Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 100 Rahasia


__ADS_3

Happy reading.


......................


Tanpa mengindahkan Damar, Mikaela lari meninggalkan Aira dan dia memberikan tanda agar Aira menyelamatkan Danish dari penglihatan Damar. Dia tidak ingin Damar mengetahui keberadaan Danish, putranya.


Tidak ada yang tahu, dirinya juga sang pemilik badan. Ternyata, kepergiannya dulu membawa benih Damar bersamanya.


Setengah jam kemudian, Aira datang dengan membawa putrinya Nayla dan Danish putra Mikaela.


"Tidur ," ujar Mikaela, saat melihat Danish dalam gendongan Antoni, sedangkan Nayla dalam gendongan Aira.


"Terimakasih, mas ," kata Mikaela pada Antoni, setelah membaringkan Danish dan juga Nayla di ranjang.


Ketiganya keluar dari dalam kamar, Antoni dan Aira menuju ruang keluarga, sedangkan Mikaela menuju dapur.


Mikaela kembali dengan membawa minuman dan memberikan kepada Antoni dan Aira. Lalu dia ikut bergabung dengan keduanya.


"Setelah empat tahun, akhirnya dia menemukanmu El," kata Aira.


"Untuk apa dia mencariku ? apa dia tahu mengenai keberadaan Danish?"


"Bunda tidak pernah mengungkit mbak Nisa padamu, El?" tanya Aira.


"Sejak meninggalkan mereka, aku sudah berpesan pada bunda, tidak ingin mengetahui kabar apapun mengenai mereka berdua. Dan bunda juga tidak pernah menyinggung mereka juga," kata Mikaela.


"Bagaimana jika dia tahu keberadaan Danish El? Dan dia ingin mengambilnya," kata Aira.


"Untuk apa dia mengambil Danish! Mbak Nisa kan sudah memberikan dia anak. Danish milikku, aku sebagai papa dan mama bagi Danish," kata Mikaela.


"El, aku itu papa Danish," kata Antoni.


"Iya, ada Mas Toni dan Mas Faiz sebagai papa untuk Danish, sudah cukup. Danish tidak membutuh papa yang lain."


"Aku mommy Danish," kata Aira.


"Terimakasih, kalian terlalu baik. Sejak meninggalkan rumah, kalian yang melindungi aku." kata Mikaela.


"Kau itu bukan hanya sahabat, El. Tapi sudah menjadi sister bagiku," kata Aira.


"Kau itu adikku El, sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi kau dan Danish," kata Antoni.


"El, apa kau tidak ada keinginan untuk bertemu dengan mbak Nisa?" tanya Aira.


"Untuk apa ? Aku sudah memutuskan untuk melupakan semua yang berhubungan dengan masa lalu. Sekarang, hanya Danish yang ada dan bunda Aini, yang tetap menganggap aku sebagai putrinya."


"Bunda betah tinggal di desa ya," kata Aira.


"Betah sekali kata bunda. Bunda mengajakku untuk tinggal di sana, tapi aku takut nanti bertemu dengan mbak Nisa."


"Untuk apa dia datang, tanah dan rumah yang ditinggali bunda kan hasil keringatmu," kata Aira.


"Bagaimana juga, bunda Aini bundanya Nisa. Tidak mungkin Nisa tidak menjenguk bundanya.

__ADS_1


***


"Apa betul kau bertemu dengan El, Dam ?" tanya Amelia.


"Betul, ma.Ternyata dia tinggal di Bandung ," kata Damar.


"Bagaimana keadaannya, apa benar dengan apa yang dikatakan oleh Bik Imah dahulu, bahwa Mikaela hamil saat pergi meninggalkan rumah ?"


"Aku belum tahu, ma."


"Kenapa kau pulang!"


"Aku ada kerjaan, ma. Yang penting, aku sudah tahu di mana dia tinggal selama ini."


"Kau jangan sampai kehilangannya lagi, Dam," kata Aryan.


"Tidak Pa, aku sudah membeli rumah disamping rumahnya. Dan besok aku berencana untuk kembali ke Bandung, dan akan bekerja dari sana."


"Mama ikut, Dam. Semoga mama bisa membujuknya."


"Semoga ma. Ela memaksa aku untuk menceraikannya."


"Jangan, Dam. jangan sampai kau menjadi duda kedua kalinya," kata Amelia.


"Kalian sudah lama berpisah ," kata Aryan.


"Tapi aku tetap memberikan Ela nafkah lahir, walaupun mungkin dia tidak memakainya."


