Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 40. Curhatan Chexil


__ADS_3

"Abang! Menyesal aku menyerahkan dia sama Abang!" teriak Tristan. Namun Nathan sudah tidak mendengar karena sudah jauh.


Chexil yang mendengar ucapan Nathan sudah tampak lebih tenang karena sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu. Meski tidak dipungkiri dalam hatinya terasa sesak dan begitu sakit. Apalagi perasaannya sama Nathan tidak bisa berubah sedikitpun meski laki-laki itu sering menyakitinya.


Berbeda dengan Chexil, Tristan tampak menggerutu seorang diri karena teramat kesal.


"Maafkan aku ya Xil, kalau tahu bang Nath akan menyakitimu seperti ini aku tidak akan pernah menyerahkan dirimu padanya," sesal Tristan.


"Jangan dipikirkan Tris aku tidak apa-apa."


"Kenapa kamu tidak ngomong sih kalau Abang tidak bisa bersikap baik padamu. Kan kami bisa menegurnya. Nanti aku kasih tahu mama deh biar dia dinasehati."


"Please Tris, jangan kasih tahu siapapun, biar kami menyelesaikan masalah kami sendiri. Aku tidak ingin menambah masalah lagi." Chexil berkata sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Berharap Tristan tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


"Sebenarnya kalian ada masalah apa sih sampai diem-dieman seperti itu?"


Chexil menggeleng. "Tidak ada hanya abangmu saja yang terlalu sensitif sehingga suka menuduh orang sembarangan."


"Apa Abang menuduhmu selingkuh?"


"Tidak juga."


Di saat sedang mengobral tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya.


"Chexil melangkah ke arah jendela dan menatap keluar melalui kaca. Pohon-pohon di taman seolah mau roboh diterpa angin kencang. Keadaan seperti ini mengingatkannya pada pertemuan pertama dengan sang suami.


"Kamu tahu Tris, hujan seperti ini mengingatkanku pada saat kami pertama kali bertemu." Tanpa sadar Chexil mencurahkan isi hatinya pada Tristan. Tristan hanya diam, mencoba menjadi pendengar yang baik meski biasanya dia yang sering didengar celotehnya.


"Saat itu dia begitu perhatian padaku padahal kami belum saling mengenal."


Tristan tampak mencerna ucapan Chexil. Dia menyimpulkan Chexil dan Nathan sudah saling mengenal bahkan jauh sebelum hari pernikahan itu.


"Dia memberikan jaketnya dan memakaikan padaku padahal aku tahu waktu itu dia juga kedinginan." Chexil tampak menjeda ucapannya. Tangannya terulur mengusap pipinya yang basah seperti basahnya tanah di luar sana setelah terguyur derasnya air hujan.


"Sejak saat itu aku selalu berandai-andai kalau dia jadi suamiku. Aku berpikir sikapnya yang dingin pasti membuat dia akan susah berinteraksi dengan wanita sehingga akan jauh dari yang namanya selingkuh. Beda denganmu yang suka merayu wanita." Chexil sedikit tersenyum saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Ish, aku dibawa-bawa," protes Tristan. "Gini-gini aku tuh tipe cowok setia. Eh tapi Abang selingkuh?"


"Nggak Tris. Lama-lama kamu ketularan Abang kamu ya suka menuduh sembarangan."


"Aku kan cuma nanya," protes Tristan.


"Iya juga sih."


"Berdoalah Xil semoga Abang bisa menyayangimu serta menjadi suami setia seperti harapanmu dan juga agar hatinya bisa mencair. Kamu tahu saat hujan itu menjadi kesempatan untuk berdoa. Sebab, berdoa saat hujan bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Hal itu terdapat dalam Hadist Riwayat Al Hakim dan Al Baihaqi di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Dua doa yang tidak akan ditolak, (1) doa ketika adzan, dan (2) doa ketika turunnya hujan."


Mendengar perkataan Tristan Chexil terdiam dan berdoa dalam hati. Ia meminta agar sikap Nathan berubah dan akhirnya mereka tidak jadi bercerai.


"Ternyata kau pintar juga tentang hadist Tris selain ngegombal. Udah ah aku pergi ke rumah Mommy aja untuk menjenguk daddy yang sakit. Boleh nggak ya Tris? Soalnya aku belum dapat izin dari Abang kamu."


"Sudah pergi saja, saya yakin Abang pasti ngizinin."

