Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 50. Kekecewaan Orang Tua


__ADS_3

Sudah seminggu Chexil pergi dari apartemen tetapi Nathan pun belum menemukan wanita itu juga. padahal Nathan dan Tristan sudah meminta anak buah Zidane untuk mengejek ke beberapa tempat. Termasuk bandara, siapa tahu wanita itu pergi ke luar negeri seperti halnya sang mama dulu.


Nathan tampak menjalani hidupnya tanpa arah tujuan. Bahkan mata panda senantiasa terlihat di wajahnya karena semenjak kepergian Chexil ia jarang tidur. Seharian kalau tidak menghabiskan waktu di jalanan mencari sang istri dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam apartemen dengan melamun. Dia bahkan sampai tidak masuk kuliah, pun dengan kerja ke kantor tidak pernah dia lakukan lagi.


Awalnya Zidane tidak merasa curiga dengan ketidak hadiran putranya ke kantor apalagi dengan alasan Tristan yang terkesan menutupi semuanya tentu saja atas perintah Nathan yang tidak ingin kedua orangtuanya tahu sebelum Chexil kembali. Namun akhirnya Zidane dan sang istri curiga juga dan mencari tahu sebenarnya ada apa dengan putra sulungnya itu.


"Kamu bersembunyi ke mana sih Xil."


Nathan tampak termangu di dalam kamarnya, memikirkan dimana lagi dia harus mencari Chexil hari ini sedang beberapa tempat ia sudah datangi tak ada tanda-tanda keberadaan Chexil di sana.


Di kampus pun Nathan sudah bertanya dengan teman-temannya juga dengan teman-teman Chexil. Namun tidak ada seorangpun dari mereka yang mengetahui keberadaan Chexil.


"Pak satpam lihat Chexil?" tanyanya pada pak satpam yang biasa akrab dengannya.


"Tidak Tan sejak seminggu lalu dia saya tidak pernah melihatnya. Sepertinya dia tidak masuk kuliah."


"Ya sudah kalau begitu Nathan permisi dulu Pak."


"Hei Tan kamu sendiri kok sudah lama tidak masuk ...." Belum sempat pak satpam meneruskan pertanyaannya Nathan langsung masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.


"Aneh apa yang terjadi dengan orang itu." Pak satpam hanya geleng-geleng kepala.


Nathan kembali ke apartemen. Ia memandangi seluruh ruangan dengan penuh harap bahwa dia bisa ia melihat sang istri kembali sendiri. Namun nihil apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Apartemen tetap saja sepi.


Karena teramat lelah, baik secara fisik maupun secara mental akhirnya siang itu ia tertidur dengan posisi duduk di sofa. Baju terakhir Chexil yang masih ada bekas darahnya ia peluk di pangkuannya.


Dalam tidurnya ia melihat Chexil datang dan mengguncang tubuhnya agar bangun dan berpindah ke kasur. Nathan tersenyum senang apalagi saat ia melihat Chexil tersenyum manis kepadanya.


"Xil akhirnya kau kembali juga." Ia lalu sadar dari tidurnya.


"Mama, aku pikir kamu Chexil." Hilang senyum yang sempat terbit di bibirnya. Apalagi saat melihat Isyana tidak hanya datang sendiri tetapi dengan Tristan dan Zidane.


"Kenapa kalian menutupi semuanya dari mama dan papa hah?" tanya Isyana penuh penekanan.


Nathan dan Tristan saling pandang.


"Maaf Bang bukan Tris yang ngasih tahu mereka. Mereka tahu sendiri." Tristan tidak mau disalahkan karena memang dirinya sama sekali tidak memberi tahu kedua orang tuanya.

__ADS_1


Nathan mengangguk pasti Zidane tahu dari anak buahnya.


"Hebat ya kalian menutupi semua ini? Ini seminggu loh, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama istri kamu? Bagaimana kalau Karla sama Felix menanyakan kebenaran putri mereka? Kamu pikir papa sama mama tidak akan malu kalau sampai mereka tahu. Nathan, Nathan, apa yang kamu lakukan?"


Nathan tidak menjawab dia memilih diam dan menunduk.


"Jangan dikasih tahu dulu Pa, biar kita cari Chexil sampai ketemu. Kemarin saat Mommy Karla menanyakan Chexil kita bilang dia baik-baik saja." Tristan yang menjawab karena tidak tega melihat raut wajah sang kakak.


