
"Tidak apa-apa yang penting kamu selamat dulu," ujar Lukas sambil membantu Nathan berdiri.
"Aku tidak apa-apa," jawab Nathan.
"Syukurlah, kupikir kau tertembak," jawab salah satu anggota polisi.
"Saya tidak apa-apa Pak cuma tadi mendadak pusing." Nathan terpaksa berbohong karena tidak ingin memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih merasa dilema.
"Kapten kami balik duluan," pamit Lukas pada sang kapten yang sedang bergerak ke sana.
"Oke siap." Sang kapten memberi hormat mungkin karena sudah terbiasa melakukan hal itu.
"Pak kami permisi lebih dulu," ujar Nathan pada beberapa polisi yang ada di sampingnya."
"Baiklah hati-hati," sahut polisi sambil menepuk bahu Nathan dan Lukas secara bergantian.
"Terima kasih berkat kerjasamanya. Berkat kalian juga kami bisa menangkap beberapa orang yang terlibat dalam aksi penyelundupan tadi. Semoga orang-orang yang kita tangkap lebih memilih membuka mulut ketimbang harus mengakhiri nyawanya sendiri seperti sebelum-sebelumnya."
"Semoga saja, biar bos mereka segera tertangkap dan kejadian seperti ini tidak terulang kembali," jawab Lukas.
Nathan hanya diam tidak mau nimbrung dengan pembicaraan keduanya.
"Sampaikan pada Devan kami kembali duluan," ujar Lukas lagi.
"Oke nanti saya sampaikan," sahut salah satu anggota polisi yang merupakan kakak Devan. Devan lah yang awalnya membawa mereka bergabung dengan kepolisian tetapi akhir-akhir ini orang itu malah jarang berkumpul lagi dengan keduanya.
Nathan dan Lukas menuju tempat mobilnya terparkir dengan membawa motor salah satu anggota polisi dengan Lukas yang menyetir.
"Ini kuncinya kamu yang nyetir saja!" perintah Nathan. Lukas tidak membawa mobil sendiri tetapi ketika berangkat tadi dijemput oleh Nathan.
Lukas meraih kunci mobil Nathan dan memarkirkan motornya. Katanya motor itu akan diambil sendiri oleh pak polisi.
Saat-saat hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba Lukas menangkap sosok seseorang dari jarak dekat. Sepertinya seorang wanita yang sedang berlari dan bersembunyi di balik tembok tempat parkiran.
"Tunggu! Aku ke sana dulu," ujar Lukas lalu berjalan dengan langkah cepat.
Nathan hanya mengernyit tidak mengerti apa yang akan dilakukan Lukas tetapi ia menurut saja dan memilih menunggu di dalam mobil.
"Hei tunggu siapa itu!" seru Lukas. Namun, wanita itu malah berlari mendengar suara Lukas.
"Hei berhenti!" seru Lukas lagi sambil berlari mengejar wanita yang mencurigakan menurutnya. Wanita itu semakin kencang berlari tetapi sayang Lukas bisa mengejar dan meraih ujung belakang baju gadis yang mencoba berlari menjauh darinya.
__ADS_1
"Siapa kamu dan kenapa berkeliaran di tengah malam begini?"
Wanita itu tidak menjawab sehingga Lukas langsung memutar tubuh Wanua tersebut dengan paksa sehingga menghadap dirinya. Lukas terperanjat ketika tahu siapa wanita yang berdiri di hadapannya kini.
"Nela ngapain kamu di tempat seperti ini malam-malam?" Lukas langsung mengintrogasi ketika tahu itu adalah sahabatnya sendiri.
"Lu ... Lu ... kas," ujar Nela gugup.
"Ngapain kamu di sini?" ulang Lukas.
"Aku tidak sengaja lewat tempat ini. Tadi ada rampok yang mengejarku makanya aku lari saat kau mengejarku."
"Yakin?" tanya Lukas menatap curiga.
"Benar Luk. Kenapa menatapku seperti itu? Entar juling tuh mata," ujar Nela mengalihkan perhatian agar Lukas tidak bertanya panjang lebar.
"Bagaimana mungkin kau berkeliaran di tengah jalan saat malam seperti ini?" Lukas masih saja mengingat akan rasa penasarannya.
"Aku tadi lapar jadi terpaksa keluar rumah untuk mencari makanan barangkali jam segini masih ada warung yang buka karena stok makanan maupun mie instan dalam rumah sudah habis. Nggak tahunya aku malah dikejar oleh rampok. Jadi aku berlari sekencang mungkin tanpa arah tujuan yang penting terbebas dari kejaran mereka hingga tak sengaja aku sampai pelabuhan ini," bohong Nela. Sebenarnya masuk akal sih sebab rumah kontrakan Nela tidak begitu jauh dari pelabuhan tersebut. Namun Lukas masih saja merasa curiga.
