
Tiga Minggu kemudian Chexil muntah-muntah dan terlihat sangat lemah.
Setelah membawa Chexil ke rumah sakit dan mengetahui istrinya hamil Nathan langsung membawanya pulang. Padahal waktu bulan madu menurut rencana keduanya masih tinggal satu minggu lagi
"Jangan sering-sering mengunjungi bayinya Pak. Janinnya masih kecil dan rentan keguguran." Nasehat dokter itu masih terngiang-ngiang di telinga Nathan saat dalam mobil di perjalanan pulang.
"Maafkan aku ya," ucap Nathan sambil mengelus rambut Chexil yang terbaring di pangkuannya.
"Maaf, atas apa?" tanya Chexil.
"Menggempur dirimu terus-menerus. Jadinya kamu kecapean dan lemah kayak gini." Memang sejak pergi bulan madu Nathan seakan tidak mau melepaskan Chexil. Mereka berdua benar-benar menebus kebersamaannya yang hilang.
"Jangan ngomong begitu ah, malu sama pak sopir," ucap Chexil dengan pipi yang bersemu merah.
"Pokonya nanti kalau sudah sampai rumah kamu harus istirahat total. Kalau perlu kamu cuti kuliah dulu," ujar Nathan.
"Kuliah juga nggak boleh?" tanya Chexil sambil cemberut.
"Iya, emang kenapa? Kan bisa kuliah nanti bila janinmu kuat."
"Ya, nanti pas kamu diwisuda aku belum dong."
"Nggak apa-apa mundur daripada kita kehilangan bayi kita lagi. Aku tidak mau lagi kehilangan ini," ucap Nathan sambil mengelus perut Chexil.
Chexil memandang wajah Nathan lalu mengangguk.
"Kali ini aku janji akan berhati-hati."
Kali ini Nathan yang mengangguk.
"Dan aku pun berjanji akan menjadi suami dan ayah yang siaga nanti."
Mereka berdua tersenyum dengan tangan yang saling terpaut lalu menggenggam dengan erat.
Di tempat lain Fazila sedang menemui dokter Davin.
"Nek dokter Davin nya ada?" tanya Fazila pada Nenek Salma.
"Loh menangnya dia belum bilang sama kamu bahwa dia dimutasi ke rumah sakit lain?"
"Nggak Nek dia tidak ada mengatakan apa-apa sama Chila."
"Kemarin dia katanya mau nelpon kamu. Memang Davin tidak menelpon?"
"Nggak ada, eh tapi tidak tahu juga sih Nek seminggu ini handphone Chila di sita sama Mama gara-gara ketahuan bohong pas pulang
sekolah ada pelajaran tambahan padahal Chila ke sini."
"Nah itu mengapa kita tidak dianjurkan untuk berbohong. Kalau ketahuan ya itu akibatnya."
"Iya Nek, Chila paham. Nenek Salma tidak ikut sama Dokter Davin?"
"Tidak paling sebulan dia pulang dan baru ngajak nenek ke sana. Katanya sebulan ini dia akan sibuk dan juga belum mencari rumah kontrakan."
"Oh ya sudah Nek kalau begitu Chila pulang saja. Nanti kalau Dokter Davin kembali Nenek kasih tahu Chila ya."
"Baiklah Nak, tapi kenapa tidak telepon saja sekarang?"
__ADS_1
"Tidak aktif Nek, dari tadi Chila sudah berusaha menelpon."
"Tunggu biar Nenek yang coba." Nenek Salma menahan Fazila untuk pergi dan mencoba menelpon Dokter Davin.
"Bagaimana Nek?"
"Benar katamu tidak aktif."
Fazila mengangguk. "Ya sudah Nek Chila pulang saja. Dokter Davin pergi sendiri?"
"Tidak sepertinya sama asistennya. Siapa namanya ya, Nenek lupa." Nenek Salma tampak berpikir.
"Apakah suster Tantri?"
"Iya-iya benar itu dia."
"Oh sama dia ya?" Fazila tampak kecewa.
"Ada apa Nak?"
"Tidak apa-apa Nek. Fazila pergi ya, mari." Fazila membungkukkan badannya.
"Hati-hati Nak!" seru Nenek Salma.
