Terpaksa Menjadi Madu

Terpaksa Menjadi Madu
Bab 79 Berusaha untuk ikhlas


__ADS_3

Happy reading guys.


......................


Seminggu sudah Raffi di makamkan, pemakaman yang penuh dengan drama. Lagi-lagi Alin membuat drama, sepertinya hanya dia yang merasa kehilangan dan Mikaela tidak.


Mikaela yang sudah cukup kesal mendapatkan perlakuan kasar dari Alin, akhirnya berani mengeluarkan suara dan balik marah pada adik Raffi yang dulunya baik kepadanya. Sekarang, sikap Alin berubah 180 derajat, membencinya sepenuh hati.


Mikaela tidak terima dipersalahkan, dan akhirnya dia menceritakan kronologis musibah yang menimpa mereka bertiga. Mikaela mengatakan semua, tanpa ada dikurangi dan ditambah-tambahi mengenai kejadian tersebut. Akhirnya semua tahu, keinginan Yuni untuk membeli benang membuat mereka ikut menjadi korban. Jika pada waktu itu Yuni, tidak pergi membeli benang untuk merajut, mereka akan luput dari musibah tersebut.


Alin diam mendengar cerita Mikaela dan kemudian pergi. Sejak hari itu, Mikaela tidak bertemu dengan Alin, hanya Aldo dan Hanafi yang berulang kali datang untuk memberikan hak sebagai istri Raffi yang didapat oleh Mikaela, yaitu harta Raffi yang diberikan kepada Mikaela, yang berupa apartemen dan sebidang tanah. Tetapi Mikaela menolak itu semua, dia tidak ingin Alin menuduhnya sebagai perempuan pemburu harta.


"Maaf Paman, saya tidak ingin menerima apapun dari warisan kak Raffi. Aku tidak lama menjadi istri kak Raffi, dan aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan warisan dari kak Raffi," kata Mikaela.


"Peninggalan Raffi milikmu El," kata Hanafi.


"Terimalah kak ," kata Aldo.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Berikan pada Alin, atau kalian sumbangkan ke panti asuhan saja."


Mikaela tidak ingin ada hubungan lagi dengan keluarga Raffi, sudah cukup rasanya dia mendapatkan penghinaan dari Alin.


Keputusan Mikaela untuk tidak menerima warisan Raffi didukung oleh ayah Aiman dan bunda Aini.


Akhirnya Aldo dan Hanafi pulang dengan membawa rasa kecewa, karena tidak berhasil membujuk Mikaela.


***


Sudah seminggu sejak Raffi meninggal, Mikaela selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Mikaela selalu memandangi gambar terakhir dia bersama dengan Raffi, yaitu saat berada di apartemen, sebelum terjadinya musibah tersebut. Saat itu dia dan Raffi mengambil gambar di balkon apartemen, menunggu Mamanya.


"Gambar kita terakhir kak Raffi. Ternyata jodoh kita tidak sampai tua."


"Semoga kak Raffi bahagia bersama Mama di sana."


"Maaf kak Raffi, aku sangat marah pada Alin. Dia sudah menuduh aku yang menyebabkan kakak dan Mama meninggal. Apa kakak juga mempunyai pikiran seperti Alin? kakak tahu kan, hari itu Mama yang ingin pergi ke toko membeli benang. Aku sudah ceritakan itu semua, mau mendengar apa yang aku ceritakan bagus, jika tidak percaya juga, terserahlah!" kata Mikaela sembari melihat gambar dirinya dan Raffi.


Mikaela mengambil kotak dan memasukkan gambar dirinya dan Raffi dan juga melepaskan cincin dari jari tangannya dan meletakkannya dalam kotak. Mikaela meletakkan semua pemberian Raffi kedalam kotak dan kemudian mengunci kotak tersebut dan meletakkannya keatas lemari.

__ADS_1


Mikaela masih berdiri di atas kursi mengelus kotak berisi harta Karun pemberian Raffi.


"Maafkan kak Raffi, aku menyimpan semua pemberianmu." jemari tangannya mengeluh


"Loh... loh... ngapain kau El?" dua kepala melongok (Kepala setengah masuk kedalam kamar)kedalam kamar Mikaela yang pintunya baru terbuka sedikit.


Mikaela yang mendengar suara Aira memutar kepala dan melihat Aira dan Inara.


Mikaela segera turun dan kedua temannya masuk kedalam kamar.


