
Happy reading guys
...****************...
Bunda Aini dan Annisa keluar dari ruang unit gawat darurat. "Bagaimana bunda?" Aira bangkit dari duduknya dan menyambut bunda Aini yang jalan dengan lemah dan menuntun bunda Aini untuk duduk.
"Mas ." Aira menatap Antoni yang berdiri di samping bunda Aini duduk.
Antoni tahu, apa yang diinginkan oleh Aira. "Biar aku saja," kata Faiz.
"Ayo... Kita sama saja, ada yang mau aku beli kekantin," kata Antoni.
"Toni, belikan aku minum kesukaanku ya. Kau masih ingat kan ?" kata Annisa.
Antoni tidak menanggapi perkataan Annisa, tapi Faiz yang menanggapi pertanyaan Annisa.
"Oke mbak," sahut Faiz.
"Apaan sih mbak Nisa ini ? Koq tidak ada simpati pada bunda Aini yang tidak sehat begini. Malah sibuk cari perhatian Mas Toni."batin Aira yang heran dengan tingkah Annisa yang terus mencari perhatian Antoni, dan kini Annisa yang duduk santai sembari melihat ponselnya. Sedangkan kondisi bundanya terlihat lemah.
"Bunda apa kata dokter?" tanya Aira.
"Ayah banyak pikiran, tensinya tinggi dan lemas karena tidak makan," kata Annisa yang menjawab pertanyaan Aira.
"Ayah juga kenapa bisa tidak makan? Mikirin El? Sudah terjadi bunda! Tidak usah dipikirin lagi! Bundanya juga, jangan sampai sakit," kata Annisa kesal.
Saat mendengar penjelasan dari dokter, Annisa terlihat kesal. Karena dokter menerangkan kondisi tubuh ayah Aiman yang drop karena tubuhnya tidak diisi makanan, sehingga lemas. Dan kini ayah Aiman diinfus untuk menambah tenaganya.
"Tidak mungkin tidak menjadi pikiran Nisa! Orang tua mama yang tidak memikirkan kondisi anaknya yang jauh dan mendapatkan musibah? Kau belum menjadi orang tua Nisa, sehingga kau gampang bilang untuk tidak memikirkannya."
"El itu hanya keponakan bunda dan ayah! Bukan anak kandung. Makanya dulu denger kata Nisa bunda, jangan izinkan El menikah dengan orang itu! Tapi bunda dan ayah tetap mendukung keputusan El," kata Annisa tanpa memikirkan perasaan sang bunda.
"Dan sekarang apa yang terjadi! Terpaksa suamiku dan papanya yang direpotkan... ! Seharusnya besok kami menemui dokter untuk membahas masalah kami. Kini, masalah kami terkendala karena mengurus El." tambah Annisa.
"Nisa !" Bunda Aini cukup tersentak mendengar perkataan Annisa. Aira juga tidak mengira mulut Annisa bisa berkata seperti itu.
'Kenapa Bun? Bunda tidak suka dengan apa yang aku katakan? Apa yang aku katakan benar kan Bun? El hanya keponakan ayah, kan ? Lihatlah... Ayah terbaring karenanya."
"Sudahlah... ! Aku bilang apa juga, ayah dan bunda selalu mendukung keputusan El ." Annisa berdiri dan meninggalkan bunda Aini dan Aira.
"Bunda yang sabar ya. Mbak Annisa sedang kesal mungkin, karena tidak bisa ikut ke inggris dengan mas Damar. Mbak Nisa itu sayang dengan El koq," kata Aira.
__ADS_1
"Iya, bunda tidak apa-apa."
Annisa pergi menuju kantin dan melihat Faiz dan Antoni. Lalu Annisa mengarahkan langkah kakinya menuju tempat Antoni dan Faiz duduk.
"Boleh gabungkan?" tanya Annisa dan tanpa menunggu jawaban keduanya, Annisa meletakkan bokongnya.
"Sepertinya enak." Annisa melihat piring yang berada dihadapan Antoni. Sepiring mie goreng.
"Enak kan Toni?" tanya annisa.
"Mbak mau? Biar aku pesankan," kata Faiz, sedangkan Antoni diam. Dia melahap mie goreng, tidak mengindahkan perkataan Annisa.
"Bolehlah... Aku belum makan sedari pagi, begitu mau makan, ayah pingsan," kata Annisa.
"Mau minum apa mbak?" tanya Faiz.
"Juice belimbing. Minuman favoritku tidak berubah. Minuman favorit kita sama kan Toni," kata Annisa.
