kamu harus sembuh dulu baru kita temui daddy kamu."
Chexil tidak mendengarkan ucapan Isyana. Seperti orang kesetanan dia berlari ke luar membuat Isyana berteriak meminta tolong sambil berlari mengejar. Bahkan anak buah Zidane dan Felix yang tidak menyangka Chexil akan kabur pun langsung berlari mengejar.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku mau bertemu daddy." Chexil terlihat memberontak.
"Bagaimana ini Nyonya?"
"Karena dia sudah tahu kondisi daddy-nya maka tidak ada cara lain selain kita membiarkan dia bertemu Felix."
"Baik Nyonya kalau begitu mari saya antar."
Isyana mengangguk.
"Sabar ya Nak, kita ke sana sekarang."
"Iya Ma." Chexil mengangguk lemah.
"Ayo Pak kita cepat ke rumah sakit tempat Felix dirawat."
"Baik Nya."
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya ya! Jangan lupa mampir juga di karya teman othor yang tidak kalah seru ini. Kuy kepoin!🙏
__ADS_1