
"Akhirnya selesai... !" Aira merentangkan kedua tangannya, setelah selesai membantu Mikaela untuk mengepak barang-barang di tokonya. Karena hari ini Mikaela akan menempati gedung baru, yaitu di salah satu Mall terbesar di kota.
"Istirahat dulu.. !" seru pria yang masuk kedalam toko Mikaela yang berantakan.
"Mas Toni bawa apa tuh... ?" Aira bangkit dan berjalan mendekati Antoni, mengambil plastik yang ditenteng Antoni.
"Sup buah dan cemilan," kata Antoni.
"Mas Toni baik sekali, tahu saja perut kita sudah minta diisi lagi," kata Mita.
"Istirahat dulu. El mana?" tanya Antoni, karena tidak melihat keberadaan Mikaela.
"El mengantar barang ke toko ," sahut Aira
"Hanya kalian berdua di sini?"
"Iya ," sahut Aira.
"Siapa yang mengelola di sini? kau yang akan mengelola di Mall ?" tanya Toni pada Mita.
"Aku akan menjaga di sini. Di Mall kak El sendiri yang menjaganya," jawab Mita.
"Oo....," ucap Antoni dengan mulut membulat.
"Mas tidak mau?" Aira menyodorkan gorengan yang dipegangnya kepada Antoni.
"Tidak suka gorengan." tolak Antoni.
"Mas tidak suka gorengan? Aneh sekali Mas Toni. Gorengan itu cemilan yang terenak di dunia," kata Mita.
"Gorengan di goreng sendiri mau, jika dibeli di luaran. Tidak," kata Antoni.
"Kenapa mas? Sama-sama gorengan, di goreng pakai minyak," ucap Aira yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Antoni.
"Mas takut, minyak goreng yang mereka pakai untuk menggoreng tidak higienis. Gorengan yang mas beli ini, mas lihat dulu minyaknya. Kalau minyaknya sudah hitam, mas tidak mau belinya," kata Antoni.
"Bahaya wanita yang akan menjadi istri Mas Toni nih... minyak untuk menggoreng harus sekali pakai," kata Aira.
"Itu semua untuk kebaikan," kata Antoni.
"Padahal mas, semakin hitam minyak untuk menggoreng, semakin nikmat yang kita goreng," kata Mita.
"Betul !" timpal Aira.
"Bagaimana bisa enak? minyak hitam seperti oli," kata Antoni.
"Sumber penyakit," ujar Antoni.
Mita dan Aira tertawa dan mengedikkan bahu, keduanya tidak perduli dengan perkataan Antoni.
"Mas, boleh tanya, tidak?" tanya Aira setelah mengelap mulut dan tangannya yang berminyak karena gorengan yang dimakannya.
"Tanya apa? Jangan tanya yang sulit-sulit ya," kata Antoni.
"Tidak sulit mas. Tidak sampai memutar otak untuk menjawab pertanyaannya dan bukan pertanyaan menghitung juga," kata Aira.
"Apa?"
__ADS_1
"Mas suka dengan El ?" tanya Aira langsung, tanpa belok kanan belok kiri dalam mengajukan pertanyaan kepada Antoni.
"Ya... Siapa yang tidak suka dengan Mikaela, gadis yang tangguh dan cerdas dan mandiri juga," kata Antoni.
"Serius..! Mas cinta dengan kak El.... ?" tanya Mita dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Mas menyukainya hanya sebatas sebagai kakak saja ," kata Antoni.
"Antara kami berdua, tidak terjalin hubungan antara seorang pria dan wanita yang melibatkan perasaan cinta laki-laki dewasa dan wanita dewasa. Kami hanya bersahabat." sambung Antoni.
Aira dan Mita menunjukkan raut wajah bengong melihat Antoni, keduanya saling bertukar pandangan.
Antoni tertawa kecil melihat wajah keduanya. Dia tahu, keduanya tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Intinya, kami berdua itu, tidak mungkin menjalin percintaan. Aku ini mantan kekasih kakaknya. Jika kami menjalin hubungan percintaan, pasti akan terasa canggung jika bertemu dengan mantan." terang Antoni.
"Oo.o.. ," ucap Aira dan Mita bersamaan dengan mulut bulat sembari menatap Antoni.
"Kalian lucu sekali." Antoni tertawa melihat wajah lucu Aira dan Mita.
*
*
"Mikaela... !"
"Pak Raffi..... " Mikaela kaget melihat Raffi berada didalam tokonya. Dan masih mengingat namanya, padahal Mikaela sudah lama tidak bertemu dengan Raffi. Sejak dia tamat dari universitas, dia tidak pernah bertemu dengan dosennya tersebut.
"Apa Kabar?" sapa Raffi.
"Baik Pak, bapak sendiri?" tanya Mikaela.
"Tokomu?" tanya Raffi.
"Iya Pak. Bisnis kecil-kecilan," sahut Mikaela merendah.
"Bisnis kecil-kecilan? Tidak mungkin bisnis kecil-kecilan buka di Mall terbesar di kota ini. Jangan terlalu merendah," kata Raffi seraya menatap Mikaela dengan lekat.
