
"Berarti tuduhan Nathan salah. Ternyata Daddy ada di rumah sejak dua malam yang lalu," gumam Chexil. Dalam hati dia lega karena bukan Daddy-nya yang membuat Lukas seperti sekarang.
"Tapi ngomong-ngomong siapa yang menaruh alat itu dalam kamarku. Apa mungkin Lukas? Ah tidak mungkin orang menyadap pembicaraannya sendiri. Apa mungkin ...?"
Chexil menutup mulutnya sendiri kala mengingat tentang Nela yang memaksa Chexil untuk menyerahkan minuman di tangannya dan mengambil alih memberikan minuman pada Lukas dan Nathan pada hari itu. Kalau aku ngomong sama Nathan kira-kira dia percaya nggak sih? Jangan-jangan dia malah marah lagi karena temannya dituduh macan-macam. Ah sudahlah aku kan belum ada bukti bukannya kelar nih masalah malah tambah masalah." Chexil menyayangkan karena di kamar itu tidak di pasang cctv.
"Ada apa sih Non?" tanya pak sopir karena mendengar Chexil berbicara sendiri.
"Tidak ada apa-apa Pak jalan aja!"
"Baik Non."
_________________________________________________________
Berulang kali Felix mencoba menemui Nathan, tetapi sampai saat ini belum bertemu juga. Bahkan kadang Felix nekat meminta bantuan Chexil untuk menyampaikan pada Nathan bahwa dirinya ingin bertemu dan berbicara berdua saja dengannya. Namun Nathan tidak pernah mau menemuinya dengan dalih selalu sibuk dan setelah sampai di apartemen dia selalu langsung tidur.
"Apa kamu tidak bisa sedikit saja menghargai mertua kamu sebelum dia jadi mantan mertua," protes Chexil pada suatu malam.
"Aku lelah, aku mau tidur."
"Hah." Chexil menghembuskan nafas kasar.
Apa yang sebenarnya daddy ingin sampaikan pada manusia es ini?
Chexil langsung beranjak ke kamarnya sendiri dan membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar sambil berpikir.
"Hal penting apa yang Daddy tutupi sama Chexil? Dan apa yang Nathan lakukan di luaran sana hingga ia selalu pulang larut malam? Ah lama-lama aku bisa stres memikirkan semua ini." Ia memejamkan mata dan memaksakan dirinya agar bisa tertidur. Dia tidak mau hanya gara-gara memikirkan hal itu ia jadi insomnia. Bagaimana pun dia harus menjaga kesehatannya sendiri.
Esok hari seperti biasa Nathan sudah bersiap-siap untuk pergi. Tentu saja bukan untuk kuliah karena hari ini tidak ada jam kuliah pun dengan Chexil.
Saat Nathan hendak pergi tanpa mau menyentuh makanan, Chexil merasa jengah karena tiap hari seperti itu. Akhirnya Chexil memutuskan untuk mengembalikan ATM pemberian Nathan yang sebenarnya selama ini memang sudah tidak dia pakai.
Chexil sudah teramat kesal karena tiap hari usahanya memasak dan menghidangkan makanan di atas meja makan tidak pernah dihargai. Dia hanya ingin melakukan tugasnya sebelum hubungan mereka berakhir.
Apa salahnya dia menghargaiku sedikit saja. Apa dia pikir makanan ini ada racunnya atau ada guna-gunanya?
"Ini aku kembalikan. Untuk apa aku pakai uang ini kalau pemiliknya saja tidak mau menikmati hasil dari belanjaan uang ini?"
"Cih terus kalau tidak pakai uang itu darimana kamu bisa mencukupi kebutuhan kamu?"
"Aku punya uang sendiri."
__ADS_1
"Uang haram dari Daddy kamu itu? Kamu kira uang itu lebih baik dari yang ada di dalam sini? Jangan bangga memakai uang itu, karena uang yang di dapat dari jalan tidak benar tidak akan berkah."
"Nathan! Hentikan ocehanmu! Jangan lagi kamu mengatakan Daddy mencari rezeki dengan cara yang tidak benar. Hentikan mengatakan Daddy-ku seorang mafia. Ini kamu lihat sendiri, bahkan Daddy ada di rumah saat kejadian Lukas tenggelam," ujar Chexil kesal sambil memberikan ponselnya yang berisi rekaman cctv di rumahnya yang dia ambil beberapa hari yang lalu. Namun Nathan ogah menerimanya.
"Dan asal kamu tahu saja, alat penyadap itu bukan aku yang meletakkannya tetapi sahabat kesayanganmu itu," ucap Chexil dengan menggebu-gebu. Dia terlihat sangat marah.
"Apa maksudmu, sahabat kesayangan?"
"Ya si Nela itu sahabat kesayanganmu bukan? Bahkan kamu tega meninggalkan istrimu sendiri demi dia, padahal malam itu adalah malam pernikahan kita."
