Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 63 Duka


__ADS_3

Happy reading guys


...****************...


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." batin Aryan, begitu David mengabarkan meninggalnya Mama Raffi.


Ketiganya meninggalkan ruang tempat Mikaela.


"Mama !" suara tangisan Alin menyambut kedatangan Damar, David dan Aryan .


"Aku mau mama kak Aldo! Kembalikan mamaku ! Aku mau Mama!"


Damar memalingkan wajahnya, dia tidak tahan melihat raut wajah kesedihan di wajah Aldo dan Alin.


"Dam." David bicara pada Damar dengan suara yang pelan.


"Kita bicarakan pada Om Hanafi saja, Aldo tidak mungkin bisa kita bawa untuk berembug.


Damar dan David, menghampiri Hanafi dan Aryan untuk membahas pemulangan jenazah ke Indonesia.


Di Indonesia tragedi yang menimpa Mikaela sampai di telinga Aira yang tidak sengaja mendengar berita di televisi, saat sedang makan siang di kantin perusahaan. Aira mendengar berita yang menimpa beberapa warga Indonesia. Betapa terkejutnya Aira yang sedang makan siang. Aira yang terkejut mendengar berita yang disampaikan reporter yang berada di inggris pingsan seketika.


Aira membuka mataku sudah berada didalam klinik kesehatan yang ada di perusahaan.


"Tik... Apa yang aku dengar tadi tidak benarkan? Itu halusinasi kan? Katakan Tik.... !?" ucap Aira dengan suara yang keras.


"Sayangnya, itu benar. Mikaela dan suaminya yang dikatakan diberita itu," kata Tika, teman satu kantor Aira dan Mikaela.


"Tidak! itu tidak benar! Mikaela tidak apa-apa! Dia katanya ingin pulang, Tik! Dia ingin melihat Inara," kata Aira.


"Ai... Mikaela tidak apa-apa, aku sudah tanya pada ibunya. Yang kritis suami dan mama mertuanya," kata Tika yang berinisiatif untuk menghubungi rumah Mikaela setelah mencari nomor telepon rumah Mikaela melalui data-data waktu Mikaela melamar pekerjaan. Untuk mencari data-data Mikaela tidaklah sulit bagi Tika, karena dia memanfaatkan orang yang dikenakannya, yang bekerja di bagian HRD perusahaan.


"Kak Raffi, Tante Yuni?" tanya Aira.


Tika menganggu.


"Ponsel... Ponselku mana ?" Aira mencari-cari keberadaan ponselnya.


"Ini ." Tika mengambil Aira dan menyerahkannya padanya.


Aira mengeluarkan ponselnya dan melihat ponselnya penuh dengan pesan dan panggilan dari Antoni.


"Mas !" begitu panggilan diangkat Antoni.


"Iya... Jemput aku." lalu kemudian Aira memutuskan sambungan telepon dan turun dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya suster yang bertugas menjaga klinik.


"Aku sudah sehat sus," kata Aira.

__ADS_1


Aira keluar dari klinik diikuti oleh Tika.


"Kau mau pulang?" tanya Tika yang mengiringi langkahnya.


"Aku mau ke rumah El. Tik... Tolong mintakan izin, bilang saja aku sakit," kata Aira.


"Ok... Ai, kabari aku jika Mikaela kembali," kata Tika.


"Ok ," sahut Aira dan kemudian berjalan setengah berlari keluar dari perusahaan.


Inara juga kaget mendengar kabar yang didengarnya dari televisi tanpa sengaja. Sejak kecelakaan yang menimpanya, Inara irit bicara. Dia tidak mau menerima siapapun datang menjenguknya, terlebih Faiz yang terus datang, walaupun terus menerima penolakan dari Inara. Hanya Aira yang diterima oleh Inara.


"Ma... Hubungi Aira !" kata inara, setelah dua hari dia bisu bicara kepada siapa juga yang bicara padanya. Dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala atau mengangguk.


"Mama tidak tahu nomor Aira."


"Di ponselku ada nomor Aira ma."


"Ponselmu hilang saat kecelakaan itu, Na."


"Hilang.... !?" Inara baru tahu ponselnya hilang saat kejadian yang menimpanya.


Mamanya mengangguk. "Sudah papa cari di dalam mobil, tidak ada. Tas mu juga tidak ada didalam mobil. Papa sudah melaporkannya kepada polisi."


