Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 60. Chexil


__ADS_3

"Iya Nek. Kasihan juga ya dia. Kita bantu agar bayinya tidak kenapa-kenapa."


Sampai siang hari Davin masih menemani nenek Salma menjaga Chexil karena sampai saat ini Chexil masih belum sadar juga.


"Dav, bukankah kamu ada tugas di kota ya siang ini," ucap nenek Salma mengingatkan.


"Iya Nek," jawab Davin malas. Semangatnya habis sudah saat tahu Chexil terbaring lemah dalam keadaan hamil lagi.


"Sana Dav berangkat mumpung lagi ada waktu," suruh nenek Salma.


"Sudah nggak nutut Nek sampai ke kota."


"Terus pasienmu bagaimana? Kamu jadi dokter tuh harus bertanggung jawab Dav. Kasihan mereka membutuhkanmu. Jangan sampai karena khawatir sama Chexil kamu sampai melupakan tugasmu."


"Sudah Nek, aku sudah meminta dokter Husein untuk menggantikan tugasku hari ini. Lusa gantian Davin yang menggantikan tugasnya."


"Oh baiklah kalau begitu, nenek bisa tenang sekarang."


Di luar rumah sakit anak buah Felix saling berdebat.


"Bagaimana keadaan Nona Chexil?"


"Kata suster yang baru keluar dari kamar rawatnya tadi Nona Chexil masih belum sadar juga."


"Sakit apa dia?"


"Katanya sih hamil."


"Hamil? Terus dia hamil anak siapa. Anak Nathan apa anak dokter itu?"


Plak.


"Sembarangan kamu ngomong. Ya hamil anak suaminya lah. Apalagi si dokter muda itu kan baru bertemu Nona Chexil masa langsung bisa bunting. Lagian kalau sampai didengar Tuan Felix kamu ngomong sembarangan tentang Nona Chexil, bisa habis kamu."


"Aku kan cuma bertanya."

__ADS_1


"Bertanya pun yang masuk akal peak. Itu sama saja kamu menuduh Nona Chexil wanita murahan."


"Bukan maksudku seperti itu tapi ...."


"Sudah-sudah jangan berantem di sini. Lebih baik kalian awasi saja Nona Chexil."


"Apa tidak sebaiknya kita melapor saja pada Tuan Felix, bos Wanzy?"


"Jangan! Tunggu situasi membaik dulu. Sepertinya gerakan Tuan Felix masih diawasi oleh anak buah Zidane jadi kalau dia kemari keberadaan Nona Chexil akan segera diketahui oleh keluarga Nathan. Jadi tunggu sampai besok kalau tidak ada perkembangan terpaksa kita langsung melapor kepada Tuan Felix."


"Tapi bos bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Nona Chexil?" tanya anak buah Felix yang lain.


"Saya yang bertanggung jawab. Saya yakin Nona Chexil tidak akan kenapa-kenapa. Kamu tahu kan feeling Wanzi sangat kuat jadi tidak akan meleset."


Ketiga anak buahnya hanya mengangguk, tidak mau protes.


Saat mengatakan itu Wanzi melihat Davin menemui seorang dokter.


"Ada apa dokter Davin?"


"Oke, mari kita ke sana!" Davin dan dokter tersebut pun berjalan ke arah ruang rawat Chexil.


"Bagaimana, benar kan kataku?"


Mereka bertiga mengangguk lagi.


"Tapi kita harus selalu siaga. Apalagi di sini adalah rumah sakit dimana orang-orang bisa berkeliaran tanpa ada yang mencurigai. Saya takut malah anak buah Tuan Smith menemukan keberadaan Nona Chexil lalu menculiknya."


"Baik Bos."


"Tapi ingat keberadaan kita jangan sampai dicurigai walau oleh dokter muda tadi, neneknya, ataupun Nona Chexil sekalipun."


"Oke siap Bos."


"Aku ada dimana?" tanya Chexil saat membuka mata.

__ADS_1


"Kamu ada di rumah sakit Nak Chexil."


"Rumah sakit? Aku sakit apa Nek?" tanya Chexil sambil mengingat-ingat kejadian saat sebelumnya ia pingsan.


"Kamu ... kandunganmu lemah Nak," sahut nenek Salma ragu-ragu.


"Jadi aku beneran hamil?" tanya Chexil dengan bola mata yang berkaca-kaca sedang tangannya mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Nenek Salma mengangguk. "Apa kamu tidak menginginkan bayi ini?" tanya nenek Salma karena melihat ekspresi Chexil yang terlihat khawatir.


"Bukan begitu Nek. Saya hanya khawatir anak ini lahir tanpa seorang ayah."


"Jadi benar kamu hamil di luar ...."


"Mungkin suamiku sudah mengurus perceraian kami. Sebelum pergi Chexil sudah meninggalkan tanda tangan sebagai persetujuan kalau dia ingin menceraikanku," potong Chexil sebelum nenek Salma berpikir lebih jauh.


"Kenapa kamu meninggalkan dia?"


"Itu karena dia berlaku kasar terhadapku gara-gara dia hanya salah paham dan cemburu pada seorang jauh yang sebenarnya pada waktu itu aku bahkan belum mengenalnya. Chexil tidak suka Nek dituduh macam-macam.


Bersamaan dengan itu Davin membuka pintu kamar rawat. Ia yang sekilas mendengar perkataan wanita tersebut memandang wajah Chexil dengan ekspresi yang serius. Sedangkan Chexil saat melihat Davin menatapnya ia langsung memalingkan muka.


Davin dan dokter berjalan ke arah Chexil.


"Jangan banyak bicara dulu kalau belum benar-benar pulih," nasehat Davin.


"Iya," jawab Chexil singkat.


"Saya periksa dulu." Dokter tersebut mengeluarkan alat-alat.


"Ayo Nek kita keluar dulu," ajak Chexil sambil menggenggam tangan nenek Salma dan membawanya ke luar, membiarkan dokter memeriksa Chexil dengan leluasa.


"Andai Nathan bisa sehangat dia," batin Chexil sambil menatap punggung Davin yang menghilang dari balik pintu.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2