"Dengan baju seperti itu?"
"Oh ini aku memang sengaja memakai baju serba hitam karena cuaca malam ini terasa begitu dingin. Apalagi kamu tahu sendiri kan tadi baru saja turun hujan."
Nela mengangguk dan mengikuti langkah Lukas menuju mobil.
"Nath kamu pindah ke depan biar Nela yang di belakang," perintah Lukas pada Nathan. Tampak Nathan hanya mengangguk, tanpa banyak tanya pria itu menurut saja dengan ide Lukas.
Dari kaca depan mobil Lukas mengawasi gerak-gerik Nela.
Sepertinya wanita ini perlu dijebak untuk mengakui segalanya
Entah mengapa Lukas masih memiliki pikiran yang tidak enak terhadap gadis yang kini duduk di kabin belakang.
"Dari mana dia?" tanya Nathan kemudian saat mobil sudah melaju kencang di jalanan dan Lukas senantiasa melirik Nela dari balik kaca.
"Oh tak sengaja dia lewat tadi dan bertemu denganku." Tidak mungkin kan Lukas jujur dengan apa yang dia pikirkan sekarang. Bukan cuma karena di sana masih ada Nela tetapi dia masih belum punya bukti untuk menuduh orang lain macam-macam.
"Luk jangan lupa berhenti di depan," ujar Nela mengingatkan bahwa di depan sana rumah kontrakannya.
"Oke," sahut Lukas sambil mengerem mobil.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟
Nathan sudah sampai ke apartemen sedangkan mobilnya ia biarkan Lukas yang membawanya. Pria itu hanya meminta Lukas menjemputnya besok karena kebetulan dia ada kuliah pagi begitupun dengan Chexil sang istri.
Cklek
Pintu terbuka setelah Nathan menekan kode pintu apartemen. Dia berjalan ke kamar dan mengecek sang istri yang sudah terlihat tidur dengan nyenyak di atas ranjang.
Nathan membelai wajah Chexil dalam tidurnya. Tiba-tiba bayangan bertemu Felix tadi melintas di pikirannya.
"Akh, mengapa harus dia?" Nathan mendesah kesal lalu menyingkirkan tangannya dari wajah Chexil dan beranjak menuju ruang tamu.
Sampai di ruang tamu ia menelepon anak buah Zidane dan menyuruh mereka menyelidiki siapa Felix Fernandez itu secara mendetail.
"Baik akan segera kami laksanakan."
"Baiklah aku tunggu kabar itu secepatnya," jawab Nathan lalu lelaki itu memejamkan mata di tempat itu juga hingga akhirnya terlelap di atas sofa.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Chexil terbangun dari tidurnya akibat mimpi buruk yang menderanya. Ini kali kedua ia bermimpi Nathan bertikai dengan Felix.
Tubuh Chexil terkesiap "Ah hanya mimpi. Kata orang mimpi hanya bunga tidur saja, tidak bermakna apa-apa." Chexil mencoba menepis kekhwatiran dalam hati lalu oa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang dapur, ia lupa tadi mengisi botol sehingga ketika haus harus berjalan ke dapur.
Ketika melewati ruang tamu, senyumnya terkembang ketika melihat Nathan sudah ada di dalam apartemennya.
"Tuh kan mimpiku tidak berarti apa-apa. Buktinya dia sudah pulang." Chexil terus saja melangkah ke dapur. Setelah minum ia kembali ke kamar dan mengambil selimut. Ia menyelimuti tubuh Nathan dan dirinya ikut terbaring di sofa yang lainnya.
Nathan terbangun saat dering ponsel memekakkan telinga. Ia mencoba memeriksa siapa yang meneleponnya pagi-pagi buta seperti ini.
"Anak buah papa," gumamnya. Ketika melihat Chexil ada di hadapannya ia memutuskan keluar sebentar dari apartemen.
"Apa?!" Nathan terperanjat ketika anak buah papanya membeberkan siapa Felix yang sebenarnya. Mungkin Nathan sudah tahu bahwa Felix adalah salah satu komplotan mafia tetapi yang dia tidak tahu bahwa Felix lah yang menjebak Tristan agar mau menikahi putrinya.
"Apa yang mereka rencanakan sebenarnya? Apa ada suatu hal yang buruk yang ingin mereka lakukan kepada keluargaku?" Tiba- tiba saja ia berburuk sangka terhadap sang istri.
"Chexil apa yang kau rencanakan sebenarnya?" gumam Nathan dengan kekecewaan yang begitu besar.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!"🙏
Rekomendasi novel yang menarik buat kalian semua. Yuk kepoin barangkali suka, ceritanya bikin nagih lo!
__ADS_1