
Melihat Dimas keluar dari ruangan dengan keadaan lesu, Tristan langsung kabur.
"Tega kamu Tris!" teriak Dimas sambil mengejar Tristan keluar.
Tristan terus berlari sambil tertawa.
"Tris tunggu! Kalau tidak aku bunuh diri nih," ancam Dimas membuat Tristan langsung menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Ih jangan dong, jangan bunuh diri. Masa gitu aja mau bunuh diri." Tristan malah semakin tertawa.
"Aku dah malas hidup, punya teman cuma dimanfaatin doang." Dimas terlihat cemberut membuat Tristan tiba-tiba merasa bersalah. Eh nggak salah ya Dimas berkata seperti itu, bukankah sebaliknya dia juga kadang manfaatin Tristan?
"Kenapa kamu mau tadi?" Tristan tidak terima dengan ucapan Dimas. Meski dia merasa bersalah tetapi dia tidak terima dengan perkataan Dimas yang mengatakan dirinya memanfaatkannya, walaupun kenyataannya memang demikian.
"Mana aku tahu bahwa iklannya begituan. Kalian sengaja rahasiain dari aku," protes Dimas.
"Kenapa tidak menolak saat sampai di ruangan tadi?"
"Aku mau kabur tetapi ditahan oleh mereka. Katanya kalau aku kabur Tristan masuk penjara," ujar Dimas dengan suara keras dan menekan pada kalimat 'Tristan masuk penjara'.
Tristan tampak membelalak. "Mereka mengatakan begitu?"
Dimas mengangguk. "Kan aku jadi dilema."
"Ih serem tapi lebih serem kalau kamu bunuh diri sih. Bisa-bisa jadi hantu kol*or ijo." Tristan masih saja bergurau.
Mendengar perkataan Tristan Dimas jadi semakin kesal. "Malu Tris aku malu. Harga diriku mau ditaruh dimana? Masa ditaruh di kolor-kolor tadi? Gimana kalau iklan itu sampai di televisi Emakku di kampung?"
"Tenang Dim iklan itu hanya akan dimuat di internet bukan di televisi. Jadi aman." Terpaksa Tristan membohongi Dimas lagi agar tidak kepikiran dan anehnya Dimas malah percaya. Mungkin otaknya lagi ngelike karena terlalu ruwet memikirkan kejadian tadi.
Dimas tampak mengangguk dan langsung berjalan menuju mobil. Dia masuk ke mobil tanpa bicara sepatah katapun. Tristan pun ikut masuk dan langsung menyetir mobil.
Di sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Dimas lebih memilih memandang ke arah kaca jendela. Melihat mobil-mobil yang saling salip-menyalip. Tristan melirik sahabatnya yang terlihat aneh. Biasanya Dimas cerewet, atau diam tetapi fokus dengan ponselnya. Namun kali ini ia fokus menatap jalanan. Tristan tahu Dimas dalam mode ngambek dan dia khawatir Dimas benar-benar bunuh diri dengan cara melompat dari mobil.
"Dim maafkan aku, tetapi aku tidak ada cara lain selain menggunakan dirimu."
"Teman dijadikan tumbal," ucap Dimas datar. Tangannya dengan sigap memegang pintu dan membuka kaca mobil membuat Tristan semakin khawatir.
"Dim, please jangan bunuh diri! Maafkan aku yah. Bagaimana kalau untuk menebus kesalahan, aku belikan kamu motor baru biar tidak selalu memakai motor bututmu yang sekarang harus turun mesin itu."
"Penawaran yang bagus dan aku setuju," ujar Dimas sambil nyengir kuda.
"Astaga, harga dirimu cuma seharga motor." Tristan langsung membekap mulutnya sendiri yang keceplosan. Bisa-bisa Dimas ngambek kembali.
"Biarin tanpa ku terima harga diriku sudah turun ke bawah layaknya kolor-kolor tadi."
"Nggak jadi bunuh diri?" goda Tristan.
"Siapa yang mau bunuh diri? Kan aku cuma bercanda. Aku tidak mau bunuh diri, takut arwahku gentayangan di sekitar Emak. Kan kasian dia yang sudah tua jika jantungan."
Tristan tepuk jidat dibuatnya. Dimas berhasil mengecoh dirinya.
Rugilah aku.
"Tapi jangan potong bayaranku ya," ujar Dimas tersenyum sumringah.
"Bayaran apa?" tanya Tristan pura-pura lupa.
__ADS_1
"Ya bayaran kerjaku tadi lah. Meski kamu yang tanda tangan kontrak tapi aku kan artisnya. Anggap aja kamu itu asistenku yang mewakili tanda tangan."
Astaga nih orang belum jadi artis aja belagu, gimana kalau sampai jadi artis beneran? Gaya-gayaan punya asisten segala.
"Tenang bayarannya tetap utuh kok," ujar Tristan pasrah. Kan itu memang hak Dimas.
"Nah gitu dong, nggak salah aku tadi berkorban untukmu."
