
[Benar Nathan itu Lisfi, kakaknya Tante Safa. Cepat kirimkan alamatnya!]
"Siapa nama pria itu?"
Lisfi terlihat ragu untuk menjawab.
"Tenanglah jangan takut, aku kan sudah berjanji untuk tidak melaporkan pria itu."
Lisfi tampak mengangguk. "Dia Maximus."
"Oh oke."
Nathan pun mengetik alamat dirinya berada sekarang dan mengirimkan pada Louis. Tidak lupa dia meminta Louis untuk mengaku sebagai kerabat Maximus karena dia tidak tahu bagaimana penjagaan di luar sekarang.
Lalu setelah itu ia berdiri di samping Maximus sambil melihat-lihat keadaan pria tersebut.
Nathan tampak duduk di tepian ranjang. Dokter Samuel yang sudah selesai melakukan tugasnya izin pergi karena harus menangani pasien lain. Dia meninggalkan seorang perawat yang harus memantau perkembangan Maximus sambil terus melaporkan keadaannya.
"Saya permisi dulu Nona, Nyonya." Dokter Samuel terlihat bingung harus memanggil apa terhadap Lisfi.
"Iya Dokter terima kasih. Nanti kalau ada sesuatu saya hubungi Dokter kembali."
"Iya."
Dokter Samuel memandang ke arah Nathan dan mengulurkan tangan. Nathan pun menerima salaman tersebut.
"Saya permisi duluan."
"Silahkan Dok."
Dokter itu mengangguk dan langsung beranjak pergi.
Setelah dokter itu pergi, Nathan mencoba berbasa-basi dengan anak kecil yang mendekat ke arah Maximus dengan takut-takut.
"Dia daddy kamu?" tanyanya kepada anak tersebut.
Anak tersebut mengangguk kemudian dengan ragu-ragu terus melangkahkan kakinya ke dalam kamar sang ayah.
"Dan dia mommy kamu?" Sengaja Nathan berbasa-basi agar keberadaannya di sana yang lama tidak mencurigakan bagi Lisfi.
"Mike tolong minta bibi Rena untuk membuatkan minuman untuk om ini."
"Baik Mom." Anak itu berbalik dan langsung berlari ke luar.
"Dia suamimu?" Nathan yang masih penasaran akhirnya memutuskan bertanya langsung.
Lisfi hanya menggeleng. Mukanya terlihat sendu. Sampai saat ini Maximus hanya membutuhkan dirinya untuk sekedar pemuas ranjang jadi mana mungkin pria itu akan menikahi dirinya. Sudah berulangkali kabur tetapi harus kembali lagi ke rumah itu karena putranya selalu tertangkap kembali.
Kali ini sebenarnya adalah kesempatan terbaik untuknya kabur. Namun entah mengapa saat ada kesempatan seperti ini dirinya malah terasa berat untuk meninggalkan rumah ini.
"Oh maaf." Nathan merasa bersalah karena telah berani mengusik hal pribadi pada wanita tersebut.
Beberapa saat kemudian pak satpam datang dan mengabarkan bahwa ada tamu yang datang.
"Tuan Maximus mana?" Dia yang tidak tahu bahwa tuannya sedang sakit malah bertanya tentang majikannya itu.
"Apakah kamu tidak bisa melihat siapa yang terbaring di ranjang?" tanya balik Lisfi.
Pak satpam mengernyit lalu mencoba masuk ke dalam kamar, melihat siapa yang terbaring. Ia terbelalak sambil menutup mulutnya yang reflek menganga.
"Mengapa aku bisa tidak tahu?" Pria itu terlihat bingung.
Namun Lisfi maklum, ini pasti ulah Rena yang memberikan obat pada pria tersebut agar dirinya bisa kabur tadi.
"Cepat katakan ada apa?"
__ADS_1
"Ada kerabat Tuan Max yang akan bertemu."
"Kerabat yang mana?" Selama Lisfi tinggal di tempat itu tidak ada seorangpun yang datang sebagai kerabat dari tuannya itu.
"Saya juga tidak tahu, tetapi mereka bilang sudah lama tidak bertemu dan rindu padanya."
"Mereka? Siapa lagi ini?" tanya Nathan dalam hati.
"Baiklah suruh masuk saja!"
"Baik." Satpam itu pun berlalu ke luar.
Beberapa saat kemudian satpam itu kembali dengan membawa tamunya. Bersamaan dengan itu Mikey membawa segelas minuman untuk Nathan.
"Ini Om." Mikey mengulurkan minuman ke arah Nathan.
"Wah terima kasih. Anak pintar siapa namamu?"
"Mikey Om."
"Oh."
"Mana bibi Rena Mike, kenapa kau membawa minuman sendiri?"
"Bibi sedang bicara dengan seseorang, katanya dia itu keluarganya."
Lisfi mengernyit, semakin aneh saja rumah tersebut. Setelah Maximus sakit banyak yang datang dengan mengaku keluarga. Baik itu keluarga Maximus maupun keluarga Rena. Tak terasa setitik air jatuh dari pelupuk mata saat ingat akan keadaan dirinya. Kalau saja dulu dia tidak berbuat jahat pasti sekarang dia juga punya keluarga yang masih menyayanginya.
"Ini tamunya."
