Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 72 Cobaan


__ADS_3

Happy reading.


......................


"Aku mungkin mereka ingin memisahkan kau dengan kak Raffi El?" Aira mengutarakan kecurigaannya dengan keluarga Raffi, yang hilang seperti ditelan bumi. Sosok paman dan Aldo tidak bisa dihubungi, hanya Alin yang masih bisa dihubungi.


"Coba aku tanyakan Mas Toni, mungkin dia bisa mencari informasi mengenai keberadaan kak Raffi. Aku koq merasa kak Raffi masih hidup dan berada di satu tempat di belahan dunia ini," kata Aira.


"Apa aku harus mengecek satu persatu rumah sakit di dunia ini, untuk mencari kak Raffi ."


"Kau mau mencarinya sampai berapa lama, belasan tahun? Bisa saja puluhan tahun kau juga tidak bisa menemukannya. Kau kira rumah sakit di dunia ini hanya ada puluhan rumah sakit. Ribuan rumah sakit ada di dunia ini. Belum lagi setiap rumah sakit itu ada kebijakan yang menutupi keberadaan sang pasien di rumah sakit mereka. Ribet El," kata Aira.


"Apa betul yang dikatakan adiknya? Tidak mungkin rasanya dia mempermainkan nyawa kakaknya, yang masih hidup dibilang meninggal," kata Aira.


"Mungkin saja, karena dia benci padaku. Dia tidak tahu cerita yang sebenarnya," kata Mikaela.


"Kau belum cerita, bagaimana kejadian sebenarnya?"


Mikaela menceritakan kronologis kejadian yang melibatkan banyak orang, sehingga menyebabkan beberapa orang terluka dan ada yang sampai kehilangan nyawanya.


"Kalau begitu bukan kau yang menyebabkan Tante Yuni meninggal. Jika perjalanan kalian langsung menuju supermarket yang dituju, kalian tidak akan terlihat dalam kecepatan itu. Kalian pasti sudah berada di dalam supermarket. Tapi karena Tante Yuni ingin pergi beli benang, makanya kalian masih berada di jalan. Apa tidak ada yang menceritakan kejadian itu pada dia ?"


"Aku tidak tahu, mungkin saja tidak ada yang menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Alin, sehingga dia marah padaku. Apa yang harus aku lakukan lagi?" wajah Mikaela terlihat muram, karena masalah bertubi-tubi menerpanya. Apalagi kini kondisi ayah Aiman tidak baik-baik saja. Beban pikiran membuat kondisinya kesehatan Aiman drop.


"Wajahmu bagaimana?" tanya Aira mengenai luka di wajah Mikaela.


"Ini ?" Mikaela memegang perban yang masih menutupi bekas luka yang terdapat di raut wajahnya.


Aira mengaguk.


"Apa mau di operasi?" tanya Aira.


Mikaela menggelengkan kepalanya seraya berkata. " Tidak."


***


"Ayah makan ya." bunda Aini membawa semangkuk bubur ayam yang dibelinya di luar, karena sang suami yang tidak mau makan, sehingga Aini berinisiatif untuk membeli saja, mungkin saja sang suami bosan dengan masakan yang di masaknya.

__ADS_1


"Ayah kenyang Bu."


"Kenyang dari mana, Yah! Tadi pagi saja hanya makan sepotong roti dan teh manis. Ayah makan ya." Aini tetap memaksa sang suami untuk makan bubur ayam yang dibelinya.


"Cukup Bu." tolak Aiman, setelah lima suap bubur ayam menghuni lambungnya.


"Sedikit lagi Yah."


"Cukup Bu, ayah mau muntah." Aiman menutup mulutnya, karena merasa perutnya bergolak ingin mengeluarkan apa yang baru masuk kedalam lambungnya.


"Baiklah, nanti ayah makan lagi ya. Jangan sampai kondisi ayah drop, kita masih ada tugas untuk menjaga El, Yah."


Sang istri mengingat tugasnya untuk menjaga Mikaela, raut wajah Aiman berubah sedih.


