Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 93 Saling Tuduh


__ADS_3

...Happy reading...


......................


"Hah... ! Kenapa badanku sakit sekali ?" Damar bergumam dan memijat keningnya, lalu bahunya.


"Nisa, bangun!" Damar mengulurkan tangannya untuk membangunkan Nisa.


"Pergi!" teriakkan yang menyuruhnya pergi, membuat Damar kaget.


Damar terperanjat. "Hah ! Suara siapa itu ?"


Damar loncat turun dari ranjang dan kaget melihat kehancuran di mana dia berada. Dan terlebih lagi, dia terbangun dalam keadaan polos tanpa selembar benangpun menutupi area sensitifnya dan sekujur tubuhnya terasa sakit semua, seperti dia baru saja menyelesaikan olahraga yang sangat berat.


"Apa yang terjadi? Siapa wanita itu ? Bukan suara Nisa? Gawat ! Apa yang telah aku lakukan?" Damar mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Baju yang sudah tidak berbentuk lagi. Kancing baju yang sudah lepas dari tempatnya dan bajunya juga terlihat sobek diberbagai tempat. Dia benar-benar lupa dengan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Selesai berpakaian dia melangkah mendekati ranjang.


"Hei... Siapa kau ? Kau menjebakku, ya ? Aku akan melaporkan kau ke polisi !"


Tidak terdengar suara, yang terdengar dari balik selimut yang menutupi tubuh wanita yang dilupakan Damar, hanya suara isakan yang lirih.


"Hei... ! Jangan pura-pura menangis ! Kau jangan pura-pura aku telah melecehkanmu, ya ! Aku tidak akan tertipu !"


Karena tidak mendapatkan jawaban, Damar memutar badannya dan melangkah menuju pintu.


"Tidak bisa dibuka. Apa-apaan ini ?" Damar kesal dan menyibak tirai untuk melihat diluar.


"Mang Dul !" Damar melihat sopir mamanya.


Dan...


"Oh My God !" Damar menepuk keningnya dan memutar tubuh melihat kearah ranjang. Dia ingat dengan apa yang terjadi.


"Mikaela !" Gumam Damar. Wajah terlihat kaget. Dia melihat baju yang sudah tidak berbentuk dilantai.


"Apa yang telah aku lakukan? Apa aku... a-ku... Telah .... ?"


"Oh... Tidak!" Damar menutup mulutnya dengan tangannya.


"Aku mem....per.... ? Tidak mungkin ! Tapi kenapa aku tidak ingat ?" Damar bingung dengan apa yang terjadi.


Damar melangkah mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang.


"Mikaela ! Apa yang terjadi? Apa aku telah.... ?" Damar tidak melanjutkan perkataannya, karena dia merasa, Mikaela pasti sudah tahu apa yang akan ditanyakan.


Mikaela diam, hanya suara tangisannya terus terdengar.


"Mikaela ! Jawab pertanyaanku!" seru Damar dengan kesal, karena bukan pertanyaannya dijawab Mikaela, malah suara tangisannya yang bertambah kencang.


"Aku membencimu ! lihat aku !" Mikaela membuka selimut yang menutupi tubuh, dan terlihat wajah Mikaela merah dan dengan leher dan bahu bekas gigitan.


Damar tersentak dan berdiri menjauhi ranjang. Kedua matanya melotot menatap merah ditubuh Mikaela.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Damar dengan wajah bingung.


"Kau tanya kenapa? Apa kau lupa dengan apa yang kau lakukan tadi malam? Kau menyerangku! Kau seperti manusia bar-bar yang sangat biadab melakukan perbuatan tidak senonoh, padaku ! Mbak Nisa berkata, dan kau juga! Tidak akan melakukan apa yang telah kau lakukan tadi malam ! Kalian berdua pasangan munafik! Tidak pegang janji!"


"Aku tidak melakukannya? Bukan aku ?" tolak Damar yang merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh Mikaela.


"Kalau bukan kau ! Apa aku melakukan ini sendiri? Atau kau ingin menuduh aku melakukan ini dengan orang lain? Dasar biadab kau Damar !" umpat Mikaela dengan memanggil nama Damar. Tidak ada embel-embel, MAS. Sopan santun sudah dilupakan Mikaela.


Mikaela turun dari ranjang dan selimut menutupi tubuh polosnya. Dia tidak menghiraukan rasa sakit saat dia melangkah. Mikaela ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini, dan menghilang dari orang-orang yang telah mengambil kesempatan dalam kesendiriannya.


