
Happy reading.
Orang sering tidak menerima kenyataan yang terjadi padanya dan menyalahkan orang lain dengan apa yang menimpanya.
......................
Tiga orang celingukan sembari berjalan cepat menuju lobby rumah sakit.
"Itu dia." telunjuk Annisa terarah ke arah seseorang yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya.
"Apa yang terjadi pada ayahku ?" tanya Annisa begitu berhadapan langsung dengan Alin.
Alin menarik pandangan mata dari ponsel dan mendongak menatap Annisa.
"Alin, kenapa ayahku bisa bersama denganmu? Apa yang telah kau lakukan?" kini Mikaela yang bertanya pada Alin, setelah pertanyaannya Annisa tidak di jawab Alin.
Alin bangkit dan menatap Mikaela dengan tajam, dengan kedua tangannya melipat didepan dadanya.
"Ayahmu pingsan di rumahku, setelah aku katakan bahwa kak Raffi telah meninggal !"
"Apa !? Kau kejam sekali!" kata Annisa marah.
"Saya kejam ? kenapa saya dituduh kejam? Saya hanya menyampaikan suatu kebenaran, bahwa suami putrinya meninggal ! Dan sekarang putrinya menjadi janda... janda .... !"
"Manusia kejam kau Alin... !" Mikaela marah .
Bunda Aini tidak berkomentar apapun, dia mendudukkan dirinya dan terus berdoa dalam hati untuk meminta keselamatan untuk sang suami.
"Pergi kau dari sini !" Annisa menarik tangan Alin dan menariknya keluar dari rumah sakit.
"Hei... Lepaskan tanganku... ! Tidak perlu kau usir aku... Aku juga tidak mau satu tempat dengan keluarga pembunuh !" Alin melepaskan pegangan tangan Annisa yang mencengkram lengannya .
"Pergi kau !" seru Annisa.
"Ingat ! Jangan datang lagi untuk mencari informasi mengenai kak Raffi! Kak Raffi sudah bahagia sekarang ini !" Alin pergi meninggalkan Annisa.
"Manusia kejam!" umpat Annisa sembari melihat punggung Alin dan asisten rumah tangganya meninggalkan rumah sakit.
"Sial... sial... Kenapa kehidupan kami berantakan begini? Ini sedang karena El menikah dengan Raffi. Sudah aku katakan, jangan ! Tidak dengar apa kataku. Ayah dan bunda juga, nggak denger cakapku, begini jadinya, pernikahan belum dua bulan sudah menjadi janda."
__ADS_1
**
Aira mengunjungi Inara begitu pulang dari kantor, dengan membawa satu misi menyatukan kedua insan yang putus akibat orang ketiga, yaitu hubungan Inara dan Faiz.
"Mas tidak mampir ya, mas mau ke pabrik," kata Antoni yang menghantarkan Aira ke rumah Inara.
"Iya mas," sahut Aira.
"Mau pulang bilang ya, biar mas jemput."
"Tidak usah mas, aku pulang naik ojek saja. Nggak jauh juga, mas letih nanti, dari pabrik jemput aku ke sini."
"Tidak boleh! Mas jemput dan tidak boleh bantah !" kata Antoni tegas.
"Baiklah." akhirnya Aira mengalah.
Begitu mobil Antoni bergerak meninggalkan rumah Inara, Aira masuk dan langsung masuk kedalam kamar Inara, karena Aira sudah biasa keluar masuk kedalam rumah Inara, dan asisten rumah tangga yang sudah mengenal Aira, langsung menyuruh teman sang majikan untuk masuk ke kamar sang majikan.
"Aku bawa ini, kau lihat." Aira langsing tanpa berbasa-basi menunjukkan video yang direkam Aira, saat Faiz marah pada Lila di kantin perusahaan. Karena kejadian Faiz marah-marah pada Lila tadi, Aira juga sedang berada di kantin untuk makan siang.
"Apa betul ini ?"
"Betul ! Kau kira aku tidak ada kerjaan mengedit video untuk kau berbaikan dengan Mas Faiz."
