Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 56 Kesal


__ADS_3

Happy reading guys.


...****************...


Damar pergi meninggalkan rumah dalam keadaan kesal. Mobil diarahkannya ke salah satu cafe . Begitu tiba di cafe tersebut, Damar langsung melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Dia tidak perduli dengan beberapa pasang mata wanita yang mengikuti setiap langkah kakinya. Damar yang tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya terlihat dari raut wajahnya yang keras. Raut wajah kesalnya masih terlihat.


Damar membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dua kepala dan dua pasang mata melihat melihat dengan heran.


Damar menghempaskan tubuhnya dan mengambil minuman dingin yang tertata diatas meja.


Setelah meneguk minuman tersebut, Damar menarik napasnya dengan kasar dan baru menatap kedua temannya yang memicing menatapnya.


"Ada apa? Tidak pernah lihat orang kesal?" tanya Damar.


"Bukan tidak pernah melihat orang kesal, Dam. Tapi kami tidak pernah melihat kau yang seperti ini ," kata Danu.


"Kenapa kau di sini ?"


"Lah... kau juga kenapa ke sini?" David, balik bertanya pada Damar.


"Karena aku mau ke apartemenmu. Tapi kau tidak membalas pesanku," kata Damar.


David mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan melihat pesan masuk dari Damar.


"Wow... banyak sekali pesanmu!" David menunjukkan pesan Damar yang masuk kedalam ponselnya.


"Ada apa Dam ? Apa keluhan yang sama?" tanya Danu.


"Masalah anak lagi? Apa istrimu tidak sabar ?" tanya David.


Damar mengangguk.


"Kau kurangin kerja dan pergi keluar kota, biar bisa bercocok tanam setiap hari." ledek Danu.


"Kau juga Dam, menikah itu jangan asal pilih wanita ! Apa kau benar-benar mencintai istrimu itu? Pasti belum kan ?" tanya Danu yang tahu, pernikahan Damar terjadi karena Damar mendengar sang mantan kekasih sudah menikah di luar negeri dan Damar ingin melupakannya. Dan saat itu dia bertemu dengan Annisa yang sangat menyukainya.


"Apa sekarang kau belum bisa mencintainya?" tanya David.


"Hei... Aku menikah karena mencintainya!" kata Damar yang tidak terima dikatakan menikah karena terburu-buru.


"Oh... Ya ! Dulu kau bilang tidak," kata Danu.


"Jangan ingatkan yang dulu. Aku mencintai Annisa! Ingat itu. Pernikahanku yang cepat tidak ada hubungannya dengan wanita itu," kata Damar.


"Baiklah... Santai brother," ujar David dengan menepuk pundak Damar.


"Jika kau sudah melupakan Aida, tidak apa-apa kan ? Jika aku katakan, aku bertemu dengan Aida dua hari yang lalu," kata David.


Damar menatap David.

__ADS_1


"Kau penasaran, di mana aku bertemu dengannya?" tanya David pada Damar.


"Tidak!" kata Damar.


"Eleh... ngaku saja Dan !" goda Danu.


"Katakan Vid, di mana kau bertemu dengan Aida si boneka Barbie," kata Danu mengejek Damar, yang dulu memanggil Aida dengan panggilan Barbie, karena Aida gadis yang sangat cantik dan wajahnya seperti boneka hidup, walaupun tidak ada polesan make up menghiasi wajahnya.


David mulai bercerita dan Damar tidak menanggapi cerita yang disampaikan oleh David. Hanya Danu yang bertanya.


"Dia hanya bersama dua anaknya? Suaminya tidak bersama dengannya? Tidak kau tanya, kenapa dia tidak bersama dengan suaminya?" tanya Danu.


"Ih... Tidak lah ! Untuk apa aku tanyakan, kepo sekali dengan urusan keluarganya. Tapi aku pernah denger selentingan, sepertinya dia dan suaminya berpisah."


"Wah... Jangan sampai ada cinta lama bersemi kembali, karena belum kelar," kata Danu.


Damar memberikan tatapan mata yang membuat David dan Danu merinding, dan membuat keduanya mengakhiri cerita mengenai Aida.


Damar yang melampiaskan kekesalannya dengan berkumpul dengan kedua temannya, Annisa mengendarai mobilnya tanpa tentu arah. Annisa sejak dulu tidak pernah memiliki teman akrab seperti Mikaela, membuat dirinya yang galau hanya bisa melajukan mobilnya tanpa tujuan. Sesekali mobilnya berhenti di taman, duduk didalam mobil sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan pasangannya atau dengan anaknya. Sedangkan Annisa hanya bisa menatap semua itu dengan pikiran yang semakin semrawut.


