Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 46. Bertemu Felix


__ADS_3

Sedangkan Nathan setelah membeli obat merah di apotik dekat apartemen ia langsung memasukkan obat itu ke dalam kantong kemejanya. Ia kemudian beralih menuju restoran yang ada di sekitaran apartemen dan memesan makanan serta meminta agar pihak restoran segera mengirim ke kamarnya. Dia tahu pasti Chexil belum makan siang dan wanita itu pasti kelaparan. Apalagi dia juga harus melayani dirinya yang begitu kasar.


Saat memesan makanan ada seseorang yang menepuk pundak Nathan.


"Nak Nathan."


Nathan menoleh, ia terperanjat melihat siapa yang berdiri di belakangnya.


"Daddy?"


Felix mengangguk.


"Saya datang kemari sengaja ingin menemuimu. Tolong beri Daddy waktu untuk menjelaskan semuanya, jangan menghindar lagi. Aku tidak ingin ada salah paham diantara kita." Felix sebenarnya ingin menemui Nathan di apartemennya tetapi saat melihat Nathan masuk ke dalam restoran ia tersenyum sumringah. Ini adalah waktu dan tempat yang tepat berbicara dengan menantunya pikir Felix melihat Nathan hanya datang seorang diri tanpa putrinya, Chexil. Dia bisa leluasa menjelaskan semuanya pada Nathan tanpa putrinya harus tahu.


Nathan tampak mengangguk.


"Baiklah kita mengobrol sebentar di sana." Felix menunjuk meja di restoran itu.


"Baiklah." Nathan mengangguk lagi lalu mengikuti langkah Felix ke sebuah kursi. Tangannya menarik kursi kemudian duduk menghadap Felix.


"Sebelumnya daddy minta maaf karena telah menjebak saudaramu Tristan agar mau menikahi putriku."


"Jadi benar itu semua jebakan?"


Felix mengangguk. "Tapi jebakan yang salah sasaran," ujar Felix.


Nathan mengernyit. "Salah? Maksudnya?"


Felix terdengar menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.


"Sebenarnya Daddy memang menyasar dirimu tetapi anak buah Daddy salah target mengingat diri kalian itu kembar."


"Saya tidak mengerti, mengapa bisa saya?''


"Karena kami tahu kamu yang telah menyelematkan putriku dari tangan Maximus."


"Maximus, siapa dia?" tanya Nathan tidak mengerti. Malah dia sama sekali tidak mengenal orang yang disebutkan Felix tersebut.


"Apa kamu lupa? Kamu kan yang menyelematkan Putriku saat disekap. Kau tahu Maximus itu adalah salah satu anggota komplotan mafia. Dia adalah orang yang tega menyakiti wanita. Kalau kamu tidak bisa menyelematkan dia, Daddy tidak tahu seperti apa nasib putriku sekarang."


Nathan tampak mengingat hari itu dimana dia berhasil menyelamatkan Chexil yang saat itu nampak ketakutan di dalam sebuah rumah kosong yang penuh keanehan.


"Maximus anggota mafia tapi Daddy ...?"


"Iya, aku pun sama."


Nathan membuang nafas kasar saat mendengar pengakuan dari mulut Felix langsung. Walaupun dia pernah bertemu Felix malam itu dia sangat berharap dirinya salah orang.


"Dengarkan dulu Nak Nathan, justru karena itu aku ingin sekali menikahkan putriku denganmu. Itu semua agar putriku bisa ada yang melindungi saat aku berhenti dari pekerjaan itu. Aku yakin kamulah orang yang tepat yang bisa menjaga putriku saat tidak dalam jangkauanku."

__ADS_1


"Maksudnya Daddy ...?"


"Ya aku mau berhenti, tetapi kau harus tahu seseorang yang sudah masuk dalam dunia hitam akan susah untuk keluar."


"Itu tergantung niat, kalau memang sudah mau berhenti pasti akan diberi kemudahan oleh Tuhan tapi kalau niatnya setengah-setengah ya Nathan tidak tahu."


"Ya kamu benar, tetapi tak semudah itu Nak. Ada keluarga yang harus dilindungi. Kau tahu malam itu sebenernya daddy sudah tidak mau terjun lagi, tetapi Tuan Smith mengancam akan menghabisi antara Chexil ataupun Mommy Karla.


Aku tidak tega kalau mereka harus jadi korban. Apalagi saya tidak mungkin meminta mereka agar berhati-hati dengan Tuan Smith dan anak buahnya sedangkan mereka tidak tahu apa-apa mengenai pekerjaanku selama ini. Aku tidak mungkin menjelaskan pada mereka tentang semuanya. Aku tidak mau mereka kecewa dan akhirnya membenciku. Terus terang daddy belum siap."


"Jadi Chexil tidak tahu dengan pekerjaan Daddy?"