"Ayah telah salah mengizinkan El untuk menikah, Bu. Jika waktu itu ayah mengikuti apa yang dikatakan oleh Annisa, El tidak akan seperti ini. Status El sekarang apa Bu? Janda atau masih punya suami?"


"Jangan pikirkan itu Yah. Sekarang ini yang penting kesehatan ayah, masalah El, kita ikuti saja apa alur takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk El. Jika Raffi masih hidup dan dalam kondisi sakit, begitu sehat, dia pasti akan mencari El."


" Di mana dia ya Bu?"


"Mama ibu tahu Yah. Kita do'akan saja, semoga mereka berdua bisa bersama dan hidup bahagia."


"Kak, ayo bangun. Apa kakak tidak ingin pulang ke Indonesia?"


Aldo mengusap lengan Raffi yang kurus. Lalu mata Aldo menatap wajah Raffi yang tirus dan turun kearah sepasang kaki yang kini tidak sempurna.


"Apa kakak tidak mau bangun karena kecewa dengan apa yang terjadi pada kedua kaki kakak? Walaupun kaki kakak tidak sempurna, kami tetap bersyukur, karena kita masih bisa bersama."


Lalu ke luar, karena merasakan getaran dari dalam saku jasnya. Begitu keluar dari dalam ruangan tempat Raffi di rawat selama hampir sebulan ini.


Aldo mengangkat teleponnya. "Ya... Katakan saja," kata Aldo pada orang yang menghubunginya.


"Baiklah, lakukan saja seperti yang aku katakan. Awasi saja, jika dia melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan, laporkan padaku segera." Aldo mengakhiri sambungan telepon.


"Oh... Tuhan, kenapa ini harus aku alami. Aku tidak bisa berpikir lagi."


"Alin... Alin... Jangan lakukan yang nantinya akan kau sesali."

__ADS_1


Walaupun Aldo berada di Swiss, tapi Alin tidak lepas dari pantauannya. Sebelum pergi dia mengutus orang untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh Alin di Indonesia.


***


"Mas... Mas Damar.... !" suara Annisa dengan suara yang keras memanggil sang suami.


Damar yang sedang fokus menatap layar laptopnya mendongak dan melihat sang istri yang berdiri didepan pintu kamar mandi dengan memegang perutnya.


Damar menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya melangkah mendekati Annisa. "Ada apa?" Damar melihat Annisa meringis menahan sakit.


"Perutku sakit mas ."


"Sakit ? Kenapa sakit? Apa tadi makan-makanan yang tidak bagus, atau makan pedas ?" Damar tahu, Annisa sangat suka makan-makanan yang pedas .


"Tidak mas ," sahut Annisa.


"Ayo kita ke rumah sakit," kata Damar, karena melihat raut wajah Annisa yang semakin pucat.


Damar mengangkat Annisa dan membawanya menuju mobil dan kemudian mobil meluncur keluar dari rumah. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil sampai di rumah sakit dan Annisa langsung ditangani oleh dokter.


Annisa di periksa oleh dokter, dan apa yang disampaikan oleh dokter membuat Annisa dan Damar cukup terkejut.


"Hamil ? Aku hamil ?" Annisa cukup shock mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Karena dia tidak menyadari bahwa dirinya hamil. Karena sibuk dengan urusan keluarganya, Annisa sampai melupakan kondisi kesehatannya.


"Lalu bagaimana kondisi kandungan istri saya dokter?"


"Mohon maaf Pak, kandungan istri bapak tidak bisa dipertahankan lagi."


Apa yang disampaikan oleh dokter membuat Annisa menangis histeris. Anak yang dinanti-nantinya tidak bisa dipertahankannya.


"Kenapa ini terjadi padaku? Hanya satu saja, begitu berat Tuhan untuk memberinya!" kata Annisa dibarengi dengan tangisan.


Annisa menangis dalam pelukan Damar.


Kabar keguguran Annisa sampai ditelinga Mama dan Papa Damar. Keduanya tiba di rumah sakit, setelah Annisa selesai dibersihkan dari sisa-sisa bakal janin.


"Bagaimana bisa tidak tahu ?" tanya Mama Damar .

__ADS_1


"Maaf ma," kata Annisa.


Next...


__ADS_2