
Esok hari sengaja nenek Salma tidak membangunkan Chexil lebih awal karena melihat Chexil semalam memang terlihat kelelahan.
Pagi ini Nenek Salma hanya berkutat di dapur seorang diri.
"Nenek yakin tidak butuh seorang pembantu?" tanya Davin sambil berjalan ke arah dapur dan mendekat ke arah sang nenek. Dia mengambil pisau di tangan nenek Salma dan membantu memotong sayuran sedang nenek Salma mengambil pisau lain dan memotong bumbu.
"Tidak, nenek masih trauma lagipula sekarang sudah ada Chexil yang suka bantuin nenek."
"Tapi dia kan juga bekerja Nek, mana mungkin bisa bantu nenek terus, yang ada dia malah kecapekan seperti semalam."
"Nggak dibantu juga nggak apa-apa yang penting nenek ada teman, nggak sendirian lagi kalau kamu sedang pergi. Ngomong-ngomong katanya mau balik ke kota hari ini, jadi?"
"Jadi Nek, tapi entar siangan."
"Oh begitu ya."
"He eh. Oh ya Nek gadis itu mana? Sedari tadi tidak nampak batang hidungnya."
"Kenapa, kangen? Nggak bertemu semalam rasanya setahun ya?"
"Ah nggak juga, cuma nanya doang. Nenek ada-ada saja."
"Kamu tidak bisa berbohong Dav. Mata kamu mengatakan kamu suka dengan gadis itu."
"Ish, nenek kayak peramal saja suka menebak-nebak," ujar Davin terkekeh.
"Ya sudah kalau memang kamu tidak ada rasa sama dia, nanti nenek carikan jodoh buat Chexil."
"Ah jangan-jangan Nek!"
"Emang kenapa?"
"Jodohnya ada di depan mata kok malah cari yang belum nampak hilalnya."
"Siapa tuh yang ada di depan mata?" goda nenek Salma.
"Iya deh Nek Davin ngaku emang suka sama dia."
"Nah gitu dong kalau begitu kan nenek jadi tenang. Rencananya nenek memang mau menjodohkannya kalian, tapi kalau Chexil nya mau sih."
"Emang ada alasan dia tidak mau dengan Davin?" tanya Davin begitu percaya diri.
"Percaya diri amat, sudah tolong bangunkan dia dulu supaya mandi dan bersiap-siap. Dia kan harus kerja dan sebentar lagi sarapan juga siap. Jadi kita makan bersama pagi ini sebelum kamu pergi."
"Oke Nek siap." Davin beranjak dari dapur menuju lantai atas, ke kamar dimana Chexil berada.
Tok tok tok.
Davin mengetuk pintu kamar Chexil.
"Chexil!" panggilnya. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Kelinci kecil, bangun sudah siang. Kalau kamu terlambat kerja, kamu bisa dipecat hari ini juga." Tetap tak ada jawaban.
"Hmm, orang ini tidur atau mati suri sih," protes Davin dalam hati.
Tok tok tok
"Chexil bangun! Waktunya sarapan."
"Lagi ngapain sih dia? Masa tidak mendengar suaraku yang keras sejak tadi?" gumam Davin.
Davin mencoba memutar handle pintu lalu sedikit mendorong ke dalam. Pintu sedikit terbuka.
"Eh tidak dikunci." Davin mengintip ke dalam kamar takut-takut Chexil sedang berganti pakaian. Bisa-bisa dirinya dituduh hendak melakukan hal yang tidak senonoh pada gadis itu. Bisa hancur reputasinya nanti.
"Masih tidur?" Davin lalu membuka pintu lebar-lebar dan melangkah ke arah ranjang.
"Hei kelinci kecil bangun!" Davin berkata sambil berkacak pinggang.
"Enak aja tinggal di rumah orang, enak-enakan tidur terus." Davin terkekeh sendiri.
Niatnya untuk menggoda Chexil dia urungkan saat melihat gadis itu sama sekali tidak bergeming.
Akhirnya Davin putuskan untuk mengguncang tubuh Chexil. "Chexil bangun."