Faiz pergi meninggalkan pasangan yang dulu pernah menjalin hubungan percintaan. Dan sekarang hanya sebatas mantan.
"Aku tidak suka juice belimbing, sekarang aku suka juice alpokat," kata Antoni .
"Oh... Ya ? Sayang sekali, padahal belimbing sangat bagus untuk menurunkan darah tinggi,' kata Annisa.
"Oh ." Annisa hanya berucap oh dari mulutnya, dia tidak berpanjang kata lagi, karena melihat Antoni sepertinya tidak ingin berbicara dengannya.
"Sebentar lagi datang makanan mbak Nisa," kata Faiz yang kembali bergabung.
"Terimakasih. Maaf ya, kita Sepertinya belum saling kenal." Annisa mengulurkan tangannya pada Faiz.
Faiz menyambut tangan Annisa dan menyebut namanya dan hubungannya dengan Mikaela.
"Oh... Kau teman satu kantor El," kata Annisa.
Faiz mengangguk dan menambahkan informasi mengenai dirinya pada Annisa .
"Dan aku juga kekasih Inara, mbak," kata Faiz.
"Kau pacar Inara! Cinlok ya.... ?" goda Annisa.
'He... He...he...he ." tawa Faiz.
__ADS_1
"Ada rencana menikah ?" tanya Annisa.
"Adalah mbak! Pacaran, jika tidak untuk menikah untuk apa pacaran mbak. Mau pacaran selamanya, tidak mungkin Mbak," kata Faiz.
"Mungkin belum klop dengan Inara, pikirkan lagi... Jangan sudah menjadi suami istri, baru keterangan ketidak cocokan," kata Annisa.
Faiz menutup mulutnya, karena pelayan datang menghantarkan pesanan Annisa. Begitu pelayan meninggalkan mereka, Faiz membuka percakapan kembali.
"Aku dan Inara sudah klop banget mbak. Inara gadis yang baik dan sangat mengerti aku, dan dia juga tidak menuntut aku untuk hidup mewah," kata Faiz.
Wajah Annisa sontak berubah merah. Apa yang dikatakan oleh Faiz menyentil dirinya yang pernah berkata pada Antoni, bahwa dia tidak ingin hidup serba kekurangan.
"Aku sudah selesai, aku akan menghantarkan minuman ini ke Aira." Antoni berdiri dari duduknya dan beranjak meninggalkan Faiz dan Annisa.
"Toni !" panggil Annisa, tapi langkah kaki Toni terus melangkah meninggalkan kantin.
"Faiz, apa Toni akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Annisa.
"Kenapa mbak Nisa tanya pernikahan Toni padaku?" batin Faiz.
"Soal itu saya tidak tahu mbak," kata Faiz.
"Masa kau tidak tahu ? kalian kan berteman? Tidak mungkin kau tidak tahu dengan hubungan Toni dengan Aira."
"Aku tahu sedikit mbak, tapi kan tidak kapasitas aku menceritakan hubungan orang lain, mbak. Jika mbak tanya hubungan aku dengan Inara, aku bisa katanya! Tapi jika hubungan Toni dengan Aira, maaf mbak. Aku tidak bisa katakan," kata Faiz.
"Kami berteman, tapi kami saling menjaga privasi masing-masing. Jika mbak ingin tahu, tanya pada yang bersangkutan," kata Faiz.
Faiz kembali menyuapkan sesendok nasi goreng miliknya kedalam mulutnya. Annisa diam, dia tidak bertanya lagi, karena tahu Faiz tidak ingin membagi informasi hubungan Antoni dengan Aira padanya.
***
Damar dan papanya mengiringi kursi roda yang membawa Mikaela untuk menjenguk Raffi yang berada di ruang ICU. Sedangkan Yuni Mama Raffi sudah berada di ruangan pemulangan jenazah dan sudah berada didalam peti untuk diberangkatkan ke Indonesia. Tinggal menunggu surat-surat pemberangkatan dari negara inggris.
Melihat kedatangan Mikaela, Aldo menghampiri Mikaela dan berlutut didepan Mikaela.
Aldo meraih tangan Mikaela dan menggenggam erat. "Kak, lihat aku ," kata Aldo.
Tatapan kosong yang ditunjukkan oleh Mikaela, tidak ada binar-binar kehidupan di bola mata Mikaela.
"Pembunuh!" teriakkan melengking terdengar, dan membuat semua mata terarah ke suara tersebut.
__ADS_1
Next...