"Sia*lan... ! siapa yang tega mencuri !" umpat Inara dalam hati.


"Pakai ponsel Mama saja, sebelum beli ponsel baru." Mama Inara memberikan ponselnya pada Inara, dan Inara mengambilnya dan mencoba untuk menghubungi Aira dan Mikaela. Tapi, berkali-kali Inara mencoba untuk mengingat nomor keduanya, dia tidak mengingat nomor ponsel Mikaela dan juga Inara.


"Sayang, jangan pukul kepalanya," kata mamanya.


"Ma, apa kepalaku rusak karena kecelakaan itu?" tanya Inara.


"Dokter tidak menemukan cedera pada kepala. Kenapa? Apa pusing?" Mama Inara menyentuh kepala sang putri.


"Tidak ma. Tapi kenapa aku bisa lupa nomor Aira dan Mikaela," kata Inara.


Pintu kamar terbuka dan Faiz masuk dengan cepat dan berkata, tanpa sempat Inara mengusirnya.


"Mama Raffi meninggal," kata Faiz.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Inara.


Mama Inara juga. "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."


Untuk sesaat Inara melupakan kemarahannya pada Faiz.


"El bagaimana... El bagaimana? Dia tidak apa-apa kan ?" tanya Inara.


"Aku belum tahu, hanya berita warga negara Indonesia yang meninggal yang ada di situs resmi Kedubes Indonesia di inggris."

__ADS_1


"Tolong... Aku ingin bicara dengan Mikaela," kata Inara.


"Ponsel El tidak bisa dihubungi," kata Faiz.


"Mas pergi ke rumah El, cari tahu," kata Inara.


"Baiklah." Faiz meninggalkan kamar Inara.


"Kaki sia*lan.... !" umpat Inara yang kesal dengan kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan karena masih cedera.


"Kasihan El ya," kata Mama Inara yang sangat mengenal Mikaela sebagai sahabat Inara yang sering datang ke rumah Inara bersama dengan Aira.


"Mama tahu, El itu sahabat terbaikku ma. Ada yang tidak mama tahu, El itu selalu membantuku jika ada tugas kampus. Dia tidak pelit ilmu."


Inara menceritakan Mikaela dengan diiringi air mata membasahi kedua pipinya.


"Aku ingin menemaninya di saat-saat seperti ini, tapi aku tidak bisa." Inara kesal dengan keterbatasan fisiknya, sehingga tidak bisa menemani Mikaela.


"Kita do'akan dari sini, semoga mereka yang mendapatkan musibah cepat pulih," kata Mama Inara.


Faiz tiba di rumah Mikaela yang sudah ramai oleh keluarga yang mengetahui musibah yang dialami oleh Mikaela dengan sang suami.


"Faiz!" suara memanggil Faiz, saat Faiz ingin masuk kedalam rumah Mikaela.


Faiz menghentikan langkah kakinya, melihat Antoni dan Aira keluar dari dalam mobilnya.


"Tante Yuni meninggal," kata Faiz.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Aira dan Antoni.


"Kak Raffi dan Mikaela bagaimana? Apa ada kabar?" tanya Aira.


Faiz menggelengkan kepalanya. Ketiganya masuk kedalam rumah dan menemui bunda Aini dan ayah Aiman yang duduk dengan wajah yang muram. Mata bunda Aini sudah, karena menangis sejak mendengar Mama Raffi meninggal dan Raffi dalam keadaan tidak sadar.


"Bunda!" Aira memeluk bunda Aini dan kedua menangis.


"Bunda ingin menemani El, tapi tidak bisa."


Aira mengurai pelukannya. "Kondisi El bagaimana bunda?"


"El tidak mengalami cedera yang serius, Damar mengatakan, El mengalami luka di pipi. Tapi.... " bunda Aini tidak melanjutkan perkataan.


"Tapi apa bunda?" tanya Aira penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh bunda Aini.


"El tidak bicara ataupun menangis. Kata Damar, El kemungkinan trauma dengan apa yang disaksikannya."


"Berapa nomor ponsel mbak Nisa, bunda? Aku mau menanyakan kondisi El," kata Aira.


"Nisa tidak ikut, visanya sudah kadaluarsa. Damar dan papanya yang pergi," kata bunda Aini.

__ADS_1


"Ayah.... !" suara Annisa memanggil sang ayah dengan histeris.


Next


__ADS_2