"Aku membersihkan barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi," kata Mikaela yang masih berdiri di atas kursi.


Mikaela melihat Inara yang masuk kedalam kamarnya tanpa menggunakan kruk untuk berjalan.


"Kakimu ?" Mikaela melirik kaki Inara.


"Aku tidak membutuhkan alat bantu lagi, dua hari yang lalu aku sudah memusiumkan kayu itu. Lihatlah.... !" Inara melangkah dengan pelan seperti seorang peragawati melenggak-lenggok dihadapan Mikaela yang belum turun dari kursi.


Mikaela gembira, karena kaki Inara benar-benar normal saat berjalan, tidak pincang seperti yang ditakutkan oleh Inara.


"Kami menjemputmu ," kata Aira.


"Kau lupa?" tanya Aira dengan mata sedikit memicing menatap Aira.


"El, dua bulan lagi Aira menikah," kata Inara.


"Oh... Maaf ," kata Mikaela.


"El, kau baik-baik saja?" Aira mendekati Mikaela dan memegang tangan Mikaela.


"Aku baik-baik saja," kata Mikaela.


"Lihat aku ." perintah Aira.


"Untuk apa? Wajahku masih seperti yang dulu. Dan bekas luka ini yang sedikit membedakan," kata Mikaela yang tetap tidak ingin melihat Aira.


Aira memutar badan Mikaela dan melihat raut wajah dan mata Mikaela yang cekung.

__ADS_1


"El, apa kau tidak tidur malam?" tanya Aira.


Inara yang melihat raut wajah Mikaela dari dekat, dan melihat wajah kusam dan mata panda menghiasi wajah Mikaela.


"El, apa kau masih sering memimpikan kak Raffi?" tanya Inara.


"Tidak!"


"Lalu kenapa wajahmu itu terlihat tidak segar ? kau seperti orang yang tidak pernah istirahat berminggu-minggu," kata Aira.


"Aku sibuk mengurus toko."


"Jangan bohong... ! Bunda bilang pada kami, kau itu tidak pernah meninggalkan rumah selama seminggu ini. Apa yang kau lakukan mengurung diri didalam kamar? Apa kau lakukan ini kak Raffi bisa kembali?" tanya Aira.


"El, kau pikirkan ayah dan bunda. Mereka pasti sedih melihat kau begini, El." timpal Inara.


Degh...


Jantung Mikaela berdetak kencang, begitu disebutkan sosok dua orang yang telah mengasuhnya sejak kecil.


"Ayah, bunda." batin Mikaela.


"Kami bertemu dengan bunda tadi, terlihat bunda sudah semakin tua dalam beberapa hari ini," kata Inara.


"Apa benar yang dikatakan mereka, bunda semakin terlihat tua," gumam Mikaela dalam hati dengan wajah menunduk.


Aira mendengar suara tangisan kecil dari mulut Mikaela, lalu dia menarik Mikaela kedalam pelukannya. Melihat Aira memeluk Mikaela, Inara tidak mau ketinggalan. Inara memeluk keduanya.


"Lupakan rasa sakit itu, El. Majulah kedepan, jangan ingat rasa sakit itu lagi. Apa yang dikatakan oleh adik kak Raffi, jangan di simpan dalam memory. Anggap itu sebagai mimpi buruk yang tidak nyata," kata Aira.


"Kami hanya bisa berkata untuk kau untuk melupakan rasa sakitmu, jika kami yang mengalaminya, mungkin saja kami sama sepertimu. Tapi ingat dengan orang-orang yang masih bersama kita, mereka pasti akan sedih melihat kita terpuruk," kata Inara.


"Lihat wajah ayah, bunda dan mbak Nisa. Terlebih mbak Nisa yang kehilangan bayinya, karena sibuk menjaga ayah dan bunda pada saat kau tidak bisa apa-apa. Pikirkan itu, El. Jadilah El yang membanggakan ayah dan bunda," kata Aira.


"Maaf, aku terlalu larut dalam rasa dukaku."


"Kita berpelukan begini seperti Teletubbies," kata Aira dengan tertawa.

__ADS_1


Akhirnya Mikaela juga ikut tertawa, walaupun tawa itu tidak terdengar keluar, tapi bibirnya sudah sedikit menebarkan senyum.


Annisa duduk didalam kamar menunggu kepulangan Damar dengan raut wajah yang mengetat. Sejak dua jam yang lalu dia tidak bisa menghubungi sang suami.


__ADS_2