
"Ayo bawa suamimu ke dalam Xil!"
"Iya Mom." Mereka pun masuk ke dalam.
Dari jauh Nela tersenyum licik. "Menarik, ternyata istri Nathan adalah Putri Felix. Bagaimana reaksi Nathan kalau tahu itu semua ya? Tapi bagus sepertinya bisa dimanfaatkan."
Sampai di dalam mereka sudah disambut dengan jamuan dan petuah-petuah untuk Chexil dari Mommy Karla. Dirimu salah Mom seharusnya yang dapat petuah si Nathan biar bisa tahu bagaimana cara menghargai istri.
(Biar tidak kesal kita ke Tristan dulu yuk!)
Beranjak ke tempat lain. Ada seseorang yang menghubungi Tristan melalui sambungan telepon. Orang itu mengatakan ingin mengajak kerjasama dengan Tristan. Mereka ingin Tristan menjadi salah satu model iklan di produknya.
Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah restoran.
"Dim aku langsung pergi ke restoran dulu ya, kamu mau ikut atau mau langsung aku antar pulang?" tanya Tristan. Saat ini mereka baru keluar dari kampus.
"Ikut dong, dimana ada Tristan disitu ada Dimas, hehe..." Dimas terkekeh.
Mendengar ucapan Dimas otak Tristan berfantasi liar. "Dimanapun? Ih jorok masak kamu mau ikut aku ke kamar mandi juga. Bisa dikatakan terong-terongan nih aku, ogah aku nggak mau."
"Ish siapa yang mau ikut kamu ke kamar mandi? Kayaknya otakmu perlu direset. Kalau mau ngeres, ngeres ke cewek aja, aku ini pria tulen," ujar Dimas sambil mendorong kepala Tristan sedikit siapa tahu otak Tristan yang lengser dari tempat bisa balik lagi.
"Udah ah jangan banyak bicara, kalau mau ikut cepetan masuk mobil!" perintah Tristan dan dirinya langsung memutar tubuh kemudian masuk ke kursi kemudi. Ketika Tristan sudah menstater mobilnya ternyata Dimas belum masuk juga.
"Mana tuh orang, lelet banget kayak android jadul," keluh Tristan sambil menoleh ke belakang. Saat menoleh dia malah merasa syok melihat Dimas yang belum masuk tetapi malah mengelus-elus body mobil miliknya.
"Ya ampun." Tristan tepok jidat melihatnya.
"Ngapain kamu di situ!" serunya.
"Berapa beli mobil baru ini?" Dimas bertanya sambil terus memandang takjub mobil Tristan.
Tristan menggeleng "Nih orang memang tidak tahu waktu ya. Tidak tahu apa Tristan sekarang lagi terburu-buru dikejar waktu," protes Tristan.
"Santai Bro, waktu tidak punya kaki untuk mengejarmu."
Astaga, antara mau tertawa dan kesal dibuatnya. Ingin rasanya Tristan langsung tancap gas meninggalkan Dimas, tetapi ia masih merasa kasian apalagi motor Dimas baru saja masuk rumah sakit akibat pendarahan ( bocor)
"Ayo masuk!" perintah Tristan lagi.
"Berapa dulu harganya?"
"Satu triliun, kamu mampu beli," Tristan menjawab asal-asalan karena kesal dengan Dimas.
"Cuma satu triliun ya, lima triliyun aja aku mampu beli."
Ih sombongnya padahal motor aja sering mondok di bengkel.
Tristan hanya menggeleng mendengar jawaban Dimas.
"Terserah kamu aja lah mau ngomong apa," ujar Tristan malas.
"Tris ban belakangnya bocor," ucap Dimas.
"Masa sih, mobil baru kok bocor. Apa tadi kena paku ya," kata Tristan sambil turun dari mobil dan memeriksanya.
Sampai diluar.
"Mananya yang bocor?"
__ADS_1
"Nih." Dimas menyodorkan ponselnya.
"Apaan nih?" tanya Tristan tak paham.
"Tolong fotoin dong!" pinta Dimas sambil nyengir.
"Oh my God." Tristan tepok jidat untuk yang kedua kalinya.
"Mana!" Tristan menyentak ponsel Dimas dan langsung mengarahkan kamera kepada Dimas yang sekarang sedang gaya-gayaan, berfose ria dengan mobil mewahnya. Tristan tahu Dimas pasti ingin meng-upload ke media sosial miliknya.
Aku belum berfose dengan mobil baruku malah dia duluan yang ngupload
Namun tak apalah demi menyenangkan sahabat pikir Tristan. Dia melakukan apa yang Dimas perintahkan.
"Sudah?" tanya Tristan setelah mengambil foto dari anggel yang berbeda.
"Thanks," sahut Dimas sambil meraih ponselnya di tangan Tristan lalu masuk ke kabin belakang.
Tristan pun masuk dan mengemudikan mobilnya tetapi sesekali ia melirik Dimas melalui kaca yang ada depannya.
Pria itu tampak mengotak-atik ponselnya. Tristan tahu Dimas sedang mengunggah foto tadi. Sambil menyetir ia meraih ponselnya ingin mengecek medsos milik Dimas karena penasaran dengan caption yang akan dibubuhkan sahabatnya itu.
Namun ia malah syok saat melihat Dimas tidak hanya mengunggah fotonya yang bersama mobil tadi tetapi juga mengunggah foto mereka dalam mobil dengan caption 'Mobil baru dengan sopir pribadi baru'.
"Dimas!" Tristan berteriak kesal karena Dimas mengatakan dirinya sopir pribadinya. Bisa-bisa fans-nya menganggap dirinya sudah kere dan tidak laku.