"Diam kamu Tris, papa tidak mengajak kamu bicara!" bentak Zidane. Lelaki itu terlihat kecewa.


Tristan terlihat menelan ludah lalu memilih duduk di tepi ranjang tanpa berani berkata lagi.


"Kamu tahu perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi Nak. Bisa saja Karla akan datang langsung dan mengatakan ingin bertemu dengan putrinya. Haruskah kamu berbohong terus dan terus?"


Nathan tetap saja tidak menjawab karena tidak tahu harus berkata apa.


"Nathan jawab mama!"


"Iya Ma, maafkan Nathan."


Meski merasa berat terpaksa Nathan menceritakan semuanya. Tentu saja tanpa mengangkat wajahnya. Dia bercerita dengan posisi yang masih menunduk.


Zidane dan Isyana hanya menggeleng mendengarkan penuturan Nathan. Mereka saling pandang, ada rasa bersalah di wajah keduanya mengingat kisah mereka memberikan contoh yang tidak baik untuk kedua putranya.


"Nathan papa kecewa sama kamu. Kenapa kamu harus mengulang kesalahan papa dulu? Kisah papa sama Mama harus kamu jadikan pelajaran dalam hidupmu bukan untuk dicontoh," ucap Zidane menekankan pada kata dicontoh.


"Maafkan Nathan Pa, Nathan khilaf."


"Terus sekarang bagaimana? Bagaimana kalau sampai dia pergi membawa benih yang kau tanamkan di rahimnya?"


Nathan langsung mendongak. "Maksud Papa?"


"Dia bisa saja hamil, bodoh!" Zidane terlihat murka. Kenapa putranya tidak pernah kepikiran akan hal itu.


"Kamu tidak tahu saja berpisah dengan anak sendiri itu menyakitkan Nath. Kau tidak tahu saja papa dulu sangat tersiksa ditinggal pergi mamamu." Zidane tampak murung mengingat akan masa lalunya.


"Nathan tahu Pa, sekarang Nathan mengalaminya. Oleh karena itu Nathan minta sama papa dan Mama untuk membantu mencari Chexil."

__ADS_1


Zidane menggeleng. "Kau cari sendiri biar tahu bagaimana susahnya mencari orang yang sengaja menghilang dari kehidupan kita. Kau tahu mencari orang yang sengaja menghilang jauh lebih sulit daripada mencari orang yang hilang."


"Mas!" Isyana melotot ke arah Zidane.


"Ayo kita pergi, biarkan dia menanggung akibat perbuatannya sendiri." Zidane langsung menarik tangan Isyana keluar dari ruangan.


"Papa apaan sih, ngomong begitu? Anak lagi susah juga," protes Isyana.


"Biar dia jera sayang kalau tidak dibegitukan dia akan mengulanginya lagi."


"Benar Mas tidak mau bantu dia?"


"Ya tetap bantu lah tanpa sepengetahuan dia. Nanti aku kerahkan semua anak buah untuk mencari Chexil di luar maupun di dalam negeri."


"Baguslah kalau begitu, aku pikir mas sudah nggak punya hati nurani."


"Apaan sih ngomongnya gitu amat."


Di dalam apartemen Tristan tampak menghibur Nathan.


"Abang tenang saja, Tris tetap akan bantu Abang sampai Chexil ketemu. Kalau perlu nanti Tris minta pihak stasiun televisi untuk membantu menyiarkan berita orang hilang."


"Tris!" Nathan tampak tidak suka.


"Apapun kita harus lakukan Bang, agar kita bisa menemukan Chexil secepatnya."


"Tapi Mommy Karla ..."


"Dia harus tahu sebelum mereka terlalu jauh kecewa sama Abang. Semakin banyak orang yang mencari semakin cepat Chexil diketemukan. Abang hanya perlu minta maaf saja sama mereka."


Nathan tampak mengangguk. "Terserah baiknya saja lah Tris. Abang nurut saja," ujar Nathan pasrah.


"Kalau begitu sekarang kita temui Mommy Karla dan Daddy Felix dulu."


Bersambung.....


Jangan lupa like-nya!🙏

__ADS_1


__ADS_2