Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 58. Ajakan Kerjasama


__ADS_3

"Baiklah." Lukas yang dalam posisi panik akhirnya menurut. Sedang Tristan langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.


"Bagaimana keadaan Nathan Tris?" Nela langsung masuk setelah Tristan membukakan pintu.


"Nggak ada perkembangan, tetap seperti yang kemarin-kemarin. Kami tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sekarang dia malah mabuk karena Chexil belum ketemu juga."


"Dasar si Chexil memang tidak tahu diri. Mana ada istri pergi tanpa pamit pada suami. Istri macam apa dia Tris? Kau carikan saja dia cewek lain aja lah Tris yang bisa membuat Nathan bahagia bukan malah membuatnya menderita kayak gini."


"Tidak semudah itu Nel. Abang tuh teguh pendiriannya. Kalau Abang menginginkan sesuatu dia tidak akan mau sama yang lain. Lagipula kita tidak bisa menyalakan Chexil seutuhnya karena ini bukanlah salah dia saja tetapi bang Nathan lah yang memulainya."


"Tapi apa kamu tega Tris melihat Abangmu seperti itu."


"Mau gimana lagi? Siapa yang tega Nel lihat dia kayak gitu tapi ya itu solusinya cuma bawa Chexil ke hadapan dia tetapi anehnya kok belum ketemu juga ya meski kita sudah menyebar orang untuk mencarinya."


"Mungkin dia tidak kemana-mana. Masih betah bersembunyi atau mungkin sudah menemukan pengganti Nathan makanya tidak mau kembali ke sini dan sudah melupakan Nathan."


"Ayolah Nel jangan bicara seperti itu di depan Abang nanti dia bisa tambah syok. Sebagai sahabat harusnya kamu bantu kami cari Chexil. Kamu kan salah satu sahabat terdekat Bang Nath."


"Baiklah nanti aku bantu," ujar Nela.


"Paling kalau ketemu, ku bilang saja Nathan sudah menikah lagi, beres." Nela tertawa dalam hati.


"Ya sudah bantuin aku mengganti baju Abang."


"Baiklah."


Tristan dan Nela mengganti kemeja Nathan yang basah. Beberapa saat kemudian Nathan tampak tertidur. Tristan melihat wajah Nathan yang tampak kelelahan.


Ia menggeleng melihat tubuh Nathan yang terlihat kurusan. "Baru satu bulan saja ditinggal Chexil sudah begini, apalagi kalau sampai setahun." Tristan mengingat masa-masa kecilnya saat terpisah dengan sang ayah.


"Pasti papa lebih parah dari ini." Dia meraup wajahnya lalu mengajak Nela keluar.


"Kita ngobrol di luar yuk, takut tidurnya terganggu."


"Baiklah ayo!"


Mereka pun keluar dari kamar Nathan dan memilih mengobrol di ruang tamu.


Setelah melihat Nathan dan Nela ke luar barulah Lukas keluar dari lemari.


"Dasar si Tristan lama banget dia bawa Nela keluar. Aku sampai bengek di dalam lemari. Tuh orang kayaknya memang sengaja ya nyuruh aku masuk dalam lemari."

__ADS_1


Lukas mengintip dari balik pintu kamar. "Hem, tuh anak masih saja betah sama tuh ratu hantu. Hus-hus pulang sana!" Lukas mengibaskan tangannya sendiri juga bicara sendiri.


Setelah Nela pamit pulang barulah Lukas keluar.


Baru saja mau protes, Tristan langsung berkata, "Cepat katakan kenapa kamu sembunyi!"


"Kayak polisi yang mengintrogasi tersangka saja."


"Iya kamu tersangka yang menghamili Nela."


"Nela hamil?" tanya Lukas kaget.


"Iya, kenapa wajahmu pucat?"


"Ah nggak apa-apa. Mau dia hamil kek mau koid kek, Lukas nggak peduli," sahut Lukas acuh tak acuh.


"Cih, sahabat apaan Lo."


"Lah emang bukan aku pelakunya."


"Hahaha ... aku bercanda Luk. Serius amat."


"Oh ya Tris, Nela itu memang sahabat kami, tetapi dia juga musuh dalam selimut."


"Mulai lagi, aku serius Tris," bentak Lukas lalu cemberut. "Amit-amit deh kalau aku sama dia."


"Ya udah sekarang aku serius."


"Nela itu salah satu anggota dari sindikat mafia antar negara yang salah satu tugasnya adalah menyelundupkan narkoba ke tanah air kita. Mereka meraih keuntungan dengan mengedarkan narkoba ke para generasi kita. Aku curiga teman-teman mahasiswa kita yang tertangkap kedapatan mengonsumsi obat-obatan terlarang itu dapatnya dari Nela."


"Kamu tidak lagi bercanda kan Luk? Atau otakmu tambah geser karena kepentok lemari?" tanya Tristan serius.


"Aku serius Tris."


"Ya sudah lanjutkan!"


"Kau tahu kenapa aku bersembunyi tadi pas lihat dia?"


"Kalau aku tahu mana mungkin aku nanya."


"Iya juga sih." Lukas terkekeh.

__ADS_1


"Itu karena dia tahunya aku amnesia. Nah kalau dia tahu aku ada di sini otomatis dia akan curiga kalau aku bohongan atau mungkin dia menyangka ingatanku sudah kembali pulih karena aku sudah ingat Nathan sama kamu."


"Jadi kamu tidak amnesia beneran?"


"Iyalah Tris, mana mungkin aku ingat kamu kalau aku amnesia."


"Tapi kata mama Syasa waktu itu Tante Janet sampai nangis kejer karena kamu tidak ingat dia."


"Iya pas di rumah sakit kan juga ada Nela. Jadi terpaksa aku bilang juga tidak ingat sama mama. Kamu tahu pas aku sampai rumah kepalaku digetok beneran sama mama gegara ketahuan aku bohong. Katanya biar amnesia beneran sekalian. Mama ratu tega emang dia."


Tristan tertawa mendengar cerita Lukas. "Justru kamu tuh yang anak durhakim, mama sendiri dibohongi. Kamu tahu dari mana kalau Nela adalah salah satu anggota dari mereka?"


"Kamu tahu Tris saya melihat dia di perahu musuh sebelum aku ditenggelamkan. Sepertinya Nela tidak ingin aku hidup karena sudah mengetahui rahasianya."


"Wah tega banget dia. Terus apa rencana kamu selanjutnya?"


"Pengennya jebak dia tapi dari kemarin-kemarin belum ada momen yang pas."


"Sekarang?"


"Aku mau ajak kerjasama kamu buat jebak dia."


"Menjebak bagaimana?"


"Aku ingin manfaatin Nathan."


"Astaga Luk, tega nian dirimu. Abang sudah begini masih saja mau dimanfaatkan."


"Justru karena Nathan dalam keadaan begini. Kamu bilang saja butuh obat agar Nathan bisa melupakan Chexil sekaligus yang bisa membuat Nathan berhalusinasi yang membuatnya bahagia."


"Kamu yakin Luk? Mana mungkin Nela mau?"


"Aku yakin dia tidak akan curiga kalau kamu yang minta, beda kalau aku. Kamu kan banyak teman-teman artis bilang saja banyak yang butuh barang itu juga."


"Oke nanti aku coba tapi kamu harus menjamin agar aku tidak tertangkap."


"Beres, kalau soal itu aku yang atur."


"Oke kita toss dulu."


Mereka pun menyatukan kedua tangannya. "Semoga berhasil."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2