
Di tempat lain Karla tampak mondar-mandir. Hatinya terlalu gelisah.
Ia meraih ponselnya hendak menelpon Isyana tapi ia urungkan kembali karena takut besannya itu akan syok. Ia hanya berharap dan berdoa dalam hati agar sang suami secepatnya menemukan Nathan dan membawanya kembali.
"Nyonya kenapa berdiri saja di situ? Ini Nya minum dulu biar sedikit tenang." Si mbok memberikan segelas air pada majikannya.
"Makasih Mbok." Karla meraih gelas dari tangan si Mbok dan meneguk air mineral.
"Saya tidak bisa tenang Mbok sebelum saya melihat suamiku kembali. Wanzi juga dari semalam belum melapor keadaan Chexil dan Nathan bagaimana nasib tuh anak?"
"Satu-satu Nyonya jangan dipikirkan semuanya. Bisa-bisa mereka semua baik-baik saja tetapi Nyonya nanti yang malah drop. Nyonya tidak boleh banyak pikiran nanti migrain Nyonya bisa kambuh."
Baru saja berkata seperti itu ponselnya terdengar berdering. "Wanzyi," ujarnya sebelum mengangkat telepon.
"Semoga membawa kabar baik Nyonya," ucap si Mbok dengan sedikit senyum walau dalam hati sebenarnya ikut risau.
"Iya Mbok. Sebentar ya aku angkat telepon dulu."
Si Mbok hanya mengangguk.
📱"Halo Wanzi bagaimana keadaan Chexil?"
📱"Halo Nyonya, Nona Chexil hamil Nya."
📱"Hamil?" Karla nampak senang, sebuah senyuman merekah di bibir merahnya.
📱"Bagus Wan biar mereka ada pengikat supaya tidak jadi bercerai."
📱"Tapi Nya..." Wanzi tampak ragu untuk melanjutkan bicaranya.
📱"Tapi kenapa Wan, katakan saja!"
📱"Kandungan Nona Chexil lemah dan Nona Chexil sering pingsan sejak kemarin."
📱"Mengapa kamu baru mengabarkan sekarang Wan?"
📱"Maaf Nya kemarin saya sempat ingin menghubungi Tuan Felix tapi ragu karena ternyata Nona Chexil sadar, tetapi sekarang terpaksa saya harus memberi tahu karena Nona Chexil pingsan kembali. Saya tadi mencoba menghubungi Tuan Felix tetapi panggilan saya tidak terjawab."
Kini mata Karla sudah tampak berkaca-kaca. Senyuman manisnya hilang sudah.
📱"Sekarang putriku ada di mana?"
📱"Di rumah sakit Nya."
__ADS_1
📱"Baiklah kirimkan alamatnya! Saya akan segera ke sana."
📱"Baik."
Panggilan telepon ditutup.
Beberapa saat terdengar notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya.
Cling.
Baru saja ingin mengecek chat dari Wanzi, ponsel Karla terdengar berdering kembali. Terpaksa ia menunda membaca chat dari Wanzi.
📱"Dad, bagaimana Dad?"
📱"Saya Lukas Tante, bukan Om Felix."
📱"Lukas?" Dahi Karla tampak berkerut, mengingat Lukas itu siapa.
📱"Saya temannya Nathan Tante."
📱"Oh iya-iya, maaf Tante hampir lupa."
📱"Nggak apa-apa Tante."
📱"Maaf Tante ... begini Tante ... om Felix...."
Deg.
📱"Katakan Lukas, ada apa dengan suami saya?"
📱"Maaf suami Tante masuk rumah sakit."
📱"Apa? Apa yang terjadi Luk?"
📱"Om Felix terkena tembakan di kepala oleh pemimpin komplotan mafia."
📱"Apa?" Karla tampak syok. Tubuhnya langsung meluruh ke lantai.
"Tidak mungkin, tidak mungkin." Ia meracau sendiri.
Si Mbok mengambil alih telepon dan meminta penjelasan dari Lukas termasuk dimana sekarang Felix dirawat.
Si Mbok tampak menarik nafas berat.
__ADS_1
"Kita akan kemana sekarang Mbok?" Karla tampak bingung apakah harus menyamperi putrinya terlebih dulu ataukah Felix, suaminya.
"Bentar Nya, saya telepon Wanzi dulu."
Karla terlihat mengangguk lemah. Si Mbok menelpon Wanzi dan menanyakan perkembangan Chexil serta memberi tahu apa yang telah terjadi pada majikannya. Wanzi menyarankan agar Karla menjenguk Felix terlebih dahulu saja. Selain tempatnya yang lebih dekat, Wanzi yakin Felix lebih parah walau dalam hati sangat berharap dugaannya itu salah besar.
Sedangkan anak buah Zidane yang melihat anak buah Felix berkumpul di salah satu rumah sakit yang ada di daerah tersebut menjadi curiga dan langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata dugaannya benar, Chexil memang berada di tempat tersebut. Salah atau dari mereka langsung berinisiatif menghubungi Zidane.
📱"Halo Tuan."
📱"Halo, apa ada kabar terkini?"
📱"Iya Tuan kami menemukan Nona Chexil. Dia ada di salah satu rumah sakit."
📱"Rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?"
📱"Dia hamil Tuan."
"Benar dugaan ku. Nathan memang mewariskan kecebong yang kuat. Sekali tancap langsing jadi," gumam Zidane.
📱"Apa Tuan? Saya tidak mendengar."
📱"Ah tidak apa-apa hanya saja kenapa dia di rumah sakit? Apa sedang memeriksakan kandungannya?"
📱"Bukan Tuan, tetapi dia diopname karena kandungannya lemah dan sekarang dia pingsan."
📱"Apa? Cepat kiriman alamatnya!"
📱"Baik Tuan."
"Ada apa Mas?" tanya Isyana melihat wajah Zidane yang tampak khawatir.
"Chexil sudah ditemukan, tetapi dia sedang dirawat di rumah sakit. Ayo kita temui dia!"
Isyana hanya mengangguk dan mengikuti langkah Zidane menuju mobil. Hari itu juga mereka berangkat ke rumah sakit tempat Chexil dirawat.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Hai-hai-hai kali ini othor akan merekomendasikan novel yang bisa bikin kalian baper tingkat dewa. Yuk dikepoin! Nih dia novelnya.
__ADS_1