"Aku hanya menolong dia, apa salah aku melakukan itu? Kenapa baru sekarang kamu mempermasalahkannya?"
"Aku mempermasalahkan? Oh tidak, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Mau kamu menolong kek, mau selingkuh kek, mau kawin siri kek aku tidak peduli. Tapi ingat satu hal jangan pernah menuduh Daddy-ku macam-macam! Aku pergi." Chexil langsung bergegas ke dalam kamar dan mengepak pakaiannya.
"Mau kemana kamu?"
"Mau pergi, percuma aku di sini. Aku bagai patung yang tidak dianggap." Chexil berucap dengan menggebu-gebu sambil tangannya bergerak cepat memasukkan baju-baju ke dalam koper.
"Xil jangan pergi!" Nathan menghadang Chexil di pintu."
Chexil mendorong tubuh Nathan hingga pria itu oleng. Kekuatan orang yang sedang marah memang berlipat-lipat.
"Sampai jumpa, kutunggu surat cerai darimu." Chexil langsung bergegas pergi.
Chexil pergi dari apartemen dan menemui Fani, sahabatnya di kosan.
"Hei tumben kamu ke sini?" sapa Fani sambil tersenyum sumringah.
"Aku boleh tinggal di sini untuk sementara waktu?"
Fani mengernyit. "Apa kamu sudah izin sama suami kamu?"
"Tidak, tidak perlu."
"Apa kalian ada masalah?" tanya Fani penuh selidik.
"Kami akan segera bercerai."
"Apa?" Tentu saja Fani terbelalak kaget. "Apa benar Nathan selingkuh dengan wanita itu sehingga membuat rumah tangga kalian retak seperti ini?"
"Ceritanya panjang Fan, selingkuh sih aku tidak ada bukti tapi kalo lebih percaya sama dia dibandingkan aku ya mungkin."
__ADS_1
"Apa tante Karla sudah tahu?"
"Belum, makanya aku ke sini. Aku perlu waktu untuk menjelaskan sama Mommy."
"Ya sudah masuk yuk, aku buatkan minum dulu."
"Sekarang sudah bisa bercerita kan," ujar Fani setelah Chexil menandaskan minumannya.
"Ah kamu nggak sabaran banget sih, ya udah deh aku cerita," ucap Chexil kemudian mulai bercerita.
"Jadi Nathan menuduh daddy kamu sebagai salah satu anggota komplotan sindikat mafia narkoba? Gila tuh orang, serem banget tuduhannya."
"Iya makanya Fan aku belum siap mengatakan kepada Mommy tentang alasan kami bercerai. Aku takut dua keluarga akan bertikai. Bagaimana pun keluarga Nathan itu sangat baik padaku. Aku sebenarnya nyaman ada di tengah-tengah mereka karena mereka menganggap aku sebagai keluarga sendiri dan mereka semua menyayangiku. Namun, aku tidak tahan dengan sikap Nathan. Lama-lama di sampingnya aku bisa hipertensi."
Fani cekikikan mendengar kalimat terakhir Chexil.
"Seharusnya kamu tuh nikahnya bukan sama Nathan tapi sama Tristan. Kalau sama dia pasti kamu tuh bahagia terus karena selalu dibuat tertawa."
"Ogah ah nanti aku jadi gila karena kebanyakan ketawa. Eh ngomong-ngomong tempat kerja kamu masih ada lowongan nggak?"
"Emangnya kamu mau kerja?" Chexil mengangguk.
"Kamu pasti terpengaruh sama omongan Nathan ya, yang mengatakan uang daddy kamu itu haram. Berarti apa bedanya kamu sama Nathan kalau begitu?"
"Aku tidak mungkin memakai uang daddy terus-menerus. Bisa-bisa mereka menyangka bahwa Nathan. tidak menafkahiku dan akhirnya mereka curiga dengan hubungan kami yang tidak sehat."
"Oh begitu ya. Oke kalau begitu besok kamu bisa langsung kerja. Teman kami ada yang mengundurkan diri karena menikah dan ikut suaminya keluar kota."
"Kebetulan dong kalau begitu."
"Tapi kuliahmu?"
"Aku mau ubah ngambil kuliah sore aja seperti kamu. Lagian kalau ambil pagi atau siang aku malas ketemu Nathan."
"Oke kalau begitu kita bisa bareng lagi kayak dulu. Besok jam 7 pagi kamu harus sudah siap ya."
"Oke, siap."
Bersambung....
Pembaca yang budiman, jangan lupa tinggalkan jejak ya, baik berupa like, komentar, vote maupun hadiahnya dan jangan lupa di app Noveltoon ada undian bonus hari raya loh. Jadi tiap hari kalian bisa check in setiap habis memberikan jejak di novel yang kalian baca. Siapa tahu kalian bisa mendapatkan hadiah misterius melalui pengumpulan diamond. Kalian bisa cek sendiri ya di app. Nih tampilannya.🙏
__ADS_1