Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 14. Dilema


__ADS_3

"Kalian harus menikah agar gosip ini tidak segera menyebar."


"Apa menikah?" tanya keduanya serentak karena sama-sama kaget.


"Iya kalian harus segera menikah. Kalau tidak, pria ini bisa mati ditangan ayahmu karena telah berani berbuat tidak senonoh padamu."


"Wanzi!" bentak Chexil. " Ini semua tidak benar. Apa kamu tidak bisa mengurus semuanya hah!" Chexil sudah mulai emosi.


"Sorry Nona tidak bisa. Ayahmu sudah tahu kabar tentang ini semua. Jadi mau tidak mau kalian harus menikah." Sebenarnya Wanzi tidak ingin mengatakan ini semua mengingat dirinya juga menyukai nona-nya tapi apalah daya, perintah tetap saja perintah. Mau tidak mau harus dilaksanakannya.


"Daddy sudah tahu? Secepat ini?" tanya Chexil mulai ketakutan.


"Ya, bahkan suruhan ayahmu sudah menuju rumah pria ini."


"Apa?! Bagaimana mungkin? Kalian pasti menjebakku ya?" tuduh Tristan.


"Kami tidak menjebakmu anak muda, tetapi kamu yang menjebak dirimu sendiri."


"Apa maksudnya?!" tanya Tristan murka.


"Terimalah ini sudah takdirmu."


Tristan menggeleng. "Chexil ini bukan rencanamu kan?" Chexil memandang wajah Tristan tak mengerti, ternyata dengan mudahnya pria itu menuduh dirinya.


"Hmm, kamu pikir aku mau menikah denganmu," ucap Chexil sinis. "Aku tahu kamu tampan dan terkenal tapi sorry Tris, kau bukan seleraku."


Glep.


Tristan menelan saliva mendengar perkataan Chexil. Baru kali ini melihat seorang wanita yang sepertinya sama sekali tidak tertarik dengannya.


"Wanzi, aku tidak akan pernah menikah dengannya. Lebih baik aku mati daripada menikah dengan pria sok ini."


"Aku akan menikah dengannya," ucap Tristan spontan.


Chexil dan Wanzi terbelalak mendengar ucapan Tristan.


"Apa kamu yakin?" tanya Wanzi masih ragu.


"Iya aku yakin asal kalian tarik utusan kalian yang ditugas ke rumah kami," jawab Tristan.Tidak ada pilihan lain daripada membuat penyakit jantung sang kakek kambuh lebih baik mengambil keputusan lebih awal sebelum ia menyesal. Walaupun menikah dengan Chexil bukanlah keinginan hatinya tapi ia harus mengalah.


"Bang Tristan?"


Dari arah luar sana Dilvara yang tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka terlihat kaget dengan perkataan Tristan. Ia yang tadi sudah keluar dari area restoran tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil sehingga terpaksa berbalik lagi dan berjalan menuju toilet. Namun apa yang dia lihat di sana? Kenyataan yang mengejutkan bahwa Tristan ingin menikahi gadis yang kini ada di hadapannya.


"Dil kamu juga ada di sini?"


"Bang Tris jahat," ucap Dilvara sambil berlari keluar sambil mengusap air matanya.


"Dil tunggu! Bang Tris bisa jelaskan semuanya."


Dilvara terus saja berlari, sama sekali tidak mengindahkan panggilan Tristan.


Tristan berlari mengejar Dilvara keluar ruangan restoran. Gadis itu tampak duduk di sebuah kursi panjang di taman yang terletak di depan restoran sambil menghapus jejak air matanya dengan tisu.


Tristan duduk di samping Dilvara. "Maafkan aku. Abang terpaksa melakukan ini semua."


Dilvara tidak menjawab, Tristan pun tidak berkata-kata lagi. Mereka sama-sama diam. Untuk beberapa saat mereka larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Jadi apa yang ayah katakan tentang Abang tidak benar?" Setelah beberapa lama diam akhirnya Dilvara buka suara.


"Emangnya om Dion ngomong apa?"


"Ayah bilang aku tidak boleh pacaran karena ...." Dilvara terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Karena apa?"


"Karena ... katanya ... Abang menyukaiku," ucap Dilvara sambil menunduk karena malu.


"Itu benar. Aku memang sudah berjanji untuk meminangmu suatu saat nanti. Lagipula kamu masih kecil, jadi tidak boleh pacaran."


"Dan Abang boleh? Sekarang Abang mengingkarinya."


Tristan menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Maaf abang terpaksa lagi pula abang belum tahu perasaanmu pada Abang. Abang pikir kamu pasti menolaknya."


"Mungkin Abang benar." Dilvara bangkit dari duduknya.


"Abang antar." Tristan menawarkan diri.


"Tidak perlu, Abang urus saja masalah Abang yang belum kelar tadi." Tanpa mau menoleh Dilvara langsung berlari dengan air mata yang bercucuran kembali. Tidak jauh dari tempat duduk mereka sudah ada sopir yang menunggu dirinya. Dilvara langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya di jok mobil dengan kasar. Setelah itu ia terisak.