"Aah.... !" Annisa mengacak-acak rambutnya, karena kesal.


"Apa salahnya menyerahkan anak kita pada pengasuh? Semua orang melakukannya! Kenapa aku tidak boleh? Tidak mungkin hanya karena aku ingin anakku diasuh oleh baby sitter, Tuhan membuat aku keguguran dan sekarang sulit untuk memiliki anak."


Annisa terus bicara sendiri dalam mobil, dengan pandangan mata menatap depan di mana banyak orang berlalu lalang.


"Mas Damar saja terlalu kolot! Bilang mama dulu tidak memakai pengasuh. Tidak mungkin lah... Mama dulu kan bekerja, tidak mungkin bisa mengasuh anak di saat bekerja."


Annisa menghidupkan mesin mobil dan mengarahkan mobil yang dikemudikannya menuju jalan ke rumah ayahnya.


***


"Karena sayangnya mama pada kakak ipar, mama tidak tega kakak ipar pergi sendiri," kata Alin.


"El tidak apa-apa pergi sendiri ma," kata Mikaela.


"Apapun kata kakak, Mama tetap tidak tenang kak. Kak Raffi juga," kata Aldo.


"Apa kak Raffi yang meminta mama untuk mengantar?" tanya Mikaela.


Ketiganya mengangguk.


"Apaan kak Raffi itu... Dikiranya aku anak belasan tahun yang takut bepergian sendiri," kata Mikaela.


"Tidak apa-apa El, mama juga ingin lihat tempat tinggal kalian diluar negeri. Jangan sampai El tidak betah di sana," kata Mama Raffi.


"Apa Mama tidak sibuk? Jangan sampai karena menghantarkan El, pekerjaan mama tertunda," kata Mikaela.


"Mama sudah tidak ada kerjaan El, Mama itu pengangguran," ledek Aldo.

__ADS_1


"Tapi pengangguran, yang banyak duit kak." timpal Alin.


"Banyak duit dari mana? Mama itu hanya menengadahkan tangan pada kalian bertiga."


"Ih... Mama, sok kere... Padahal tajir." ledek Alin.


"Baju-baju yang tipis tidak usah dibawa El, karena di sana sedang musim dingin," kata Yuni, mama mertuanya.


"Ya kak. Beli saja di sana, bawa baju yang tebal dan jaket," kata Aldo.


"Iya kak, apa kata kak Aldo benar. Kak Aldo kuliah di sana bersama dengan kak Raffi dulu," kata Alin.


Mikaela hanya manggut-manggut mendengar apa yang dikatakan oleh Alin dan Aldo. Karena dia belum pernah berangkat ke luar negeri.


Annisa tiba di rumah bundanya dan melihat sang bunda dan ayahnya sedang duduk di teras depan dengan ditemani secangkir kopi hangat dan sepiring pisang goreng.


"Loh... Nisa, kenapa datang malem-malem?" tanya sang bunda, begitu Annisa turun dari mobil.


"Bosen di rumah Bun, mas Damar pergi keluar kota," kata Annisa yang berbohong, mengatakan Damar keluar kota.


Annisa menyalami ayahnya dan kemudian sang bunda.


"El belum pulang dari toko ?" tanya Annisa.


"El pergi ke rumah mertuanya. Dua hari lagi dia kan pergi," kata Aini.


"Apa ayah tidak khawatir melepaskan El pergi sendiri?" tanya Annisa.


"El tidak pergi sendiri, mama mertuanya ikut menghantarkan El," kata Aini.


"Oh... El tidak berangkat sendiri, baguslah," kata Annisa.


"Sudah makan Nisa, bunda ada masak soto mie, mau makan?"


"Sudah bunda, sebelum ke sini tadi, makan dulu."


"Bun, Ayah. Nisa mau ke kamar ya. Nisa mau tidur di sini malam ini. Sepi di rumah."


"Tidurlah, kamu juga mau beristirahat," kata Aini.


Nisa bangun dari duduk dan meninggalkan ayah dan bundanya.


"Bu, apa bener Damar pergi keluar kota?"


"Maksud ayah, Nisa bohong?"


Aiman mengangguk.


"Tidak mungkin mereka bertengkar Yah."

__ADS_1


"Semoga saja mereka tidak bertengkar," ujar ayah Aiman.


Next


__ADS_2