
Fazila suka-suka curi waktu. Dia bahkan berbohong terhadap orang tuanya. Selalu mengunjungi Davin saat pria itu tidak bertugas.
Karena seringnya bertemu dan berkomunikasi keduanya menjadi akrab. Bagi Dokter Davin Fazila seperti adiknya sendiri.
Seperti hari ini Fazila sudah ada di depan rumah Davin saat pria ini hendak keluar dengan motornya.
"Hei kamu, mau ikut?" tanya Dokter Davin.
"Kemana?"
"Beli sesuatu sebentar. Yuk ikut, ambil helmnya di sana!" Dokter Davin menunjuk deretan helm yang ada di atas rak.
Fazila mengangguk. "Oke."
"Permisi Nek, Chila mau ambil helm," pamit Fazila pada Nenek Salma yang masih berdiri di depan pintu.
"Silahkan Nak." Nenek Salma menyingkir. Memberi jalan bagi Fazila.
Fazila keluar dari pintu dan memasang helmnya tetapi dia menghentikan langkahnya melihat Dokter Davin yang menoleh ke arahnya sambil tertawa.
"Ada yang salah denganku?" tanya Fazila penasaran.
"Nggak ada yang salah sih tapi kalau lihat kamu pakai helm itu kayak ulat jambu air, ha ha ha." Dokter Davin makin tertawa renyah.
"Sudahlah nggak jadi ikut." Fazila membuka helmnya dan cemberut. "Kayak apa sih ulat jambu air," gerutunya.
"Body-nya kecil kepalanya besar," goda Dokter Davin lagi.
Fazila melihat tubuhnya sendiri yang terlihat mungil dari pantulan kaca jendela. "Tubuhku memang jelek," ujarnya.
Ia duduk dengan lesu di bangku dari semen yang ada di depan rumah kontrakan Dokter Davin.
"Davin, jangan suka mengerjai dia ah, kasihan," protes Nenek Salma.
"Ayo cepat katanya mau ikut."
"Nggak jadi, sudah sana pergi saja. Chila mau balik aja."
"Gitu aja ngambek." Davin turun dari motor lalu berjalan ke arah gadis itu.
"Aku bercanda, ayo ikut!" Dokter Davin menarik tangan Fazila.
"Nggak, aku bilang."
"Yakin?"
"Yakin, lah. Aku mau pulang aja."
"Habis beli barang aku mau ke pantai loh."
"Nggak minat cuacanya panas juga."
__ADS_1
"Tahu tidak, di pantai itu sedang ada pembukaan wisata baru. Ada Kafe yang bagus loh di tepi pantai dan di sana suasananya sejuk abis."
"Biarin Chila bisa ngajak Bang Tris juga, kalau mau ke sana."
"Cih ngambek beneran." Dokter Davin masuk ke dalam dan mengambil helm yang lain dan mengulurkan pada Fazila.
"Nih, pakai yang ini aja lebih cocok buat kamu." Gadis itu masih menggeleng.
"Ikut atau jangan pernah ke sini lagi."
"Ckk, selalu mengancam begitu." Fazila meraih helm yang diserahkan Dokter Davin dan memakainya.
"Baiklah ayo," katanya masih dengan wajah yang kusut.
Dokter Davin pun naik ke atas motor diikuti Fazila di belakang.
Motor pun keluar pekarangan dan melaju kencang di jalanan.
Saat Dokter Davin masih berada di depan pagar rumah sebenarnya berpapasan dengan motor suster Tantri tetapi Dokter Davin tidak melihat.
"Anak ingusan itu lagi. Kenapa dia selalu mendekati Dokter Davin sih. Jangan-jangan dia menyukai Dokter Davin juga. Ini tidak bisa dibiarkan." Suster Tantri menemui Nenek Salma dan menanyakan kemana Dokter Davin akan pergi. Nenek Salma pun memberitahu kemana cucunya akan pergi.
Setelah mengetahui kemana Dokter Davin akan pergi wanita itu menyusulnya.
Dokter Davin mengajak Fazila membeli barang-barang yang dibutuhkannya dan memasukkan ke dalam jok motor.
"Kamu nggak mau beli apa-apa? Alat praktikum kayak kemarin misal?"