"Mama jangan melakukan seperti dulu lagi. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri," kata Aryan.


"Semoga apa yang dikatakan Bik Imah benar, El hamil ," kata Amelia.


***


"Bunda!" Mikaela kaget dengan kedatangan bunda Aini, karena bunda Aini belum berencana untuk menjenguk Mikaela.


"Mana cucu bunda? Bunda kangen sekali ," kata bunda Aini.


"Bunda tidak kangen El?" Mikaela pura-pura merajuk, karena Aini langsung menanyakan keberadaan Danish.


"Sudah ada cucu, untuk apa kangen mamanya."


"Ih... Bunda." Mikaela memanyunkan bibirnya.


"Mana Danish ? Apa ikut Aira?"


"Tidak Bun, tadi di bawa Yanti ke taman," kata Mikaela.


"Rumah sebelah sudah laku ya, El?"


"Tidak tahu, Bun. Kenapa bunda tanya ? Apa bunda ada rencana membelinya?"


"Tadi bunda lihat, sudah dibersihkan dan ada mobil menurunkan perabotan."

__ADS_1


Mikaela keluar dan melihat kearah sebelah rumah dan melihat kesibukan orang-orang memasukkan perabotan rumah tangga. Mikaela masuk kembali.


"Iya bunda."


"Orang kaya tuh El, harga rumah itu kan mahal," kata Bunda Aini.


"Lebih luas bunda, pasti mahal."


"Kenapa lama sekali. Bunda susul ya, El."


"Ya bunda."


Bunda Aini bergegas keluar dari rumah, tanpa melihat kiri-kanan, kakinya membawanya menuju taman. Dia tidak menyadari dua pasang mata melihatnya dari balkon.


"Bu Aini, Dam. Dia tahu keberadaan Mikaela, masa Nisa tidak tahu, Dam?"


"Apa mungkin Annisa berbohong pada kita ma ?"


"Dasar menantu jahat, sudah mengusir El mengatasnamakan kau, Dam ," kata Amelia.


"Ma, sudahlah. Nisa juga sudah minta maaf," kata Damar.


"Maaf yang terlambat, Dam. Dia memaksamu untuk menikah dan dia juga memaksamu untuk bercerai." Amelia masih kesal, jika membahas Annisa.


"Sudah ya, ma ." Damar merangkul pundak Mamanya.


"Kau itu juga, El tinggal di sini. Masa tidak bisa kau lacak ! apa kerja orang yang kau suruh mencari keberadaan El, empat tahun baru ketemu ! Itu juga karena kau melihat keberadaan temannya El di bandung, baru kau bisa bertemu dengannya. Jika tidak tadi, mungkin seumur hidup kita tidak akan bisa bertemu dengan El."


"Dam, dari balkon ini kau bisa ke sebelah," kata Amelia.


"Hah !" mulut Damar membola, mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya.


"Mama suruh aku menyelinap ke rumah Ela? Untuk apa?"


"Untuk mencari informasi mengenai anakmu, Dam. Mungkin saja yang dikatakan oleh Bik Imah mengenai kehamilan El itu benar."


"Tidak mungkin ma ! Tidak mungkin Ela hamil. Aku hanya sekali menyentuhnya, saat mama mencekoki aku dengan aroma terapi perang*sang."


"Maaf, waktu itu mama kesal dengan kalian berdua. Bisa-bisanya ingin menipu kami," kata Amelia.


"Dam, lihat!" Amelia menarik Damar dari balkon, setelah melihat bunda Aini pulang dengan mengendong anak laki-laki kecil, bersama dengan seorang gadis.


Amelia dan Damar bersembunyi dibalik tiang balkon.


"Dam... Ya Allah! Dam... Katakan, anak kecil itu ... anak kecil itu !" Amelia tidak bisa berkata-kata, melihat raut wajah Danish yang sangat mirip dengan Damar kecil.


"Ma ." Damar melihat wajah Mamanya.


"Itu anakmu, Dam. Pasti Dam, kita tidak perlu meragukannya, walaupun El tidak mengakuinya. Sudah dapat dipastikan, anak itu putramu Dam ," kata mamanya.


"Hubungi Papa Dam, katakan untuk membawa album masa kecilmu. Kita harus menyelesaikan ini, Dam. El harus tahu, kau tidak menyuruhnya untuk pergi. Mama tidak mau kehilangan cucu emas mama Dam," kata Amelia dengan berderai air mata.


"Iya, ma ."

__ADS_1


__ADS_2