"Cih berkorban untukku, bilang saja demi cuan," protes Tristan.
"Dua-duanya sih," ujar Dimas terkekeh.
"Dasar teman sontoloyo."
"Eh Tris, ngomong-ngomong kok bisa ya kontrak bisa dialihkan begitu?" tanya Dimas penasaran sebab sangat tidak mungkin pihak perusahaan mau mengganti Tristan dengan dirinya yang notebane hanyalah rakyat jelata.
"Itu karena aku sampai berbusa tadi ngomong bagus-bagusin kamu di depan Bu Bos kalau tidak mana mungkin dia mau."
"Aku kan memang bagus," ujar Dimas kepedean.
"Terserah lah terserah." Tristan fokus kembali menatap ke depan, mengemudikan mobilnya dengan sedikit lebih kencang.
"Eh tapi kamu benar sih Dim, sepertinya Bu Bos memang menyukaimu, dan kamu sepertinya cocok dengan dia," ujar Tristan lagi.
"Aku cocok dengan dia? Ih nggak lah Tris, amit-amit aku sama tante-tante."
"Yakin nggak mau? Ngomong-ngomong aku dapat bocoran bahwa dia pemilik perusahaan tadi. Cuma turun langsung karena aku melanggar kontrak.
"Apa! Dia pemiliknya? Tidak mungkin Tris kamu salah info," ucap Dimas ngotot.
"Kalau nggak mau percaya ya sudah, terserah."
Beberapa hari kemudian.
"Hai Dim!"
"Hai Dim!"
"Selamat pagi Dimas."
Semua wanita di kampus menyapa Dimas.
"Ish, kok semuanya menyapa Dimas sih aku dikacangin," protes Tristan yang tidak ingin kalah pamor pada Dimas.
"Hai semuanya." Kali ini giliran Dimas yang tebar pesona. Memberi sun jauh pada cewek-cewek di sekitarnya.
Tristan menjitak kepala Dimas. "Itu ciri khasku jangan di plagiat."
"Emang ada hak patennya," protes Dimas.
"Ada tertulis di hatiku," sahut Tristan sewot.
"Wah ternyata Dimas seksi ya teman-teman."
"Benar, kalau pakai begituan kayak pria bule yang hot-hot gimana gitu," seloroh yang lain.
"Kapan syuting lagi? Kami mau menyaksikan secara langsung."
__ADS_1
Mendengar perkataan para gadis-gadis itu, Dimas baru ngeh bahwa mereka hanya ingin menggoda dirinya. Ternyata iklan itu sudah menyebar. Dimas menutup bagian intinya yang kini terbalut dengan celana jeans karena menjadi sorotan mata cewek-cewek di sana. Dimas langsung merasa risih.
"Dasar cewek-cewek jaman sekarang," rutuk Dimas.
"Selamat ya, Mas Dimas sekarang sudah viral." Seorang gadis tampak mengulurkan tangan memberi selamat. Namun ditepis oleh Dimas. "Pergi! Pergi sana! Akh!"
"Bersikap baiklah! Dia itu salah satu fans-mu loh," goda Tristan.
"Tris!" pekik Dimas.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau terkenal kalau begini caranya." Dimas langsung berlari meninggalkan kampus.
"Dim tunggu! Mau kemana?"
"Pulang ke kosan dan bersembunyi hingga batas waktu tak terhingga."
"Astaga, pede dong pede."
"Pedeku sudah di berada di ujung tanduk Tris dan kini sudah disuruduk oleh kerbau hingga terjatuh."
"Dan kamu akan berhenti kuliah? Kasihan Enakmu yang sudah bersusah payah mencari biaya kuliah dan kamu malah menyia-nyiakannya."
Saat Tristan berkata begitu Dimas sedang menerima telepon dari kampung. Ternyata Emaknya yang menelpon dengan meminjam telepon tetangga.
"Siapa?" tanya Tristan penasaran.
"Emak, Tris dia sudah tahu aku jadi bintang iklan itu."
"Terus kamu dimarahi?"
"Nggak."
"Terus?"
"Aku disuruh ambil job lagi kalau ada asal jangan lupa kiriman harus lancar juga ke kampung."
"Ampun, Emak dan anak sama-sama mata duitan," protes Tristan sambil geleng-geleng kepala.
"Kalau nggak ada duit nggak makan Tris, beda sama kamu yang makan bermodal kartu."
"Isinya juga duit ding!" seru Tristan sambil menoyor kepala Dimas.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak, baik berupa like, vote, hadiah, komentar dan juga rate bintang 5. Terima kasih 🙏
Rekomendasi novel yang bagus untukmu. Yuk kepoin!
Judul. : Pacarku Seorang Merman Tampan
Author : Syochan
Blurb : Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan terlihat ada yang menyelamatkannya seperti seorang merman yang berparas sangat tampan. Ketika Vanya kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal bernama James Haolin.
Apakah benar orang yang menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika didalam lautan?
__ADS_1