Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 51. Menemui Mertua


__ADS_3

"Kalau begitu sekarang kita temui Mommy Karla dan Daddy Felix dulu."


"Baiklah ayo Tris." Nathan langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


Tristan pun ikut bangkit dan menyusul Nathan. "Bang kunci mobilnya, Tris tidak bawa mobil."


Nathan berbalik, mengambil kunci mobil dan menyerahkan pada Tristan. "Kamu saja yang nyetir!"


"Siap." Mereka pun beriringan keluar dari apartemen.


Setelah sama-sama duduk di kabin mobil, mobil meluncur membelah jalanan menuju rumah mertua Nathan. Dalam perjalanan Tristan senantiasa melirik Nathan dengan ekor matanya. Pria itu masih terlihat diam dengan ekspresi yang begitu khawatir. Tangannya nampak diremas-remas dan ekspresinya tampak nervous. Ingin rasanya Tristan tertawa melihat saudaranya itu yang menampakkan ekspresi yang jarang dilihatnya. Namun ia merasa tidak tega.


Awalnya kedatangan mereka disambut baik oleh Felix dan Mommy Karla tetapi saat melihat Chexil tidak bersama keduanya, mereka berdua merasa ada yang ganjal.


"Silakan masuk Nak Tris dan Nak Nathan. Tumben kalian datang berdua. Apa gerangan yang membawa kalian datang ke sini. Apa ada hal yang penting?"


Nathan tidak menjawab, ia menyalami tangan Mommy Karla dan Daddy Felix.


"Jadi kami tidak boleh berkunjung kemari Mom?" goda Tristan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Mommy Karla dan Daddy Felix mengikuti jejak sang kakak.


"Oh tentu saja boleh, mari silahkan duduk!"


Mereka berdua mengangguk dan duduk di sofa secara berdampingan. Begitupun Karla dan Felix ikut duduk di sofa tersebut berhadapan dengan mereka.


"Kalian begitu persis sih, kalau Mommy tidak tahu sifat kalian pasti kami tidak bisa membedakan yang mana Nathan dan yang mana Tristan," ujar Mommy membuka percakapan dengan bergurau.


"Nggak apa-apa kalau Mommy yang tidak bisa membedakan asal jangan Chexil saja, kan berabe jadinya Mom," kelakar Tristan.


"Apa Chexil tidak pernah salah menganggap kalian?" tanya Karla penasaran. Bagaimanapun kalau mereka sama-sama berada dalam ekspresi serius sangat sulit untuk dibedakan.


"Nggak pernah Mom, masa Chexil tidak bisa membedakan sih mana muka es dan yang mana muka madu," kelakar Tristan. Dia hanya ingin mencairkan suasana sebelum berubah menjadi tegang. Dalam hati berharap Nathan merespon ucapannya agar sedikit meredakan rasa was-wasnya, tetapi sayang ternyata Nathan tidak perduli.


Pria itu hanya diam membisu. Tubuhnya terasa panas dingin jika harus menghadapi Felix sedang dirinya dalam posisi yang bersalah.


"Ada-ada saja kamu Nak Tris, memang ada muka madu?" tanya Karla.


"Ada Mom, kalau ingin tahu lihatlah wajah Tris ini yang manisnya melebihi kapasitas."


"Diabetes dong, ada-ada saja kamu Nak Tris," sambung Felix sambil tertawa begitupun dengan Mommy Karla. Sepertinya yang tidak bisa menikmati perbincangan hari itu hanyalah Nathan seorang. Felix mengernyit melihat Nathan seolah duduk dengan gelisah.


Saat berbincang-bincang pembantu datang dan menghidangkan minuman dan camilan di atas meja.


"Makasih Mbok," ujar Karla. Si Mbok hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.

__ADS_1


"Silahkan diminum dulu Nak Nathan, Nak Tris!"


"Iya Mom." Tristan meraih gelas di meja dan meneguk isinya.


"Bang!" bisik Tristan di telinga Nathan karena melihat Nathan masih saja melamun.


"Ah iya, kamu ngomong apa tadi?" Nathan akhirnya tersadar.


"Diminum." Tristan menunjukkan minuman Nathan.


"Ah iya." Nathan meraih minuman itu dan meneguknya.


"Ngomong-ngomong kemana Chexil kok kalian datang berdua ke sini? Mengapa tidak membawanya ikut serta? Nathan Daddy kan sudah bilang bahwa Daddy kangen sama putri Daddy."


"Uhuk-uhuk." Nathan tersedak minumannya sendiri mendengar perkataan Felix.


Mommy Karla panik, ia meraih tisu dan menyodorkan pada Nathan. "Hati-hati minumnya Nak Nathan."


"Iya Mom." Nathan mengelap bibirnya lalu diam sejenak. Ia menarik nafas panjang sebelum menceritakan semuanya. Setelah itu barulah Nathan bercerita.