Dimas hanya cekikikan melihat kekesalan Tristan. Dasar sahabat lucnut tuh orang. Ingin rasanya Tristan melemparnya ke laut saja.
"Sesekali bantu teman untuk jadi orang kaya dalam dunia maya kan nggak apa-apa."
"Terserah deh terserah, asal jangan jadikan aku babu di dunia nyata." Tristan menambah kecepatan mobilnya hingga membuat Dimas ketakutan dan berteriak meminta berhenti di tengah jalan. Tristan terkekeh karena telah berhasil balas dendam pada sahabatnya itu dengan cara mengerjainya.
"Aku masih mau hidup Tris. Kamu nih ya, ketularan Abang kamu suka main kebut-kebutan. Awas tak laporin sama tante Isyana," gerutu Dimas.
"Sudah sampai," ujar Tristan tanpa mau mendengar ocehan Dimas. Setelah memarkirkan mobilnya ia turun dan langsung menuju ke table tempat seseorang telah menunggunya sedangkan Dimas menuju table lain.
Saat sedang serius-serius mengobrol.
"Hai Tris!" Gadis-gadis yang lewat banyak menyapa Tristan. Seperti biasa dia selalu tebar pesona dihadapan cewek-cewek. Lupa bahwa dirinya sedang berembug dengan orang lain.
"Bagaimana Tristan?" tanya laki-laki yang duduk dihadapannya.
"Oh ya, Pak. Apa tadi saya diminta jadi bintang iklan pakaian ya?"
"Iya benar dan ini catatan pembayarannya. Kalau setuju silahkan tanda tangan di sini."
Tristan membaca nominal bayarannya. "Lumayan," ucapnya lalu tanpa pikir panjang langsung membubuhkan tanda tangan.
"Kalau begitu kita ketemu di kantor besok," ujar pria itu sambil menyodorkan alamat perusahaannya kepada Tristan.
"Oke Pak siap, jam 8 besok saya sudah di sana."
"Oke saya tunggu di sana, senang bekerja sama dengan Anda," ujar pria itu sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Senang bekerja sama dengan Bapak juga," ujar Tristan sambil menjabat tangan pria tersebut
Setelahnya pria itu langsung pamit pergi.
"Gimana Tris?"
__ADS_1
"Lancar, besok ikut ya."
"Oke siap."
__________________________________
Esok hari Tristan dan Dimas berangkat ke perusahaan tempat dirinya akan melakukan sesi pemotretan.
Mereka langsung digiring ke lantai 5 tempat mereka akan membuat iklan pakaian mereka.
"Bagaimana saudara Tristan sudah siap?"
"Siap."
"Oke kalau begitu silahkan anda berganti pakaian dengan busana yang akan kami promosikan."
"Dimana tempatnya?"
"Di tempat itu Mas," seorang wanita menunjuk sebuah ruangan. "Pakaiannya sudah disiapkan di dalam."
"Baiklah," ujar Tristan seraya bangkit dan berjalan menuju ruangan yang ditunjuknya. Sampai di dalam Tristan celingukan mencari pakaian yang dikatakan wanita tadi.
"Mana pakaiannya? Pakaian tidur, mantel mandi, pakaian muslim, ataukah jas yang akan aku kenakan?" Tristan berbicara sendiri dalam ruangan.
"Mas Tristan sudah siap?" tanya wanita tadi yang Tristan tebak sebagaimana cameraman ataupun fotografer.
"Busana yang akan saya kenakan tidak ada," ujar Tristan dari dalam." Membuat wanita itu langsung mengetuk pintu dan memeriksanya.
"Ini Mas Tristan yang harus Mas Tristan kenakan." Wanita itu menunjukkan deretan kain kecil berbentuk segitiga.
"Alamak ini mah bukan busana tapi segitiga beracun (Ish Tristan salah padahal isinya yang beracun bisa bikin orang muntah-muntah)," ucap Tristan sambil menatap benda keramat itu dengan syok. "Saya mengundurkan diri, maaf." (Ish Tristan salah padahal isinya yang beracun bisa bikin orang muntah-muntah)
"Kan memang kami perusahaan yang memproduksi pakaian dalam. Apa utusan kami tidak menjelaskan kemarin tentang produk kami yang akan dibuatkan iklan?"
"Sudah tetapi saya tidak konsen kemarin."
"Kalau begitu itu kesalahan Mas Tristan sendiri. Mas Tristan tidak bisa mundur karena sudah terlanjur menandatangani kontrak."
Tristan menelan ludah mendengar perkataan wanita di depannya. Bisa dihukum gantung kalau sampai mamanya tahu dia mengambil job ini. Apalagi dia juga malu untuk melakukannya.
"Aku akan bayar denda berapapun yang kalian minta."
"Perusahan kami tidak butuh denda, hanya butuh anda untuk membuat produk kami jadi laris."
Tristan tambah syok, dia memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak mungkin kan dia minta tolong abangnya lagi.
"Dimas." Dia kemudian ingat Dimas yang menunggunya di luar.
"Ya aku harus minta tolong Dimas," gumam Tristan.
Bersambung....
Like-nya jangan lompat-lompat ya kawan karena like novel ini masih miris 🤭✌️
Rekomendasi novel yang bagus untukmu. kuy kepoin sambil menunggu Othor update lagi. Dijamin ceritanya seru abis. Membaca cerita ini membuat jantung anda deg-degan seperti menaiki roller coaster.🙏
Judul : Tuan Mafia
Karya : selvi_19
__ADS_1