Mikaela salah tingkah mendapatkan tatapan mata dari Raffi. Dosen yang menjadi incaran para mahasiswi yang singel. Termasuk Aira dan Inara. Sedangkan Mikaela tidak. Karena dia tidak ingin pacaran. Dia ingin pacaran setelah menikah.
"Hebat... " Puji Raffi.
"Terima kasih, Pak," ucap Mikaela.
"Baru buka hari ini?" tanya Raffi.
"Baru pindah ke sini, Pak."
"Selama ini buka di mana ?" tanya Raffi.
Mikaela menyebutkan alamat toko pertamanya.
"Tidak jauh dari kampus," ujar Raffi.
Raffi masuk lebih kedalam. Dia menyusuri setiap rak-rak yang tertata rapi baju khusus untuk wanita. Mikaela menjawab apa yang ditanyakan Raffi.
Keduanya berbincang-bincang hampir satu jam.
__ADS_1
"Ah... Tidak terasa sudah satu jam kita berbincang-bincang," kata Raffi yang senang, karena Mikaela mau berbincang dengannya.
"Apa bapak tidak ada jam mengajar?" tanya Mikaela.
"Ada, jam lima nanti. Ini baru jam tiga," kata Raffi.
"Apa keberadaan saya mengganggu?" tanya Raffi.
"Tidak Pak," sahut Mikaela. Tapi dalam hatinya. "Tidak mungkin aku jawab, menganggu." batin Mikaela.
"Tolong jangan panggil saya bapak. Saya bukan dosen kamu lagi," kata Raffi.
"Ha... " Mikaela menganga mendengar permintaan Raffi.
"Panggil Mas saja, boleh? Saya juga belum terlalu tua koq," Kata Raffi.
"Saya... saya... " Mikaela bingung dengan permintaan Raffi.
"Ayolah... saya bukan sebagai pendidik kamu lagi, dan kamu juga bukan mahasiswi saya lagi," kata Raffi.
Mikaela menggaruk tengkuknya, bingung dia dengan permintaan Raffi.
"Mas" Mikaela akhirnya memanggil Raffi dengan sebutan "Mas". Mulutnya kaku untuk mengucapkan kata "Mas"
"Terima kasih." Raffi senang.
"Apa kata Aira dan Inara, jika mereka tahu aku memanggil Pak Raffi. Mas." Bain Mikaela.
"Terima kasih," ucap Raffi kembali. Dia terlihat senang sekali.
Raffi meninggalkan toko Mikaela dengan membawa baju yang dibelinya untuk mamanya yang dibelinya untuk kado ulang tahun sang mama.
*
*
"Kita mau kemana ini El? Untuk apa bunda didandani seperti ini?" tanya Bunda Aini. Mikaela dititahkan Annisa untuk membawa sang bunda ke salon dan kemudian ke butik untuk mengganti pakaian yang dikenakannya. Dengan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Mikaela, yaitu kebaya modern. kemudian membawa sang Bunda ke salah satu hotel yang sudah dipesan khusus untuk merayakan ulang tahun Aini.
"Tenang saja Bun," kata Mikaela.
"Baju bunda tadi mana? Jangan dibuang ya. Itu baju pemberian ayah," ucap Bunda Aini yang takut baju yang dipakainya sebelum didandani, dibuang.
"Tidak mungkin dibuang, bunda. Baju bunda aman didalam tas, tuh... di jok belakang ," kata Mikaela, yang hari ini membawa mobil yang dibelinya hasil keringatnya sendiri. Walaupun hanya mobil second, dan merek sejuta umat. Tapi Mikaela bahagia, karena berkat usaha yang dirintisnya. Dia sudah bisa membeli kendaraan roda empat. Sedangkan sepeda motor milik Aiman yang digunakannya dahulu sebelum dia mampu membeli mobil, Mikaela pensiunkan untuk dikendarai.
Mobil yang dikemudikan Mikaela tiba didepan hotel.
"Kenapa kita ke hotel? Ayah kita tinggal sendiri di rumah, kasihan," kata Aini.
"Ayah tidak sendirian di rumah bunda. Ayah pasti sedang kumpul-kumpul dengan bapak-bapak di pos ronda main catur," kata Mikaela.
"Ayo Bunda, kita turun," kata Mikaela.
"Mau apa kita ke hotel? Katakan ! Bunda tidak mau turun, jika El tidak mengatakan untuk apa kita ke hotel," ucap Bunda Aini dan mengancam Mikaela tidak mau turun dari dalam mobil.
"Kenapa bunda main ancam." batin Mikaela.
"El, Katakan !" Bunda Aini tetap kekeuh duduk. Walaupun Mikaela sudah membuka pintu mobil untuk Aini keluar, tetapi sang bunda tidak ada niat untuk bergerak keluar dari dalam mobil. Bunda Aini melipat kedua tangannya didepan dadanya. Kepalanya mendongak menatap Mikaela yang berdiri diluar mobil.
__ADS_1
"Aduh... kenapa jadi ribet begini" gumam Mikaela dalam hati.
Next...