
Sementara Chexil setelah keluar dari gedung kafe dia langsung masuk ke dalam taksi dan meminta sang sopir untuk melakukan mobilnya dengan cepat.
"Ini sebenarnya Mbak mau kemana?" tanya sopir karena merasa aneh, setiap kali sopir menanyakan alamat tujuan, Chexil hanya menjawab jalan lurus saja.
"Nanti kalau saya mau berhenti saya akan memberitahukan pak sopir. Pak sopir tenang saja saya pasti bayar berapapun tarif ongkosnya."
Sopir taksi hanya mengangguk. Meski pak sopir merasa aneh tetapi dia tetap menurut saja, yang penting bayaran terjamin. Toh menilik dari penampilan Chexil, wanita itu tidak seperti orang yang kekurangan uang.
Taksi pun terus melaju di jalanan. Ketika jaraknya jauh dari kafe tadi Chexil meminta sopir uuntuk memelankan laju mobilnya.
Saat di tengah perjalanan dia melihat seorang nenek menyebrang jalan dan hampir tertabrak oleh mobil yang melintas.
"Pak berhenti!" perintah Chexil. Seperti biasa sopir taksi menepi dan berhenti.
Chexil turun dari taksi dan segera menghampiri nenek-nenek tersebut yang kini sedang mengusap dadanya karena kaget dengan teriakan sopir yang hendak menabrak dirinya.
"Nenek mau kemana?" tanya Chexil ramah.
"Nenek mau menemui cucu nenek di kota ini tapi ternyata dia sudah pindah rumah."
"Pindah rumah? Memang cucu nenek tidak memberi kabar pada nenek bahwa ia pindah?"
Nenek itu menggeleng.
"Terus rencana nenek sekarang mau kemana?"
"Pulang tetapi nenek lupa arah jalan pulang."
"Nenek tidak ada yang mengantar?"
"Tidak ada saya hanya tinggal sendiri."
Kenapa ada ya manusia yang meninggalkan nenek yang sudah tua seperti ini tinggal sendiri.
"Baiklah kalau begitu saya antar nenek ke rumah. Nenek tahu tapi kan alamat tempat tinggal nenek?"
Wanita tua itu mengangguk lalu merogoh kartu tanda pengenal dan mengulurkannya pada Chexil.
Untuk sejenak Chexil memeriksa kartu tersebut. "Baik kalau begitu saya antar. Ayo Nek kita masuk ke dalam taksi."
Wanita tua itu tersenyum lalu mengangguk. Chexil menuntun wanita tua itu masuk ke dalam taksi.
Setelah memberitahukan alamat nenek tersebut kini sopir taksi mulai bisa bernafas lega karena sudah memiliki arah tujuan.
Setelah lama menyusuri jalanan kota kini taksi menyisir jalanan pedesaan. Ya nenek tersebut memang tinggal di sebuah kampung.
Selama dalam perjalanan Chexil banyak berbincang-bincang dengan nenek tersebut. Karena tahu Chexil tidak punya arah tujuan yang jelas nenek tersebut mengajaknya untuk tinggal bersama.
"Tidak usah Nek nanti biar saya cari rumah kontrakan saja," tolak Chexil. Kalau dia tinggal di desa dia tidak tahu harus bekerja apa.
__ADS_1
"Ayolah Nenek kan tinggal sendiri, apa kamu tidak kasihan sama Nenek," rayu nenek itu lagi.
"Kamu boleh mencobanya dulu kalau kamu tidak betah serumah sama nenek kamu nanti bisa memutuskan untuk pergi," ujar nenek itu lagi melihat Chexil yang hanya diam saja.
Chexil nampak berpikir sejenak. Dalam hatinya tidak masalah tinggal di kampung untuk beberapa hari toh sekarang dia belum punya tujuan yang jelas.
"Baiklah Nek."
Nenek tersebut tampak tersenyum senang mendengar keputusan Chexil.
"Pak saya berhenti di sini saja ya," ujar Chexil pada pak sopir.
"Oke Mbak."
Setelah membayar ongkos sesuai yang tercantum di taksi meter akhirnya Chexil mengambil koper dan membawanya ke rumah nenek tersebut.
"Mari, rumah nenek yang sebelah itu," tunjuk nenek pada sebuah rumah dengan pagar bercat hijau.
Chexil menurut, menyeret kopernya ke dalam pekarangan tersebut setelah pak satpam membuka pintu pagar. Chexil memandang ke sekeliling rumah. Ia merasa takjub, meski tinggal di desa seorang diri ternyata nenek tersebut memiliki rumah yang begitu besar.