Felix menggeleng. "Tidak, bahkan Mommy Karla pun tidak. Daddy selalu berbohong kepada mereka dengan mengatakan Daddy punya bisnis di luar negeri sana dan pekerjaan Daddy adalah pekerjaan yang halal," jelas Felix.


Pantas saja Chexil tidak terima dengan perkataanku. Ternyata dia benar-benar tidak tahu," batin Nathan. Rasa sesal kepada sang istri semakin dalam karena telah berani menuduhnya macam-macam.


"Jadi ketuanya Tuan Smith?"


Felix mengangguk. "Tapi sekarang Daddy sudah tenang kau sudah tahu semuanya. Saya harap kamu bisa melindungi putriku. Daddy janji akan berhenti."


Nathan mengangguk lalu tersenyum sumringah. "Semoga Tuhan merestui Daddy."


"Terima kasih atas pengertiannya." Felix tak menyangka ternyata Nathan tidak marah dan bisa mengerti dirinya.


"Ngomong-ngomong Chexil mana? Daddy kangen sama tuh anak. Bolehkan Daddy bertemu?" tanya Felix kemudian.


Nathan langsung teringat akan kondisi Chexil saat ia tinggalkan.


Ia bangkit dari duduknya. "Daddy, Nathan permisi dulu karena ada kepentingan mendadak. Daddy ketemu Chexil-nya lain kali saja karena saat ini Chexil tidak ada di apartemen," ujar Nathan sambil berlari ke luar restoran.


Nathan terpaksa berbohong karena tidak ingin Felix menemui putrinya dalam keadaan seperti ini.


Nathan berlari kencang ke arah apartemen hingga orang-orang menatapnya aneh.


"Aneh tuh anak, kepentingan mendadak seperti apa sih yang membuat dia sampai kelabakan seperti itu?" gumam Felix sambil melihat ke arah luar restoran.


Dia hanya menggeleng saat mengawasi tingkah Nathan yang kini sedang berlari kencang menuju apartemen.


"Seperti ikut lomba maraton saja tuh anak," desis Felix.


________________________________________________________


"Ayo dong cepat!" Nathan memukul lift yang ia tumpangi karena lift itu hari ini terlalu lelet baginya. Padahal lift bekerja seperti biasa hanya saja dia yang begitu terburu-buru.


Sampai di depan pintu apartemen miliknya, seorang pengantar makanan tampak berdiri di depan pintu.


"Makanannya belum sampai juga?" tanya Nathan kesal karena menganggap pengantar makanan itu pun lelet.


"Bukan begitu Mas tadi saya sudah mengantar ke sini tetapi saat mengetuk pintu tidak ada yang membuka. Jadi saya mengantar pesanan kamar lain terlebih dahulu."

__ADS_1


Nathan tidak mendengarkan perkataan orang tersebut. Ia langsung membuka pintu. "Taruh di meja itu!" perintahnya.


"Baik." Pengantar makanan itu pun menurut, meletakkan pesanan makan Nathan di meja yang ditunjuk.


"Permisi Mas!"


"Iya," jawab Nathan tanpa menoleh karena matanya sedang fokus mencari keberadaan Chexil.


"Apa dia masih di kamar?" Nathan memutar handle pintu kamar. Matanya fokus menatap ke arah ranjang.


"Xil kamu dimana?" Ia melangkah ke kamar mandi dan mengetuk-ngetuk pintu. Tak ada jawaban bahwa suara percikan air pun tak terdengar.


Nathan membuka pintu kamar mandi dan memeriksanya tetapi Chexil tidak ada di dalam. Dia melihat pakaian Chexil sudah terletak di keranjang cucian.


"Dia sudah mandi, apakah itu tandanya keadaannya sudah mulai membaik?"


Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dapur. Biasanya sang istri paling sering berkutat di dapur saat hidup bersamanya.


"Tidak ada."


"Xil!"


Nathan membuka kamar yang ditempati Chexil saat istrinya memutuskan untuk pisah kamar.


"Kok juga tidak ada?" Nathan tampak mulai khawatir lagi.


"Xil! Xil!" Nathan terus memanggil nama Chexil. Namun nihil suara sang istri sudah tak terdengar lagi.


"Mana mungkin dia keluar dalam keadaan seperti itu."


Nathan memutuskan untuk kembali ke kamar berharap Chexil sudah kembali ke sana.


Sepi. Dalam kamarnya tidak ada seorangpun.


"Xil, kamu kemana sih?" Nathan mulai putus asa.


Saat seperti itu tak sengaja matanya menangkap sebuah kertas di atas laptopnya.


"Apa ini?" Nathan meraih kertas itu dan membacanya.


Keringat dingin mulai bercucuran saat ia membaca kalimat demi kalimat yang Chexil goreskan di kertas tersebut.


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Xil. Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu. Ah kenapa harus seperti ini?" Nathan terduduk lemas di atas sofa sambil meraup wajahnya.


"Xil maafkan aku," ucapnya dengan penuh sesal.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

__ADS_1


__ADS_2