"Dari rekaman ini sudah terlihat, Mas Faiz tidak minat dengan itu perempuan... ! Perempuan itu saja yang ganjen. Aku dengar-dengar, perempuan itu suka tebar pesona dengan laki-laki yang ada jabatannya. Bukan sekali dua kali dia begitu, sudah sering. Di kantor lamanya juga dia begitu, dan aku dengar lagi, dia resign dari kantor lamanya karena ada kasus. Dan lagi, menurut informasi kasus berhubungan dengan laki-laki," kata Aira.
"Menurutmu aku harus memaafkan Mas Faiz?" tanya Inara.
"Hubungan kalian sudah lama tuh... Dan Mas Faiz tidak seluruhnya salah di sini. Di sini itu, Mas Faiz itu terlalu baik dan tidak menaruh curiga dengan para wanita yang ramah dan baik padanya."
"Dan kau juga ikut salah dalam kasus ini," kata Aira.
"Koq aku ikut salah? Aku yang tersakiti di sini ! Lihatlah aku ini, kakiku entah bisa berjalan normal lagi apa tidak ? Kenapa aku ikut di salahkan."
"Kau itu ikut salah, karena langsung marah dan tidak bertanya dengan benar. Kau itu langsung menarik kesimpulan baru melihat gambar dan Mas Faiz bersama dengan seorang wanita."
"Siapa yang tidak marah, jika melihat kekasih mengambil gambar dengan begitu intim dengan seorang gadis. Jika kau seperti aku, pasti kau akan marah juga."
"Tidak! Aku akan tanyakan, jika bertanya juga tidak puas, aku akan menyelidiki sampai menemukan titik terang."
__ADS_1
***
"Alin, urusan perusahaan kakak serahkan padamu."
"Tidak perlu kak Aldo ingatkan aku beribu-ribu kali, aku akan mengurus perusahaan," kata Alin yang sibuk dibalik layar komputernya. Sudah seminggu ini Alin mengurus perusahaan.
"Jika ada masalah, tanyakan paman Hanafi. Besok paman tiba di Indonesia, kasihan paman tidur dan makan tidak teratur."
"Paman pulang? Nenek bagaimana?"
"Paman menyewa perawat untuk menjaga nenek, sejak di rawat, kesehatan nenek sudah mulai bagus. Tapi nenek masih menangis jika mengingat Mama."
"Kasihan nenek, kehilangan menantu yang menjaga dan selalu membawa nenek untuk cek up kesehatan ke rumah sakit. Nenek sangat kehilangan Mama."
"Aku juga." batin Alin.
"Kak, rumah sudah ada yang ingin beli. Apa kak Aldo tidak bisa menemui pembeli dulu baru pergi... ?"
Aldo melihat jam yang melingkar ditangannya. "Sepertinya tidak bisa, minta tolong pada paman saja. Masalah harga, rembukan dengan paman saja."
"Aku sebenarnya ingin menemui kakak ipar, tapi aku cukup sibuk. Alin, kau sudah minta maaf pada keluarga kakak ipar kan ?"
"Sudah... Aku tidak marah lagi pada mereka, aku juga kasihan padanya. Aku rasa luka di wajahnya itu pasti akan membuat wajahnya cukup mengerikan," kata Alin.
"Aku akan mencari rekomendasi dokter bedah plastik untuk kakak ipar," kata Aldo.
"Untuk apa di Carikan dokter bedah plastik, biarkan saja dia begitu." apa yang ada didalam pikiran Alin, hanya dapat disuarakan Alin dalam hati saja. Tidak mungkin dia berkata seperti itu pada Aldo, bisa-bisa Aldo akan menceramahinya tujuh hari tujuh malam.
"Baik-baik di sini, jangan cari masalah dengan siapapun juga. Jadilah Alin yang manis seperti dulu."
***
"Apa.... !?" Aira kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mikaela.
"Kau tahu dari mana? Tidak mungkin El... !" kata Aira sambil menggelengkan kepalanya. Aira tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela mengenai Raffi.
"Pasti itu kebohongan adik kak Raffi. Apa kau sudah menghubungi Kedubes Indonesia di inggris?"
"Mas Damar sudah dapat informasi dari temannya yang bekerja di Kedubes Indonesia di inggris. Menurut informasi, kak Raffi di pindahkan, tapi tidak tahu ke rumah sakit mana."
__ADS_1
"Aneh sekali, kau itu istrinya, seharusnya kau diberitahukan mengenai kepindahan kak Raffi dari rumah sakit."
Next...