"Nenek tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" tanya Chexil tak percaya.
"Iya, dulu nenek ada pembantu tetapi sayangnya dari beberapa orang yang bekerja di sini tidak ada satupun yang jujur. Mereka selalu kedapatan mencuri sesuatu di tempat ini. Akhirnya nenek memutuskan untuk tinggal sendiri saja. Namun tidak sendiri juga sih, tuh kan ada pak satpam."
"Dan cucu nenek tahu?"
Nenek itu menggeleng.
"Sudah meninggal. Sudah ayo masuk!" Nenek tersebut membuka pintu rumah.
Chexil mengangguk dan mengikuti langkah nenek tersebut ke dalam kamar.
"Ini kamarmu dan istirahatlah sepertinya kamu kelihatan lelah."
Chexil mengangguk dan masuk ke dalam kamar tersebut. Namun ketika nenek tersebut hendak pergi Chexil mencegah. "Tunggu Nek!"
Nenek tersebut menghentikan langkahnya. "Iya ada apa?"
"Namaku Chexil Nek."
"Oh iya kita lupa belum berkenalan. Panggil saja nenek Salma."
Chexil mengangguk. "Tapi apa Nenek tidak takut membawa saya tinggal bersama nenek?"
"Maksudnya?"
"Apa Nenek tidak takut saya mencuri seperti yang lainnya?"
Nenek tersebut tampak tersenyum lalu menepuk pundak Chexil. "Aku percaya padamu."
__ADS_1
Mendengar perkataan Nenek tersebut Chexil ikut tersenyum. Tidak ada yang membuatnya senang kecuali mendapat kepercayaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Terima kasih Nek."
"Sudahlah kamu istirahat sana, nenek mau ke dapur dulu untuk menyiapkan makan malam kita."
Chexil pun mengangguk dan masuk kembali ke dalam kamar. Setelah nenek itu pergi ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ketika hendak memejamkan mata, ternyata bayangan Nathan masih melintas di ingatannya.
"Aaah," ia mendesah kasar dan membuka matanya kembali.
"Kenapa harus teringat dia lagi sih." Ia bangkit dari berbaringnya. Berjalan menuju jendela yang sedikit terbuka gordennya. Chexil menariknya lebih lebar lalu membuka kaca jendela dan memandang ke luar jendela.
Ia kembali takjub melihat ternyata di samping rumah ada taman yang terawat dengan baik. Indah dan asri. Taman itu seolah menyatu dengan alam sekitar yang memang masih tampak segar tanpa adanya polusi udara yang mengganggu.
"Tidak menyangka Nenek Salma suka berkebun." Ia memandangi beberapa jenis bunga yang berjejer rapi dan juga sayur-sayuran yang di tanam secara hidroponik maupun secara biasa.
Chexil tergoda untuk mendatangi tempat tersebut. Ia lalu bergegas keluar kamar. Niatnya untuk pergi ke taman yang berada di samping kamarnya dia urungkan tatkala melihat Nenek Salma berkutat sendiri di dapur.
"Mana Nek aku bantu memotong sayurannya." Chexil mengambil alih pekerjaan nenek Salma dan mulai membantu wanita tua itu memasak.
"Nenek istirahat saja biar Chexil yang melanjutkan masaknya."
"Memang bisa?"
"Bisa Nek tapi tidak tahu rasanya akan cocok di lidah nenek atau tidak."
"Tidak apa-apa boleh dicoba."
Chexil mengangguk sambil tersenyum kemudian meneruskan pekerjaannya sedang nenek Salma hanya duduk di kursi menyaksikan kelincahan Chexil berkutat dengan bahan-bahan dapur.
Beberapa saat kemudian.
"Sudah masak Nek. Sekarang Nenek boleh mencicipi."
Nenek Salma mengangguk dan berjalan mendekat. Ialu mencici masakan buatan Chexil.
"Enak," pujinya.
"Terima kasih Nek," ucap Chexil sambil tersenyum ramah.
"Ya Tuhan terima kasih telah mempertemukan Chexil dengan orang baik," batin Chexil.
"Wah Gadis ini begitu sempurna. Sudah cantik, baik hati, pintar masak lagi. Sepertinya gadis ini cocok untuk cucuku Dav. Kapan tuh anak pulang saya jadi tidak sabar mau mengenalkan dia sama gadis ini," batin nenek Salma.
Bersambung....
Janganlah lupa Like-nya!🙏
__ADS_1