"Mikaela! Aku .... "


Mikaela menghentikan langkah, dan memutar tubuhnya. "Diam ! Jangan bela dirimu, Tuan Damar ! Kau dan Annisa telah mengambil kesempatan dalam kesendirian anak yatim-piatu ini. Ingat ! Tuhan tidak tidur! Apa yang kalian idam-idamkan tidak akan pernah terwujud.... !"


Suara bantingan pintu kamar mandi terdengar sampai keluar rumah. Mang Dul yang sedang menikmati sarapannya kaget .


"Apa itu ?" Mang Dul berdiri dan melangkah mendekati pintu. Dia melekatkan telinga, untuk mendengar apa yang terjadi didalam kamar.


"Mang ! Buka pintu! Aku tahu, mamang di depan pintu !" perintah Damar.


"Aduh... Bakalan remuk aku ini. Ah... Nasib ... Tidak menuruti Bu Amel, celaka. Sekarang juga, aku juga akan kena marah Den Damar."


"Mamang.... !!!"


Buk... buk... tendangan keras menerpa pintu membuat gaduh suasana pagi yang sang mentari juga belum keluar sempurna.


Ceklek....


"Katakan! Apa yang mamang buat padaku ? Kenapa aku tidak ingat apa-apa? Aku tidak ada minum-minuman beralkohol? Kenapa aku tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam?"


"Maaf Den, saya tidak tahu apa-apa. Sumpah! Begitu Aden masuk kedalam, saya langsung tidur di tenda. Saya terbangun karena dengar suara kukuruyuk ayam ."


"Mamang jangan bohong!"


"Tidak bohong, Den. Sumpah Den ! Percayalah, mamang tidak tahu apa-apa. Mamang disuruh mengantarkan Aden dan istri ke sini oleh Bu Amel, dan urusan yang lain-lain saya tidak tahu apa-apa."


Damar menelisik wajah Mang Dul dan tidak terlihat kebohongan yang terlihat dari raut wajah Mang Dul.


"Kita segera kembali," kata Damar.


"Tidak bisa Den ."


"Hah ! Kenapa? Apa mamang menolak perintah saya?"


"Bukan begitu Den, hanya kita tidak bisa kembali, karena bensin mobil tidak ada ."


"Apa-apaan ini !"


Damar melangkah mendekati mobil dan kemudian melihat kearah penunjuk bensin dan terlihat indikator bensin menunjukkan huruf 'E' .


"Sialan !" umpat Damar.


"Apa bensin tidak cukup sampai menemukan Pom bensin?" tanya Damar.

__ADS_1


Mang Dul menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana kita pulang nanti ?" tanya Damar.


"Kita menunggu bensin datang."


"Maksudnya apa ini ? Apa ini sudah direncanakan? Siapa yang merencanakan ini semua?"


"Mama Aden."


"Mama ! Oh... Shitt.... !" umpat Damar dan menendang tanah dengan keras.


"Minggu bensin baru datang?" tanya Damar.


Mang Dul mengangguk.


"Sial...sial.... !" teriak Damar dengan merentangkan kedua tangannya ke atas.


***


"Grace... Bangun!" Annisa menggoyangkan pundak Grace yang tidur telungkup.


"Aku masih ngantuk," jawab Grace dengan suara khas orang yang belum sepenuhnya sadar.


"Kepalaku pusing." Annisa memijat dahinya.


"Grace, kita di mana ini ?"


Annisa duduk dan melihat sekeliling ruangan tempat dia tidur.


"Di rumah," sahut Grace.


"Rumah siapa? rumahmu, Grace? seingatku, kita di club. Grace, siapa yang membawa kita pulang? Bangun!" Annisa menarik Grace untuk bangun.


"Ah... kau ini !" dengan perasaan yang kesal, Grace bangun dan duduk.


"Ini kamarmu ?"


Grace membuka matanya dengan sempurna dan melihat ruangan dia berada.


"Bukan," jawab Grace.


"Bukan ! Lalu kita di mana?" Annisa melihat tubuhnya dan melihat pakaian yang dikenakannya masih sama dengan yang kemarin.


"Aman." Annisa lega, karena masih berpakaian lengkap.


"Rumah siapa ini ? Kita tidak di culik kan, Grace ?"


"Aku tidak tahu," sahut Grace yang masih merasakan pusing dikepalanya.


Tok... Tok... Pintu diketuk, dan terbuka.


"Hah .... !" Annisa terkejut melihat siapa yang membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2