"Kok aneh ya," gumam Davin lalu mencoba membalikkan tubuh Chexil yang membelakangi dirinya.
"Wajahnya masih pucat." Dia memeriksa tubuh Chexil."Gawat gadis ini pingsan."
Davin mencoba menepuk-nepuk pipi Chexil, tetap tak ada respon.
"Ada apa sih Dav? Pagi-pagi bikin rusuh." Nenek Salma sedikit berlari melalui tangga.
Baru setengah tangga yang ia lewati Davin berterima. "Nek tolong katakan pada pak satpam supaya menghangatkan mesin mobilku. Kita harus segera membawa Chexil ke rumah sakit."
"Chexil? Rumah sakit?" Dengan penuh tanya nenek Salma menuruni tangga kembali menuju pos satpam. Sedang Davin segera menggendong tubuh Chexil dan membawanya ke mobil.
"Nenek mau ikut atau di rumah saja?" tanya Davin setelah meletakkan tubuh Chexil ke dalam mobil dan dirinya memutar langkah menuju kursi kemudi.
"Ikut." Nenek Salma pun bergegas masuk ke bagian belakang mobil menemaninya Chexil.
"Dav apa yang kau lakukan hingga Chexil seperti ini?"
"Nenek pikir apa?" tanya Davin tanpa menoleh, matanya fokus menatap ke arah depan.
Nenek Salma tidak menjawab, pikirannya dikuasai rasa khawatir.
Davin juga ikut diam, dia hanya fokus pada jalanan dan rumah sakit. Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit dan Chexil langsung mendapat penanganan.
Davin dan nenek Salma tampak mondar-mandir di depan ruangan. Menunggu dokter yang menangani Chexil untuk mengkonfirmasi gadis itu sakit apa.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Chexil Dok?"
"Mengapa dokter Davin begitu khawatir. Apa belum memeriksanya sendiri?"
"Tidak kepikiran Dok karena terlalu khawatir. Apa dia mengidap penyakit dalam?" tanya Davin mengingat dirinya adalah spesialis penyakit dalam.
"Oh tentu tidak," jawab dokter tersebut sedikit tersenyum.
"Terus dia sakit apa?"
"Begini dokter Davin ...." Dokter tersebut menggantung ucapannya.
"Kenapa Dokter?"
"Sebelumnya saya ingin bertanya terlebih dahulu. Ada hubungan apa dokter Davin dengan wanita ini?"
"Keluarga, ya keluarga."
"Bukan suaminya?"
"Dokter ngomong apa sih. Dokter kan tahu sendiri saya belum menikah."
"Dia sepupunya dok," jawab nenek Salma spontan.
"Oh sepupunya toh. Baiklah kalau begitu saya hanya ingin mengatakan, pasien harus banyak-banyak beristirahat. Tidak boleh capek ataupun bekerja terlalu keras."
"Kenapa Dok?"
"Karena kandungannya lemah, jadi rawan keguguran. Oleh karena itu pasien harus selalu diawasi dan untuk sementara dia harus dirawat di rumah sakit."
"Hamil?" Davin dan nenek Salma terkejut dan saling pandang.
"Kenapa dokter Davin?"
"Ah tidak apa-apa Dok, terima kasih." Dokter Davin tampak kecewa. Baru saja dia jatuh cinta sudah dipatahkan dengan kenyataan yang ada.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya Dok."
Dokter yang menangani Chexil berlalu dari ruangan.
"Nenek, bagaimana ini. Apa dia sengaja lari dari rumahnya karena takut ketahuan hamil oleh kedua orang tuanya?"
"Entahlah, nenek juga tidak tahu. Apa jangan-jangan dia korban pemerkosaan dan lari dari tempat tinggalnya karena tidak tahu harus berbuat apa?"
"Entahlah Nek, lebih baik kita tanyakan langsung kepada orangnya nanti setelah sadar."
"Iya Dav kamu benar. Untuk saat ini kita punya kewajiban untuk menjaganya karena selama ini dia sudah tinggal bersama nenek."
"Iya Nek. Kasihan juga ya dia. Kita bantu agar bayinya tidak kenapa-kenapa."
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