__ADS_1


"Bilangin ya sama mama Syasa bahwa aku pergi. Kalau tidak karena daddy sakit aku tidak akan pergi. Aku tuh jarang ketemu sama daddy. Lagipula kalau aku di sini, kita hanya berdua saja, takutnya jadi fitnah."


"Fitnah apa? Orang banyak pembantu tuh, kita tidak hanya berdua saja. Iya kan bik Ina?"


"Iya Den," sahut bik Ina yang kebetulan melintas.


"Sudah pergi sana biar aku yang tanggung jawab kalau nanti Abang marah. Atau perlu aku antar?"


"Tidak Tris aku naik taksi saja."


"Kok naik taksi sih? Ya udah aku panggil pak sopir saja untuk mengantarmu." Tanpa mendengar persetujuan Chexil, Tristan langsung pergi menemui sopir pribadi keluarganya.


"Xil pak sopir sudah standby di tempat," lapornya kemudian.


"Baiklah terima kasih." Chexil langsung bergegas ke kamar dan mengambil tas miliknya. Kemudian dengan diantar pak sopir pulang ke rumahnya.


"Mana Daddy Mom?"


"Tuh di kamar masih berbaring."


"Belum sehat juga?"


"Udah mendingan kok, cuma dia masih harus banyak istirahat dulu."


"Oh." Chexil langsung berlari ke kamar orang tuanya.


"Daddy kangen," ucapnya sambil memeluk Felix yang kini tampak menyandar di sandaran ranjang.


"Daddy juga kangen sama putri cantiknya Daddy."


"Iya Daddy lupa bahkan putri daddy sudah menikah," goda Felix.


Mommy Karla yang melihat keakraban ayah dan anak itu terlihat menyunggingkan bibir.


"Ngomong-ngomong mana suami kamu? Daddy ingin mengobrol sebentar."


Chexil tampak menggeleng. "Dia tidak ikut."


Felix mengernyit, dalam hati sudah berpikir macam-macam.


"Dia sangat sibuk Dad. Sekarang sedang bantu papa di kantor."


Felix bernafas lega, dia pikir Nathan tidak ikut karena marah padanya dengan kejadian beberapa waktu lalu. Dilihat dari raut wajahnya Felix yakin Chexil belum tahu apa-apa mengenai dirinya.


"Pasti Nathan belum memberi tahu Chexil. Aku harus menemui dia sebelum dia mengatakannya pada Chexil," batinnya.


Mereka berdua ditambah sang mommy mengobrol panjang lebar. Sesekali terdengar tawa dari mulut ketiganya. Tidak ada hal yang membuat kedua orang Chexil tahu bahwa rumah tangga mereka sebenarnya bermasalah. Ternyata Chexil pandai menutupi semua dengan sempurna karena dia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang tuanya.


Siang hari ia pamit pulang. Mommy Karla hanya mengantarkan Chexil sampai di depan rumah karena sopir sudah menunggu. Karla bersyukur ternyata Chexil memang tidak butuh penjagaan bodyguard lagi seperti dulu karena ternyata keluarga besannya sigap.


Setelah Chexil masuk ke dalam mobil Karla masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


Saat sang Mommy masuk, Chexil turun kembali dari mobil.


"Loh Nona mau kemana?"


"Sebentar ya Pak ada yang ketinggalan."


"Baik Nona saya tunggu."


Chexil beranjak ke ruangan pak satpam. "Pak aku minta rekaman cctv di rumah ini sejak kemarin malam."


"Buat apa Non?" tanya pak satpam heran.


"Sudahlah pak satpam tidak perlu banyak tanya dan jangan pernah kasih tahu mommy ataupun Daddy bahwa aku meminta ini."


"Baiklah Non sebentar."


"Kirim ke nomor handphone-ku ya Pak."


"Iya Non."


Beberapa saat kemudian.


"Ini sudah Non."


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak dan terima kasih."


"Iya Non sama-sama."


Sampai di dalam mobil Chexil memeriksa gambar yang dikirim pak satpam.


"Berarti tuduhan Nathan salah. Ternyata Daddy ada di rumah sejak dua malam yang lalu," gumam Chexil. Dalam hati dia lega karena bukan Daddy-nya yang membuat Lukas seperti sekarang.


Bersambung..


Like-nya jangan lompat ya man-teman. Mungkin itu sepele bagi pembaca tapi bagi Author itu sangat berharga.🙏


Kali ini Author ingin merekomendasikan novel yang begitu menarik buat kalian semua. Yuk mampir! Sayang loh kalau dilewatkan.



Blurb:


Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.


Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.


Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."


Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.


Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?

__ADS_1


Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau


Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?


__ADS_2