Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 80. Baju Masuk Angin


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Seharian Isyana dan ketiga putranya menghabiskan waktu bersama di rumah Felix. Begitupun dengan teman-teman Nathan maupun Tristan.


Zidane setelah pulang dari kantor kembali ke rumah Felix untuk menjemput anak dan isterinya.


Sampai di sana semua orang sudah pamit pergi termasuk Davin dan Nenek Salma yang memilih kembali ke rumah kontrakan Davin daripada harus tinggal di rumah Felix.


Nenek Salma tidak enak kalau lebih lama tinggal di sana apalagi Davin yang hatinya kadang merasa sakit melihat kemesraan Nathan bersama Chexil. Namun, dia sadar dia tidak berhak merasakan hal seperti itu.


Nenek Salma juga berpikir kalau dia tinggal di sana mana mungkin Davin bisa melupakan Chexil. Apalagi Felix pun sudah dinyatakan sembuh total. Untuk apa lagi mereka bertahan di sana.


Orang terakhir yang pamit adalah Zidane, Isyana, dan Fazila sedang Tristan dan Dimas serta Lukas sudah pulang terlebih dahulu.


"Loh Chila mau kemana?" tanya Chexil.


"Pulang Kak."


"Katanya mau nginep di sini?"


"Nggak jadi, Chila pulang saja. Besok jangan lupa jemput ya Kak, Bang."


"Jadi ikut?" Nathan memastikan.


"Iya dong."


"Beneran nggak mau nginep?" tanya Zidane lagi karena merasa aneh, tadi tidak diizinkan menginap cemberut giliran sudah diperbolehkan malah urung sendiri.


"Apa yang merubah pikiranmu?"


"Nggak ada Ma."


"Kayaknya dia mengincar sesuatu deh Ma," tebak Zidane.


Sebenarnya kedua orang tua itu mengerti kalau Fazila ingin menginap di rumah ini hanya karena ada Dokter Davin dan sekarang ketika Dokter Davin pergi dia pun memutuskan untuk pulang. Namun kedua orang tua ini hanya berpura-pura tidak mengerti.


"Kamu masih kecil nggak boleh mikir macam-macam. Mama aja dulu nggak pacaran sampai lulus SMA apalagi kamu yang masih belum lulus SMP. Jangan kejauhan mikir, sekolah aja dulu yang benar. Nggak usah mikirin cowok apalagi pacaran."

__ADS_1


Mendengar nasehat mamanya Fazila mengangguk dengan muka yang ditekuk.


Zidane mengacak rambut putrinya. "Kalau di umurmu sekarang sudah jatuh cinta itu berarti hanya cinta monyet."


"Ya sudah ayo pulang, pamit sana sama Om Felix sama Tante Karla juga."


Fazila menurut, pamit kepada semua orang.


"Jangan lupa ya Kak besok jemput Chila."


"Oke."


Esok hari sebelum berangkat ke rumah sakit Nathan terlebih dahulu pulang ke rumahnya untuk menjemput Fazila.


"Gimana jadi ikut?"


"Jadi lah Bang masa nggak?"


"Emang nggak sekolah?"


"Oh ya udah siap-siap, ini sudah hampir jam 7 pagi biar cepat soalnya habis ini Abang mau langsung masuk kuliah."


"Oke." Fazila berlari masuk ke dalam kamarnya. Lalu beberapa saat kembali ke samping Nathan.


"Ayo Bang, Chila udah siap," ajak Fazila karena Nathan masih saja diam di tempat.


"Mau pergi dengan pakaian seperti itu?" tanya Nathan tanpa mau beranjak dari tempatnya berdiri sedang Chexil sudah ditarik tangannya keluar oleh Fazila.


Fazila menghentikan langkahnya."Memangnya kenapa? Fazila cantik, kan?" Fazila berkata dengan mengedip-ngedipkan matanya, sepertinya dia lupa bahwa yang diajak bicara adalah Nathan bukan Tristan.


"Ganti cepat!" perintah Nathan.


"Tapi Bang ...." Fazila ingin protes karena sudah susah-susah mencari baju yang menarik, tetapi Nathan dengan mudah menyuruhnya untuk mengganti.


"Kita mau ke rumah sakit bukan ke clubbing. Mau kamu masuk angin?"

__ADS_1


Tak ingin mendengar protes Fazila, Nathan menggerakkan sedikit tangannya agar Fazila cepat pergi dan mengganti bajunya dengan yang lain.


Fazila langsung berlari ke kamar sebelum masuk ia menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal pada Nathan.


"Kenapa cemberut?" tanya Tristan yang kebetulan lewat di depan pintu kamar adiknya.


"Bang Nath nih lebay banget masa Chila pakai baju ini nggak boleh? Katanya nih baju, baju masuk angin."


Tristan tertawa mendengar ocehan sang adik.


"Abang kok malah tertawa?" Gadis itu merengut.


Tristan menilik pakaian sang adik. Ternyata Fazila menggunakan Rok span di atas lutut berpadu dengan atasan crop top.


Tristan menepuk jidatnya sendiri melihat penampilan Fazila.


"Pantesan."


"Kenapa Bang, nggak suka juga?"


"Bukan begitu, tetapi Bang Tris sarankan ya kalau mau pergi dengan Bang Nath harus memakai baju yang sopan dan lebih tertutup. Nah kalau sama Bang Tris baru boleh yang sedikit terbuka tapi lihat-lihat tempat juga masa ke rumah sakit pakai-pakaian begitu."


"Iya deh iya." Fazila masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu. Beberapa saat gadis itu sudah siap dengan pakaian celana jeans panjang yang dipadu hem putih.


"Kalau begini gimana Bang?"


"Nah itu baru sip. Yaudah kita berangkat sekarang."


Yaelah sudah kayak karyawan aja nih, aku baru cocok buat Bang Nath.


Fazila langsung masuk ke dalam mobil.


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak!

__ADS_1


__ADS_2