"Iya Nek." Fazila berjalan keluar pekarangan. Pak sopir yang mengantarkannya tadi sudah pergi.
Fazila mengambil ponselnya hendak menelpon pak sopir agar kembali. Namun dia melihat ada chat masuk ke dalam ponselnya.
Buru-buru Fazila mengecek. Dia tersenyum saat tahu siapa yang mengchatnya. "Dokter Davin!" serunya girang.
[ Kamu jahat ih nggak ngabarin aku kalau mau pergi]
[Sorry, tapi kalau kamu masih ingin bertemu aku, kamu bisa datang kemari sebab aku belum keluar kota]
[ Memang kamu dimana?]
[ Masih makan di kafe Venus, mau ke sini nggak? Kalau mau aku tunggu]
[ Kirimin alamatnya!]
[ ......]
[ Oke aku ke sana, tungguin ya!]
[Oke]
Buru-buru Fazila memasukkan ponsel kembali ke dalam tas dan menyetop taksi yang melintas di hadapannya. Dia meminta sopir taksi menuju kafe Venus.
Nan jauh di sana Suster Tantri tersenyum puas sambil meletakkan ponsel Dokter Davin kembali. Namun sebelum menaruh, terlebih dahulu dia menghapus panggilan masuk dan chat dari Fazila maupun Nenek Salma.
"Mampus Lo."
Saat itu Dokter Davin memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya dan dirinya singgah di masjid untuk menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Sayangnya ponselnya keluar dari kantong celananya dan tertinggal di dalam mobil.
"Nona mencari kafe Venus yang mana ya Nona? Yang saya tahu yang ada di kota ini Venus itu nama gang."
"Mungkin Kafe itu terletak di gang Venus Pak."
__ADS_1
"Mungkin saja sih tapi saya tidak tahu."
"Katanya alamatnya ini Pak." Fazila menunjukan alamat yang dikirim oleh Suster Tantri tadi.
"Oh berarti memang benar itu tempatnya. Kalau perlu tahu Nona mau apa ke sana?" Sopir taksi merasa perlu tahu tujuan Fazila mengingat gadis itu masih memakai seragam sekolahnya.
"Menemui Abang saya Pak."
"Oh baiklah kalau begitu akan saya antar," ujar sopir dan melanjutkan perjalanannya.
"Di sini nona tempatnya."
"Baik Pak terima kasih."
Fazila membayar ongkos sesuai yang tertera di taksi meter lalu turun dari taksi.
"Hati-hati Nona." Setelah mengatakan itu sopir taksi pun melajukan mobilnya kembali.
Fazila celingukan mencari tempat yang dimaksud oleh Dokter Davin.
"Tempat apa ini?" Yang Fazila lihat itu seperti perkampungan kumuh. Tidak ada tanda-tanda adanya Kafe di sana.
"Ada mangsa nih." Beberapa preman berjalan ke arah Fazila dan mengerubunginya.
"Mau apa kalian?" Fazila berjalan mundur dan ketakutan.
"Serahkan tas elo!"
"Cincinnya juga."
"Mana boleh, ini pemberian bang Tris," gumam Fazila sambil memegang jarinya.
"Kamu pikir kami perduli? Serahkan atau kau mati!" seru salah satu mereka sambil menaruh tangannya di depan leher secara telentang seperti orang yang mau menyembelih.
"Tidak aku tidak mau."
"Serahkan baik-baik atau kita ambil paksa!"
"Tidak ini milikku," bentak Fazila sambil memegang erat tasnya.
"Hahaha dia ngotot. Rupanya dia ingin mempermainkan kesabaran kita. Eksekusi!" perintahnya pada yang lain.
"Tolong!" Fazila berteriak kencang.
"Hahaha dia minta tolong."
"Hei anak kecil di sini tidak akan ada yang mampu menolongmu. Berteriaklah. Berteriak!"
Tubuh Fazila nampak gemetar. Salah satu orang dari mereka berjalan ke depan dan mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat! Kalau tidak orang-orang Papa akan menghabisi kalian semua!" teriak Fazila dan itu membuat semua preman merasa lucu hingga tertawa terpingkal-pingkal.
"Anak Papa rupanya dia, hahaha."
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!
__ADS_1