"Suruh masuk Pak!"
"Baik."
"Silahkan!" Kini pak satpam berbicara pada Louis
Lisfi nampak kaget. Dia menggelengkan kepala beberapa kali sambil memandang tak percaya ke arah Nathan. Dia pun berjalan mundur ke belakang.
"Tenang dia ke sini tidak akan menyakitimu," terang Nathan.
"Kau sudah berjanji mengapa ingkar?" protesnya pada Nathan.
Dua anak berlari-lari masuk ke dalam.
"Bang Nathan!"
"Bang Nathan!"
"Halo adik-adik Abang! Apa kabar?"
"Baik."
"Baguslah kalau begitu, sini!" Nathan meraih putri Louis dan meletakkan di pangkuannya.
"Om, kamu membawa mereka?" tanya Nathan masih kaget dengan sikap Louis yang membawa anak-anaknya.
"Kenapa?"
"Om pikir ini tempat tidak berbahaya apa?"
"Kan kamu bilang bosnya sudah sakit, jadi kendalinya sudah tidak ada."
"Tapi Om?"
"Sudahlah, aku membawa pasukan yang stadby di luar," bisik Louis di telinga Nathan.
__ADS_1
"Kakak ipar apa kabar?" Louis kini beralih berbicara pada Lisfi. Senyuman manis yang dia berikan diartikan lain bagi Lisfi. Dia masih berpikir Louis masih marah padanya.
Lisfi terus berjalan mundur hingga tubuhnya terbentur dinding.
Ya Tuhan aku harus apa? Tuan Max sudah begini kau berikan aku cobaan lain.
"Kakak!" Tiba-tiba Safa berteriak dan berlari ke arah Lisfi. Kerinduannya sudah sangat membuncah terhadap sang kakak.
"Safa?" Lisfi langsung bersujud di kaki Safa dan memohon ampunan.
"Ampuni kakak Saf, ampuni kakak. Kakak terlalu banyak salah sama kamu. Kakak sudah jahat sama kamu." Air mata penyesalan pun membasahi pipi Lisfi.
Safa berjongkok dan meraih tubuh Lisfi.
"Bangun Kak, aku sudah memaafkan kakak kok. Kak Lisfi kemana saja selama ini? Kami selalu mencari keberadaan kakak tapi tidak pernah ketemu."
Lisfi bangun dan langsung memeluk tubuh sang adik. Mereka berdua langsung
berpelukan. Melepas semua kerinduan setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan berurai air mata.
Louis yang melihat keakraban keduanya kini bernafas lega.
Sesaat kemudian Pak Ramlan dan Farah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Lisfi, putriku." Kini Farah menangis sesenggukan. Tangis sedih bercampur haru.
Safa melepaskan pelukannya dan membiarkan Lisfi beralih memeluk Farah.
"Kamu pasti tersiksa ya Nak tinggal di sini." Farah membelai wajah Lisfi yang kini sudah tidak terawat. Dia sudah mendengar semuanya dari Rena.
"Aku tidak apa-apa Bun, Lisfi baik-baik saja kok." Dia tidak ingin membuat bundanya khawatir.
"Ayah." Kini Lisfi melepas pelukan Farah dan beralih memeluk ayah tirinya yang selama ini bahkan lebih menyayanginya melebihi anak kandung. Hanya saja waktu itu dia tidak tahu diri.
"Maafkan Lisfi."
Ramlan hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata apa-apa. Masih merasa syok mendengar cerita yang harus dialami putrinya itu.
"Sekarang kita pulang," ucap Farah sambil menggenggam tangan Lisfi dan hendak membawanya ke luar.
Wanita itu menggeleng.
"Kenapa? Masih mau hidup dengan pria kejam seperti dia?"
"Tapi Bun ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Bunda sudah tahu semuanya. Kamu akan selalu disiksa apabila menolak keinginannya kan?"
"Tapi Bun dia sedang sakit, Lisfi tidak tega ...."
"Dia saja tega menyakitimu kenapa kamu tidak? Pria seperti dia itu pantasnya mati." Farah sangat marah mendengar perlakuan pria tersebut pada putrinya.
"Ku mohon Bunda, izinkan Lisfi merawatnya. Kalau Safa saja bisa memaafkan kesalahan saya kenapa saya tidak Bunda?"
"Tapi Lis, bunda tidak mau ambil resiko, kalau dia sembuh dia akan mengulangi kesalahannya lagi."
"Semoga setelah ini tidak lagi Bun. Oh iya itu cucu bunda. Bagaimanapun kejamnya Tuan Max, tetapi Lisfi yakin sebenarnya Mikey tidak mau terpisah dengan daddy-nya."
"Apa cucu? Dia daddy-nya?" Farah tampak kaget sedangkan Mikey sudah tampak bergurau dengan Akito dan Akira. Sepertinya bocah itu teramat senang karena mendapatkan teman.
Bersambung....
Maaf cerita Chexil dihandle dulu ya.🤭 Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Waktunya ngiklan nih. Jangan lupa ya guys mampir ke novel temanku ini. Ceritanya seru loh, jadi kalian tidak akan menyesal mampir ke sana. Yuk intip-intip dulu, barangkali kalian suka. Nih dia novelnya.
__ADS_1