"Nggak," ketus Fazila, masih ada sisa-sisa rasa kesal terhadap Dokter Davin.
Plak
Fazila memukul Dokter Davin. "Mana ada orang ngambek cantik."
"Ada yaitu kamu. Ayo naik, sekarang kita ke pantai."
Fazila mengangguk dan menurut.
Sampai di pantai Fazila langsung berlari ke tepi laut. Kakinya ia kepak-kepakkan ke ombak kecil yang sampai ke tepi. Wajah kesalnya kini berubah ceria.
Dokter Davin mendekati gadis itu. "Katanya panas kenapa malah ke sini? Kita makan di sana dulu yuk!" tunjuk Davin pada sebuah kafe di pinggir pantai yang ramai dengan pengunjung.
"Dokter saja yang makan, Chila masih kenyang. Biarkan Chila menikmati keindahan alam ini tanpa diganggu."
"Oke." Dokter Davin undur ke belakang tetapi tidak beranjak dari tempat itu. Pria itu malah duduk di atas pasir.
"Benar kata Chila, memandang laut dan semua yang ada di sana bisa merilekskan pikiran." Dokter Davin merasa butuh refreshing sejenak setelah hampir setiap hari sibuk dengan pekerjaan.
Setelah puas memandangi keindahan laut Fazila berbalik ingin pergi ke kafe yang ditunjuk Dokter Davin tadi.
"Loh kok Dokter masih di sini? Katanya mau makan?"
__ADS_1
"Mau nunggu kamu sekalian. Oh, ya apa kabar Abang kamu?"
"Mau nanya Bang Nath apa Kak Chexil?"
"Dua-duanya boleh."
"Mereka baik-baik saja, cuma mereka lagi ke luar kota. Makanya Chila bebas menemui Dokter. Kalau ketahuan Bang Nath pasti Chila dilarang."
"Abangmu orangnya keras ya?"
"Iya persis kayak Mama. Untungnya dia sekarang lagi sibuk ngurusin orderan para pelanggan di butik."
"Oh. Kalau Abangmu yang satunya?"
"Bang Tris?"
Dokter Davin mengangguk.
"Nggak terlalu sih, kalau Bang Tristan mirip Papa. Mereka berdua lebih ke arah manjain Chila."
"Oh. Bang Nathan sama kak Chexilnya lagi bulan madu ya?"
"Mungkin, mereka cuma bilang mau berlibur berdua. Chila mau ikutan tidak boleh. Dokter masih kepikiran sama Kak Chexil ya?" tebak Fazila.
"Ah, nggak cuma nanya dong."
"Syukur deh kalau begitu. Kenapa harus mikirin yang sudah ada pasangan kalau di depan Dokter ada yang jomblo." Gadis itu terkekeh sendiri.
"Ah, kamu ada-ada saja," ucap Dokter Davin sambil mengacak rambut Fazila.
Dari sudut lain ada seseorang yang hatinya panas melihat keakraban keduanya.
"Sepertinya kamu harus segera disingkirkan parasit kecil."
"Sudah makan dulu yuk. Lapar nih, " ucap Dokter Davin sambil memegang perutnya. Fazila mengangguk tetapi tetap diam di tempat.
Dokter Davin berjalan ke tepi pantai. "Ya ampun dia belum bergerak juga," ucapnya setelah sadar Fazila tidak mengikuti langkahnya.
"Chili, sini!" teriak Dokter Davin sambil melambaikan tangannya. Fazila pun membalas dengan lambaikan tangan dan berjalan ke arah Dokter Davin.
"Ish dia memanggilku Chili, Lombok kali," gerutu Fazila.
"Itu artinya kamu hanyalah wanita cabe-cabean menurut penilaian Dokter Davin."
"Kamu, suster itu kan? Sirik ya, hus, sana pergi!"
"Berani sekali ya kamu melawanku. Awas ya kamu," kesal suster Tantri.
"Aku tidak takut, huek," ujar Fazila sambil berlari meninggalkan suster Tantri dan menyusul Dokter Davin.
Sampai di samping Dokter Davin gadis itu meraih tangan pria itu dan menggandengnya membuat Dokter Davin mengernyit, merasa aneh. Sedangkan wanita yang ada jauh di sana semakin meradang melihat tingkah Fazila.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak! Terima kasih.🙏