"Nona kenapa?" tanya pak sopir heran melihat anak majikannya yang biasa ceria kini malah menangis sesenggukan.


"Tidak ada apa-apa pak, aku hanya ingin menangis saja."


"Menangis tanpa alasan? Aneh," gumam pak sopir yang masih bisa didengar oleh Dilvara, tetapi gadis itu memilih untuk tidak menjawab.


Pak sopir kemudian memandang ke arah laki-laki yang tadi dia lihat duduk bersama Dilvara. Tampak laki-laki itu memukul-mukul sandaran kursi tempatnya duduk.


🌟🌟🌟🌟🌟


Sampai di rumah, Dilvara Langsung masuk kamar. Setelah melempar tas sembarangan dia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan melanjutkan tangisnya.


Dion yang curiga mengikuti putrinya ke dalam kamar.


"Ada apa Dil? Tumben pulang kerja kamu seperti itu. Apa ada yang menyakitimu?" Dion bertanya dengan nada lembut kepada putrinya.


"Tidak ada Yah, Dil cuma pengen nangis saja."


"Pengen nangis? Kenapa nggak pengen tertawa aja."


Dilvara mengusap air matanya lalu duduk.


"Ayah tidak usah bercanda, Dil lagi sedih ini," gadis itu tampak cemberut.


"Katakan pada ayah apa yang membuatmu sedih?"


Gadis itu menggeleng lemah.


"Kenapa?"


"Ayah tidak boleh tahu," sahutnya sambil merebahkan tubuhnya kembali.


"Ya sudah kalau begitu tapi ayah minta kamu jangan menangis lagi."

__ADS_1


Dilvara mengangguk, Dion berjalan keluar kamar.


Setelah Dion keluar Dilvara langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Di dalam sana ia menangis lagi. Dia begitu kecewa, beberapa kali ia menolak laki-laki hanya karena Tristan tapi ternyata pria itu sama sekali tidak bisa mengindahkan perasaan. Seharian Dilvara menangis tanpa mau keluar kamar.


Dion kebingungan melihat putrinya tidak seperti biasanya. Dia memanggil istrinya -Vania- agar membujuk Dilvara, tetapi sayang gadis itu keras kepala. Dia juga tidak mau mendengarkan perkataan bundanya.


"Bagaimana ini Mas? Sedari siang ia belum makan." Vania terlihat khawatir.


"Kamu tenanglah dulu, biar aku tanya pak sopir barangkali dia tahu."


Dion melangkah keluar dan menemui sopir pribadinya.


"Saya tidak tahu Pak non Dilvara kenapa, tetapi yang saya tahu terakhir kali dia bersama den Tristan."


"Tristan?"


Pak sopir mengangguk.


Dion bergegas ke kamar putrinya kembali.


Tok tok tok.


"Dil keluar! Ayah tahu Tristan kan yang membuat kamu menangis." Tidak ada jawaban.


"Dil, apa yang dia lakukan sama kamu? Apakah dia melakukan hal-hal tidak senonoh padamu? Kalau begitu dia harus bertanggung jawab." Baru saja Dion berbalik ingin keluar menemui Tristan, pintu kamar terbuka.


"Ayah jangan lakukan itu! Ini tidak seperti yang ayah pikirkan."


"Kalau tidak ingin berpikir macam-macam jelaskan pada ayah apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Dion.


"Baiklah." Akhirnya Dilvara menceritakan semuanya.


"Ayah janji ya jangan ke sana. Nanti malu-maluin."


"Iya ayah janji."


Mendengarkan cerita putrinya Dion langsung menelpon Tristan. Pria itu masih tampak uring-uringan di dalam kamar, membuat semua anggota keluarganya menjadi bingung dengan perubahan dirinya hari ini.


Mendengar ponselnya berdering Tristan langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.


📱"Halo Dim, ngapain kamu nelpon sekarang? Dasar teman nggak ada akhlak masa aku ditinggalin," ucap. Tristan kesal karena saat di restoran Dimas pergi daja tanpa menunggu ataupun mengabari dirinya.


📱"Halo Tris ini aku."


📱"Om Dion?" Tristan bangkit dari posisinya kemudian duduk bersandar pada sandaran ranjang.


📱"Apa yang kamu lakukan sama adik kamu hah? Kamu tahu dia seharian ini menangis terus sampai tidak mau makan dan mengurung diri di kamar."


📱"Dilvara tidak mau makan?" tanya Tristan khawatir.


📱"Saya pikir ucapan kamu dulu serius eh ternyata hanya ucapan anak kecil saja. Saya kecewa sama kamu Tris."


📱"Om saya bisa jelaskan semuanya. Om ... om ...."


Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Dion.


"Arghh!" Tristan melempar apa saja yang ada di hadapannya. Hari itu moodnya benar-benar hancur.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2