"Sebelumnya Mom, Dad, Nathan minta maaf."


Mendengar perkataan Nathan yang meminta maaf Mommy Karla dan Daddy Felix sudah ketar-ketir duluan. Iya berpikir aneh-aneh. Dia berpikir bahwa Nathan tidak bisa mencintai Chexil dan ingin mengembalikan pada mereka mengingat Nathan sudah tahu bahwa pernikahan mereka terjadi karena jebakan Felix.


"Chexil kabur dari apartemen Dad," ujar Nathan kemudian.


"Kabur kenapa?" tanya Mommy Karla syok sedang Felix menatap wajah Nathan tidak percaya.


"Kamu bercanda kan Nak Nathan?" Karla juga masih tidak percaya dengan perkataan Nathan.


"Tidak Mom Nathan tidak bercanda, dia benar-benar pergi."


"Tidak kamu bercanda Nathan, mana mungkin dia pergi. Dia tidak biasa hidup di luaran. kalau dia pergi dari tempatmu ia pasti akan pulang ke sini."


"Tidak Mom, dia meninggalkan ini." Nathan merogoh kertas dalam kantong celananya dan mengulurkan pada Karla.


Karla meraih kertas tersebut dengan tangan yang gemetar lalu membuka lipatan kertas tersebut. Matanya terbelalak ketika selesai membaca kertas tersebut.


"Bagaimana mungkin dia pergi tanpa memberitahukan pada kami?" Wajah Mommy Karla tampak kecewa.


"Nathan apa yang kau lakukan padanya hingga ia pergi dan menuntut cerai darimu? Apa kamu melakukan kekerasan padanya? Atau kau telah memandang hina dirinya?" cecar Mommy Karla dengan sedikit emosi.


Melihat istrinya emosi Felix langsung merampas kertas tersebut dari tangan Karla.

__ADS_1


"Jelaskan ini apa maksudnya!" pinta Felix dengan api amarah yang terpancar dari aura wajahnya.


Nathan dilema mau menjelaskan Felix takut tambah marah tidak menjelaskan mereka sudah kadung tahu dengan kepergian Chexil. Dirinya pun sudah terlanjur berada di rumah mertuanya.


Kalau Tristan mungkin saja bisa mengarang cerita tetapi dirinya yang memang tidak pandai di bidang itu akan sangat susah kalau berbohong.


Nathan memandang Tristan seolah meminta ide tetapi Tristan malah berkata, "Jelaskan sejujurnya Bang! Meski kenyataan yang harus dihadapi sangat pahit tapi yakinlah itu yang terbaik."


Nathan mengangguk, meski melihat aura kemarahan di mata Felix dia tetap menceritakan yang sebenarnya dan meminta bantuan agar Felix ikut mencari Chexil.


"Aku kecewa sama kamu Nathan. Aku pikir kau bisa melindungi dia. Nyatanya kau malah membuat dia terluka, dan luka itu kamu tahu, lebih sakit daripada luka yang aku khawatirkan bisa menjamah tubuhnya. Aku menyesal menikahkan dia denganmu. Aku akan mencari putriku sendiri dan kalau bertemu aku tidak akan menyerahkannya padamu lagi. Aku akan menyembunyikan dia di tempat yang tidak bisa kau jamah."


"Apa maksud Daddy?"


"Kau tak pantas untuknya. Aku akan mencarinya jodoh yang bisa memperlakukannya secara baik, tidak sepertimu yang, ah ...."


"Wanzi!" teriak Felix.


Wanzi tergopoh-gopoh dari arah luar. "Iya Tuan?"


"Cari Chexil sampai ketemu dan jangan pernah biarkan bertemu dengan dia lagi," tunjuknya pada muka Nathan.


"Baik Tuan."


"Dan sekarang seret orang ini keluar!"


"Baik Tuan."


Wanzi pun menarik Nathan keluar dari rumah tersebut.


Nathan memberontak. "Daddy ini tidak adil, kalau saja Daddy tidak menemui Nathan waktu itu Chexil tidak akan pergi. Jadi dalam hal ini Daddy juga bersalah!" teriak Nathan.


"Ayo keluar sebelum Tuan Felix bertambah marah." Wanzi tetap memegang erat tangan Nathan dan hendak menyeretnya keluar.


"Lepaskan Wanzi, biar aku yang bawa pulang Abangku!" teriak Nathan lalu menggandeng tangan Nathan.


"Ayo kita pulang saja."


"Apa kataku kan Tris, semua tambah runyam. Kau sih punya ide memberi tahu mereka," ujar Nathan. Laki-laki itu berjalan gontai seperti orang stres saja. Ah dia kan memang stres.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komentarnya! Terima kasih banyak yang sudah memberikan vote dan hadiahnya. Love you all.🥰

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H. Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Batin. 🙏


__ADS_2